
Usai makan siang di sebuah restoran ternama. Naima, Rendra dan Asep mulai mengikuti proses gala dinner.
Naima harus belajar cepat, gadis itu mencatat semua kegiatan dalam ingatannya. Asep menjelaskan beberapa poin penting. Naima mencatat dalam note di ponselnya.
Rendra menemui sang kakek yang sendirian. Agung memperkenalkan dengan bangga cucu kesayangannya itu.
"Oh jadi ini cucu pertamamu, Tuan?' tanya seseorang dengan senyum lebar.
"Benar, ini cucu pertama saya," sahut Agung penuh kebanggaan.
"Bukankah kau juga memiliki tiga cucu? Mana yang lain?" tanya salah satu kolega.
Agung terdiam, selama ini hanya Rendra yang ia poles sedemikian rupa di kalangan pebisnis. Sedang Reinhart dan Renita ia mengabaikannya.
"Aku dengar Reinhart sudah mendirikan perusahaan sendiri walau pun kecil," sahut lainnya.
"Ah ... iya, sepak terjangnya juga sangat menarik kita!" sahut kolega lainnya.
Rendra diam, ia memang kalah jauh dengan adiknya itu. Agung yang mengukungnya sedemikian rupa hingga tak bisa mengeksplor diri.
"Mestinya kau biarkan cucumu bergerak di awal Tuan Lakso," sindir Andre yang ada di sana.
"Ah Tuan Andre!" sambut yang lain dengan senyum lebar.
Agung mengerutkan keningnya. Ia seperti pernah mendengar nama itu.
"Tuan, apa malam ini akan diberitahu siapa pemilik sebenarnya PT N. Graha?" tanya salah satu kolega penasaran.
"Lihat nanti Tuan," sahut Andre dengan senyum sejuta rahasia.
Andre pergi meninggalkan sekumpulan orang itu. Agung menatap punggung pria yang baru saja berlalu. Kehadiran Andre membuat Agung berdebar keras.
"Apa ini ... apa yang terjadi?" tanyanya gusar dalam hati.
Reinhart datang sendirian. Rupanya ia mendapat undangan eksklusif dari penggalang pebisnis dan pengusaha. Beberapa orang menyalami pemuda itu. Rendra mendatanginya.
"Dek, apa kabar?" Reinhart memutar mata malas.
"Seperti yang kau lihat ... Kak," jawabnya enggan.
Agung mendatangi keduanya. Pria itu memberi peringatan ringan pada cucu keduanya agar tak membuat malu.
"Suruh cucu kesayanganmu itu yang jangan banyak berulah ... Opa!" sungut Reinhart begitu membenci pria tua di depannya.
"Besok aku akan bawa Oma agar tak berada bersamamu!" lanjutnya lalu meninggalkan Rendra dan Agung.
Andre mendatangi pemuda berbakat itu. Pria itu telah menyelidiki semuanya bagaimana cucu kedua dari rival nona mudanya itu merintis usahanya.
"Selamat datang Tuan Lakso," sapa pria itu yang ditanggapi senyum kecut Reinhart.
"Sayangnya anda seorang Lakso. Biar bagaimanapun nama itu yang ikut serta menaikkan pamormu mau tak mau," sahut Andre menyesal.
"Tuan," cicit Reinhart begitu lirih.
Andre menepuk bahu pemuda itu. Lalu menatap Naima yang sibuk menelaah semua informasi yang diberikan Asep padanya. Perlahan ia mendekat.
"Selamat sore," sapanya.
"Ah ... Tuan Andre Hendrawan!" Asep semringah dengan kedatangan pria itu.
Andre cukup terkenal, gerak aksinya yang begitu berani begitu disoroti oleh semua kalangan pebisnis. Walau semua terkejut ketika mengetahui ia hanya seorang suruhan.
"Berarti pemiliknya sangat hebat hingga bisa mendapatkan karyawan terbaik seperti Andre Hendrawan!" puji beberapa kolega waktu itu.
"Tuan!' sapa Andre.
"Naima, ini adalah Tuan Andre Hendrawan. Beliau salah satu pebisnis handal dan mampu melejitkan sebuah perusahaan baru hanya dalam jangka lima tahun!' Asep memperkenalkan pria tampan itu.
"Tuan, ini asisten sekaligus sekretaris dari Tuan Rendra Lakso," lanjutnya memperkenalkan Naima.
Gadis itu mengulurkan tangan. Andre hampir menangis. Wajah Naima begitu mirip dengan mendiang tuan mudanya.
'Dia seorang Hartono!' puji Andre dalam hati begitu bahagia.
Matanya sampai berkaca-kaca melihat Naima yang begitu cantik. Gadis itu sampai mengerutkan keningnya.
"Tuan, apa anda tidak apa-apa?" tanya Asep bingung.
"Ah ... tidak apa-apa. Saya hanya ingat putri dari atasan saya. Nona Naima sangat mirip," jawab Andre begitu gamblang.
