
Hari ini Andre akan dipertemukan dengan gadis yang hendak dijodohkan dengannya. Seorang gadis yang dikurung dalam sangkar emas karena sang ibu yang terlalu menyayanginya.
Fidya Nugroho, gadis berusia tiga puluh tujuh tahun. Ia mengenakan gaun tertutup warna putih gading. Wajahnya ditutupi sehelai kain tipis.
Danar, Denita dan Naima juga Andre disambut oleh salah satu pebisnis ternama itu.
"Selamat datang Tuan Hartono!" sambut Nugroho dengan ramah.
Mereka berjabat tangan. Di sana gadis itu hanya diam menunduk. Sang ibu yang begitu dominan melancarkan pertanyaan-pertanyaan pada Andre.
"Jadi putriku itu belum disentuh oleh siapapun kecuali aku dan suamiku!" tekan Masha Hardini.
"Dia bersekolah, tamatan sarjana strata tiga. Kau tak perlu malu jika bergandengan dengannya. Aku akan meminta putriku untuk melepas cadar yang menutupi wajahnya selama lima menit!" lanjutnya.
"Jika kau tak menyukainya. Kau katakan langsung!" lanjutnya.
Masha memanggil sang putri dengan lembut dan penuh kasih sayang. Andre menghela napas. Kain tipis dibuka.
Andre menatap satu harapan besar di sana. Sebuah tatapan penuh permohonan agar bisa lepas dari jerat yang membunuhnya perlahan.
"Saya menerimanya!" ujar Andre ikut terkejut sendiri dengan ucapannya.
"Apa kau yakin?" tanya Masha ragu.
"Nyonya ... Anda meminta saya jawab dengan cepat. Maka itu jawaban saya!" sahut Andre tegas.
Masha bungkam. Ia tak menyangka jika Andre cepat menyetujui anak gadisnya. Wanita itu masih tidak terima jika putrinya diambil begitu saja.
"Tuan, apa anda yakin?" tanyanya gusar.
"Sepertinya anda yang meragukan saya, Nyonya?" kali ini Andre menatap tajam Masha.
"Ma!" peringat Nugroho mulai kehilangan kesabaran.
Masha diam, wanita itu tak bisa mengelak lagi. Perjodohan terjadi bahkan Andre dengan cepat menyetujuinya.
"Jika begitu, saya akan melamar langsung Nona Fidya Nugroho untuk dijadikan istri dari ajudan kepercayaan saya Andre Hermansyah," ujar Danar langsung pada intinya.
"Saya setuju, bagaimana Fidya?" tanya Nugroho pada putrinya.
"Diya menurut keputusan Ayah," jawab gadis itu lirih.
Nugroho sedih, ia sangat tahu jika sang putri merasa tertekan selama ini. Lalu Naima diperkenalkan oleh Andre.
"Jadi aku ini anak Mama," ujar gadis itu lalu duduk di sisi Fidya.
Fidya langsung menyukai Naima. Ia membelai sayang pipi gadis cantik itu. Keduanya bahkan mengobrol asik. Naima sangat iri karena calon ibunya ini tak tersentuh sama sekali.
"Mama," rengeknya manja.
"Aku boleh manja kan sama Mama dan Papa nanti?" pinta gadis itu.
"Tentu sayang," jawab Fidya tentu senang.
Gadis itu akan punya teman baru. Selama ini ia tak memiliki siapapun, ia hanya punya ibu yang memiliki ketakutan berlebihan.
"Kalau begitu. Kita harus menentukan kapan tanggal pernikahan mereka!" ujar Denita antusias.
"Bagaimana kalau Fidya sendiri yang menentukannya Nyonya," ujar Andre meminta.
"Ah, iya. Pasti Fidya punya mimpi untuk menentukan kapan dan seperti apa dia menikah," angguk Denita setuju.
Sementara di hunian lain. Agung tampak termenung. Semenjak ia melihat mantan kekasihnya dulu di salah satu stasiun televisi.
"Kau tetap cantik seperti dulu Denita," ujarnya lirih.
"Wajahmu begitu lembut dan penuh kasih ...."
Brak! Pria itu terkejut bukan main. Sofia menjatuhkan rak buku. Wanita itu baru mengetahui sesuatu yang ia dengar tadi.
"Jadi wanita cantik itu adalah mantanmu?" tanyanya sinis.
"Sofia ...."
"Diam kau Agung! Aku menyesal memaksa ayahku untuk menikah denganmu!" teriak Sofia berang.
