
Naima memang telah mengirimkan berkas bukti pada audit bank, jika perusahaan Lakso memalsukan banyak data. Saham Naima selama empat belas tahun dicuri oleh Lakso dengan memalsukan data untuk menyelamatkan perusahaan besar itu.
"Ini tidak mungkin!" teriak Rendra tak percaya.
"Tuan, ini bukti jika selama empat belas tahun, Tuan Lakso atau kakek anda melakukan pencurian terselubung," ujar kepala audit bank yang datang..
Asep benar-benar tak menyangka. Pria itu selama ini ditugaskan di tempat lain dan Agung melarangnya memeriksa bagian arsip dan keuangan. Semua data diambil alih pengelolaannya oleh sang atasan.
"Kami juga akan menyelidiki, siapa saja yang terlibat di perubahan data ini!" ujar petugas. "Maaf Tuan. Dengan terpaksa kami akan mereview ulang aset. Untuk sementara perusahaan kami nyatakan audit, selama perhitungan berlangsung!"
Rendra tak bisa berkutik. Banyak proyek yang ada langsung membatalkan kerjasama dengan perusahaan besar itu. Bahkan diantaranya menarik investasi.
"Jangan khawatir Kak. Aku di sini," ujar Reinhart menenangkan sang kakak.
Agung menatap datar laporan bisnis yang ada di tangannya. Perusahaan yang ia bangun selama puluhan tahun kini menunggu nasib.
"Aarrggh!" teriaknya kesal.
Pria itu melempar semua benda yang dekat dengannya. Para maid berlarian. Mereka ingin menenangkan majikannya tetapi takut akan amukan pria itu.
"Tuan ...."
"Pergi kalian!" usirnya.
"Tapi Tuan ...."
"Pergi kataku!" bentak Agung lagi lalu melempar vas bunga.
Semua maid berlari takut terkena lemparan vas. Benda keramik itu pecah berkeping-keping. Pria itu langsung menekan dadanya yang tiba-tiba sakit bukan main.
"Sofia ...."
Pria itu tersengal, Agung membungkuk sambil menekan dadanya kuat-kuat. Pria itu terjatuh dari kursi roda. Tubuhnya meringkuk menahan sakit yang ada di dada seperti tertusuk pisau. Napasnya satu-satu. Pandangannya mulai buram. Perlahan sepasang kaki indah mendekat. Netra Agung melirik ke atas.
Sofia melihat bagaimana suaminya kesakitan. Agung mencekal kaki istrinya.
"So ... ffiaa ... kkau pppuaaass ... sssseeekkkaarreanghhh!" ujarnya terbata.
Sofia menggerakkan kaki dan melepas cengkraman tangan Agung. Wanita itu berjongkok.
"Kau masih merasa tidak bersalah Agung?" tanya Sofia menggeleng tak percaya.
"Aaakkku sssuuddahhh bbbeeekkkerrja kkerrrasss!"
Sofia menggeleng, wanita itu juga mendapat bukti jika suaminya berbuat curang terhadap perusahaan ayah dan ibunya.
"Bahkan kau mencuri dari orang tuaku Agung ... kau mencuri perusahaan ayahku," ujar Sofia lirih.
"Aaakkku ... tttiiiidddakk ...."
"Cukup ... cukup Gung. Aku sudah muak dengan semua kebohonganmu!" putus Sofia.
"Aku akan pergi darimu Agung. Kau memang tak pantas untuk dicintai. Aku menyesal mencintaimu teramat sangat!" isak Sofia.
Wanita itu berdiri. Agung makin meringkuk kesakitan. Beberapa maid kembali.
"Nyonya ...."
Satu tetes bening membasahi pipi Sofia. Sopran mendekati tuannya dan langsung menelepon ambulan. Tuti memegang lengan majikan perempuannya.
"Nyonya ... jangan tinggalkan Tuan Nyonya," pinta maid itu.
