
Rumah besar itu kini sedang banyak orang. Andre memperkenalkan putranya dengan bangga. Bayi itu begitu tampan didandani ibunya dengan setelan jas.
"Ih lucu ...!' rengek Naima gemas lalu menciumi bayi itu sampai merengek.
"Sayang!" tegur Denita tak enak hati.
"Tidak apa-apa Oma. Dia dari tadi tidur terus, padahal ayahnya sudah menjemurnya di matahari," ujar Fidya.
"Papa, aku bawa ke rumah ya!" sahut Naima yang mengagetkan semua orang.
"Itu bukan boneka sayang!" kekeh Anugrah.
Naima sedikit cemberut, ia jadi ingin punya anak segera. Ia menatap suaminya yang tengah bercengkrama dengan beberapa kolega. Ia mendatangi pria itu dengan Boy digendongnya.
"Sayang!" panggilnya.
"Iya sayang," sahut Neil.
Pria itu lalu mengambil alih bayi tampan dan kembali mengganggunya. Terdengar rengekan kesal dari bayi baru dua minggu itu. Neil tertawa mendengarnya.
"Masa Papa nggak bolehin kita minjem Boy," adu Naima dengan bibir mancung.
'Hah?" Neil tak bisa menangkap maksud sang istri.
"Papa nggak bolehin kita pinjem Baby!' rajuk wanita itu.
Neil tak bisa berkata apapun, ia hanya menghela napas panjang. Bukan ingin membuat anak, Naima malah ingin pinjam anak dari ajudan kakeknya.
"Kita buat yuk sayang!" ajak wanita itu yang membuat Neil kepanasan.
"Wah ... Nyonya Gutama! Anda sangat suka dengan bayi ya?" tanya beberapa kolega terkekeh.
"Iya dong, aku ingin cepat punya anak!" seru Naima antusias.
Neil menahan diri, jika saja tak banyak kolega penting yang hadir. Ia pasti akan menyeret istrinya ke kamar.
Acara pengenalan bayi selesai. Kini bayi tampan bernama Andriya Putra Hendrawan.
Sampai mansion, Neil langsung menggendong istrinya ke kamar. Naima sampai menjerit kaget akibat perlakuan suaminya.
"Sayang!"
"Kita buat anak sayang!' sahut Neil.
Sementara itu, Andre menatap putranya. Ia tak pernah bosan melihat buah hatinya yang tampan. Sesekali dikecupnya kening Andri.
"Sehat terus sayang," pintanya penuh harap.
Andre menatap buah hatinya dengan penuh kebanggan. Istrinya mengecup pucuk kepala suaminya. Ia juga tak menyangka jika bisa melahirkan seorang bayi ke dunia.
“Putra kita tampan sayang, mirip denganmu,” ujar Fidya tersenyum.
“Dia juga mirip denganmu sayang,” ujar Andre.
Keduanya beranjak ke ranjang. Andre memeluk istrinya erat, ia sangat mencintai wanita itu terlebih melihat bagaimana perjuangan Fidya melahirkan putra mereka. Wanita itu menolak dioperasi cesar dan melahirkan bayinya secara normal.
“Cukup satu putra ya,” bisik pria itu.
“Aku takut melihatmu kesakitan seperti kemarin,” lanjutnya lirih.
“Tapi aku mau seorang putri lagi!” rengek Fidya.
“Sayang,”
“Pokoknya mau satu lagi!” rajuk Fidya cemberut.
“Baiklah sayang, setelah Andri tiga tahun ya,” ujar Andre membujuk.
Fidya mengangguk antusias, keduanya pun tidur sambil berpelukan. Sementara di rumah sakit, Haryo mendengarkan observasi yang dilakukan dokter terhadap kesehatan putrinya, Viona.
“Jadi kemungkinan putri saya sudah mendapatkan kembali ingatannya?” tanya pria itu.
“Benar, Tuan. Kami perkirakan amnesia yang pasien alami hanya sementara,” jawab dokter itu penuh suka cita.
Haryo berdiri menatap putrinya. Sebagian tubuh gadis itu di gips, pria menghela napas panjang. Ia sangat tidak menyukai jika keadaan putrinya jadi lebih baik.
“Aku harap kita bisa menjerat Neil menikah denganmu. Aku aka menuntutnya dengan janji palsu!” ujarnya lirih.
Pagi menjelang, semua sibuk dengan banyak kegiatan. Naima sudah rapi dengan setelan formalnya.
"Kau pakai celana?" Neil melihat dandanan istrinya yang tomboy.
"Iya ... aku mau ke distrik bareng Papa. Lihat kinerja pabrik," jawab Naima.
"Oke sayang! Jangan lirik-lirik cowo lain ya di sana!' tekan Neil.
