
Naima menatap bangunan yang tak jauh dari mansion milik Agung.
"Masuklah Nona!" ajak Andre dengan senyum lebar.
Naima menggandeng Darni melangkah ke hunian yang jauh lebih besar dari milik Agung.
"Ini adalah milik Nona semuanya," ujar Andre memperlihatkan isi dari bangunan itu.
"Kalian berisitirahat lah,' ujar Andre lalu mengantar keduanya ke sebuah kamar.
'Ini kamar anda Nona," ujar pria itu.
"Dan sebelahnya kamar anda Bu Darni," lanjutnya lembut.
"Saya di kamar sebesar ini?" cicit Darni tak percaya.
"Tidurlah Bu," suruh Naima lembut.
Darni masuk bersama dua maid yang membawa tas besar berisi bajunya. Wanita itu membawa semua pakaiannya.
"Nona juga istirahat lah. Besok saya akan menjelaskan semuanya," pinta Andre.
Naima mengangguk, gadis itu membuka lemari. Semua bajunya sudah disiapkan. Naima memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Hmmm ... apa yang harus aku lakukan?" gumamnya bertanya.
"Que sera-sera," lanjutnya lirih lalu merebahkan diri di ranjang yang tak kalah empuk dari ranjangnya.
Pagi menjelang, Naima sudah rapi begitu juga Darni, ada empat pelayan yang melayaninya.
Darni yang biasa melayani sedikit canggung. Wanita itu menolak ketika beberapa pelayan hendak menuangkan nasi goreng ke piringnya.
"Sudah, kalian bisa mengerjakan yang lain," suruh Andre.
Empat maid membungkuk hormat. Naima dan Darni makan sarapan dengan tenang.
"Bu, kami pergi dulu ya," pamit Naima mengecup punggung tangan wanita itu.
'Iya Nak," sahut Darni dengan senyum tulus.
"Kalian, turuti perintah Bu Darni. Mengerti!" perintah Andre pada semua pelayan di rumah.
"Baik Tuan!" semua pelayan membungkuk hormat.
Andre dan Naima pergi dengan mobil yang mengantarkannya.
"Nyonya ...."
"Panggil Ibu saja ya," pinta Darni cepat dengan senyum ramah.
"Baik Bu," ujar para maid.
"Ya sudah, kalian boleh mengerjakan yang lain," suruh Darni lembut.
"Baik Ibu!'
Dua puluh menit kendaraan yang ditumpangi Naima sampai di gedung yang menjulang tinggi.
Beberapa karyawan berbaris rapi. Mereka membungkuk hormat pada dua manusia yang berjalan masuk.
"Selamat datang Tuan Andre Hendrawan dan Nona Naima Hartono!" sambut seorang wanita cantik dengan balutan yang mewah.
"Terima kasih Siska!" ujar Andre.
Siska menegakkan badan. Keningnya sedikit berkerut menatap sosok cantik yang ada di sisi pria yang selama ini menjadi mimpi basahnya.
'Siapa dia? Kampungan sekali!' gerutunya kesal dalam hati.
Andre mengajak Naima ikut bersamanya dan masuk ke dalam lift khusus. Siska ikut dengan dua orang itu. Sampai pada tingkat paling tinggi.
"Siska, nanti kau kumpulkan semua orang untuk menyambut CEO kita!' suruh Andre.
"Baik Tuan!" sahut Siska.
Wanita itu melirik lagi gadis yang selalu di sisi Andre. Ia sedikit mencebik kesal.
Sepuluh menit, semua karyawan berkumpul di aula. Mereka saling berbisik, mempertanyakan siapa pemilik dari perusahaan yang selama lima tahun menjadi ladang mata pencaharian mereka.
"Jadi siapa pemilik dari perusahaan besar ini?" tanya salah satu karyawan berbisik.
"Apa dia seorang pria gagah?" tanya karyawati.
"Ih ... pastinya cowo lah. Ganteng dan gagah kek Pak Andre," khayal salah satu gadis dengan senyum lebar.
"Vice CEO datang!" seru beberapa karyawan.
Andre berjalan begitu tegas, di sisinya ada gadis yang tadi bersamanya.
"Mana bossnya?' bisik para karyawan.
Semua diam menyimak, Andre berdiri tegak di depan aula. Pria itu mempersilahkan Naima untuk berdiri sejajar dengannya.
Naima maju, kasak-kusuk terjadi, Siska malah kaget setengah mati. Wanita itu sangat tidak percaya jika sosok yang tadi ia hina adalah pemilik dari perusahaan sebenarnya.
