NAIMA

NAIMA
SEBUAH PERISTIWA



Sore menjelang, Naima datang bersama suaminya. Tentu saja semua maid harus berjajar menyambut mereka. Darni menerapkan itu pada semua pekerja di mansion mewah itu.


"Selamat datang Tuan, Nyonya!"


"Terima kasih Bu. Tolong pakaian kotor ada di bagasi mobil,' perintah Naima.


"Dan ini tolong bawakan ke atas!' lanjutnya memberi beberapa paper bag.


Beberapa maid langsung bergerak, termasuk Risa. Gadis itu berdandan sangat cantik. Ia memilih mengambil paper bag yang ada di tangan majikan perempuannya.


Neil menggandeng istrinya mesra. Keduanya memilih naik tangga ketimbang lift. Naima membuka pintu kamar dan meminta Leni membuka jendela.


Risa meletakkan paper bag di atas ranjang ukuran Lux itu. Gadis itu menatap tempat tidur dengan khayalan mesumnya. Ia memikirkan jika dirinya lah yang menikmati ranjang empuk itu bersama Neil.


"Risa?" panggil Leni.


"Ih apa sih!' sentak Risa kesal.


"Risa!' bentak Neil mulai marah.


"Ah ... Tuan!' gadis itu sigap.


"Keluar dari kamarku!" usir Neil.


Risa sepertinya tak mendengar usiran Neil. Leni sampai menyeret rekan sekerjanya itu. Risa sedikit berontak, tetapi tubuhnya bisa digeret keluar.


Pintu tertutup dan terdengar kunci diputar bertanda jika tak ada yang bisa masuk. Risa makin gila, ia hendak menggedor pintu itu jika saja Leni tak menariknya kuat hingga keduanya terjatuh.


"Apa-apaan sih kamu!" teriak Risa kesal.


Pintu terbuka, Neil dan Naima melihat dua maid yang ada di lantai.


"Kenapa kalian?" tanya Naima kesal.


Leni segera bangun dan membawa Risa pergi dari sana. Neil mengepal tangannya erat. Pria itu sangat ingin segera pagi menjelang. Ia telah memesan satu set meja makan dan kursi baru.


"Ayo sayang!' ajaknya pada sang istri masuk ke kamar.


Pagi menjelang, semua terkejut ketika ada beberapa orang mengangkut meja dan kursi makan.


"Bakar saja!" titah Neil dengan muka kesal.


"Mas ... ada apa sih?'


Neil memberikan ponselnya. Naima membelalakkan mata ketika melihat satu rekaman video.


"Kurang ajar!' umpatnya geram.


"Ibu!' panggil Naima pada Darni.


'Iya Nyonya!' sahut Darni lalu membungkuk hormat.


"Panggil Risa ke ruanganku!" perintah Naima menahan amarah.


Neil juga ingin mengoyak habis perempuan yang berani berlaku tidak senonoh di kediamannya tersebut. Terlebih, Risa menggunakan kursi yang sering diduduki Neil untuk berfantasi.


Risa masuk, Naima hendak menampar pipi pekerja itu tapi ditahan oleh Neil.


"Risa apa yang kau lakukan itu?" tunjuk Neil pada sebuah layar.


Risa menoleh, matanya seakan keluar dari sarang ketika melihat adegan tak senonoh yang ia lakukan kemarin malam.


"Tuan ... itu ... itu ...."


Risa tergagap, gadis itu tak bisa mengelak lagi. Ia kini ketakutan setengah mati.


"Kau kupecat Risa!" ucap Naima dengan suara bergetar menahan emosi.


"Anda tidak berhak memecat saya!"


Plak! Satu tamparan kecil dilakukan Neil pada perempuan tak tau diri itu. Ia lalu menyemprotkan desinfektan ke telapak tangannya dengan pandangan jijik.


"Keluar kau dari rumahku sejauh-jauhnya! Jangan pernah muncul di depan mataku. Jika tidak!" Neil memutus perkataannya.


Risa menahan tangis. Pipinya terasa perih, tubuhnya kini gemetaran.


"Aku pastikan kau hanya bernapas di dalam tanah Risa!" lanjut Neil dengan nada membunuh.


Risa keluar dengan langkah gemetar. Gadis itu harus segera pergi. Darni menatapnya datar.


"Ini semua gara-gara kamu!' desisnya tak tau diri.


