
Naima memang ada di rumah kakeknya. Wanita itu menangani masalah kantor yang kecil-kecil saja. Fidya datang membawa putranya.
'Sayang ... cepat besar sih! Gantiin kakak!' ujarnya pada bayi yang baru berusia tiga bulan.
"Aphrurrufff!" Andri menyemburkan ludahnya.
Bayi itu memekik dan tergelak jika Naima menyembur perutnya.
"Sayang, jangan lama-lama pegang Andriya. Nanti bau tangan, Mama nanti susah sayang," perintah Fidya.
"Iya Ma, ini kan di tempat tidur," sahut Naima.
"Ayo makan buahnya," Naima bergerak bangun.
Fidya mengambil bayi untuk ia susui. Naima melihat Areola milik ibu dari Andri menghitam.
"Mama kok itunya item?" tanya Naima menunjuk area yang dihisap Andri.
"Oh ini karena pengaruh hormon sayang, normal kok. Apa lagi bagi ibu hamil," jawab Fidya.
Naima malah membuka atasannya demi melihat area itu. Memang ia tak pernah memperhatikan tubuhnya. Pucuk sedikit kecoklatan terlihat. Benda yang paling disukai oleh Neil jika bermain cinta dengannya.
"Punyaku apa bisa hitam?" tanyanya.
"Bisa sayang dan akan memproduksi susu di dalamnya," jawab Fidya tersenyum.
Sedangkan di perusahaan, Neil akan pergi bersama Dion dan Didi sekretaris keduanya. Ada empat bagian sekretaris. Tapi Neil memilih Didi karena pria itu begitu cekatan dan sangat bisa diandalkan.
Ketiganya menunjukkan sebuah restoran ternama. Salah satu milik investasi istri Neil. Di sana banyak pengusaha-pengusaha muda berbakat dan akan merebutkan proyek besar.
Seorang gadis berpakaian mahal menatap Neil dengan pandangan pemujaan. Ia mendekati pria itu.
"Neil!' panggilnya.
Pria itu hanya menatap sekilas lalu tak peduli.
"Neil aku, Margaretha!' seru sang gadis mengingatkan. "Teman dan kekasih bayaranmu ketika di SMA dulu!"
Neil berhenti, ia tentu ingat siapa Margaretha. Gadis cantik yang lugu tapi miskin. Neil membayar sang gadis agar jadi kekasihnya untuk menghindari ajakan kencan semua teman perempuannya.
"Oh," hanya itu lalu tak peduli.
Margaretha atau biasa dipanggil Retha kesal bukan main. Lalu seorang pria paru baya berperut buncit mendatanginya.
"Retha, kau bicara dengan siapa?" tanyanya.
"Bukan siapa-siapa Daddy," jawab gadis itu manja.
"Jangan berlebihan Retha. Aku membayarmu hanya untuk menghindari perjodohan bisnis!' tekan pria itu menepis lengan Retha yang hendak menggandeng lengannya.
Retha hanya bisa menelan saliva kasar. Rudianto memang seorang pengusaha ternama. Di usianya yang ke empat puluh enam ia masih melajang. Pria itu sangat menghindari namanya pernikahan.
“Selamat datang Tuan Rudianto!” sapa Neil.
Rudi menjabat tangan Neil yang terjulur dengan senyum lebar. Seorang pengusaha yang dipanggil neil akan naik levelnya. Itu menandakan jika pebisnis tersebut penting di mata seorang Gutama.
“Tuan, sebuah kehormatan bagi saya disapa oleh seorang sebesar anda!” ujarnya sangat antusias.
“Jangan berlebihan Tuan!” sahut Neil merendah.
“Mari!” ajaknya kemudian.
Keduanya masuk bersama yang lain. Retha hanya bisa mengikuti Rudi kemanapun pria itu berada. Neil menggeleng, begitu ingin cepat kayanya, Retha sampai mau dijadikan wanita bayaran walau hanya sekedar menemani saja.
“Jadi anda sudah memiliki kekasih Tuan?’ tanya salah seorang kolega sedikit kecewa.
“Iya, ini kekasih saya,” ujar Rudi memperkenalkan Retha.
Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum manis. Lalu beberapa gadis datang dan diperkenalkan pada Rudi.
Rudi tau, semua anak rekan seprofesinya tak menyukai dirinya yang bertubuh tambun dan berperut buncit. Pria itu bukan tidak berolah raga. Tetapi tubuhnya tak seperti pria pebisnis kebanyakan. Terlebih ia suka makan.
“Aku mencari uang susah payah. Kenapa harus menahannya?” begitu alasannya.
“Tadinya aku mau menjodohkanmu dengan adik sepupuku,” ujar pebisnis itu dengan ******* kecewa.