Akhirnya acara dimulai. Naima diminta berbaur, gadis introvert itu sangat risih pertama kali. Tapi, lambat laun ia mulai terbiasa.
"Eh ... kamu Naima kan?" tanya seorang gadis dengan balutan mewah dan seksi.
"Oh ... gadis kecil pelakor itu!" sahut lainnya lagi.
Naima diam, padahal kepala sekolah dulu telah menjelaskan duduk perkaranya. Naima selalu ikut mobilnya karena ditinggal oleh Rendra.
Sayang, pihak dari Lakso tak menanggapi pernyataan itu. Lakso hanya sibuk memarahi istrinya di rumah tapi tidak membela Naima di sekolah.
"Aku bukan pelakor!" tekan Naima dengan muka memerah.
"Cis ... lalu untuk apa kau di sini? Melacur? Kau sebagai apa?' tanya gadis itu menghina.
"Aku bekerja di PT Lakso Grup ...."
"Hahahaha!" lima gadis mantan teman sekelas Naima tertawa meledek tak percaya.
"Jangan bercanda Naima. Jangan mentang-mentang kau selalu dijemput oleh keluarga Lakso Kau bisa masuk ke perusahaan itu dengan mudah!" ketus gadis itu dengan muka menghina.
"Aku tidak bohong!' seru Naima.
Sungguh darah gadis itu mendidih, ia menahan amarah sebisa mungkin. Naima memang tak bisa berdebat, gadis itu lebih suka berbuat dibanding banyak berkata-kata.
Andre mendengar semua itu mengepal tangan erat. Ia dapat melihat nona mudanya terpojokkan. Ia begitu merasa bersalah, meminta bantuan pada kepala sekolah di mana Naima menempuh pendidikan dulunya.
"Siapa yang menebar gosip buruk itu!" runtuknya kesal bukan main dalam hati.
"Nona!' Asep mendatangi Naima.
Lima gadis itu terkejut dengan panggilan Naima oleh pria itu.
"Ah ... jangan-jangan kau sudah menjadi sugar baby?" tuduh salah satu gadis.
"Jangan membuat berita bohong Nona. Saya bisa menuntut anda!" tekan Asep tak terima.
"Nona Naima adalah cucu angkat dari Tuan Lakso. Jadi jika ada yang macam-macam ...," Asep tak melanjutkan ucapannya.
Pria itu meminta Naima mengikutinya. Acara gala dinner akan berada di puncaknya. Lima gadis menganga tak percaya.
"Tidak mungkin dia cucu angkat ...."
"Tapi dulu Rendra mengatakan jika ayah dan ibunya mengangkat Naima kan?" timpal salah satunya mengingat.
"Tidak, aku akan mendekati Rendra dan bertanya kebenaran ini!" ujar gadis bergaun pendek silver dengan potongan dada rendah yang memamerkan seperempat tubuh seksinya itu.
Sayang, Rendra bersama Agung. Gadis itu sangat takut jika bertemu pria yang begitu santer didengar dari pembicaraan ayahnya.
"Gladys!" gadis itu menoleh.
"Papa!" rengek sang gadis.
"Bagaimana, apa kau bisa mendekati Rendra?" tanya pria paru baya itu.
"Belum Papa. Rendra dari tadi tak lepas dari sisi Tuan Lakso," jawab gadis itu lemah.
"Ah ... payah sekali kau!" dumal pria itu kesal.
"Makanya Papa tidak suka jika kau bergaul dengan teman-temanmu itu!" lanjutnya mendumal. "Kau jadi bodoh!"
"Papa!" rengek Gladys.
"Selamat malam semuanya. Acara inti akan dimulai. Tetapi sebelumnya Tuan Agung Lakso ingin mengatakan sesuatu!" seru pembawa acara.
Agung maju bersama Rendra yang berdiri setia di belakang kakeknya. Pemuda itu seperti robot. Reinhart yang ada di sana menatap iba pada sang kakak yang seperti tak berdaya.
"Baik terima kasih. Pertama-tama saya akan memperkenalkan cucu saya yang akan menjadi pimpinan utama dari PT Lakso Grup, Rendra Anugra Lakso!"
Rendra mengangguk hormat. Tatapan dan ekspresi datar ia perlihatkan. Andre menatap cemas di bawah ia merasa ada yang tak beres dengan semuanya.
"Saya juga akan memperkenalkan calon istri dari Rendra yang telah saya siapkan dari dulu!" lanjut pria sepuh itu.
Semua masih menyimak dan menunggu. Agung memberi kode pada Asep. Pria itu mengangguk dan menarik lembut Naima ke atas panggung.
"Ini dia calon istri dari cucu saya, Naima Az-zahra!"
"Apa!" pekik beberapa kolega tak percaya termasuk Andre.
Bersambung.
wah ... gimana nih?
next?