NAIMA

NAIMA
MELAHIRKAN



Tak terasa kandungan Naima sudah tujuh bulan. Neil makin posesif dengan istrinya. Pria itu tak pernah beranjak dari sisi Naima dan melarang sang istri melakukan pekerjaan yang berat.


"Sayang ... kau membuat Kak Dion dan Didi batal kencan!" sungut Naima kesal.


"Biarkan mereka ... aku lebih mementingkan kamu!" sahut Neil tak peduli.


Dion dan Didi hanya bisa menghela napas panjang. Dua pria itu memang belum memiliki pasangan akibat kerjaan yang menumpuk. Neil tak membiarkan kedua pria tampan itu menganggur.


"Selesaikan cepat maka kalian akan pulang cepat!' tekan Neil tak peduli.


Dion berdecih, ia tak yakin dengan perkataan sahabatnya itu. Karena jika kerjaan hari ini selesai. Maka Neil akan menambah pekerjaan mereka lagi.


"Yakin kami bisa istirahat?' tanya Dion sampai menyipit matanya.


"Iya ... aku pastikan kau bisa liburan enak!" jawab Neil tegas.


"Baiklah, ini semua laporan sampai Jumat mendatang telah selesai. Kau tinggal memeriksanya! Aku bisa pulang!"


Didi tersenyum lebar. Pekerjaannya juga sudah rampung. Neil yang seperti tak terima jika dua pria itu bersantai di rumah.


"Tapi laporan mingguan belum kau kerjakan kan?" ujarnya tersenyum licik.


Dion sudah hafal tabiat sahabatnya itu. Ia menyerahkan laporan mingguan komplit pada sang atasan yang menyebalkan itu.


"Ini, sudah beres. Sampai jumpa Senin mendatang!" ujarnya menyeringai penuh kemenangan.


Neil mengumpat pelan. Naima tertawa melihat kekesalan suaminya. Ia segera menyuruh dua pria malang itu pergi secepatnya sebelum sang suami berubah pikiran.


Dion dan Didi mempercepat langkah mereka dan melesatkan mobil. Tak lupa mereka men-silent nomor atasan mereka agar tak mengganggu.


"Dasar anak buah sialan!' umpat pria itu.


Naima memeluk suaminya. Perut besarnya menghalangi. Neil merengek manja. Naima tambah tertawa mendengarnya.


Tak lama, mansion Neil banyak orang. Neil menggelar pesta kecil untuk memberikan doa pada kehamilan istrinya.


'Wah, anaknya perempuan ini?!' ujar salah satu ibu ketika melihat bentuk perut Naima.


"Kelihatan jelas ya Nyonya?" tanya Naima tertawa.


Janin Naima memang perempuan. Wanita itu sudah menyiapkan semuanya. Ia ingin anak perempuan lahir pertama kali.


"Anda tidak masalah kan Tuan Gutama jika ini adalah perempuan?' tanya salah satu wanita berpakaian sedikit seksi.


Naima menatap sinis pada wanita tersebut sampai ia menunduk takut. Charles melirik istrinya.


"Kau undang siapa sih?!' tanyanya gusar.


"Bikin malu aja!' lanjutnya mengomel.


Jeane menyesal mengundang beberapa teman sosialitanya. Wanita itu ingin memamerkan menantunya yang sukses.


"Tidak masalah jika anakku ini perempuan!" jawab Neil tegas.


"Karena aku juga terlahir dari perempuan," lanjutnya memandang sang istri penuh cinta.


Wanita itu malu luar biasa. Fidya dan suaminya datang membawa putra mereka yang sudah bisa merambat kemana-mana. Bayi berusia delapan bulan itu mengoceh tak jelas.


'Amih ... tuh eyut tata Mama edhe!' tunjuknya pada perut Naima.


"Dia sudah bicara?" tanya Danar begitu antusias.


"Tentu saja Opa,' jawab Fidya tersenyum.


Danar langsung menggendong bayi tampan itu. Denita juga menciuminya sampai Andriya kesal.


"Pspot!" pekik bayi itu marah..


Semua tertawa melihatnya. acara berlangsung meriah. Doa-doa baik diucapkan untuk calon bayi.


Beberapa hadiah begitu mahal dan mewah. Tentu saja karena pemberinya adalah orang-orang kaya.


'Wah ... bajunya cantik-cantik sekali!' puji Naima berbinar.


Perutnya sedikit naik karena wanita itu terlalu banyak berdiri. Ia mengelus pelan, karena mendadak mendapat kontraksi palsu.


"Uh ... sabar sayang ... kamu baru tujuh bulan," ujarnya mengelus perutnya.


"Kenapa sayang?"


Naima menggeleng. Ia tak mau suaminya khawatir.


"Hanya kram biasa," jawabnya.


Neil membuka semua kado. Rata-rata baju-baju dan perlengkapan mandi bayi.


"Ck ... kenapa tidak ada yang kasih barang lebih mahal? Stroller misalnya?" ujarnya kesal.


Naima jadi tertawa mendengarnya. Hingga ia mendapat kontraksi lagi.


