
Viona tentu malu bukan main. Sandiwara lumpuhnya ketahuan oleh Naima. Tentu saja, Naima tak bisa dibodohi. Wanita itu belajar banyak dari keluarga Lakso yang memperundungnya dulu.
Viona keluar gedung, gadis itu memutar sendiri kursi roda. Naima benar-benar mempermalukan gadis itu.
"Berjalanlah Nona Haryo ... kau tak perlu berpura-pura lagi!" ledek Naima.
Semua orang tentu melihat ke arah mereka. Viona langsung berakting sedih. Gadis itu terus memutar roda. Beberapa pekerja tentu tak berani menatap boss mereka. Walau banyak diantaranya berbisik tentang betapa kejam sang atasan pada gadis cacat.
"Apa aku perlu memutar videomu yang tadi Viona!" seru Naima lantang.
Viona berhenti, telapak tangannya juga sakit memutar roda itu. Ia berdiri dengan menghentakkan kakinya, lalu mendorong sendiri kursi roda menuju mobil yang telah menunggunya di depan teras.
Seorang pria membuka pintu dan membantunya menaikkan kursi roda. Mobil mewah itu pun bergerak meninggalkan halaman perusahaan.
"Nyonya ... Anda tidak apa-apa?" tanya Adinda yang melihat atasannya seperti mematung sejenak.
Naima menghela napas panjang. Wanita itu mengangguk, lalu ia hendak berjalan. Kepalanya mendadak pusing.
"Nyonya!" Adinda merengkuh tubuh atasannya agar tak jatuh.
"Terima kasih Din," ujar Naima lirih.
"Ayo Nyonya, saya bantu,"
Adinda memapah atasannya. Naima meminta pergi ke ruangannya. Setelah sampai. Naima juga meminta sekretarisnya itu membelikannya makanan.
"Saya akan kembali," ujar Adinda.
"Makan ini dulu Nyonya, biar tidak terlalu kosong," ujarnya memberi sebuah roti manis.
Naima menerimanya dan mengucap terima kasih. Wanita itu ada di ruangan pribadinya. Setelah kepergian Adinda. Naima menelepon suaminya.
Tak berapa lama Neil datang bersamaan dengan makanan yang dipesan Naima.
"Sayang?"
"Mantanmu tadi datang," adu Naima langsung.
Neil terdiam, ia langsung mengepalkan tangannya begitu erat hingga memutih.
"Makanlah dulu sayang. Nanti aku urus dia ya," ujar pria itu.
Naima meminta sang suami menyuapinya. Neil tak keberatan sama sekali. Setelah selesai menyuapi istrinya. Neil memilih berbaring dan memeluk Naima.
"Nggak kerja?"
"Nggak!' jawab Neil tambah mengeratkan pelukannya.
Naima senang, ia menenggelamkan dirinya dalam pelukan sang suami. Hingga tiba-tiba perutnya bergolak.
Wanita itu buru-buru berdiri. Ia mual dan belum sempat lari ke wastafel. Naima muntah, ia mengeluarkan semua makanan yang ia makan.
"Sayang!" teriak Neil panik.
Pria itu berteriak memanggil dua anak buah istrinya. Adinda dan Dzikra masuk.
"Nyonya!" Adinda langsung mendatangi Naima dan memijit punggung atasannya itu.
Dzikra berlari memanggil OB untuk membersihkan muntahan Naima.
Neil menggendong istrinya yang mendadak pucat. Andre datang dari distrik. Pria itu kaget.
"Nyonya?"
"Pa ... cabut izin perusahaan Haryo Pa!" perintah Neil.
"Apa?"
"Viona tadi datang kemari dan membuat istriku seperti ini!" sahut Neil langsung.
Andre tentu saja marah. Terlebih Adinda dan Dzikra mengatakan jika memang keturunan dari Haryo itu datang.
"Ya sudah! Kamu bawa Naima ke rumah sakit. Biar Papa urus Haryo!'
Neil masuk mobil setelah meletakkan istrinya. Adinda ikut bersama sang atasan.
"Dzikra ... ayo!" ajak Andre.
Dzikra mengikuti tuannya. Sementara Neil menekan pedal gas menuju rumah sakit milik keluarganya. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai bangunan besar itu.
Neil membuka pintu, Naima sudah tak berapa pucat. Memang wanita itu sedikit malu dengan aksi suaminya.
"Sayang, aku tidak apa-apa," ujarnya lirih.
"Kau harus tetap diperiksa sayang!" tekan Neil tak peduli.
Sebuah kursi roda didorong oleh Neil. Beberapa perawat dan Adinda berlarian. Tentu saja semua tim medis heboh.
