NAIMA

NAIMA
MEMPERKENALKAN AHLI WARIS



Naima menatap seorang pria tampan yang terbaring lemah di tempat tidur mewah.


'Nnaaimaa!" pria itu memanggil sang cucu dengan air mata berderai.


Naima perlahan mendekat. Kesehatan Danar naik turun. Pria itu menangis melihat wajah cucu yang selama ini ia abaikan.


"Mmmaaf ... mmmaaaf!" ujarnya tergagap.


Stroke yang menimpa pria itu membuatnya kesulitan bicara. Naima duduk di sisi ranjang. Gadis itu menggenggam erat tangan pria tua itu lalu mengecupnya pelan.


"Opa, cepat sembuh Opa," pinta Naima lirih.


Naima tak bisa membenci kakek yang membuang ayahnya. Andai, pria tua itu tidak egois. Mungkin, dia dan ayah ibunya baik-baik saja.


"Opa ...."


"Sayang, kami tahu kalau kami salah. Kami tau jika apa yang kami lakukan sekarang tidak akan merubah apapun, apa lagi mengembalikan ayah dan ibumu," ujar Denita lalu mendekat.


Naima memang tidak bisa menuntut banyak. Gadis itu seperti pasrah, semua sudah terjadi dan tak akan bisa kembali.


"Oma akan membawa Opa berobat ke luar negeri. Kami ingin kamu sekarang mengambil alih semua kepemimpinan dari perusahaan!" lanjut wanita paru baya itu.


Naima hanya mengangguk. Denita mengelus kepala cucu gadisnya. Wanita itu tampak puas dengan penampilan Naima sekarang.


"Andre ternyata mengajarimu banyak sayang. Kau nanti akan berada di bawah bimbingannya!' ujar Denita itu.


Naima hanya mengangguk. Danar mengusap pipi cucunya. Denita akan mempersiapkan untuk memperkenalkan ahli waris sesungguhnya. Tak peduli jika nanti akan banyak pertentangan.


"Kau harus siap dengan semua tekanan yang datang sayang!" ujar wanita itu ingin Naima bersiap.


Naima mengangguk, Andre telah mengatakan semuanya. Gadis itu telah belajar, walau pengalaman bisnisnya minim. Tapi semua gebrakan selama dua minggu kemarin dapat memancing reaksi pebisnis lainnya.


"Kau adalah keturunan dari Hartono. Jadi kau harus membuktikan diri jauh lebih keras lagi!" ujar Denita.


"Aku akan berusaha sebisa mungkin Oma!" sahut gadis itu tegas.


Sedang di tempat lain. Kasak-kusuk pebisnis mulai terdengar. Berita ditemukannya penerus atau ahli waris dari pebisnis handal telah ditemukan. Saham perusahaan miliknya langsung merangkak naik. Kepercayaan pebisnis kembali menguat.


Keturunan merupakan salah satu pemicu naiknya perusahaan. Anak laki-laki menjadi acuan karena memang darah lebih kuat. Tetapi banyaknya anak perempuan lahir di kalangan pebisnis membuat semua mengubah konsep jika ahli waris bisa diberikan pada anak perempuan.


"Biar aku suapin opa," pinta Naima ketika makanan telah terhidang untuk Danar.


Dengan telaten, gadis itu menyuapi pria tua yang mirip dengan ayahnya itu. Bahkan Naima sendiri yang memberikan obat untuk dikonsumsi sang kakek.


"Ttterima kkkasih sssayang," ujar Danar terbata.


Naima mengangguk lalu tersenyum manis. Usai memberi makan dan obat pada Danar. Denita mulai menyiapkan cucunya. Wanita itu akan memperkenalkan sang cucu ke publik.


Hanya butuh satu jam. Halaman mansion milik Hartono di penuhi wartawan. Banyaknya pengawal menjaga ketat mereka. Sebuah mimbar ada di tengah-tengah. Andre datang bersama Denita dan Naima yang mendorong kursi roda di mana Danar duduk. Semua heboh dengan kemunculan pria itu.


Banyak rumor mengatakan jika Danar sudah meninggal dunia karena memang pria itu tak pernah muncul ke publik.


Seorang pengacara terkenal maju ke mimbar dan langsung bicara. Pria itu langsung mengesahkan data ahli waris pada sosok baru yang menggegerkan publik.


