
Naima baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Gadis itu sedikit kelelahan. Andre masih cuti bulan madu. Danar benar-benar memberi ajudan kepercayaannya itu libur panjang.
"Kasihan Papa. Tapi kalo nggak ada Papa ... aku keteteran!" rengek Naima frustasi.
Dzikra dan Adinda telah banyak membantu Naima. Keduanya bekerja sangat keras.
"Terima kasih ... happy weekend!' ujar Naima pada dua orang yang menjadi kepercayaannya itu.
"Happy weekend Nona!" sahut Dzikra tersenyum.
Mereka berdua menuju depan loby perusahaan. Banyak karyawan yang juga pulang. Suasana sedikit ramai karena sapaan pada pekerja untuk atasan mereka.
"Sore Bu!"
"Sore Pak!" balas Naima ramah.
Mobil mewah berhenti di depannya. Seorang supir membuka pintu mobil untuk nona mudanya. Naima pun naik ke mobil dan kendaraan itu pun meluncur membelah jalan ibukota. Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai mansion.
Beberapa maid menyambutnya. Darni juga ada di sana. Naima langsung menggandeng perempuan paru baya itu.
"Kau pulang sayang," sambut Denita dengan senyum lebar.
Wanita itu mengambil alih tangan Naima dari sisi Darni. Darni tentu tau diri. Ia bukan siapa-siapa di sana. Tetapi, Naima malah menggandengnya dengan lengan yang lain. Denita yang jadi malu sendiri.
'Apa yang aku pikirkan!' runtuknya dalam hati.
'Darni selalu ada di sisi Naima dari usia delapan tahun!' lanjutnya.
Denita tersenyum kecut. Naima memang menyayanginya, tetapi perihal Darni. Naima sangat sensitif. Gadis itu akan menegur keras siapapun yang menyakiti wanita itu termasuk sang nenek.
"Bu tadi masak apa?" tanya Naima manja pada Darni.
"Ibu masak ikan acar kuning sama tempe goreng sambel tomat," jawab Darni tersenyum.
"Ah, makanan kesukaanku semua. Ibu mau buat aku gendut?" tanya Naima sedikit merajuk.
'Nona nggak bakalan gendut kok. Toh, buktinya makan banyak selama ini badan masih kurus aja!" sahut Darni terkekeh.
Naima merajuk. Gadis itu akhirnya masuk kamar. Darni pun mengangguk pada Denita.
"Bi ...," panggilnya.
"Iya Nyonya besar," sahut Darni sedikit takut.
"Terima kasih!" ucap Denita lirih.
"Nyonya ...."
"Darni, kau adalah malaikat pelindung Naima. Tidak semestinya aku iri padamu," jelas Denita.
"Nyonya ...."
Denita memeluk Darni erat. Ia sangat berterima kasih pada mantan maid dari keluarga Lakso. Berkatnya Naima lepas dari penindasan keluarga itu.
Malam tiba, mereka makan malam bersama. Darni duduk di sebelah Naima. Baik Danar dan Denita tak dapat melarang hal itu. Walau Darni sering menolak. Tetapi Naima yang memaksa wanita itu ikut makan bersama.
Usai makan mereka pun pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Pagi menjelang, Naima masih tidur. Gadis itu ingin bersantai karena waktu libur kali ini ia ingin beristirahat dengan tenang.
Dering ponsel terdengar keras. Lagu dari Ed Sheeran menjadi bunyi dering ponsel itu. Naima mengangkat sambil memejamkan matanya.
"Haloo ...,"
"Sayang bangun! Aku sudah ada di bawah!" sebuah suara membuat mata Naima nyalang.
"Neil?"
"Bangun sayang!" seru pria dari seberang telepon.
Naima langsung bangkit. Gadis itu hanya mencuci muka. Ia memakai atasan tank top warna hitam. Otot lengannya terlihat. Celana olahraga yang pendek hingga memperlihatkan paha dan kakinya yang indah juga kekar.
Naima memang membentuk tubuhnya dengan bela diri. Gadis itu sangat sudah ban hitam di bela diri karatenya. Bahkan Naima mahir memainkan samurai dengan mata tertutup.
"Sayang!" pekik gadis itu melihat sosok pria yang selama ini ia rindukan.
