
Bunyi tali skiping yang menghentak lantai begitu keras terdengar. Sosok tinggi dengan kaos traning membungkus tubuh seksi seorang gadis.
Naima Az-zahra, usianya kini enam belas tahun. Delapan tahun ia hidup di satu atap dengan keluarga yang tidak mengharapkan dirinya.
Walau Agung menyekolahkan gadis itu hingga kini kelas satu SMA. Naima tetap berada di bawah tekanan baik dari Sofia maupun Rendra.
Setelah berlatih mengencangkan otot-ototnya. Naima membersihkan diri. Gadis itu harus berangkat sedikit pagi dari mansion. Ia tak lagi menumpang mobil cucu dari kakek angkatnya.
"Sudah cukup selama tiga tahun kemarin aku dilarang pintar dan nilaiku tak boleh lebih tinggi dari Renita dan Reinhart," gumamnya.
Naima memilih sekolah negeri yang jaraknya lebih jauh dari sekolah sebelumnya. Walau dulu kepala sekolah selalu membelanya, bahkan Sofia menuduh Naima menggoda pria itu hingga istri dari kepala sekolahnya sampai mempermalukan dirinya.
Naima sangat ingat, bagaimana perempuan itu sangat menghina dirinya. Kepala sekolah sampai marah dan menarik sang istri dari sana.
Naima mendapat tekanan dari semua murid yang ada. Walau kepala sekolah telah membersihkan namanya, gadis itu tetap dicemooh.
"Jangan deket-deket, nanti Papa kamu digoda sama dia," hasut salah satu murid perempuan.
Bahkan tadinya Renita yang tak pernah berulah mulai cari gara-gara. Nilai gadis itu sangat jauh dibanding dengan Naima. Bukan disuruh rajin belajar, Naima malah ditekan oleh Sofia.
"Kau hanya orang miskin di sana. Cukup juara tiga," ujar Sofia waktu itu.
"Saya akan kehilangan beasiswa saya jika juara tiga!" seru Naima.
"Apa Nyonya mau membiayai sekolah saya?" tanya Naima begitu menyindir Sofia.
"Pokoknya aku tidak mau tau Ma. Masa cucu mama dikalahkan sama anak ini!" tekan Anna.
Walau bayang-bayang kehilangan beasiswa tidak terjadi, Naima cukup puas bisa diterima di sekolah negeri walau harus berjuang mendapat beasiswa.
Naima menarik ransel di pundaknya. Gadis itu akan menggunakan sepedanya. Darni telah membuatkan sarapan dan bekal untuk anak asuhnya itu.
"Makasih Bu. Aku pergi dulu," pamit Naima lalu mengecup pelipis perempuan tua yang selalu menenangkannya itu.
Naima mengayuh sepedanya. Sepasang mata menatap Naima yang keluar dari halaman mansion.
"Jika begini terus. Aku benar-benar kehilangan tambang emasku," gumamnya lirih.
Pria paru baya itu sudah bersiap. Ia menatap sang istri yang masih terlelap. Agung menghela napas panjang. Seluruh pakaiannya memang Sofia menyiapkannya dengan malas.
"Aku pergi Sof!"
"Hmmm!" ujar wanita itu malas.
Agung keluar kamar, ia masuk kamar di mana cucu pertamanya berada. Rendra masih terlelap di sana.
"Rendra, bangun!"
Pria itu menggoyangkan tubuh cucunya. Rendra menggeliat, hari masih terlalu pagi jika disuruh mandi.
"Ayo, bangun. Sudah mau jam enam!'' teriak Agung lagi.
Rendra terbangun, mata remaja itu setengah terpejam.
"Ayo bangun sebelum Opa mengguyurmu dengan air!" ancam Agung.
"Iya Opa!" keluh remaja itu masih mengantuk.
Rendra bangun dan membersihkan diri. Kamar remaja bujang itu berantakan ada majalah dewasa terselip di sana. Kasur berantakan. Agung merobek kasar majalah bergambar wanita tanpa busana dengan pose merangsang.
"O-Opa?!"
Rendra membeliak ketika melihat majalah yang menemaninya berolahraga lima jari itu hancur di tangan sang kakek.
"Pakai seragammu dan ke ruangan kerja Opa sekarang!' tekan Agung di akhir kalimat.
Rendra menelan ludah kasar. Sobekan majalah dewasa dibawa oleh kakeknya ke ruangan pria itu.
"Opa ...."
"Tutup pintu!" perintah pria itu.
Agung melepas gespernya. Bukan hal baru, Rendra harus menahan sakit akibat hantaman benda itu di pahanya.
Rendra jalan terpincang, remaja itu harus bersujud minta ampun kakeknya. Agung benar-benar mendidik keras Rendra agar tidak jadi pria bejat seperti ayahnya.
"Apa kau mau seperti ayahmu yang selalu selingkuh?" desisnya.
"Tidak Opa ... huuuu ... uuu ... hiks!" Rendra menangis.
Mata Agung memerah karena menahan amarah yang luar biasa. Pria itu memukul keras paha cucunya sebanyak tiga kali.