Naima cemberut, Andre termasuk pria posesif. Wanita itu tak akan bisa didekati oleh pria manapun kecuali Neil.
Seperti biasa Neil mengantar Naima lebih dulu. Walau perjalanan jadi sangat jauh, tetapi pria itu tak keberatan sama sekali.
"Tunggu Andri besar, baru aku bebas!" ujar Naima yang merasa iba melihat suaminya harus memutar jalan lebih jauh lagi.
"No!" Neil langsung menolak keinginan istrinya.
Naima hanya bisa menurut. Akhirnya begini, ia harus rela diantar lebih pagi. Bahkan satpam perusahaan belum berganti.
"Anda sangat rajin Nyonya!' kekeh salah satu sekuriti
"Biar dia tau siapa yang datang telat, Pak!" sahut Neil menggoda istrinya.
Naima cemberut, wanita itu memang pemimpin perusahaan yang tidak arogan. Ia sangat fleksibel dengan siapa saja.
Sementara di tempat lain, Haryo tengah mengundang beberapa jumpa pers. Pria itu menggandeng pengacara terkenal.
"Jadi kita harus menuntut Tuan Neil atas tuduhan janji palsu?" tanya pengacara itu dengan kening berkerut. "Kalau boleh tau soal apa?"
"Dia janji mau menikahi putriku Tetapi, malah menikahi perempuan lain!"
Jawaban Haryo membuat pengacaranya terbengong.
"Anda kurang sehat ya?" sindir pengacara itu.
"Tidak! Aku sangat sehat!" sanggah Haryo tentu marah.
"Ini akan mempermalukan kita Tuan!"
"Sudah jangan banyak bicara. Aku ingin Neil bertanggung jawab atas kecelakaan putriku!" bentak Haryo.
Pengacara itu menelan saliva. Gutama adalah pengusaha paling berpengaruh. Jika salah bicara atau salah tindakan dan menyinggung keluarga itu. Maka sangsinya tidak main-main.
Konferensi pers diadakan. Para awak media berdatangan. Pengacara memberikan pernyataan sesuai apa yang diinginkan kliennya.
"Hahahaha!" para wartawan malah tertawa mendengar pemberitahuan itu.
"Aku kira ada apa?" sahut beberapa wartawan.
"Tapi bisa jadi berita gosip ini! Gutama tentu akan kualahan dengan media berita!'
Maka beredar lah kabar jika Neil Gutama menolak bertanggung jawab atas kecelakaan yang dialami oleh Viona Haryono.
Dion membacanya, pria itu nyaris membanting ponsel miliknya. Ia menatap Neil yang sibuk dengan tumpukan berkas.
"Neil!' panggilnya.
"Hmmm!"
"Kau masuk berita gosip!" lapor Dion.
"Hah"
"Kamu masuk berita gosip!" Dion memberikan ponselnya.
Neil membaca berita itu. Gigi gerahamnya berbunyi. Ia geram bukan main dengan berita miring ini.
"Beri tuntutan pada media yang memberitakan berita palsu. Tutup semua akses dan selidiki keabsahannya!" ujarnya memberi perintah.
"Baik Tuan!"
Sebuah konferensi pers kembali diadakan untuk klarifikasi. Tentu pihak Neil memiliki bukti kuat.
"Kami akan layangkan gugatan pada pihak-pihak yang membuat berita bohong ini!' seru pengacara dari Neil.
Sedang di perusahaan Naima. Perempuan itu baru saja mengunjungi distrik pabrikasi. Andre sudah menelepon rumah. Ia merindukan putranya.
"Halo sayang, mana Andri?"
"Ih Papa, yang ditanya ibunya dulu dong!" protes Naima.
Andre hanya tersenyum, ia lalu menatap istrinya yang tengah menyusui putra mereka.
"Uhh ... sayang ... nikmat amat minumnya," ujar Andre gemas.
Setelah puas menelepon. Mereka pun kembali bekerja.
Sementara di rumah sakit, Viona sudah terbangun, ia sudah mengingat semuanya. Gadis itu menggeleng.
"Kenapa aku sembuh?" keluhnya lirih. "Mestinya aku sakit agar Neil iba dan mau kembali padaku!"
Dokter datang bersama perawat. Memeriksa beberapa bagian tubuh. Lalu gips bagian dada dibuka.
"Anda sudah pulih dari retak di rusuk. Kemungkinan kaki anda juga akan pulih sebentar lagi. Ternyata daya tahan tubuh anda sangat baik hingga semua bisa cepat sembuh!"
Viona bukannya senang. Ia malah histeris mendengar kesembuhannya.
Bersambung.
Viona udah gila!
next?