NAIMA

NAIMA
PERNIKAHAN



Satu minggu sudah terlewat. Andre mengenakan setelan terbaik. Pria itu memakai rancangan designer ternama. Memakai tuxedo warna putih dengan list emas. Fidya juga sangat cantik. Keduanya didudukkan lalu mengikat janji suci pernikahan.


"Kalian telah resmi menjadi suami istri,' ujar penghulu.


Andre mencium mesra kening gadis yang telah sah menjadi istrinya. Fidya mencium punggung tangan suaminya.


Keduanya kini bersanding di pelaminan. Pria yang tampan duduk di sisi wanita cantik. Sangat serasi. Beberapa kolega memberi selamat kepada pasangan pengantin baru.


Fidya tampak bahagia begitu juga Andre. Sedang Naima hanya bisa ikut berbahagia. Neil tak menjawab pesan maupun panggilan teleponnya. Gadis itu juga tak berani mendatangi mansion kekasihnya itu. Naima bingung apa tujuannya ke sana. Karena memang tidak ada kepentingan sama sekali.


"Mestinya kau mengundang Tuan Charles Gutama, Cu," ujar Danar pada cucunya.


"Aku baru sekali ke sana. Aku bingung mau bicara apa,"


"Kamu itu. Untung Opa menyewa jasa kurir untuk mengantar undangan," helaan napas pria itu terdengar.


"Perusahaan kita kan bekerja sama dengan perusahaan Neil. Masa kau lupa sayang?" kekeh Denita.


Naima menggaruk kepalanya. Gadis itu akan sedikit lambat berpikir jika masalah perasaan. Danar mengecup pucuk kepala cucu gadisnya.


Charles dan Jeane datang. Keduanya memberi selamat pada pengantin. Charles mencari Naima.


"Sayang, kenapa jarang ke rumah Daddy?" tanya pria itu sedikit kesal.


Naima hanya tersenyum, gadis itu memang tak berani datang jika tanpa Neil.


"Neil sedang memperbaiki management. Banyak kasus markup di sana. Jadi sabar ya sayang," ujar pria itu.


Jeane memeluk calon menantunya. Wanita itu sudah menyukai Naima semenjak pertama bertemu.


"Tunggu Neil pulang. Kami akan langsung melamarmu sayang," ujar wanita itu.


Pesta berlangsung selama dua jam. Masha memeluk putrinya erat. Mereka harus berpisah, Nugroho meminta Andre dan putrinya berbulan madu. Semua ditanggung oleh pria itu.


"Aku berharap tahun depan sudah dapat cucu!" pinta pria paru baya itu.


Andre mengangguk, semua koper sudah ada di bagasi pesawat. Andre dan Fidya hanya membawa diri.


"Selamat ya sayang. Mama berbahagia untukmu," ujar wanita itu lembut.


Fidya kembali menangis dipelukan ibunya. Nugroho memberikan pelukan pada putrinya. Ia juga menangis di sana.


"Tolong jaga putriku. Aku akan membunuhmu jika kau lukai dia!" tekan pria itu mengancam Andre.


"Jangan khawatir Ayah! Aku akan menjaganya!" sahut Andre berjanji.


Keduanya pun pergi. Charles pamit pada Danar. Kehebohan pesta sederhana Andre dan Fidya masuk portal berita online.


Agung menatap layar. Di sana foto keluarga pengantin terpajang. Satu wajah cantik yang dulu pernah mengisi hatinya. Sofia sedang terlelap. Wanita itu tampak kelelahan akibat percintaan panas. Agung membuktikan jika dirinya masih perkasa pada sang istri.


Perlahan pria itu menghapus riwayat berita yang ia baca. Pria itu tak mau Sofia curiga dan kembali marah.


"Sayang," panggilnya mesra.


Agung mengecup bahu terbuka istrinya. Sofia menggeliat, ia menghadap pada sang suami. Rona merah menjalar di pipi wanita yang sudah tidak muda itu lagi. Agung terpana melihatnya.


"Selama ini aku mengabaikan kecantikanmu," ujarnya lirih.


Dua pasang mata saling tatap. Agung membenamkan bibirnya di atas bibir sang istri. Keduanya kembali menyatu dalam gairah cinta.


Rendra memandang ponsel. Di sana Naima diapit oleh Charles dan Jeane. Pasangan pengusaha ternama. Pria itu menghela napas panjang.


"Kau makin cantik Naima," pujinya lirih.