"Cis ... kau yang salah sendiri Risa. Aku tidak melakukan apapun!" sahut Darni tak peduli.


Risa segera memasukkan pakaian. Ia masih mendapat upah, ternyata Neil masih baik padanya.


"Jangan anggap berlebihan Risa!" ucap Darni mengingatkan.


Risa pun bergerak keluar mansion mewah itu. Tak ada satu rekan yang mau menolongnya. Ia mengumpat habis-habisan di jalan sambil meludah.


"Cis ... dasar kau wanita tak tau diri!" hinanya pada sosok majikan perempuan.


Kini Risa pun harus pergi dari sana sejauh mungkin, sebelum Neil menguburnya hidup-hidup.


Meja dan kursi makan baru sudah tertata rapi di ruang makan. Neil membakar yang lama karena jijik.


"Sayang ya, padahal bisa buat aku," ucap Diah menyayangkan.


"Kamu mau bekas tempat Risa senam jari dianunya?" tanya Anik meledek.


"Hah? Risa kenapa?" tanya Diah.


Anik memberitahu perbuatan mantan pembantu di mansion yang baru saja keluar. Diah langsung mual mendengarnya.


"Astaga ... sampai segitunya?" tanyanya bergidik ngeri.


"Iya, kamu lihat di cctv-nya. Kan semua bisa akses video itu," jelas Anik lagi.


"Hei ... udah jangan gosip!" seru Leni memperingati. "Ayo kerja!"


Anik dan Diah pun berhenti bergosip. Semua rekaman dihapus oleh Neil, ia tak mau rekaman mesum itu menjadi viral jika sampai bocor keluar.


"Bu, peringati semua maid untuk tidak membahas masalah Risa tadi," pinta Neil.


"Baik Tuan," sahut Darni mengangguk.


Neil membawa istrinya pergi. Mereka ke perusahaan masing-masing. Di kantor, Dion datang dengan membawa setumpuk pekerjaan.


"Tuan, aku kerepotan jika kau tak membayar asisten kedua dan juga sekretaris!" keluh Dion.


"Baiklah, kau sendiri yang memilih ya!" ucap Neil iba.


Sementara di ruang kerja lainnya Naima akan pergi menuju sebuah restoran ternama. Di sana ada beberapa pengusaha mereka akan merebut beberapa proyek yang tengah berlangsung di pemerintahan.


"Kita pergi Papa!' Andre membungkuk hormat.


Naima tentu membawa Adinda dan Dzikra untuk membantu. Sampai di sana ia melihat Rendra tengah bercengkrama dengan beberapa kolega.


"Nyonya Gutama!" sambut kepala meet and great menyalami Naima.


"Tuan Hardiansyah!' lanjutnya pada Andre.


Rendra menatap perempuan yang dulu pernah ditindasnya. Naima makin cantik setelah menikah. Ia mengangguk ketika Naima menatapnya. Wanita itu pun melakukan hal yang sama.


Semua kolega duduk. Mereka menampilkan berbagai review jika diberikan kepercayaan pada proyek yang berlangsung.


"Nyonya Gutama, silahkan!" Naima berdiri.


Wanita itu mulai mengulas keunggulan dari perusahaan yang ia pimpin. Wanita itu juga menerangkan apa saja kendala yang akan dihadapi dan bagaimana penyelesaiannya.


"Baru kali ini saya mendengarkan sebuah ulasan yang sangat komplit!' puji kepala proyek.


"Memang tak begitu sempurna, tetapi PT Hart Corp menawarkan sebuah peluang besar jika berkerjasama dengan mereka!" angguk kepala proyek puas.


Akhirnya perusahaan Naima menenangkan kepala proyek. Rendra harus puas dengan presentase 15% dari proyek yang berlangsung.


Rendra menghela napas panjang. Kini ia sadar jika selama ini proyek yang ia menangkan tak pernah melibatkan Naima di dalamnya.


"Kau memang Naima," gumamnya lirih.


Naima membuat acara besar atas kemenangan proyek. Seluruh karyawan diberi bonus. Hal itu membuat ia makin disanjung semua karyawan.


"Kita nggak akan kerja secara mengecewakan jika diberi reward seperti ini!" ujar salah satu kepala divisi.


"Benar!" sahut lainnya.


"Jika loyalitas kami dihargai. Maka tidak mungkin kami mengkhianati perusahaan yang menjadi tumpuan hidup kami!"


bersambung.


Bye Risa ... congrats Naima!


next?