
Pratama berhadapan dengan Naima. Gadis yang ia buat menjadi yatim piatu dalam semalam.
Pria itu sangat ingat bagaimana ia menghantam keras motor yang ditunggangi tiga orang dengan Naima di tengah kedua orang tuanya.
"Naima ...."
"Panggil dia Nona Muda Hartono Tuan Lakso!" tekan Andre menyeringai.
Pria itu mengabadikan kejadian hari ini. Pratma melarang Rendra membungkuk pada Naima. Pria itu merasa dirinya adalah biang dari semua kesalahan.
"Aku mohon Nona!" Pratma berlutut di depan Naima.
"Aku memang salah. Mestinya aku dipenjara saat itu!" lanjutnya dengan kepala tertunduk.
Naima hanya menatap datar. Sungguh permintaan maaf pria itu tidak berarti lagi baginya sekarang. Anna ikut berlutut di hadapan Naima.
"Aku juga minta maaf karena dulu sering menyakitimu," ujarnya lirih.
Anna tak pernah berlutut pada siapapun. Wanita itu terlahir dengan dagu terangkat. Wanita itu menurunkan harga dirinya ikut berlutut.
"Aku minta maaf atas nama Mama dan Papa mertuaku," ujarnya lirih.
Naima menutup matanya. Kepingan memori masa lalu kembali melintas diingatan Naima. Tawa ayah dan ibunya perlahan mulai muncul.
"Naima ...."
"Papa Mama," ujarnya lirih.
Naima berdiri. Gadis itu memang bukan pendendam. Perusahaan Lakso sudah hancur akibat keserakahan pemilik dari perusahaan itu sendiri. Agung juga sedang menikmati hukumannya.
"Berdirilah Tuan, Nyonya,' pinta Naima lembut.
Terdengar dengkusan kasar dari mulut Andre. Pria itu masih kesal dengan keluarga yang telah membuat nona mudanya sengsara selama empat belas tahun.
"Papa," tegur Naima lembut.
Naima memaafkan keluarga Lakso. Tetapi tetap harus menjalankan pinalti yang diberikan oleh pihak Bank.
"Saya menangguhkan uang curian menjadi pinjaman lunak!" ujar gadis itu lagi.
Pratma sangat terharu. Putranya tak perlu menjual seluruh aset dan dapat mencicil semua uang yang diambil tanpa bunga.
Sebuah berkas bertandatangan menandakan kesepakatan. Naima tetap menyerahkan kepemimpinan perusahaan Lakso pada Rendra.
"Jadi Naima membuat aset yang dicuri selama ini sebagai pinjaman lunak?" tanya Renita tak percaya.
"Iya Nak, ini sudah ditandatangani notaris!" ujar Pratma senang.
Rendra terdiam, ia menatap berkas yang dikatakan ayahnya. Reinhart menepuk bahu kakaknya. Bayang-bayang pailit terlepas, walau mereka harus tetap membayar pinalti.
"Mestinya hibahkan saja," gumam Renita masih tak puas.
"Nak!" peringat Pratma.
"Apa sih Pa!" sahut gadis itu ketus.
Renita memilih duduk di kursi kerjanya. Gadis itu masih tidak menyukai Naima. Anna mendekati putrinya. Ia juga salah mendidik gadis itu.
"Nak, maafkan Mama," ujar wanita itu lalu mengusap punggung Renita.
'Mama nggak salah," ujar Renita lirih dan memeluk sang ibu.
Rendra kembali mencari beberapa investor untuk keberlangsungan perusahaannya.
"Kau harus lebih giat dan bekerja keras lagi Nak!' ujar Pratma. "Jangan bodoh seperti Papa!"
"Papa tetap yang terbaik bagiku!" ujar Rendra.
"Gala dinner nanti malam kau harus tampil yang terbaik Nak. Di sana banyak pengusaha ternama yang membawa banyak proyek," ujar pria itu.
Rendra mengangguk. Pemuda itu memang harus lebih keras lagi bekerja agar seimbang dengan Naima.
"Aku bersama kakak!" ujar Reinhart.
Malam pun datang. Sebuah gedung mewah telah dihias begitu indah dan terkesan glamor. Semua pengusaha datang dari berbagai tempat. Mereka mengenakan baju-baju terbaik mereka. Mobil-mobil mewah berhenti di depan teras hotel dengan taraf internasional.
Semua menuju satu ballroom hotel yang telah disediakan oleh panitia. Rendra datang bersama dua adiknya. Menggunakan mobil mercy C200. Ketiganya mengenakan busana terbaik mereka.
"Selamat datang Tuan dan Nona muda Lakso!" sambut kepala panitia.
"Terima kasih Tuan!" Rendra menyambut uluran tangan pria yang menyambutnya.
