NAIMA

NAIMA
PENDEKATAN



Neil Gutama, pria kebangsaan Inggris-Indonesia. Mata coklat gelap dengan warna rambut senada dengan iris matanya. Tubuh tegap berotot berkulit bersih dan senyuman menawan..


"Selamat siang, apa Nona Naima ada?" tanyanya pada resepsionis.


Seorang gadis yang berdiri sebagai among tamu, terbengong menatap sosok tampan yang berdiri menjulang di depannya.


"Nona?!" tanyanya dengan tatapan datar.


"Ah ... maaf Tuan, apa ... apa Tuan sudah ada janji?" tanya sang resepsionis gagap.


"Katakan saja Neil Gutama datang," jawab pria itu percaya diri.


Kehadiran pria pebisnis nomor wahid ini tentu jadi sorotan. Andre tak membuang kesempatan yang langsung menaikkan saham perusahaan nona mudanya. Walau ia tau maksud kedatangan Neil.


"Selamat datang Tuan Gutama. Nona tengah mengadakan rapat divisi internal," ujar pria itu menyambut tamunya.


"Kau boleh pergi Sabila!' suruh Andre melirik resepsionis yang menatap Neil dengan saliva yang nyaris menetes.


"Sabila!" bentak Andre hingga membuat gadis itu terkejut bukan main.


Neil tertawa melihatnya. Pria itu memang menjadi magnet semua wanita di sekitarnya. Tetapi, pria itu tak pernah tertarik sedikit pun dengan wanita. Ia pria pemilih, juga sangat bersih.


Jika semua laki-laki pebisnis akan menghabiskan waktu di klub malam dan bersenang-senang dengan wanita seksi. Neil memilih perpustakaan pribadinya dan tenggelam dengan buku-buku fiksi ilmiah atau novel romantisme.


"Maaf Tuan atas kelakuan lancang resepsionis kami," ujar Andre menyesal.


"Tidak masalah Tuan, aku sudah terbiasa," jawab Neil.


Pria itu duduk setelah Andre mempersilahkan dirinya. Pria itu sendiri yang membuatkan teh pada Neil.


"Ah, nikmat sekali. Terima kasih Tuan Hendrawan!" ujar pria setelah menyesap minuman yang disodorkan Andre.


Tak lama Naima datang bersama sekretaris dan juga ajudannya. Neil mengajak gadis itu pergi makan siang berdua saja.


"Nona," Andre tentu tak mengijinkan.


"Papa tenang saja ya. Aku bisa jaga diri," ujar Naima menenangkan pria itu.


"Anda boleh ikut Tuan. Tapi aku ingin berdua saja duduknya bersama Naima!" tekan Neil.


Andre tak bisa mengelak, nona mudanya memang harus banyak mengenal banyak orang termasuk Neil. Ia hanya bisa mengawasi dari jauh. Andre tak bisa berkutik sama sekali.


Kini mereka ada di sebuah restoran ternama. Naima merekomendasikan hotel yang baru saja diresmikan beberapa bulan lalu. Keduanya duduk berhadapan di sebuah taman indah. Naima juga yang memilihkan tempatnya.


"Apa menu andalan di sini?" tanya Neil suka dengan suasana yang sangat romantis menurutnya.


Andre duduk dengan tatapan gusar. Ia menekan dalam-dalam perasaan cemburu yang mulai membakar hatinya. Sang nona muda hanya menganggapnya sebagai ayah.


"Menu seafood yang terbaik Tuan. Tapi jika anda keberatan. Steik di sini adalah yang paling enak!" ujar Naima antusias.


"Aku tak begitu suka makanan seafood. Tapi untukmu aku ingin mencobanya dengan porsi kecil!" pinta pria itu.


"Nona, kenapa anda memilih makanan seperti ini?" tanya Neil ketika makanan tersaji.


"Oh, aku sedang tidak mau makan seafood dan steik. Aku sedang ingin makanan lain saja Tuan," jawab gadis itu.


Naima makan dengan anggun, walau terkadang ia nyaris lupa jika makan bersama dengan sosok penting. Neil menikmati wajah cantik Naima.


Netranya tak lepas memandangi sosok yang kini mulai tak peduli sekitar. Naima penyuka ayam goreng krispi, gadis itu tak pernah membatasi diri dalam hal makanan.


"Sudah cukup empat belas tahun aku menahan keinginan makan!' ujarnya waktu makan.


