
Naima pulang dengan wajah lelah. Ia turun dari mobilnya. Sofia benar-benar ingin Naima pergi dari rumahnya.Namun, melihat wajah lelah gadis itu membuatnya urung.
Naima terdiam ketika menatap sosok cantik yang memandanginya. Sofia menatap gadis itu dengan begitu angkuh lalu ia pun pergi meninggalkan Naima.
Gadis itu ditarik oleh Darni dan membawanya pergi dari ruang utama.
"Bu, apa kita tidak bisa pergi dari sini?" tanya Naima lirih.
"Kita mau ke mana Nak?" Darni bertanya balik.
"Ibu benar-benar tidak tau harus kemana," lanjut wanita itu sedih.
"Selama Tuan Muda Pratma berusia lima belas tahun dan kini tiga puluh delapan tahun, Ibu tidak pernah kemana-mana," lanjutnya dengan nada menyesal.
Naima menghela napas panjang. Ia tentu juga tidak tau harus kemana. Ia takut Darni malah tidak terbiasa dengan lingkungan baru dan menyulitkan keduanya.
"Aku sungguh tak betah Bu ... sungguh," aku Naima lirih.
"Dadaku sesak jika tinggal di tempat neraka ini," sambungnya lirih.
Sementara itu. Andre menatap bangunan mewah di depan hunian yang ia tempati melalui kaca jendela.
Bangunan yang ia tempati juga tak kalah mewah dan besar dengan milik Agung. Andre sudah merencanakan semua untuk mengambil alih Naima.
"Nona, sabarlah sedikit lagi," monolognya lirih.
Pagi menjelang, semua berangkat ke sekolah. Naima tentu diantar oleh Agung. Jalan yang dilalui pria itu jauh lebih dekat dibanding jika ketiga cucunya yang mengantar.
"Tuan ...."
"Cu ... aku mohon. Kita mulai dari awal ya," pinta Agung memohon.
Naima terdiam. Gadis itu duduk di sebelah Agung. Terlihat ketulusan di mata pria itu.
Naima bergeming. Gadis itu turun di depan gerbang sekolahnya. Ia sudah memberikan nomor ponselnya. Agung tersenyum kecut ketika melihat benda pipih itu.
'Semoga tidak terlalu terlambat memperhatikan anak itu,' monolognya dalam hati.
Naima melihat sepedanya masih terparkir rapi di sana. Tentu tidak ada yang mau mengambil barang rongsok itu. Setelah meyakini jika kendaraannya aman. Gadis itu pergi ke kelasnya.
Siang menjelang makan, Agung kembali pulang. Kali ini ia memang ingin memakan makanan masakan istrinya berdua saja.
"Aku pulang!' ujarnya ketika masuk rumah.
Sofia mengenakan minidress selutut warna hitam tanpa lengan. Rambutnya ia gelung asal hingga menampakkan lehernya yang jenjang. Sofia memakai perhiasan kecil di leher dan jemarinya.
"Mana cincin kawinmu?" tanya Agung.
Sofia yang terkejut dengan kedatangan suaminya tertegun. Ia seperti menatap hantu di depannya.
"Bik Siti. Aku sedang tidak mimpi kan?" tanyanya berbisik pada maid yang ada di sebelahnya.
"Nggak Nyonya. Tuan besar memang pulang," bisik Siti menjawab.
"Cincin kawinmu mana?" tanya Agung lagi.
"Cincin kawin?"
"Iya, mana?" tanya Agung kesal melihat ekspresi bingung istrinya.
"Apa iya kau menyematkan cincin kawin di jariku?" tanya Sofia lagi.
"Aku ...."
Agung terdiam. Ia mengingat jika dirinya tidak menyematkan cincin kawin di jemari istrinya. Memang ia bawa benda itu, tetapi terlalu kecil. Agung memang tidak berniat menikah dengan Sofia waktu itu.
"Sekarang kau kemana?" tanyanya dengan membuang muka karena malu.
Sofia lagi-lagi terkejut. Sosok Agung yang dingin dan tak tersentuh, wanita itu hanya disentuh oleh suaminya satu kali saja. Selebihnya Sofia yang berinisiatif menyentuh suaminya, Agung pun tidak pernah menolaknya.
"Aku mau ke rumah Jeng Dinda!' jawab Sofia santai. "Anna sudah ada di sana."