Mereka bertiga masuk dalam ruangan mewah itu. Renita menatap semua ruangan dengan takjub.
"Hotel ini baru dibangun setengah tahun lalu tapi mampu mengalahkan seluruh hotel yang berdiri di sini puluhan tahun," ujar Reinhart.
'Nona apa ada proyek besar yang akan anda tawarkan di gala dinner kali ini?" tanya salah satu wartawan.
"Ada pengajuan jalan tol di daerah B. Kemungkinan saya akan menawarkan itu!" jawab Naima.
Mereka pun masuk ruangan besar itu. Acara pun berlangsung. Sosok tampan mendekati gadis yang telah menarik perhatiannya beberapa minggu lalu.
"Tuan Hendrawan!" sapanya.
"Oh Tuan Gutama!' Andre menjabat tangan pria itu.
"Nona, ini salah satu pendiri dari perusahaan Gutama Corp!"
Naima tersenyum dan membalas jabatan tangan Neil. Pria itu tersenyum indah.
"Nona, nama anda begitu besar padahal belum satu tahun anda menggeluti bisnis!' puji Neil.
Andre tak pernah bergeser dari sosok Naima. Ia terlihat seperti ayah yang posesif terhadap putrinya. Padahal, Andre menekan cemburunya.
"Kak, dia siapa?" Reinhart menoleh pada adiknya.
"Siapa?" tanyanya ulang.
"Itu yang bicara sama Naima," jawab gadis itu malas.
Reinhart mencari sosok yang dimaksud sang adik. Pemuda itu langsung mengenal siapa pria tampan itu.
"Dia adalah Tuan muda Neil Gutama. Pebisnis ternama dari kota N. Beliau sangat berpengaruh," jawab Reinhart.
"Kakak tidak berusaha menarik perhatiannya?" tanya Renita menatap Neil dengan tatapan memuja.
"Dia termasuk yang sulit didekati. Jika ia mendekati seseorang maka tak ada yang bisa mencegah itu!" jawab Reinhart.
Renita rupanya tak mendengar perkataan kakaknya. Gadis itu begitu berani dan sangat percaya diri mendekati pria yang sangat memukau matanya.
"Aduh!"
Gadis itu nyaris tersungkur jika saja sepasang lengan tak segera menarik pinggangnya. Sepasang mata menatap. Dzikra memandangi sosok cantik tanpa berkedip.
"Kurang ajar!' umpat Renita kesal.
"Ah ... maaf Nona!" Dzikra melepas rangkulannya.
"Sialan kau!" umpat gadis itu kesal.
Neil ternyata kini mendatangi kakaknya. Ia sangat menyesal meninggalkan mereka tadi.
"Anda tidak apa-apa kan?" tanya Dzikra khawatir.
"Minggir kau!" sembur Renita masih kesal.
Naima yang membawa Neil pada keluarga Lakso. Satu lagi kebaikan gadis itu untuk menolong pencuri hartanya. Reinhart sangat salut akan pribadi sosok yang dulu sering disusahkan kakak dan adiknya itu.
"Oh ya Tuan muda Lakso. Saya harap anda membawa proposal terbaik untuk memenangkan proyek yang akan berlangsung nanti!" ujar Naima menantang Rendra.
Tatapan sindiran gadis itu menoreh harga diri Rendra. Ia menatap tajam Naima. Gadis itu tak mau kalah. Ia balik menantang tatapan Rendra.
Acara berlangsung pada inti ada delapan proyek diajukan. Naima memilih dua proyek yang bersangkutan dengan perusahaannya. Rendra memenangkan proyek dengan nilai sebesar 20%.
"Kebangkitan Lakso akan pulih!" ujarnya yakin.
Naima juga memenangkan proyek dan mendapatkan tender dengan nilai keuntungan 40%.
Neil di sana memang tak menawarkan apapun pria itu sudah terlalu kaya untuk berebutan proyek yang tak seberapa nilainya itu.
"Nona, suatu saat aku ingin kau yang mengepalai salah satu proyek yang akan aku dirikan," ujar pria itu dengan senyuman menawan.
"Itu bisa dibicarakan Tuan!" sahut Naima ramah.
Gadis itu masih polos dengan maksud dan tujuan dari Neil. Andre menatap gusar pria yang memandang nonanya penuh minat.
"Mari Nona. Kita pulang!" ajaknya tegas.
Neil tertawa melihat tingkah Andre yang seperti orang kebakaran jenggot. Tampak ketidak sukaan Andre pada Neil yang mencoba akrab dengan Naima.
"Ayo Pa!' angguk gadis itu.
Mereka pun naik mobil bersama. Neil menatap kendaraan mewah itu. Ia tersenyum.
"Kau sepertinya menyukai nona mudamu Tuan Hendrawan?" kekehnya pelan.
Bersambung.
Next?