"Ada remah di sudut bibirmu," ujar Neil lalu menyorongkan tangan mengusap sisi bibir Naima.


Dua netra saling memandang. Neil masih mengusap sudut bibir Naima. Perlahan ibu jarinya bergerak mengusap belahan indera bicara gadis itu. Naima reflek menjauhkan wajahnya.


"Maaf," ujar Neil lalu menyesap ibu jari yang tadi mengusap remahan di sudut bibir Naima.


Wajah keduanya bersemu merah. Andre patah hati. Ia telah kehilangan cinta pertamanya. Pria itu menyerah kalah.


"Terima kasih makan siangnya Tuan," ujar Naima dengan tersipu.


'Nona ... tolong jangan jatuh cinta!' pekik Andre dalam hati yang patah.


Sementara di tempat lain. Agung sudah lebih baik, pria itu kini berada di kursi roda. Pratma yang berjanji akan mengurusi ayahnya sebagai baktinya.


"Ma," Sofia menatap datar sang putra.


Rupanya Agung buang air besar. Walau setengah hati. Sofia membersihkan tubuh pria itu. Agung menangis ketika kulitnya diusap secara kasar oleh Sofia.


"Sofia ...."


"Diamlah!" bentak Sofia kesal setengah mati.


"Maafkan aku!" Agung memeluknya.


Sofia memberontak. Sebenarnya tenaga Agung bukan masalah lagi bagi wanita itu. Tetapi, pelukan itu yang selama ini dirindukan Sofia.


"Maafkan aku," pinta Agung lagi.


Pria itu memutar keran hingga membasahi tubuh keduanya. Sofia nyaris berteriak jika saja mulutnya tak disumpal mulut Agung.


Di tempat lain. Rendra masih harus lebih meyakinkan para investor. Pemuda itu giat membangkitkan kejayaan perusahaan kakeknya. Reinhart membantu pergerakan perusahaan tersebut.


"Saham mulai bergerak walau sedikit. Tetapi, itu membuktikan jika publik kembali mempercayai kita lagi!" ujar Renita penuh kelegaan.


"Kita masih jauh dari kata berjaya. Tetapi dari apa yang kita lihat. Sepertinya usaha kita lumayan berhasil!" ujar Rendra optimis.


"Tuan, kita mendapat proyek dengan nilai keuntungan 25% dari perusahaan D di wilayah D!" lapor Asep ketika masuk ruangan.


"Apa itu benar?" pekik Rendra tak percaya.


"Benar Tuan!" jawab Asep dengan senyum mengambang.


"Baik lah, kita harus bekerja lebih giat agar semua investor tak kecewa!" seru Rendra semangat.


Renita ikut berteriak semangat. Rendra menatap puas hasil kerjanya selama hampir satu tahun belakangan ini. Satu proyek kembali dimenangkan perusahaannya.


"Naima ... aku akan menyusulmu!" tekadnya membara.


Malam telah larut, Naima pulang dalam keadaan lelah. Andre membimbing nona mudanya untuk masuk dalam mansion mewah itu.


"Kau sudah pulang Nak?" Darni menyambut kepulangan sang gadis.


"Ibu kenapa belum tidur?" tanya gadis itu tersenyum.


Darni mengambil alih tubuh nona mudanya. Tak lupa ia berterima kasih pada Andre. Pria itu membungkuk hormat lalu pergi ke kamar yang berada di lantai satu.


"Ibu, aku mau mandi dulu ya," ujar Naima.


"Ibu akan panaskan makanan untuk kalian!" seru Darni.


Tak lama Naima dan Andre menikmati makan malam mereka di meja makan. Keduanya diam, karena memang sangat lelah luar biasa.


"Selamat tidur Pa," ujar gadis itu.


"Selamat tidur Nak!" sahut Andre dengan suara sangat lirih di kalimat terakhir.


Keduanya masuk kamar masing-masing. Andre sama sekali tak bisa memejamkan matanya. Perlakukan Neil di restoran membuatnya gelisah.


"Nona ... aku mencintaimu ... aku mencintaimu!" pekiknya tertahan.


Sedang di tempat lain. Seorang pria tampan baru saja menutup buku novel yang ia baca. Wajahnya sangat memerah karena malu akibat membaca isi novel itu.


"Ah ... kenapa adegan ciumannya dibuat secara terperinci!" keluhnya berteriak frustrasi.


Bersambung.


Uh ...


next?