
Di ruangannya Rendra bekerja jauh lebih keras. Tumpukan berkas yang ada di mejanya tak pernah berkurang. Pemuda itu harus membenahi semua divisi yang bermasalah.
Pemecatan besar-besaran terjadi. Hal ini karena memang perusahaan Lakso harus menjual seperempat aset miliknya agar bisa bertahan. Akibat kebaikan Naima, Rendra masih bisa jadi pimpinan di perusahaan itu.
"Aarrggh sial!" bentaknya frustrasi.
Renita duduk bersandar di sofa. Ia juga sudah kelelahan. Jerawat tumbuh banyak di wajah cantiknya. Stress dan makanan yang dikonsumsi gadis itu yang membuat wajahnya seperti itu.
"Kak, cape!' keluhnya.
Rendra iba melihat adiknya yang sudah tak peduli dengan dirinya sendiri. Rendra berdiri dari kursi dan melangkah mendekati sang adik. Ia tak pernah diajari bagaimana cara berkasih sayang antar keluarga. Tetapi instingnya sebagai kakak muncul begitu saja. Ia menarik kepala Renita untuk rebah dipangkuannya.
"Kak?™
"Sudah tidak apa-apa. Biar kakak pijit ya," ujar Rendra mulai memijat kening adiknya.
Renita memejamkan matanya. Ia menikmati pijatan sang kakak. Gadis itu lama-lama tertidur. Reinhart datang membawa makanan. Ayah ibunya bersama sang nenek di rumah sakit.
"Kak?!" Rendra meletakkan jari telunjuk di bibir agar Reinhart tenang.
"Dia kelelahan Dek," ujarnya lalu menatap tumpukan berkas.
Reinhart meletakkan makanan di meja lalu menyusunnya. Pemuda itu juga tak pernah diajari untuk saling peduli dengan saudaranya. Tetapi, istilah darah lebih kental dari air ternyata berlaku bagi keluarga yang nyaris hancur itu.
"Kak, Oma minta cerai dari Opa," ucap Reinhart lirih ketika duduk di sisi kakaknya.
"Apa katamu?" tanya Rendra tak percaya.
Reinhart hanya mengangguk. Renita terbangun, gadis itu menegakkan tubuh.
"Kak," keluhnya dengan kepala pusing.
"Kenapa kamu bangun?" tanya Rendra.
"Inget kerjaan Kak!" jawab Renita terkekeh.
Gadis itu pergi ke toilet yang ada di kamar pribadi milik Agung. Reinhart kembali bercerita tentang keinginan neneknya yang ingin berpisah.
"Kak, Opa juga mencuri perusahaan Oma dan memanipulasi semua datanya," lapor Reinhart.
"Jangan bercanda kamu Dek!" peringat Rendra tak percaya.
"Itu benar Kak. Aku dengar sendiri tadi. Oma sudah tak kuat hidup bersama Opa," jawab Reinhart setengah berbisik.
Rendra yakin jika adiknya tak berbohong. Asep datang dengan wajah penuh sesal. Pria itu gagal dalam memberikan kepercayaan publik terhadap rumor yang beredar.
"Tuan ...."
"Pak, gimana?" Asep menggeleng lemah.
"Rumor pencurian perusahaan milik Nyonya Sofia terendus pada pengusaha. Saya tidak bisa meyakinkan kepercayaan publik lagi!" lapor Asep dengan nada menyesal.
"Jika begini, aku harus mundur teratur dari pimpinan perusahaan. Reinhart, aku harap kau tidak gegabah memberiku sokongan!" peringat Rendra. "Perusahaanmu akan ikut gulung tikar jika memaksa!"
Reinhart diam, Renita keluar dari ruangan pribadi di kantor tersebut. Gadis itu terhenyak setelah mendengar kabar jika sang kakek juga mencuri perusahaan milik sang nenek.
"Kenapa Opa jadi serakah sekali?" tanya Renita sedih.
"Untuk memperkuat posisinya sebagai pemimpin dan pengendali bisnis," jawab Reinhart tepat.
"Ada yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan perusahaan ini dan itu jalan satu-satunya!" ujar Asep nyaris bergumam.
Semua menoleh padanya. Rendra menggeleng, ia sangat tau apa yang hendak dikatakan Asep, asisten sekaligus pria kepercayaannya selama ini.
"Jangan katakan jika aku harus mendatangi Naima?!"
"Sayangnya begitu Tuan," jawab Asep dengan nada menyesal.
"Kita minta kebaikan Nona Hartono agar perusahaan ini selamat," jawab pria itu penuh sesal.
