
Rapat selesai dengan gemilang. Naima diberi apresiasi yang sangat tinggi oleh para kepala divisi.
"Ini bagus sekali. Baru kali ini ada review yang menguasai semua aspek!" puji salah satu kepala divisi.
Naima membungkuk hormat dengan penghormatan itu. Ia sangat bisa belajar cepat. Naima memindai beberapa kepala divisi yang seperti hanya cari muka di depannya.
"Nona," bisik Andre memperingati.
"Iya Kak, jangan khawatir!" sahut Naima juga berbisik.
Tinggal bersama Agung, membuatnya banyak belajar. Gadis itu bisa menilai mana orang yang tulus atau tidak. Terlebih dulu ia bekerja di banyak orang dengan berbagai karakter.
"Oh ya, kita mendengar kabar jika hampir seluruh saham goyah akibat sakitnya Tuan Lakso!" ujar kepala divisi perencanaan.
'Iya, walau tidak berpengaruh pada perusahaan kita. Tetapi, beberapa pebisnis tidak berani ambil resiko," sahut kepala divisi pengembangan dan HRD.
"Nona, bagaimana tanggapanmu dengan ini?" tanya Findan kepala divisi pemasaran.
"Mungkin jika buat terobosan untuk terus bergerak dan imbas dari sakitnya Tuan Lakso tidak berpengaruh pada turunnya saham," jawab Naima tegas.
"Kok jadi seperti tidak berperasaan ya?" sahut lainnya seperti janggal.
"Tapi jika kita terus diam. Kita juga pasti terimbas akan berita itu. Hal ini harus dicegah. Kita tidak mungkin berhenti berproduksi jika ada satu orang yang sakit!" jelas Naima.
'Kita harus mulai berani menggebrak sistem yang ada. Tuan Lakso bukan penguasa mutlak yang bisa menghentikan produksi perusahaan karena dia sakit!" lanjutnya.
Semua mengangguk setuju. Pergerakan bisnis harus terus berlanjut, walau apapun yang terjadi.
"Ini menyangkut kehidupan orang banyak. Kita tidak mungkin terpaku hanya satu orang!' Andre mendukung tegas pembaruan ini.
Tak lama Naima sudah bergelut dengan banyak berkas. Andre harus menghentikan gadis itu agar makan siang.
"Nona, anda harus makan terlebih dahulu!' perintahnya.
Naima mengangguk. Perhatian Andre pada Naima membuat Siska kesal bukan main.
'Apa bagusnya sih!' gerutunya dalam hati.
"Kau boleh pergi makan siang Siska!' suruh Andre.
"....." Siska merasa tersinggung, ia seperti diusir keluar.
"Apa kau tuli Siska?" tanya Andre tajam karena tak melihat Siska bergerak dari tempatnya.
"Ba-baik Tuan!" cicitnya lirih.
Gadis itu buru-buru keluar sebelum Andre memarahinya. Di luar ruangan yang ditutup. Siska menghentak kakinya kesal. Ia pun berjalan dengan angkuh menuju kantin perusahaan.
Di dalam Andre makan siang dengan nona mudanya. Pria itu akan menjelaskan semua yang terjadi tanpa ada yang ditutup-tutupi.
"Jadi Papa diusir keluar dan dicoret dari daftar ahli waris?"
"Benar Nona. Tuan Deon diusir dari rumah karena memilih menikah dengan gadis pilihannya," jawab Andre dengan nada menyesal.
"Tuan jatuh sakit semenjak itu. Bahkan tambah buruk kesehatannya ketika mendengar berita kecelakaan yang menimpa Tuan Deon dan istrinya," ujar Andre sedih.
"Tuan makin buruk kesehatannya setelah sempat membaik. Beliau kini harus berobat ke luar negeri. Makanya saya baru muncul sekarang Nona, itu juga melihat Nona sudah siap untuk terjun ke dunia bisnis!" lanjutnya panjang lebar.
"Kapan aku bisa bertemu mereka?" tanya Naima lirih.
"Apa Nona yakin?" Andre bertanya ulang dengan nada antusias.
"Ya ... bisa jadi ...."
"Secepatnya bisa Nona!" jawab Andre semangat.
"Minggu depan ya, aku baru menjabat sebagai CEO tentu aku harus banyak belajar dan mempersiapkan semuanya," lanjutnya tenang.
"Oh ya Kak, bagaimana dengan kecelakaan yang menimpa kedua orang tuaku, apa Kakak bisa menyelidikinya?" tanya Naima.