Naima berlari, Neil menyambutnya. Tubuh gadis itu diangkat hingga terdengar gelak tawa.
"Ayo olah raga!" ajak Neil.
Mereka pun berlari mengelilingi halaman mansion. Neil tak akan mau membawa gadisnya keluar rumah jika berpakaian seksi seperti sekarang.
"Jangan macam-macam sayang!" ancam Naima tak takut pada Neil.
Pria itu tertawa, ia lupa jika gadisnya itu sangat berani. Neil harus menahan diri jika ingin hubungannya selamat.
Dua jam mereka berolahraga. Keduanya kelelahan. Naima membawa kekasihnya masuk.
"Pagi Opa, Oma!' sapa Neil pada dua orang tua di sana.
"Pagi Nak. Kau baru datang?" tanya Danar.
"Sudah tadi malam tiba. Pagi aku langsung ke sini," jawab Neil lalu duduk di kursi makan.
Naima memberinya air putih. Pria itu mengucap terima kasih. Naima menawarinya sarapan.
"Kalau habis olahraga dilarang makan sayang. Karena kinerja jantung masih kuat. Nanti tunggu sekitar lima belas menit," jelas Neil.
"Oh ... tapi aku lapar!" sahut Naima tak peduli.
Gadis itu memakan roti gandum yang ia olesi dengan selai coklat. Neil dan yang lainnya hanya bisa menghela napas.
"Aku harus kembali malam ini. Apa kau mau ikut jalan-jalan denganku?' tawar Neil.
Naima mengangguk cepat. Gadis itu ingin menghabiskan hari bersama kekasihnya. Danar dan Denita mengijinkannya.
"Jangan pulang terlalu malam!" peringat Danar pada dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Siap Opa!" sahut Neil berjanji.
Naima mempercepat mandinya. Gadis itu mengenakan celana jeans dan kaos lengan panjang dengan gambar beruang. Neil menghela napas melihat penampilan kekasihnya.
"Kenapa?" tanya Naima tak merasa bersalah.
"Kami pergi Opa, Oma!" pamit Neil.
Naima mencium pipi kakek dan neneknya. Denita hanya bisa menggeleng pasrah melihat penampilan cucu perempuannya itu.
"Jika Andre ada. Anak itu pasti diberi ceramah panjang," ujarnya yang diangguki oleh Danar.
Kendaraan mewah milik Neil berhenti di sebuah butik ternama. Pria itu tak mau sang kekasih memakai baju seadanya. Ia ingin Naima tampil cantik.
"Kenapa kita ke sini?" tanya gadis itu polos.
"Sayang, aku ingin membelikan baju untukmu," jawab Neil tentu berbohong.
Naima yang lurus, percaya dengan apa yang dikatakan pacarnya itu. Neil memilih satu dress pendek yang cantik untuk gadisnya.
"Boleh kan jika kau pakai ini selama bersamaku?" pinta pria itu setengah memelas.
Naima menatap mata Neil yang begitu menghiba. Gadis itu mengangguk setuju. Memang cara merayu Neil sangat ampuh. Jika saja langsung dikatakan, Naima akan bereaksi sangat keras.
Neil membawa kekasihnya ke beberapa event. Kehadiran mereka berdua tentu jadi sorotan.
"Nona Hartono dan Tuan Gutama, kapan kalian menikah?" tanya beberapa wartawan.
"Dalam waktu dekat!" jawab Neil cepat.
Para penjaga langsung memperketat keamanan. Naima langsung bermuka masam karena banyaknya orang mengerumuni mereka.
"Neil!"
Seorang gadis berteriak memanggil nama pria yang tengah menghindari wartawan. Karena begitu riuh dan sangat ramai. Teriakan gadis itu tak terdengar.
"Neil!" gadis itu kembali berteriak.
Ia mengejar arah para wartawan yang juga mengejar dua insan yang tengah diburu beritanya.
Neil segera naik mobil setelah Naima duduk manis di kursi penumpang. Mobil itu pun bergerak dan menghindari kejaran wartawan.
"Neil!" teriak gadis itu putus asa.
"Neil ... apa kau benar-benar melupakan cinta pertamamu?" tanyanya lirih.
Bersambung.
Eh? spasa tuch?
next?