Sedang di rumah sakit. Agung anfal mendengar Sofia menggugat cerai dirinya. Pratma bersimpuh di kaki ibunya.
"Aku yang salah Ma ... aku yang salah!"
Pratma menampar pipinya berkali-kali. Sofia menatap datar sang putra, alatnya untuk membalas dendam pada suami.
"Ma, tak bisakah Mama singkirkan keinginan Mama?" tanya Anna.
"Tidak bisakah cinta Mama kepada Papa untuk menyelamatkan ini semua?" tanya wanita itu lagi.
"Ma ... aku putramu bukan? Aku anak yang sangat kau manja itu kan?" tanya Pratma dengan terisak.
Sofia diam, ia menatap sang putra. Ia turut andil dalam menghancurkan pribadi Pratma. Anna hanya putri dari kalangan pebisnis biasa. Kedua orang tua wanita itu memilih menarik semua investasi perusahaan dari pada menolong Agung.
"Mama mau kemana memangnya jika tidak bersama Papa?" tanya Anna berani.
Sofia terdiam, ia memang tidak tau harus kemana. Menuntut perusahaan Agung sama saja bohong. Tidak akan efektif bahkan ia tidak mendapat apa-apa dari sana.
"Ma, aku mohon sebagai anakmu!' ujar Pratma putus asa.
Sofia akhirnya mengangguk setuju. Wanita itu akhirnya menarik gugatan cerainya pada sosok yang berbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Kini mereka harus memindahkan Agung ke perawatan nomor tiga. Kehancuran perusahaan Lakso Grup tak akan sanggup membayar semuanya. Bahkan pihak asuransi menolak bertanggung jawab.
"Kita tidak bisa mengklaim asuransi milik Tuan Agung, Nyonya!' lapor Asep ketika ia disuruh untuk meminta mencairkan asuransi milik suaminya itu.
"Apa? Tapi itu hak kita Asep!' teriak Sofia berang.
"Maaf Nyonya!'
"Buat tuntutan pada pihak asuransi! Nilai yang kita miliki tembus satu miliar. Mereka mau mencuri uang suamiku!' perintah Sofia berang.
Asep membungkuk hormat. Pria itu punya bukti banyak untuk menjerat pihak asuransi untuk membayar klaim atasannya.
Sementara itu Naima tengah memanjakan diri di sebuah spa pribadi miliknya. Gadis itu juga merambah di bisnis kecantikan.
Kulitnya jadi jauh lebih bersinar dan wangi vanila. Kecantikan Naima makin terpancar.
"Anda cantik sekali Nona!' puji manager tempat itu.
Naima keluar dari spa bernama Nazhra Beauty yang langsung jadi langganan para wanita sosialita dan juga artis-artis ternama.
Gaun midi dari perancang tanah air jadi balutan Naima yang sangat segar. Andre terkesima melihat penampilan nona mudanya. Semenjak keributan di gala dinner waktu itu, membuat Andre tak mau melepas Naima sendirian.
"Nona," panggilnya.
"Papa!" keluh Naima.
"Nona, mau kemana lagi?" tanya Andre putus asa.
Naima membawa pria itu ke salah satu butik yang menjual pakaian pria. Naima membelikan Andre beberapa pasang pakaian formal, kaos kaki dan juga dasi.
"Jangan pake itu-itu mulu Pa!' sahut gadis itu.
"Tuan Hendrawan?!" Andre menoleh.
"Tuan Neil Gutama?"
Pria tampan dengan tinggi 188cm dengan bobot sekitar 80kg. Pria bernama Neil menatap sosok cantik yang tak perduli dengan kehadirannya.
"Nona, saya kenalkan anda dengan Tuan Neil Gutama!" ujar Andre.
Naima menoleh, menatap sepasang mata tajam. Gadis itu sedikit terpana.
"Neil!" ujar pria itu dengan suara sopran.
"Naima!" sahut Naima membalas uluran tangan Neil.
Keduanya berjabatan tangan. Neil terpukau dengan kecantikan Naima.
"Kami pergi dulu Tuan!' ujar Andre dengan nada sedikit cemburu.
Andre sedikit menyeret nona mudanya. Neil terkekeh melihat sikap posesif pria itu.
"Naima Az-zahra Hartono," gumamnya pelan.
Dalam sekejap ia berhasil mencari tahu siapa Naima. Banyak artikel menyebut kehebatannya.
"Gadis genius rupanya," pujinya dengan senyum indah.
"Aku harus mendekati gadis langka itu!" tekadnya lagi.
Bersambung.
Next?