"Ini adalah pemimpin sebenarnya Nona Naima Az-zahra Hartono!' ujar Andre memperkenalkan Naima.
"Apa ... tidak mungkin!' pekik Siska yang pastinya di dalam hati.
"Selamat pagi semuanya! Saya Naima Az-zahra mohon kerjasamanya!' ujar Naima menundukkan kepala sebentar.
"Selamat datang Nona Hartono!' seru beberapa manager perusahaan.
"Baik sekiranya cukup. Jadi kalian bisa melanjutkan pekerjaan!' titah Naima tegas.
Andre membawa kembali Naima. Semua membubarkan diri sambil berbisik dengan sesama rekannya.
"Apa iya boss kita perempuan?" tanya salah satu karyawan tak percaya.
"Sepertinya begitu. Tadi Tuan Andre sudah memperkenalkannya kan?" sahut lainnya.
Naima belajar cepat, Andre mengajari nona mudanya.
"Perlahan Nona,' sahut pria itu menenangkan Naima.
"Sekarang kita adakan meeting dengan para staf divisi. Nona harus memperkenalkan diri. Ini adalah review yang telah saya siapkan," ujar Andre lalu menyerahkan satu berkas pada Naima.
Gadis itu mengangguk hormat. Andre melihat pakaian yang dikenakan nona mudanya. Pria itu sedih bukan main.
Naima yang genius, tentu dapat belajar cepat dengan berkas yang ia baca. Gadis itu sudah siap, walau ia tak begitu suka dengan review yang diberikan Andre padanya.
"Kenapa Nona?' Andre menangkap mimik Naima ketika selesai mempelajari berkas itu.
"Maaf Tuan, review anda kurang memuaskan saya," jawab gadis itu tak enak hati.
Andre terkejut, selama ini semua hasil reviewnya sangat memuaskan para kolega.
'Apa yang kurang Nona?' tanya Andre mengernyitkan keningnya.
Naima mencoret beberapa poin di sana. Lalu diberi pertanyaan tentang poin itu. Andre menelan saliva kasar. Rupanya sang nona begitu jeli dengan ketidak beresan hasil reviewnya.
"Saya akan memperbaiki cepat Nona!' Andre membungkuk hormat dengan nada menyesal.
Siska yang terbengong dari tadi sempat mencibir atasan barunya itu. Namun melihat sosok yang ia kagumi membungkuk hormat di depan Naima membuat ia mau tak mau harus percaya jika CEO barunya begitu kompeten.
"Tidak perlu Tuan ...."
"Panggil saya Andre, Nona!' pinta pria itu.
"Kakak ya," ujar Naima.
Andre mengangguk, pria itu tersenyum melihat senyum gadis berusia dua puluh satu tahun itu.
"Baiklah, ayo Kak!' Naima semangat.
Sementara di tempat lain. Agung masih berada di kamarnya. Pria itu begitu lemas akan semua yang terjadi.
"Kenapa begini?" tanyanya lirih.
"Aku sudah merencanakan semua dengan matang. Kenapa malah muncul keluarga sesungguhnya, bahkan perusahaan itu mampu mengalahkan tenderku," racaunya lagi.
Tak ada satu keluarga yang berada di sisinya. Bahkan istri yang selama ini ada di sisinya meninggalkan dia ketika terpuruk seperti ini.
"Mas?"
Agung menoleh, satu titik bening menetes pada pelupuk pria itu. Sofia berlari mendekati suaminya. Memeluk erat pria itu.
"Mas ...,"
"Kenapa kau meninggalkan aku Sofia!" teriaknya lalu hendak melepaskan pelukan istrinya.
"Aku sudah hancur ... aku sudah hancur!' lanjutnya berteriak.
Agung tak sadarkan diri. Sofia menjerit, Pratma dan Anna berlari ke lantai dua. Mereka langsung memanggil dokter keluarga.
"Tuan harus dibawa ke rumah sakit!' ujar Dokter setelah memeriksanya.
Dalam sekejap, berita sakitnya Agung Lakso membuat semua kalangan pebisnis heboh. Nama besar pria itu memang tak bisa dihapus di kalangan pebisnis.
"Semua pergerakan saham sedikit berpengaruh pada jatuhnya Tuan Lakso!" seru beberapa pebisnis kalut.
Bersambung.
Nama besar yang menjadi pertaruhan antar pebisnis.
Next?