"Saya telah menyeledikinya sejak lama Nona!" jawab Andre.
"Apa hasilnya. Mereka dibunuh kan?'
"Maaf Nona. Semuanya murni kecelakaan," jawab Andre menunduk.
Naima hanya diam. Gadis itu memandang kosong di depannya. Sungguh, ia ingin sekali membuat perhitungan dengan Pratma yang menabrak motor yang ia tumpangi bersama kedua orang tuanya.
"Nona!' panggilan Andre menyadarkan gadis itu.
"Ikhlaskanlah. Mereka sudah tenang. Tapi ada satu yang harus anda tau!" ujar Andre begitu misterius.
"Apa Kak?" tanya Naima penasaran.
"Kak?"
"Baca saja Nona!"
Naima membaca perlahan. Gadis itu membola, lalu perlahan terlihat mimik muka yang geram akan apa yang baru saja ia dapatkan.
"Jadi selama ini dia mencuri dariku?" tanyanya sampai berdesis.
"Iya Nona, selama 13 tahun dia mencuri dari Nona!" jawab Andre.
Naima terdiam. Bukti ini akan mengguncang semuanya. Gadis itu berpikir lama.
"Nona?"
"Kita tunggu semua reda dulu Kak. Jika Tuan Lakso masih tidak memiliki itikad baik. Aku akan bergerak untuk menjatuhkan dia!' jawab Naima dengan kilatan mata sadis.
Andre dapat melihat sosok Danar di wajah nona mudanya. Ia sangat senang dengan sikap yang diambil Naima.
Sedang di tempat lain. Agung tengah mendapatkan penanganan serius. Tubuhnya sempat menolak obat-obatan yang dimasukkan.
"Jangan kau lakukan ini Mas!" teriak Sofia putus asa.
"Tolong, jika kau memilih pergi sekarang. Aku akan ikut denganmu!" lanjutnya histeris.
Akhirnya tubuh Agung merespon obat-obatan yang masuk. Pria itu belum sadarkan diri.
"Ma, sebaiknya Mama pulang. Biar Pratma yang menjaga Papa," pinta sang anak lembut.
"Tidak sayang," sahut Sofia sambil menggeleng.
"Mama tidak bisa jauh dari Papa. Kalian saja pulang ya. Besok datang lagi ke sini, bawa baju-baju Mama," lanjutnya.
Pratma dan Anna tak bisa menolak. Keduanya pun pergi bersama Reinhart dan Rendra juga Renita.
"Tuan!" Asep membungkuk di hadapan Rendra.
"Anda harus mengganti kepemimpinan Tuan Lakso!" ujarnya lalu membungkuk hormat.
"Apa harus?"
"Harus Tuan!" jawab Asep tegas.
Rendra menatap adiknya. Ia meminta Renita untuk menjadi sekretarisnya.
"Basisku di akunting Kakak!" tolak Renita.
"Ayolah Dek, kamu pasti bisa. Kakak tak bisa percaya pada siapapun saat ini!" pinta Rendra setengah memohon.
"Baiklah," angguk Renita setelah berpikir lama.
"Papa bantu Reinhart aja ya," pinta pemuda itu.
Pratma yang memang sudah kehilangan gigi hanya bisa mengangguk. Dulu, ia sama sekali mengabaikan semua anak-anaknya terutama Reinhart. Siapa sangka justru putra keduanya itu yang menghargai dirinya.
"Papa berhutang pada cinta kalian," ujarnya lirih.
Di hunian tak kalah mewahnya. Seorang wanita paru baya tampak begitu bahagia dengan berita yang ia dapatkan.
"Mas!' pekiknya ketika membuka pintu.
Danar yang tak bisa bergerak banyak akibat stroke yang dideritanya hanya bisa menoleh.
"Cucu kita kembali! Cucu kita kembali!" pekik wanita itu senang.
"Aaah!" Danar tak mampu berkata apapun.
Pria itu menangis, Denita memeluk suaminya dan ikut menangis di sana. Para maid sampai panik.
"Tuan, Nyonya!"
"Tidak apa-apa Bi, tolong siapkan pesta minggu depan. Kita akan kedatangan seseorang yang kita nantikan bertahun-tahun lamanya!" perintah Denita sambil mengusap genangan di matanya.
Para maid pergi dengan tubuh terbungkuk-bungkuk. Denita menciumi wajah suaminya.
"Sayang, cepatlah sembuh dan sambut cucu kita dengan senyum lebar!' pinta wanita itu lirih.
Bersambung.
Ayo ... Naima!
next?