
Kehamilan Naima jadi berita bahagia bagi tiga keluarga. Tentu saja keluarga dari Fidya yang menjadi ibu dari Naima senang akan kehadiran cicit mereka.
"Ini baru tiga minggu Oma!" rengek Naima cemberut.
Wanita itu sedikit kesal dengan semua orang tua yang sepertinya membatasi geraknya. Padahal ketika Fidya hamil kemarin, semua tampak biasa saja dimatanya.
"Jangan salah sayang. Mama kemarin juga begitu," lapor Fidya juga ikutan kesal.
"Jika nggak boleh gerak malah nanti jadi nggak sehat ya?" sahut Naima.
"Boleh gerak, tapi jangan berlebihan!' terang Charles.
"Iya, makanya bolehin aku masak atau berolahraga ringan di halaman!" sahut Naima ketus.
"Sayang ...."
"Naima benar Jeng!' sahut Masha membela.
"Anak ini kalo bergerak kita rada khawatir!" sela Denita kesal.
"Masa hamil Thai boxing?" lanjutnya merengut.
"Kalo hamil ya nggak latihan itu kali Oma!' sungut Naima sambil menggeleng.
Semua terkekeh mendengarnya. Akhirnya kamar Naima sepi, hanya tinggal dirinya dan Neil. Pria itu membiarkan sang istri tinggal bersama kakek dan neneknya.
'Mas,"
"Hmmm?" sahut Neil.
Pria itu memeluk istrinya erat. Ia akan jarang bersama suaminya. Mansion mertuanya sangat jauh dari perusahaan. Akan menempuh waktu dua jam sendiri untuk sampai.
"Nanti pulangnya seminggu sekali aja," ujar Naima yang membuat Neil menatapnya tajam.
"Kan biar nggak terlalu cape sayang!' jelas Naima manja.
"Nggak, aku akan datang dua hari sekali. Kalo nggak sibuk banget, aku pulang setiap hari!' tekan pria itu.
"Mas ... kalo Mas gini, Kak Dion bakal jomblo seumur hidupnya!" sahut Naima memberi pengertian.
"Dih ... jangan nuduh sembarangan sayang. Dia aja tuh pilih-pilih. Mana ada cewe lembut, cantik, setia dan penuh kasih sayang terus nggak matre!' sahut Neil ketus.
"Emang Kak Dion nyari cewe begitu!"
"Iya! Malah dia nyari yang berjilbab panjang!" sahut Neil kesal dengan sahabatnya itu.
"Padahal dia bisa ngaji juga nggak!' lanjutnya mendumal.
"Selama bekerja sama aku. Aku tak pernah liat dia sembahyang!" adunya lagi.
"Ih ... kok mas ngomongnya Kak Dion? Ngalah-ngalahin ibu-ibu komplek!' ledek Naima.
"Ih ... bener sayang, kamu tau nggak. Dia bilang mau cari cewe anak rumahan. Jadi nggak kemana-mana!' lanjutnya semangat.
"Eh ... gimana ketemunya kalo kek gitu?" tanya Naima ikutan bodoh.
"Nah, maka itu aku suka ledek dia bengkok. Mana ada cewe di rumah aja terus ketemu dia. Mana Dion itu juga jarang keluar rumah, kalo udah pulang!" sahut Neil semangat.
"Eh ... ada cowo gitu?"
"Itu Dion sayang. Beda ama aku. Aku sedikit gaul tetapi, memang aku jarang kumpul sama teman-teman pebisnis. Habis, pernah ikut diajak ke klub, baru aja masuk aku udah pusing!" lanjutnya bercerita.
"Aku lebih suka baca novel romantis dan fiksi ilmiah," lanjutnya.
"Ih ... keren deh Mas sama Kak Dion!" puji Naima kagum.
"Kalian berdua termasuk spesies cowok langka!' lanjutnya setengah meledek.
"Hmmm ... ngeledek nih!?" sungut Neil gemas.
Tak lama keduanya pun tergelak karena saling menggelitik satu sama lain.
Malam tiba, keduanya makan malam bersama. Hanya tinggal Danar dan Denita. Sedangkan yang lain sudah pulang.
"Sayang, apa kamu sudah menginginkan makan sesuatu?" tanya Denita.
"Apa Oma?"
"Seperti mangga muda atau sejenisnya?" Naima menggeleng.
"Wah, belum merasakan trimester pertama ya?" Naima menggeleng lagi.
"Ya sudah tidak apa-apa. Kan itu tergantung hormon ya," sahut Danar.
Usai makan mereka berbincang sebentar lalu pergi ke kamar mereka masing-masing.
