
Naima mengendarai sepeda motor. Gadis itu memacu kuda besinya dengan kecepatan sedang. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja., Naima berpakaian sederhana sekali.
"Selamat datang pegawai baru!" sambut seorang karyawati cantik.
Gadis itu tersenyum pada Naima. Sebagai orang bawaan dalam. Naima sangat paham apa arti sambutan itu padanya. Ia pun hanya mengangguk saja.
"Kamu Naima kan?" tiba-tiba seorang wanita berpakaian seksi mendatanginya.
"Iya saya," jawab Naima.
"Kamu dipanggil HRD untuk menghadap!"
Naima pun mengangguk, kakinya melangkah ke ruangan tersebut. Sebelum masuk, Naima mengetuk pintu.
"Ya masuk!" seru seseorang di dalam.
Agung dan Rendra sudah berada di sana bersama seorang pria dengan pakaian formalnya.
"Selamat datang Naima. Saya Pak Heru Nugroho. Panggil saja Pak Her!" ujar pria itu menyambut dan memperkenalkan diri sembari menjulurkan tangan.
"Naima Pak," sahut gadis itu lalu membalas uluran tangan pria itu dan berjabatan tangan.
"Silahkan Tuan," ujar Heru pada Agung.
"Naima, tadinya Kakek akan menempatkanmu sebagai staf management. Tetapi, Kakek berpikir lagi jika sebaiknya kamu menjadi sekretaris dari Rendra!" jelas Agung panjang lebar.
"Harus?" tanya Naima sedikit enggan menerima jabatan barunya.
"Harus Naima!" tekan Agung lagi.
"Opa ...."
Agung menatap cucu yang dia harapkan itu. Rendra diam, pemuda berusia dua puluh tiga itu hanya bisa pasrah.
"Opa harap kau menurut Cu," pinta Agung begitu memohon pada cucunya.
Rendra akhirnya mengangguk, ia menatap tampilan Naima yang jauh dari kata layak untuk bersanding dengannya.
"Ganti bajunya dulu Opa," pinta pemuda itu memandang tak suka pada Naima.
Naima menatap tampilannya. Uang pemberian selama satu bulan dari Agung memang tidak mencukupi keperluan. Terlebih, banyak barang yang ia beli sendiri dari uang pemberian itu.
"Ini sudah layak!" sahutnya tak suka.
"Sudahlah Nak, biarkan Naima pakai apa yang ia nyaman," ujar Agung menengahi.
"Berikan ID-nya Her!' lanjutnya memberi perintah pada Heru.
Heru pun menyerahkan satu name tag pada Naima. Di sana jelas, apa jabatannya. Ia sebagai asisten CEO yang berarti dirinya harus mengikuti jadwal atasannya kemana pun.
"Kau akan berlatih dengan Asep, asisten seniormu Naima. Setelah kau cakap, baru kau bekerja dengan Rendra!" ujar Agung lagi.
Naima hanya mengangguk pasrah. Gadis itu tak memiliki pilihan lain jika ingin mengembangkan dirinya selain tunduk pada Agung.
Naima mulai bekerja. Sedang di tempat lain, Andre telah mengembangkan perusahaan baru milik atasannya di kota itu. Pria itu sudah mengatakan niatnya selama ini.
"Nyonya, buka perusahaan baru di kota M, kita bisa jadi saingan perusahaan milik Tuan Lakso dan menyerahkan kepemimpinan pada Nona Naima,"
"Aku memintanya kembali Andre!" seru Denita.
"Nyonya, Tuan Lakso mencuri harta Nona muda selama ini. Kita harus membalasnya Nyonya!" sahut Andre juga bersikeras.
"Saya yakin Tuan setuju dengan ide saya ini!"
Danar memang sudah sembuh, namun pergerakannya terbatas. Pengobatannya harus ia lanjutkan ke luar negeri.
"Nona harus belajar mengembangkan diri di dunia bisnis, baru bisa mengambil alih perusahaan besar milik Tuan Hartono!"
Denita akhirnya setuju, wanita itu menyerahkan pada sang asisten kepercayaan suaminya itu.
"Perusahaan bisa Nyonya serahkan pada Tuan Didi untuk sementara," saran Andre.
Didi adalah vice CEO perusahaan milik suaminya. Pria itu juga sangat loyal pada perusahaan.
"Kita sudah mendapatkan bukti jika Tuan Lakso mencuri uang milik Nona Naima dengan mendompleng dan merubah data palsu perusahaannya," jelas Andre lagi.