"Selamat Tuan, anda akan menjadi ayah sebentar lagi!' ujar dokter memberitahu setelah memeriksa Naima.
"Apa Dok?"
"Anda hamil Nyonya!" jelas dokter lagi.
Neil dan Naima menatap wanita yang duduk di depan mereka.
Dokter memberikan resep berupa vitamin dan penguat janin. Sepasang suami istri itu senang bukan main.
"Jangan terlalu semangat sayang. Kamu harus jaga kesehatan dan istirahat yang banyak," Neil menasihati istrinya.
"Iya sayang," angguk Naima.
Naima akan menyerahkan penuh semua pekerjaan pada Andre dan dua asisten handalnya.
"Selamat atas kehamilannya Nyonya!" ujar Adidaj begitu senang.
"Terima kasih Din. Ayo, aku bawa kamu ke kantor lagi,' ajak Naima.
Ketiganya naik mobil. Sedang Haryo menatap datar pada kertas yang ia terima dari bank. Kini perusahaan yang ia bangun harus diserahkan pada bank untuk diaudit.
"Kenapa ... kenapa?"
"Daddy!' pria itu menoleh pada anak gadisnya yang pulang dengan wajah tertunduk.
"Kita kehilangan semua Nak," ujar Haryo lemah.
"Daddy?" Viona tak mengerti.
Haryo memberikan kertas pada anak gadisnya. Viona membacanya. Mata gadis itu membelalak seakan ingin keluar dari sarangnya.
"Daddy, ini?"
"Ya Nak. Besok semua harta kita akan dihitung. Kita tak boleh memakainya sampai perhitungan selesai Nak," jelas pria itu dengan mata menerawang.
"Daddy ...."
Haryo menggelosor di lantai. Pria itu seperti kehilangan tenaga. Viona menangis.
"Tadi setelah pihak Bank datang. Tuan Bronce menagih utang seratus juta dolarnya," lanjutnya.
"Daddy," Viona memeluk ayahnya.
"Nak ... maukah kau berkorban untukku?" Viona melepas pelukannya.
"Dad?"
"Pergi pada Tuan Bronce dan serahkan dirimu Nak!" pinta pria itu yang membuat Viona menggeleng kuat.
"Nak ... hanya itu satu-satunya cara!' paksa Haryo.
"Nggak!" tolak Viona lalu melepas cengkraman ayahnya.
"Kau harus!" teriak Haryo.
Pria itu kesetanan, ia menarik rambut putrinya. Viona berteriak kencang. Beberapa maid tak berani menolong nona mudanya.
"Aku tidak mau! Daddy aku tidak mau!" teriak Viona.
"Diam kau sialan!' bentak Haryo.
Pria itu melepas gesper. Benda itu melayang pada tubuh Viona. Terdengar jeritan gadis malang itu berikut pukulan gesper yang mengenai Viona.
Gadis itu tak sadarkan diri. Haryo terengah-engah. Mendapati putrinya tak bergerak dengan berbagai luka ditubuhnya membuat ia panik.
"Nak ... Nak?!"
Viona tentu pingsan akibat pukulan dari ayahnya. Seumur hidup gadis itu. Baru kali ini sang ayah berlaku kasar.
Haryo berjalan gontai meninggalkan putrinya. Beberapa maid mendatangi nona muda mereka dan membawanya ke kamar.
Tak lama, Haryo mendatangi kamar gadis itu. Viona sudah diobati.
"Kau harus berkorban Viona. Setidaknya keperawananmu bisa menolong kita dari kesengsaraan!' tekan pria itu.
Haryo pergi, ia mengambil anak kunci dan menguncinya dari luar.
"Aku pastikan kalian mati jika menolongnya!" ancam pria itu.
Di dalam kamar, Viona menangis. Gadis itu sudah sadar. Ia tentu mendengar perkataan ayahnya.
Haryo pergi ke ruang kerjanya. Ia menelepon Bronce dan mengatakan sanggup memberikan sesuatu yang lebih berharga dari uang.
""Keperawanan?"
Bronce tertawa dari seberang telepon setelah mengatakan itu. Pria beriris hijau itu tentu penasaran dengan tawaran Haryo.
"Kau yakin putrimu masih perawan?" tanya Bronce.
"Aku pastikan dia masih perawan Tuan!" sumpah Haryo yakin.
Telepon di tutup, Haryo mengangguk puas. Satu masalah telah selesai. Bahkan akan mendapat keuntungan banyak dari apa yang ia dapatkan setelah menyerahkan putrinya itu.
"Maaf Nak. Tapi itulah gunanya anak!"
Bersambung.
Wew.
next?