Bukan Rendra tidak tau kelakuan buruk ayah maupun sang ibu. Ayahnya beberapa tahun lalu hampir menikah secara siri dengan perempuan lain jika saja Kakeknya tak menghentikan perbuatan bodoh sang ayah itu.
Pernikahan itu terendus wartawan. Sahamnya kembali goyah dengan nilai jual minus. Beruntung ada pergerakan saham dari perusahaan milik gadis yang kini ia urus.
"Kau harus mendekati Naima Rendra," ujar pria itu dengan putus asa.
"Opa ...,"
"Opa mohon ... hanya padamu Opa berharap Cu!' tekan pria itu.
"Naima pasti juga membenci anak yang membunuh ayah dan ibunya," sambung Rendra lirih.
Agung terdiam. Delapan tahun mengurus Naima. Pria itu tak bisa mendekatkan diri dengan gadis itu. Naima seakan mendirikan tembok tinggi dan tebal.
"Kita harus merubahnya Rendra," ujar pria itu.
"Delapan tahun mestinya ia lebih dekat dengan kita, bukan seperti ini," sambungnya lirih.
"kamu bisa lihat perkembangan perusahaan Opa," pria itu memberikan berkas pada cucunya.
Rendra memang pintar, remaja itu selalu giat belajar agar nilainya menyamai Naima. Walau ia harus bekerja lebih keras untuk itu.
"Ini kenapa bisa begini Opa?" tanyanya tak percaya.
"Ayahmu menggunakan yang perusahaan semena-mena. Dia memberi kesenangan para gadis dengan uang perusahaan," jawab Agung.
Rendra ke sekolah. Naima kini tidak lagi satu sekolah dengan gadis itu. Entah dari mana Naima membeli sepeda. Kemungkinan Darni yang membelikan untuk gadis itu karena selalu ditinggal pulang lebih dulu.
Naima pulang pada usai maghrib dalam keadaan lelah. Seragam gadis itu selalu kotor dan terdapat beberapa lebam di lengan dan pipinya.
"Pak Supri, nanti kita jemput Naima pulang sekolah ya," suruh Rendra.
"Tumben Kak?" celetuk Renita.
"Biasanya kakak enggan jemput dia, bahkan dulu sering ditinggal," lanjut gadis itu setengah menyindir.
"Diam kamu!" sentak Rendra tak suka.
Renita berubah dari gadis pendiam kini jadi banyak tingkah. Ada saja ulah gadis itu, dari mulai dandanannya yang kini seperti girl band penyanyi Korea.
Pulang sekolah Naima terkejut melihat mobil kakek angkatnya berada di halaman sekolah.
"Kakek suruh aku menjemputmu," ujar Rendra tak mau menatap Naima.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri!" sahut Naima.
"Jangan membuat aku dimarahi kakekku lagi!" bentak Rendra mulai emosi.
"Loh, kok marahnya ke aku?" tanya Naima bingung.
"Bukankah Tuan muda sendiri yang meninggalkan aku pulang jalan kaki dulu?" tanya Naima dengan seringai sinis.
"Pulang bersama atau aku hancurkan sepedamu!" ancam Rendra.
"Kau kira aku takut?" desis Naima.
"Jika pikirmu aku gadis lemah yang gampang ditindas ...," Naima memotong ucapannya.
"Kau salah orang!" lanjutnya.
Naima berlalu menuju parkir sepeda. Gadis itu menaikinya dan mulai mengayuh kendaraan roda dua tanpa mesin itu.
"Naima!" teriak Rendra kesal.
Remaja itu naik mobilnya. Menyuruh supir untuk mengikuti gadis itu.
"Mana Non Naima Tuan?"
"Non? Suka banget sih Pak panggil dia Non?" desis Renita kesal.
"Saya hanya disuruh Non Renita," jawab Supri yang membuat gadis itu bungkam.
Rendra kehilangan jejak Naima. Remaja itu tak menyangka jika kendaraan mewahnya kalah cepat dengan kendaraan butut yang dipakai oleh Naima.
Sementara gadis yang dicari berhenti di sebuah toko sederhana. Ia masuk dengan senyum ramah pada pemilik yang menunggunya dari tadi.
"Cepet kerjain ini!" perintah pemilik toko.
"Gue udah pusing mikirnya!" lanjutnya kesal.
Naima menarik kertas yang bertuliskan angka-angka. Hanya butuh sebentar, ia telah menyelesaikannya.
"Ini bayaran sama hadiah kamu!" pria itu menyodorkan sejumlah uang dan ponsel bekas miliknya.
"Masih bagus itu. Gue nggak pernah pake," ujarnya memberitahu.
"Makasih Ko!" pria itu mengangguk.
"Jadi gue nggak perlu sibuk ke sekolahan Lu kalo butuh kek gini!" ujar pria itu lagi.
Naima mengangguk, ia pulang dengan perasaan senang. Sebuah ponsel telah ia dapatkan tanpa harus meminta belas kasihan pada keluarga toxic itu.
Bersambung.
Naima ngapain ya?
Next?