Andre menatap bangunan yang berdiri tak jauh dari bangunannya. Pria itu sudah menguatkan pondasi perusahaan. Tinggal kesiapan Naima.
"Ada proyek besar yang akan dibuka di propinsi D. Pembangunan shelter nikel," gumamannya.
"Selamat pagi Tuan, ini laporan yang anda minta!" seorang pria datang membawa map.
"Jadi Nona dijadikan asisten cucu dari Agung Lakso?" Andre tersenyum miring.
"Agung benar-benar hanya memusatkan pikiran pada cucu pertamanya itu. Dia lupa jika cucu keduanya jauh lebih berhasil dibandingkan Rendra!" ledeknya pada sosok yang sudah menjadi rivalnya.
Sementara di ruang kerja Agung. Pria itu menatap laporan yang ada di tangannya. Agung mengurutkan keningnya. Tender besar di daerah L ia hanya mendapat 10% dari pekerjaan yang diinginkannya.
"Jadi ada perusahaan yang berdiri baru lima tahun berhasil memenangkan proyek dengan dana tak main-main?" tanya pria itu.
"Benar Tuan," sahut Asep.
"Kenapa tak menaikan nilainya?" tanya Agung lagi kesal.
"Tidak bisa Tuan. Omset kita jauh dari nilai jual," jawab Asep dengan nada menyesal.
Agung mendengkus kesal. Pria itu sangat penasaran dengan pemilik perusahaan yang tiba-tiba melejit namanya itu.
"Siapa pemiliknya?"
"Katanya perusahaan itu akan diberikan pada penerusnya Tuan," jawab Asep lagi.
"Hmmm ... apa kau tau siapa?"
"Maaf Tuan, tidak tau. Hanya sekarang perusahaan itu dipimpin oleh Vice CEO Andre Hendrawan," jawab Asep lagi.
"Nanti malam ada gala dinner. Siapkan Naima dan Rendra untuk ikut acara itu!" titah Agung.
"Baik Tuan!" sahut Asep lalu membungkuk hormat.
Pria itu pun pergi menuju ruangan di mana Naima berkutat dengan banyak berkas dan jobdesk yang harus ia hafal.
Rendra juga tengah menangani banyak berkas. Pemuda itu juga harus cepat belajar dalam pengelolaan perusahaan.
"Tuan Rendra, Nona Naima!" keduanya mendangak ketika dipanggil namanya.
"Ikut saya, kita harus bersiap menuju gala dinner!" lanjutnya.
"Opa ikut kan?" tanya Rendra.
"Aku nggak mau kalo hanya sama dia doang!" lanjutnya menatap kesal pada Naima.
Naima hanya melirik tajam pada Rendra. Gadis itu bukan gadis lemah yang menunduk jika ada orang yang membencinya.
"Ayo Tuan, Nona!" Asep memilih tak menjawab.
Rendra berdecak, tetapi Asep malah memelototinya. Pria itu sudah mendapat mandat dari atasannya agar tidak takut bertindak tegas pada Rendra jika membantah.
Akhirnya mereka berdua mengikutinya asisten senior itu. Agung telah menunggu mereka di sebuah butik ternama.
Naima diberi perawatan ekslusif yang menghabiskan sampai waktu makan siangnya.
"Cantik sekali!" puji perias ketika selesai merias Naima.
"Gaunnya yang tertutup dan simpel ya," pinta Naima ketika melihat deretan gaun yang harus dipilihnya.
"Nona, kamu cantik, bahkan kulitmu indah. Kau harus memperlihatkan kecantikanmu. Dengan begitu kau bisa menunjukkan pesonamu pada semua orang!" ujar perias berjenis kelamin laki-laki itu.
"Untuk menundukkan dunia tidak cukup dengan berani dan kuat saja. Tapi penampilan pun harus indah!" lanjutnya lalu menyerahkan satu gaun cantik berwarna hitam.
"Ini sangat cantik untukmu Nona!"
Gaun hitam turtle neck dengan rok berbuntut panjang, kaki Naima akan terekspos indah. Dengan punggung yang terbuka, Stiletto warna merah serasi dengan tas LV limited edition yang warna senada dengan sepatunya.
"Aku akan mengganti antingmu!"
"Jangan ini milik ibuku!"
"Kau bisa menyimpannya sayang," ujar pria dengan gemulai.
"Hanya anting berlian kecil saja," lanjutnya lalu mengenakan benda itu di daun telinga Naima.
"Perfecto!" pujinya.
Bersambung.
Ah ... debut pertama Naima.
Next?