NAIMA

NAIMA
TUNANGAN 2



Hari yang dinanti tiba. Pesta pertunangan dua pengusaha besar berlangsung. Pesta itu dibuat sangat private hingga untuk masuk ke sana perlu pemeriksaan dan juga undangan resmi.


Charles tentu mengundang banyak kolega dan pejabat penting begitu juga Danar. Naima mengundang juga keluarga Lakso. Asep hadir selaku perwakilan keluarga itu.


"Nona Renita akan menikah sebentar lagi. Jadi mereka tengah mempersiapkan diri,"


Begitu penjelasan Asep ketika ditanya kenapa keluarga Lakso tidak datang. Naima pun tak mempermasalahkan, gadis itu sedang begitu bahagia dengan hari ini.


Naima memakai gaun midi yang sangat cantik berwarna salem. Taburan berlian Swarovski membuat gaun itu sangat mewah, belum lagi sepatu warna senada dengan bajunya.


"Astaga mereka benar-benar serasi!' puji beberapa kolega.


Ajang itu menjadi momen sebagian pebisnis melakukan kerjasama. Mereka membicarakan beberapa proyek. Sepasang sejoli duduk di pelaminan. Neil menggenggam dan mencium buku tangan gadisnya.


"Kau cantik dan harum sayang," pujinya.


"Jangan berpikir macam-macam Neil!" ancam Naima.


"Memang apa yang aku pikirkan sayang?" goda Neil.


Hal itu membuat Naima cemberut, ia menarik tangannya dari genggaman kekasihnya. Hal itu tentu membuat Neil kaget.


"Sayang," rengeknya.


"Ih!" dengkus sang gadis kesal.


"Sayang!' rengek Neil lagi.


Rengekan manja Neil tentu jadi sorotan semua orang. Naima tentu malu jika menjadi pusat perhatian. Ia pun memberikan lagi tangannya. Neil tersenyum penuh kemenangan. Ia sudah tau letak kelemahan sang gadis walau ia tak berani terus-terusan menggoda. Naima adalah gadis yang tak kenal kompromi.


'Astaga ... kau sungguh berani Neil!' teriak pria itu dalam hati.


Sementara Viona yang ada di luar tempat acara tak bisa masuk karena tak bisa memperlihatkan undangan. Gadis itu membuat keributan.


"Aku adalah putri dari Hardoyo Putra. Seorang pengusaha ternama!" teriaknya.


"Maaf Nona! Siapapun anda, anda tak dapat masuk, tanpa menunjukkan undangan!" sahut petugas tegas.


Viona menelepon ayahnya. Ia sangat yakin jika sang ayah diundang oleh Charles Gutama.


"Papa tidak diundang ke sana!" teriak pria itu yang membuat Viona terkejut bukan main.


"Papa harus cari cara Papa. Aku tidak mau Neil jadi milik orang lain!" teriak gadis itu tak peduli.


"Biar Papa telepon Charles dulu!" ujar sang pria dari seberang telepon.


Sambungan terjeda beberapa lama. Hardoyo pun mengatakan jika teleponnya tidak diangkat bahkan berikutnya diblokir oleh Charles.


"Kok dia berani Papa!" teriak Viona kesal.


"Sudah jangan mengacau dan membuat aku malu!" teriak pria itu memperingati. "Pulang kau!"


Viona tak mau menuruti ayahnya. Ia pun berteriak memanggil nama Neil.


"Neil!"


Beberapa pria bertubuh tegap langsung menyeret Viona keluar dari lokasi. Tentu saja mereka tidak mau ada yang membuat keributan di lokasi yang telah dibayar secara mahal itu.


"Jangan kasar!" teriak Viona.


'Maka jangan berulah Nona!" sentak salah satu pria mendorong keras tubuh Viona. Beruntung tubuh gadis itu tidak sampai jatuh.


"Akan kubuat kalian jadi gembel!" ancam gadis itu lagi sambil menunjuk semua pria yang menyeretnya tadi.


"Aku adalah kekasih dari Neil Gutama. Aku pastikan kalian akan menyesal!" teriak Viona seperti orang gila.


"Oh Nona ... sudahlah jangan bermimpi!" sentak salah satu pengawal.


"Jangan menyaingi Nona Hartono!' lanjutnya menyeringai sinis pada gadis yang berdandan sangat cantik.


kedua pria pun pergi meninggalkan Viona. Gadis itu menghentakkan kakinya ke tanah.


"Au!" pekiknya kesakitan.


