NAIMA

NAIMA
MEMPERKENALKAN ISTRI



Semua karyawan berkumpul di aula. Pesta kecil diadakan oleh perusahaan. Neil memang hanya mengundang petinggi divisi juga para manager perusahaannya.


Sebuah acara ramah tamah berlangsung. Charles, Jeane datang juga Danar dan Denita. Bahkan Andre dan juga istrinya ikut serta.


"Selamat datang Tuan besar!' sambut Dion pada orang tua sahabatnya.


"Dion, apa kabarmu?' tanya Jeane ramah.


'Saya baik Nyonya. Terima kasih!' angguk Dion tak kalah ramah.


"Tentu kau mengenal Kakek dan Nenek dari Naima kan?" pria itu mengangguk.


Dion menyalami semuanya. Tak lama, Neil datang bersama sang istri. Pria itu menggandeng mesra Naima.


Naima sangat cantik. Istri yang masih perawan itu memakai mini dress selutut dengan warna toska. Sepatu tinggi senada dengan tas limited edition yang di genggaman wanita itu.


"Astaga, kenapa berbeda jauh dengan kemarin?" seru beberapa karyawan melihat tampilan istri boss mereka.


"Ck ... ya karena didandani mahal jadi kek gitu!" sungut salah satu karyawan sinis.


"Coba gue yang dipilih. Cantikan gue kali!' lanjutnya mencibir.


"Duh ... ngaca dulu dong kalo ngomong!' sungut lainnya menyindir rekannya itu.


"Kalo emang lu lebih baik dari Bu Boss. Kamu yang dinikahinya!' lanjutnya mencibir.


Gadis itu hanya mencebik. Tentu saja ia kalah saing dengan wanita yang merangkul lengan besar Neil. Sosok Neil yang jadi idola semua karyawati. Banyak yang menjadikan pria itu mimpi basah mereka.


"Aku dengar Debbie dipecat gara-gara cari masalah sama ibu boss!' bisik salah satu karyawan mulai bergosip.


"Loh kok bisa?' sahut salah satu tak percaya.


"Sombong sekali. Aku yakin wanita itu sangat sombong. Debbie kan salah satu karyawati terbaik!" ujar salah satu memprovokasi.


"Karyawati terbaik apanya?" protes lainnya lagi.


"Baru resepsionis aja laganya udah kek dia yang punya perusahaan!" lanjutnya mendumal.


"Iya! Debbie sering tuh maki-maki cleaning servis!' sahut lainnya.


"Selamat siang rekan-rekan semua!' Dion berada di depan aula. "Harap perhatiannya sebentar!"


Semua orang harus diam dan menatap lurus di mana ajudan, vice CEO dan orang kepercayaan Neil berbicara. Dion salah satu pria most wanted di perusahaan. Tetapi, pria itu sangat dingin dengan lawan jenis.


Dion menatap semua anak buahnya diam menatapnya. Pria itu mulai bicara kembali.


"Baik ... terima kasih atas perhatiannya!"


"Saya selalu juru bicara perusahaan akan memberikan informasi pada rekan semuanya!' lanjutnya tegas.


"Tuan muda Neil Gutama baru saja melangsungkan pernikahan empat hari lalu. Beliau memang tak mengundang banyak orang karena memang ingin pesta lebih khidmat!" lanjut pria tampan itu.


"Silahkan Tuan,' ujarnya memberi ruang pada Neil.


Neil maju sambil menggandeng istrinya. Pria itu mulai memperkenalkan sang istri.


"Halo semuanya selamat siang!' sapa Naima.


"Saya adalah Naima Az-zahra Hartono, cucu dari Danar Hartono!' ujar Naima memperkenalkan diri.


"Selamat siang Nyonya, Selamat datang di perusahaan Gutama Perkasa!" seru beberapa kepala divisi.


"Baiklah ... silahkan dinikmati hidangannya!' perintah Neil.


Dion mengajak semua ke sebuah ruang vvip. Tentu saja mereka tak jadi satu dengan karyawan biasa. Ruangan itu tempat para eksekutif dan manager perusahaan.


Acara ramah tamah selesai. Semua karyawan diberi buah tangan dari sepasang pengantin. Sebuah hiasan dari kristal bertulis nama keduanya.


"Ck ... keliatan boros amat!' sungut salah satu karyawati iri.


"Jiah iri aja loh!" sahut lainnya kesal.


Neil membawa istri dan kedua orang tuanya juga nenek kakek serta Andre juga Fidya ke ruangannya. Dion hanya mengikuti saja.