Pratma dan Anna sampai berlari menuju kamar orang tua mereka. Di sana mereka melihat Agung menunduk pada istrinya yang murka.
"Ma ... ada apa?" tanya Pratma bingung.
"Itu ... orang itu sedang memuji mantan pacar yang ia tinggalkan!" teriak Sofia seperti cemburu.
"Ma?"
"Kenapa kau tak menikahinya bodoh?!" bentak Sofia lagi.
Air mata Sofia mengalir deras. Ia berteriak histeris. Agung ikut menangis, ia tidak bermaksud menyakiti istrinya lagi.
Agung turun dari kursi roda. Pria itu merangkak mendekati sang istri yang menangis di lantai sambil memeluk lututnya.
"Sayang ... sayang ...."
"Hentikan ... aku ingin berpisah denganmu!" elak Sofia pada tangan Agung yang hendak meraihnya.
"Aku benar-benar menyesal memaksa papa untuk menikahkan ku denganmu!" teriak Sofia benar-benar menyesal.
"Bahkan kau mencuri semua perusahaan Papa!"
"Sayang! Aku tidak mencurinya!" bantah Agung.
"Papa sendiri yang menyerahkan padaku!" lanjutnya.
"Bohong!"
"Aku bersumpah!"
"Pratma panggil Asep dan bawa berkas di brangkas utama!" perintah pria itu.
"Pa ...."
"Cepat!" bentak Agung.
Sofia masih menangis. Agung memeluknya. Wanita itu memberontak. Anna ikut memeluk mertuanya.
"Mama ... hiks ... hiks!"
Sementara di tempat itu. Andre menyematkan cincin yang telah ia persiapkan. Tadinya cincin itu untuk gadis yang ia cintai. Tetapi setelah tak mungkin mendapatkan sang gadis. Ia memberikannya secara tulus pada Fidya.
"Pas sekali!" seru Danar tersenyum.
"Jadi selama dua bulan ke depan. Kita akan melangsungkan pernikahan ini dengan meriah!" ujar Nugroho antusias.
Sang istri hanya diam saja. Ia masih shock jika putrinya diterima oleh pria tampan yang kini duduk bersebelahan.
Fidya telah memakai kembali kain tipis untuk menutupi wajahnya. Setelah makan siang. Danar pamit pulang.
Andre masih sempat menggenggam tangan gadis yang akan menjadi istrinya dua bulan mendatang itu.
"Jangan takut," janjinya lirih. "Aku yang akan menjagamu nanti!"
Mereka pun pergi dari tempat mewah itu. Nugroho langsung memeluk putrinya. Ia sangat berbahagia sang putri mendapat pasangan terbaik.
"Mama nggak bahagia?" tanya Fidya lirih.
"Sudah, abaikan ibumu. Dia masih shock jika ada pria yang cepat menerimamu!" ujar Nugroho melirik kesal pada istrinya.
Pria itu merengkuh pinggang sang putri. Mereka meninggalkan Masha yang masih duduk dengan pandangan kosong.
Sampai mansion, Andre undur diri untuk mengurus semua berkasnya. Tetapi, Danar melarang karena sudah ia persiapkan.
"Kamu hanya beli untuk cincin kawinnya saja," ujar pria itu.
Andre membungkuk hormat. Ia memang telah menyerahkan hidupnya di tangan pria yang menjadi atasannya itu.
"Opa kenapa seperti memaksa Papa untuk menerima perjodohan ini?" tanya Naima heran.
Gadis itu tentu sangat paham bagaimana keadaan hati Andre. Pria itu telah bersamanya selama dua tahun ini. Naima banyak mengenal pria yang ia panggil Papa itu.
"Opa tidak pernah memaksanya sayang," bantah Danar.
"Tapi dengan mempersiapkan semua berkas Papa. Bukankah menandakan jika Opa memaksa untuk pernikahan ini?"
"Itu tidak benar Nona!" sanggah Andre membela tuannya.
"Saya sendiri tadi langsung menerima Nona Nugroho menjadi istri saya!" lanjutnya.
Naima menatap netra pekat Andre. Tidak ada guratan kekecewaan ataupun keterpaksaan di sana. Andre memang telah pasrah dan ikhlas setelah sadar cintanya tak mungkin.
"Baiklah kalau begitu. Aku ingin Papa bahagia dengan apa yang Opa rencanakan,' ujar Naima pada akhirnya.
"Jangan khawatir Nona. Saya yakinkan jika saya akan bahagia nanti!" jawab Andre menenangkan nona mudanya.
Bersambung.
Ah ... Andre benar-benar berdamai dengan semuanya.
Next?