Pagi menjelang, Neil pergi pagi-pagi sekali. Matahari juga belum menyinari bumi. Naima mengantar suaminya.
"Sudah sayang. Tidak apa-apa, aku bisa sendiri," Neil mengecup bibir sang istri.
"Salam buat opa dan oma ya," Naima mengangguk.
Setelah kepergian suaminya. Naima kembali tidur. Kali ini ia baru merasa pusing, lalu perutnya kembali bergolak.
"Huuuppphh!' Naima menutup mulut dengan telapak tangan.
Wanita itu berlari ke wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Hanya keluar cairan bening yang begitu pahit.
"Sayang?" Denita masuk dan langsung menuju cucunya..
"Sarapan di kamar aja ya? Apa Neil sudah pergi?" Naima mengangguk.
"Iya Oma," jawab Naima lesu.
Tak lama, perut Naima hangat dengan sarapan bubur enak buatan neneknya. Danar masuk, ia mengecup kening Naima.
"Istirahat sayang," ujarnya iba.
Naima mengangguk, setelah meminum resep yang diberikan dokter kemarin. Wanita itu dibiarkan tidur lagi.
'Kasihan dia. Hamil, tapi ayah ibunya sudah meninggal dunia," ujar Denita sedih.
"Ma, jangan gitu ah! Dia ada Neil dan kita-kita yang mencintai dia!" tegas Danar tak suka ucapan istrinya.
"Maaf sayang,," ujar Denita minta maaf.
Danar membawa sang istri menjauh dari kamar cucunya.
Sementara itu Neil tiba di perusahaannya setengah jam lebih awal dari biasanya.
"Pagi Tuan!"
"Pagi Boss!'
"Boss?" Dion mengerutkan keningnya.
"Hai!' sahut Neil lalu beranjak menuju lift khususnya.
Dua pria tampan memang jadi incaran para gadis-gadis. Semua tampak histeris jika salah satu dari pria itu membalas salam mereka.
"Astaga! Hot banget sih boss kita itu!' pekik salah satu gadis karyawan.
'Iya, mana ganteng, udah itu kaya raya lagi. Gue jadi istrinya mau ongkang-ongkang kaki!'' sahut lainnya.
"Tuan, nanti kita harus ke sebuah klub. Tuan Merdova ingin menjalin kerjasama di sana!' lapor Dion.
"Tolak dan batalkan semua kerjasama!" sahut Neil tegas.
"Baik Tuan!' sahut Dion semangat.
Hal tersebut membuat perusahaan yang berbasis di New York itu jadi rugi besar. Neil memang anti club. Pria itu mengaku pusing walau baru mendengar namanya saja.
'Astaga ... kok aku mau mangga muda dicocol garem ya?' ujarnya bingung.
'Masa kamu yang ngidam?" tanya Dion.
"Eh ... apa bisa aku yang ngidam?"
"Bisa jadi sih!" jawab Dion sambil mengangguk.
"Duh, nggak kebayang deh!' tolak Neil.
"Heh ... anak kamu juga kan itu?" peringat Dion.
Keduanya bekerja, tapi di tengah-tengah kesibukan keduanya. Neil tak tahan ingin mencari mangga muda yang ada di bayangannya itu.
'Mau kemana?" tanya Dion gusar.
"Cari mangga muda!" jawab Neil.
Pria itu turun ke bawah. Sepertinya ia bingung hendak cari kemana. Seorang sekuriti menatap bossnya yang berjalan sambil melamun.
"Boss?" Neil sampai kaget.
"Ih!' sungutnya kesal.
"Boss mau apa? kok kek bingung?" tanya sekuriti.
"Mau cari mangga muda yang dicocol garem," jawab pria tampan itu.
Sekuriti seperti tak mendengar jawaban dari atasannya itu. Mungkin dia kaget.
Neil berjalan kaki. Ia biasa melihat beberapa pedagang berjualan di atas trotoar. Di sana ia mencari tukang rujak.
"Mas ... ada mangga dicocol garem nggak?" tanyanya.
Penjual menatap heran pria bule nan tampan di depannya. Beberapa orang tampan histeris terutama para wanita.
Tiga sekuriti berlari. Mereka langsung menjaga atasan mereka.
"Ini berapa?" tanya Neil.
"Dua puluh lima ribu!' jawab pedagang mengeruk untung besar.
"Jangan ngadi-ngadi Lu ya!' sentak Neil marah.
Pedagang tampak keki. Sekuriti mengambil dua buah mangga dan membayarnya.
"Ini Tuan!' ujarnya menyerahkan buah yang diinginkan atasannya.
"Weh ... makasih!" sahut Neil senang.
bersambung
et dah Neil.
next?