"Aku mau tandatangan beberapa berkas sebentar. Nanti kita pergi jalan-jalan setelah ini!' ujar pria itu.


"Kami pulang saja kalau begitu. Aku cepat lelah," ujar Danar pamit.


"Aku juga!" sahut Charles.


"Tapi sayang ...."


"Jaga kesehatan kalian ya!" pintanya.


"Iya Oma. Makasih," sahut keduanya.


Akhirnya, ruangan tinggal mereka bertiga. Naima memilih membaca majalah bisnis. Keluarga Lakso ada di halaman tengah majalah itu. Ia tersenyum, perusahaan pria yang pernah merawatnya itu perlahan naik.


"Kau berhasil membuktikan dirimu Kak," gumamnya bangga.


Tak lama, semua berkas selesai ditandatangani. Neil mengajak Naima pergi jalan-jalan. Ia ingin menghabiskan hari di yatch pribadi miliknya. Fantasinya pada sebuah novel romantis ingin ia lakukan bersama gadis yang telah menjadi istrinya.


"Carilah pasanganmu Dion!' perintah Neil.


"Kau normal kan?" lanjutnya menyindir.


Dion berdecak, ia tentu normal. Hanya saja gadis kriterianya sangat tinggi. Pria itu mendambakan seorang istri penuh kelembutan.


Dion tak menanggapi sahabatnya. Mereka akhirnya naik kendaraan masing-masing. Neil segera menekan pedal gas.


"Hati-hati sayang!" perintah Naima yang merasa mobil yang ia tumpangi melebihi kecepatan diatas rata-rata.


Neil menurut, ia mengendurkan kecepatan. Ia harus membuat istrinya nyaman. Satu jam perjalanan mereka tempuh. Kini keduanya berada di sebuah pelabuhan kecil.


"Ayo naik!' suruh Neil.


Naima naik yatch melalui tangga. Sang suami memeganginya sekaligus meremas bokong indah yang sudah menjadi fantasi liarnya.


"Mas!" peringat Naima. "Nanti aku jatuh!'


"Tidak akan sayang!" teriak Neil.


Lalu keduanya ada di atas kapal kecil yang mewah itu. Neil sendiri yang menjadi nahkoda. Kini kendaraan laut itu sudah ada di tengah-tengah samudera berwarna biru.


"Kemarilah sayang!' pinta Neil ketika memegang kendali kapal.


Naima mendekat. Neil merengkuhnya. Ia menarik tangan Naima ke kemudi kapal.


"Bagaimana sayang? Apa kau menyukainya?" Dagu Neil berada di bahu istrinya.


Naima mengangguk antusias. Neil melepas jangkar dari tombol otomatis yang ada di depannya. Kapal tidak akan kemana-mana selama ombak tenang.


'Ayo ... sebentar lagi sunset sayang!' ajak Neil ke buritan yatch.


Naima menatap matahari yang mulai condong dan tenggelam warna keemasan muncul. Neil memeluk erat istrinya.


"Indah bukan?"


"Ini indah sekali!" puji Naima dengan suara serak.


"Sayang?" Neil membalik tubuh istrinya.


Netra Naima berkaca-kaca. Gadis itu tak menyangka dapat melihat keindahan alam.


"Aku tidak pernah melihat keindahan seperti ini," akunya.


Neil memeluknya. Dua hidung mancung saling menempel. Naima bukan tidak mengerti keinginan sang suami. Gadis itu membiarkan Neil mencium bibirnya.


Pria itu memagut rakus bibir yang sudah menjadi candunya itu. Keduanya terlibat ciuman panas.


"Aku ingin kau telanjang hari ini!' pinta pria itu dengan nada serak.


Naima dapat melihat kabut gairah di mata sang suami. Gadis itu pun larut dalam gairah yang sama. Neil benar-benar membimbing istrinya mencapai gelora cinta.


Neil berada di atas tubuh sang istri. Keduanya bercinta di antara semburat oranye yang kini mulai kehitaman.


"Apa kau siap?" Naima mengangguk.


Neil mendorong miliknya perlahan. Naima memejam, ia merasakan sakit luar biasa. Kukunya menancap di punggung sang suami. Butuh kekuatan dan kelembutan untuk menerobos lubang sempit dan tak pernah dijamah itu.


"Sayang!" teriak Naima ketika seluruh milik Neil berada di daerah paling dalam dan merobek sesuatu di sana.


"Sakit!"


Kesakitan Naima hanya sebentar. Karena kini keduanya berkeringat dan menikmati gairah cinta mereka.


Bersambung.


Ah ... othor masih polos.


Next?