Gadis itu langsung terduduk dan memegangi pergelangan kakinya. Rupanya ia terkilir.


"Sakit!" rengeknya.


Viona berjalan terpincang menuju mobil mewahnya. Gadis itu menatap acara yang begitu tertutup. Di sana banyak wartawan, beruntung aksinya tadi tidak terekspos.


"Baiklah ... lain kali saja!' ujarnya sambil meringis menahan sakit.


Mobil mewah itu pun pergi meninggalkan acara. Sedang di area utama acara. Neil bersiap memasang cincin di jari manis Naima.


"Cincinnya seperti milik mendiang Putri Diana Spencer," seru beberapa kolega wanita menatap iri pada cincin Naima.


"Beruntung sekali!" cibir beberapa wanita cantik.


Neil mengecup pucuk jemari Naima setelah menyematkan cincin berlian di jari manis gadis itu. Naima tentu merona, ia sampai memalingkan mukanya yang memanas karena malu luar biasa.


"Cantik sekali!' puji beberapa kolega pria.


"Selamat Nona Naima dan Tuan Neil. Anda telah bertunangan, kapan hari pernikahan dilaksanakan?" tanya beberapa wartawan yang diundang masuk.


"Masih dua bulan lagi!" jawab Charles mewakili.


"Tanggal dua bulan tiga!'' lanjutnya.


Semua tentu mencatat peristiwa penting itu. Mereka tidak akan mau melewatkan acara yang pastinya digelar secara meriah.


Acara pun berakhir, tadinya Neil ingin membawa sang kekasih untuk berjalan-jalan. Tapi Andre langsung melarangnya.


"Papa!" rengek Neil.


"Maaf Tuan. Saya tak mau melewati jalur!' tekan pria itu.


"Aku juga nggak akan mau Papa. Aku cape banget!' sahut Naima juga sudah kelelahan.


Neil harus menurut. Padahal ia ingin mengajak Naima berkencan di yatch pribadinya. Ia tengah membayangkan malam panas sesuai isi sebuah novel yang baru saja ia baca.


"Kalian belum sah!" pungkas Andre membuyarkan lamunan Neil.


Akhirnya semua pulang ke hunian mereka masing-masing. Fidya mengelus perutnya. Tadi ayah dan ibunya sangat memanjakan dirinya.


"Kau lelah sayang?" tanya sang suami.


Fidya menggeleng, ia menatap Andre penuh cinta. Andre begitu tersanjung, ia mencium dan menggendong sang istri menuju kamar mereka.


Naima begitu sampai langsung tidur. Ia tak mengganti bajunya sama sekali. Hal ini membuat Darni menghela napas panjang.


"Kenapa anak itu Dar?" tanya Denita terkekeh melihat wajah pasrah Darni.


"Non Naima nggak ganti baju. Kebiasaan buruk Nyonya," jawab Darni.


"Saya mau menggantikan bajunya," lanjutnya.


"Aku bantu!" sahut Denita.


Darni tentu tak bisa melarang. Ia mengambil washlap dan air untuk membasuh tubuh nona mudanya itu.


Setelah mengganti semua, kedua wanita beda usia itu pun keluar kamar.


Sore menjelang, Naima bangun dan bermalas-malasan di sofa teras belakang. Gadis itu memakan buah yang disiapkan.


"Sore Oma!" sapanya pada Denita.


"Sore sayang," sahut Denita tersenyum.


"Apa kau sudah mempersiapkan gaun pengantin mu?" tanyanya.


"Belum," jawab Naima santai.


"Astaga anak ini!" dumal Denita tentu tak habis pikir.


"Sayang, kau harus mempersiapkan bersama kekasihmu. Ini adalah pernikahan sekali seumur hidup!" pekiknya kesal.


Naima hanya menatap neneknya dengan pandangan tak bersalah. Sedang Denita mulai pusing melihat cucu perempuannya yang begitu santai.


"Neil yang urus semua Oma," jawab gadis itu lagi dengan muka merengut.


"Sayang ini juga pernikahanmu. Jangan kau berikan semua pada Neil!"


"Atau Opa saja yang urus. Kan kemarin Papa menikah Opa yang urus!" sebuah ide dilontarkan Naima.


"Naima!" teriak Denita kesal bukan main.


"Iya Oma!" kekeh Naima yang suka menggoda neneknya itu.


"Jangan khawatir, aku sudah siapkan semua kok," lanjutnya menenangkan wanita tua itu.


bersambung.


Next?