"Maaf, aku pernah menyakitimu dulu ... andai tidak ...."


Rendra menghentikan ucapannya. Renita menunjukkan perkembangan yang baik. Gadis itu kini tidak lagi histeris setiap melihat berita tentang Naima.


"Baiklah!" sahut Rendra pelan.


"Pak Asep kenapa belum menikah?" tanya Rendra melirik ajudan sang kakek yang mengabdi selama belasan tahun itu.


"Belum dapat pasangan Tuan," jawab Asep santai.


Rendra terkekeh, keduanya masuk sebuah ruangan yang cukup besar. Di sana para kepala divisi melaporkan hasil kerja mereka selama tiga bulan terakhir.


Andre mencium bibir istrinya lembut. Entah keberapa kali mereka terlibat adu bibir. Keduanya pun makin lihai bermain lidah.


"Mas ... sebentar lagi kita sampai," ujar Fidya dengan napas menderu.


Keduanya memakai sabuk pengaman karena pramugari memerintahkan demikian. Mereka menggunakan jet pribadi milik Nugroho. Bulan madu ke Maldives. Sebuah pulau indah yang sangat romantis.


Sedang di tempat lain. Naima hanya tiduran saja. Ia cukup bosan berada di rumah. Gadis itu akan pergi ke sebuah bioskop atau mall.


"Oma ... aku pergi ya!' pamitnya.


"Jangan sampai malam!" teriak Denita memperingati.


Naima mengambil kunci motornya. Gadis itu sangat jarang memakai mobil jika keluar rumah sendirian. Hari masih terlalu sore. Naima memilih mengendarai motornya ke taman kota.


Pandangannya beralih pada serombongan keluarga yang sedang bermain dengan anak-anak. Ingatannya kembali pada satu memori di mana ayah dan ibunya masih hidup.


Gadis itu menghentikan kendaraannya. Ia duduk tak jauh dari sana. Memesan ketoprak. Ia masih lapar.


Setelah habis, ia meminum teh kemasan. Ia cukup kenyang dan menikmati pemandangan dan anak-anak yang berlarian.


"Ah ... pulang!" ujarnya lalu berdiri.


Gadis itu membeli kue pancong di sekitar taman kota. Memakannya sambil membawa motor. Sampai mansion gadis itu sudah selesai memakan jajanannya.


"Sudah pulang?" Denita menyambut cucu perempuannya itu.


"Sudah Oma. Oma, nanti malam aku mau makan sate padang ya," pinta gadis itu sekaligus menjawab pertanyaan neneknya.


Denita mengangguk, wanita itu mengusap lembut pipi Naima. Gadis itu pun naik ke atas dan mengganti gaun pendek yang ia kenakan ketika di pesta pernikahan Andre.


Sementara di Maldives, Andre langsung merenggut manisnya sang istri. Fidya begitu melambung di bawah kukungan suaminya. Keduanya terlelap setelah penyatuan cinta mereka.


"Aku mencintaimu," ujar Fidya lirih.


"Aku juga mencintaimu!" balas Andre tegas.


Pria itu tak berpikir dua kali untuk mengungkapkan cintanya. Ia benar-benar jatuh cinta pada sang istri.


Sedangkan Neil mesti harus bekerja lebih keras setelah perbaikan management yang korup. Pria itu harus meyakinkan semua pengusaha agar tetap menanam investasi di perusahaannya.


Kini ia menatap layar ponsel bergambar dirinya yang tengah merangkul erat pinggang ramping seorang gadis. Pria itu harus naik menelepon Naima tengah malam buta.


"Halo!" sebuah suara serak terdengar dari sambungan telepon.


"Sayang ... aku kangen!" pekik Neil kegirangan.


Tuuut ... sebuah suara wanita lain terdengar. Sambungan terputus. Pria itu nyaris membanting ponselnya. Jaringan di luar negeri tak seindah kenyataan. Pria itu harus memakai operator lokal agar bisa berkomunikasi.


Naima menatap layar ponsel yang sudah menghitam. Kantuknya menghilang ketika mendengar namanya disebut oleh pria yang merebut ciuman pertamanya.


"Ih ... kok mati sih!" gerutunya kesal.


Ia mencoba menghubungi kekasihnya. Tetapi setelah empat kali panggilan. Satu suara wanita yang sama menjawab.


"Huh ... kamu tinggal di mana sih Yank!" pekiknya lagi kesal.


Bersambung.