“Selamat untuk perusahaan Gutama dan perusahaan Hart Corp memenangkan proyek ini!” seru ketua proyek mengumumkan pemenangnya.
Neil terkejut, ia tak menyangka jika perusahaan istrinya masuk dalam daftar list. Tetapi ia tak melihat sosok Andre di sana.
“Dzikra?” sang empunya nama menoleh.
“Kau di sini?” tanya Neil bodoh.
“Iya Tuan. Kami diundang secara khusus oleh pemilik proyek,” jawab Dzikra.
Pria muda itu menyerahkan undangan terbuka bagi salah satu perusahaan tertentu. Ternyata perkembangan perusahaan yang dipimpin Naima jadi sorotan pebisnis besar.
“Astaga ... astaga!” sebuah tepuk tangan terdengar.
Semua tentu menoleh asal suara. Seorang pria dengan setelan terbuat dari sutera terbaik. Sosok yang selama ini jadi rival bagi Neil.
“Rupanya, ada pasangan pebisnis mulai memonopoli bisnis!” lanjutnya menyindir.
“Apa ketua memperbolehkan ini?” ia kembali menatap sinis.
“Tuan Seto Adi. Tidak ada namanya monopoli. Perusahaan milik Hartono tentu tidak ada hubungannya dengan perusahaan milik Gutama!” jawab ketua proyek.
“Benar, terlebih keduanya memegang bagian yang berbeda!” sahut Rudi membela Neil tentunya.
“Tapi sama saja kan?’ sahut Seto Adi masih tak terima.
“Tuan, anda jangan mengacau di sini. Kami bisa membatalkan hasil 8% anda!” ancam ketua proyek.
Seto mengumpat kesal. Pria itu memang sangat membutuhkan keberhasilan proyek ini agar dirinya lepas dari audit bank. Neil hanya diam, ia tak bereaksi apapun. Pria itu masih kaget jika perusahaan milik istrinya mampu menembus perusahan global.
“Tuan!” panggil Dion menyadarkan sahabatnya.
“Ah ... maaf,” ujar Neil sedikit gugup.
Mereka pun pulang. Adanya Didi di tengah-tengah mereka membuat Neil mati kutu. Dion sangat paham kenapa sahabat sekaligus atasannya itu sangat gusar.
“Kau turunlah dulu Di!” perintah Neil.
“Baik Tuan!” sahut Didi lalu turun di teras lobi kantor.
“Jalan Dion!”
Dion menekan peadl gas perlahan, Neil memintanya pergi ke sebuah tempat yang sepi. Dion membelokkan ke kawasan wisata pantai. Keduanya turun, Neil menatap kawasan yang tentu saja masih sepi karena hari masih siang.
“Tuan!”
Neil melirik Dion dengan sebal. Tadinya ia ingin memukuli sahabatnya itu. Tetapi, Dion membawanya ke tempat yang membuatnya tenang.
“Sungguh, aku tidak tau jika perusahaan milik Tuan Hartono diundang di acara itu,” ujar Dion tenang.
“JIka wilayah biasa, aku masih bisa menekan beberapa pihak. Tapi jika global?” Neil diam, Dion benar adanya.
“Lagi pula kenapa kau merasa takut tersaingi oleh istrimu sih?” tanya Dion lagi penasaran.
“Aku takut, dia mengabaikan keluarga,” jawab Neil jujur.
“Dulu ketika Mama masih mengendalikan bisnis mendiang opa. Daddy hampir menceraikannya karena terlalu sibuk dan aku sampai lupa ibuku,” lanjutnya menerawang.
“Keluarga sampai pernah mengatai Daddy sebagai laki-laki egois karena melarang mama jadi wanita karier. Tetapi, ketika mama menyembunyikan kehamilannya dan membuat ia keguguran. Papa benar-benar menalak Mama,” lanjutnya.
Dion hanya diam mendengarkan. Sebuah ketakutan besar terlihat di mata sang sahabat. Dion tak pernah melihatnya seperti ini.
“Daddy dan mama sempat berpisah dua tahun, lalu perusahaan mama bangkrut akibat mama yang merasa bersalah atas semuanya. Daddy maafin mama dan mau kembali. Tetapi, papa jadi jauh lebih posesif dibanding sebelumnya ....”
“Hmmm ... kita lihat saja nanti, Tuan. Sepertinya Nyonya Naima beda dengan yang lainnya,” ujar Dion menenangkan sahabatnya.
"Biarkan istrimu bersinar, dia memang hebat dan tunjukkan pada semua jika Naima Hartono Gutama adalah milik dari Neil Putra Gutama!" lanjutnya.
bersambung.
benar Neil. Biarkan Naima bersinar terang!
next?