"Aku melarangmu pergi!" tekan Agung.
"Sejak kapan ...."
"Temani aku makan siang!" potong Agung lalu mengamit tangan istrinya.
"Duduklah dan temani aku makan!' pinta pria itu lirih.
Sofia duduk tenang. Agung membalik piring, lalu ketika pelayan hendak mengambilkan makanan.
"Boleh aku minta istriku yang melayaniku?" pinta pria itu lagi dengan tatapan memohon.
Lagi dan lagi, Sofia terkejut bukan main. Tatapan tak percaya ia layangkan pada suaminya.
"Aku mohon," lanjut Agung dengan begitu memohon.
Sofia mengambilkan makanan untuk suaminya. Walau dengan tangan yang gemetaran. Memang pernikahan mereka hambar. Tetapi, selama ini. Sofia yang mengkhianati pernikahan mereka.
Agung selalu memegang teguh prinsipnya. Walau ia tak mencintai istrinya, tetapi sebisa mungkin hanya Sofia wanita yang menemaninya hingga akhir hayat.
Agung makan dengan lahap, pria itu baru kali ini menikmati dengan sungguh-sungguh makanan yang dimasak Sofia, sang istri.
"Kau baik-baik saja kan Pa?" tanya wanita itu sedikit takut.
"Aku baik-baik saja," jawab Agung lirih.
Usai makan, pria itu memilih menuju kamar. Entah kenapa Sofia mengikuti suaminya.
"Mas mau ganti baju lagi?" tanya Sofia ketika melihat sang suami melepas bajunya satu persatu.
"Tolong bantu!" pinta pria itu.
Sofia bergerak. Jika biasanya wanita itu dengan cepat mencopot semua kain yang menempel di tubuh suaminya.
Kali ini tatapan Agung membuatnya jadi salah tingkah. Pipi Sofia perlahan memerah karena malu. Namun, ia masih menyadarkan diri.
"Sudah selesai," ujarnya ketika selesai melepas seluruh pakaian yang menempel di tubuhnya.
Agung tiba-tiba memeluk Sofia. Wanita itu lagi-lagi terkaget-kaget mendapat perlakuan itu.
"Mas!" peringatnya.
Satu kecupan dilayangkan Agung di bibir Sofia. Jika biasanya wanita itu yang lebih berinisiatif mencumbu sang suami. Kali ini berbeda, Agung yang mulai merayap dan memberi rangsangan pada sang istri.
Jam pulang tiba. Naima menaiki sepedanya, gadis itu masih menganggap dirinya tidak diinginkan oleh keluarga yang mengangkatnya.
Agung pun lupa menyuruh supir menjemput Naima. Pria itu memeluk erat tubuh polos Sofia. Netra wanita itu mengerjap. Masih terdengar helaan napas memburu, sedang sang suami sudah terlelap di sisinya.
Kepalanya menoleh pada sang suami yang memejamkan matanya. Tiga jam mereka bercinta tentu membuat keduanya terengah-engah, terlebih Agung benar-benar membuat tubuh Sofia melayang tinggi.
Perlahan Sofia hendak turun dari ranjang. Agung mengeratkan pelukannya, lalu menciumi tengkuk sang istri.
Rendra, Reinhart dan Renita pulang dalam keadaan lapar. Untung semua sudah disiapkan mereka jadi semua tinggal makan.
Naima pulang ketika menjelang petang. Agung meminta maaf karena melupakan gadis itu.
"Tak masalah,. sudah terbiasa," jawab Naima santai.
Gadis itu ikut makan malam bersama, usai makan mereka pun pergi ke kamar masin-masin
Mereka langsung tidur tanpa ada yang saling sapa. Sedang Pratma di kantor berusaha menangani pekerjaan. Pria itu harus membuktikan diri untuk yang terakhir kali jika dia mampu.
"Tuan," panggil manja seorang karyawati..
"Desta!" pekik Pratma panik.
Desta datang, pria itu melihat seorang sedang menggoda tuannya bertindak cepat.
"Aaauuu ... lepaskan!' pekik salah satu staf administrasi itu.
"Pergi!" usir Desta pada wanita penggoda itu.
Pratama mengelus dadanya. Kali ini ia selamat, karena berhasil membuat pelakor pergi.
bersambung.
Ah ... Andre udah dekat... bentar lagi Naima!
Next?