"Uuhhhh!" keluhnya. "Sayang!"


"Bu ... ibu Darni!" pekik Neil.


"Tuan?" Darni datang tergopoh-gopoh.


"Bu ... ambil perlengkapan yang sudah disiapkan! Aku akan bawa Naima ke rumah sakit!"


Neil melarikan istrinya ke rumah sakit, Naima mengerang. Ia mengalami kontraksi setiap sepuluh menit sekali. Neil menekan klakson berkali-kali. Perjalanan seperti sangat jauh.


“Minggir!” teriak pria itu marah-marah.


Naima mengerang kesakitan. Wanita itu menjerit dan mencengkram kuat lengan suaminya. Neil menangis melihat istrinya kesakitan.


“Sabar sayang ... sebentar lagi ya,” pintanya.


Akhirnya mobilnya sampai ke sebuah rumah sakit. Pria itu menggendong istrinya, ia berteriak memanngil petugas medis. Semua mendorong brangkar, Naima pecah ketuban. Wajahnya sudah pucat.


Para suster memakaikan baju OK pada Naima begitu juga Neil. Setelah itu mereka bergerak ke ruang persalinan. Naima diletakkan di ranjang khusus. Kaki wanita itu dilebarkan. Dokter yang menanganinya datang. Neil diminta memberikan kekuatan pada istrinya.


“Wah ... sudah bukaan sempurnaa ya. Rupanya baby udah nggak sabar mau lihat dunia ya?” selorohnya.


“Siap ya Bunda!”


Tak lama, Naima mengejan sesuai intruksi dokter. Neil menahan tangisnya dan berdoa untuk istrinya. Pria itu nyaris pingsan karena mendengar teriakan Naima ketika mengeluarkan bayinya. Dua puluh lima menit Naima berjuang. Akhirnya terdengar tangisan bayi yang begitu keras.


“Selamat Bunda ... Ayah, ini putri cantik kalian,”


Bayi diletakkan di dada Naima. Wanita itu tersenyum penuh haru. Bayi itu menghisap kuat sumber kehidupannya.


“Uhh ...!” Naima meringis ketika bayinya menghisap kuat dadanya.


“Sabar sayang ... Mama punya banyak kok!” kekehnya lalu mencium lembut pucuk kepala putrinya.


“Jangan habiskan sayang. Papa juga mau,” seloroh Neil terharu.


“Sayang!” rengek Naima manyun.


Neil tertawa lirih. Ia menangis ketika bayinya diletakkan di dadanya. Bayi cantik itu terlelap di inkubator. Terlahir prematur, membuat tubuh bayi itu kecil.


“Beratnya 2,5 kg dengan panjang 45cm,” jelas dokter. “Tapi semuanya sehat dan kuat.”


Akhirnya semua datang melihat bayi yang baru lahir itu. Denita menciumi bayi itu sampai merengek. Neil belum memberi nama untuk putri pertamanya.


“Apa sudah diberi nama?” Neil menggeleng.


“Aku memanggilnya Girl,” lanjutnya.


“Ck!” Charles berdecak.


“Biar aku menamainya!” ujar Ayah dari Fidya.


“Neilana Gutama?” kekehnya.


Neil berdecak, ia ingin mencari nama cantik untuk putrinya nanti. Akhirnya kamar rawat Naima sepi, bayinya sudah terlelap. Neil merebahkan dirinya di sisi sang istri. Pria itu begitu bahgia, ia memeluk istrinya dan menciuminya dengan penuh cinta.


“Terima kasih sayang,” ujarnya.


“Sama-sama. Jadi apa nama putri kita Neilana?” kekeh sang istri.


“Tidak!” jawab Neil cemberut.


Naima tertawa mendengarnya. Ia menyerahkan semua pada suaminya. Wanita itu juga menyerah jika perihal memberi nama pada bayinya.


Waktu berlalu, Neil memboyong istri dan putrinya pulang ke mansionnya. Sebuah kamar dengan nuansa merah jambu begitu cantik. Neil sudah menyiapkannya ketika istri dan anak perempuan pertamanya di rumah sakit.


“Bagaimana?” tanyanya.


Naima terkesima, ia begitu menyukai dekorasi yang disusun untuk kamar putrinya. Neil benar-benar memberikan yang terbaik untuk putri pertama mereka.


“Dua minggu lagi kita akan memperkenalkan Girl ke pubik sayang,” ujar Neil.


Naima hanya mengangguk. Ia setuju dengan apa yang direncanakan oleh suaminya.


“Aku menurut sayang,”


“Apa perlu sewa Babysitter?”


“Tidak. Aku mau merawat putriku sendiri!” tolak Naima tegas.


Neil tersenyum, memang itu yang ia inginkan. Istrinya ada penuh mengurusi dirinya juga putri mereka.


“Sesuai janjiku sayang. Jika kau dan putri kita adalah yang pertama dan utama bagiku seterusnya!” ujar Naima membuat senyum Neil tambah lebar.


bersambung.


selamat Mama Naima dan Papa Neil.


next?