"Seperti yang kita ketahui jika Tuan Deon Hartono sudah meninggal dunia akibat kecelakaan lalulintas yang terjadi empat belas tahun yang lalu!"


Kamera menjepret momen-momen yang dianggap menarik. Kecantikan Naima begitu bersinar, penangguhan itu disiarkan hampir seluruh stasiun televisi.


"Lihat Pa!" kekeh Sofia memperlihatkan layar datar pada suaminya.


Wanita itu memang sudah gila menyiksa suaminya sendiri. Agung menatap gusar sosok-sosok yang ada di layar tersebut.


"Naima kembali pada keluarga yang membuangnya. Sebentar lagi kebusukanmu akan terkuak," lanjutnya berbisik.


"Kau lah yang memanjakan Pratma dari awal. Mestinya kau biarkan anak itu belajar dari kesalahan di awal. Tapi, kau mau bayar mahal semua orang agar bersaksi palsu, hingga Pak Supri harus dipenjara selama tiga tahun," ujar wanita itu.


"Aku mengamini apa perbuatan mu Agung. Bahkan ketika kau kembali membebaskan Pratma atas kecelakaan yang mengakibatkan kedua orang tua Naima celaka!" lanjutnya geram.


"Kau berlaku mesra hanya untuk menutupi kebusukanmu!" Sofia hampir berteriak mengatakan itu.


"Kkenapa kkkau bbberrrtttaahan Sofia?" tanya Agung terbata.


"Karena aku mencintaimu Agung!"


Pria itu terhenyak, netranya memandang wanita yang selama ini selalu tertawa mengejeknya. Seorang gadis yang menatapnya kagum dan penuh cinta ketika awal berjumpa. Kini tatapan itu berubah menjadi sorot kebencian.


"Kau bisa meninggalkan aku setelah pernikahan itu Sofia," ujar pria itu tak lagi terbata.


Sofia terdiam. Wanita itu kaget ketika melihat Agung menegakkan tubuhnya dan bersandar pada kepala ranjang. Netranya menatap Sofia yang masih terkejut.


"Kau bisa minta berpisah denganku," sambungnya.


"Dan membiarkanmu bahagia?" tanya Sofia sampai berdesis.


Wanita itu menormalkan dirinya setelah melihat perubahan drastis kesehatan sang suami.


"Sekarang aku sudah hancur. Apa yang kau lakukan Fia?" tanyanya lagi.


"Belum ... kau belum hancur Agung. Rendra harus mengetahui kebusukanmu!" jawab Sofia tersenyum sinis.


"Fia ... jangan lakukan itu ... aku mohon," pinta Agung memelas.


"Bukan aku pelakunya Agung. Tapi itu!" tunjuknya pada layar.


Wajah Naima yang sangat cantik ada di layar. Gadis itu memukau semua mata memandang. Agung menghela napas panjang, kesalahan terbesar adalah memanfaatkan gadis itu sejak awal.


"Ma, Pa!" Pratma dan Anna datang membawa bekal.


Keduanya terkejut melihat sang ayah sudah bisa duduk dengan wajah sedikit segar.


"Papa kalian sudah sedikit membaik sayang," ujar Sofia tentu berbohong.


Pratma langsung memeluk ayahnya. Pria itu berujar seribu maaf pada sang ayah.


"Aku tak berguna ayah ... aku sungguh tak berguna!"


Agung mengelus punggung putranya. Air matanya menitik. Pria itu juga sangat menyesal akan perbuatannya.


Sementara itu, Rendra menatap lekat pada layar. Naima baru saja dikukuhkan sebagai pewaris satu-satunya perusahaan milik Hartono.


"Tuan Muda, penawaran pada aset di kota B tidak ada yang tertarik karena bangunan tidak layak dan berita sertifikat palsu!" lapor sang ajudan, Asep.


"Bereskan sertifikat palsu dan sedikit perbaiki gedung!" titah Rendra cepat.


"Kita akan menerima penawaran tertinggi pertama!" lanjutnya.


"Baik Tuan!" sahut Asep membungkuk hormat.


"Aku makin jauh mengejarmu Naima," ujarnya lirih sepeninggalan Asep.


Sedang Naima kini harus belajar banyak tentang perusahaan milik sang kakek. Danar dan Denita langsung pergi ke luar negeri setelah memperkenalkan ahli waris mereka.


Bersambung.


Next?