"Dia jahat padaku Tuti ... apa yang kau lakukan jika kau adalah aku?" desis Sofia.
"Nyonya ...," Tuti tak bisa berkata apapun.
Tak lama ambulans datang dan membawa Agung ke rumah sakit. Sofia tadinya tak mau ikut, tetapi semua maid yang baik hati itu memaksanya. Maka dia menunggui suaminya itu dengan malas.
Sementara itu Pratma bersimpuh di hadapan putranya. Rendra menatap kecewa pria yang ia junjung tinggi itu. Padahal ia sangat tau jika sang ayah yang salah selama ini.
"Hukum Papa Nak ... hukum Papa!' ujar pria itu terisak.
"Terlambat Pa ... semua terlambat," geleng Rendra sedih.
Sedang di tempat lain. Andre menatap puas dengan apa yang ia baca di portal berita online. Pria itu tersenyum penuh kemenangan.
"Kau harus membayar semuanya Agung. Kau harus membayar penderitaan Nona mudaku!" seringainya.
"Papa!" Andre menghela napas panjang mendengar panggilan itu. Tapi ia pun tak berdaya.
"Apa yang Papa baca?" tanya Naima lalu duduk di kursi kebesarannya.
Sudah tiga bulan Naima memimpin perusahaan sang kakek. Perusahaan pria itu makin melejit dengan ide brilian yang dilontarkan Naima. Banyak terobosan baru yang gadis itu ungkapkan.
Lapangan pekerjaan ada di mana-mana. Gadis itu kini mulai merambah bisnis perhotelan dan juga restoran.
"Ini Nona. Perusahaan Lakso dinyatakan audit bank sementara oleh Bank hingga pemeriksaan selesai," jawab pria itu lalu memberikan ponselnya.
Naima menerima benda canggih itu dan membaca isinya. Gadis itu mengangguk, ia senang jika semua usahanya membuahkan hasil.
"Nona tau jika mantan sekretaris kita kemarin hendak membelot?" tanya Andre.
Naima mengangguk. Siska kedapatan mencuri data dan hendak dibocorkan pada pihak lain. Sayang, data yang dia ambil ternyata prank yang dilakukan Naima.
"Apa pertunjukannya sudah selesai?" tanya Naima.
"Sudah Nona. Siska didakwa kasus penipuan dan juga pencurian surat berharga. Bahkan tiga perusahaan yang hendak membeli data palsu itu kini sudah dicoret secara tidak hormat dari dunia bisnis," jawab Andre dengan nada bangga.
Naima mengangguk setuju. Gadis itu ingin menyaksikan pertunjukan yang lebih seru lagi.
"Kita ke kota M, Pa. Ayo kita lihat bagaimana mantan kakak angkat dan calon suamiku itu harus menundukkan kepalanya dalam-dalam atas pencurian yang dilakukan kakeknya!" ajak Naima dengan kilat mata sadis.
"Mari Nona!' sahut Andre.
Sandra sangat terkejut ketika mendapat laporan. Wanita itu baru tahu jika gadis yang ia idolakan pernah menjadi anak angkat sosok pengusaha ternama yang kini perusahaannya diambang audit bank.
"Jadi ayah dan ibu dari Nona Hartono meninggal akibat kecelakaan dan semua itu karena anaknya mabuk?"
"Benar Nyonya!" ujar pria suruhan itu membungkuk hormat.
"Apa lagi?"
"Nyonya ... bagaimana dengan istri muda Tuan Pratama? Apa perlu ditangani?" tanya pria itu.
"Tidak perlu selama dia tak berulah Diego!' jawab Sandra santai.
"Aku ingin lihat sampai mana Vania beraksi. Dia lupa jika aku yang kaya di sini! Bukan Rudi!' sahut wanita itu dengan senyum sinis.
"Pergilah Diego dan awasi semua. Jika ada sesuatu, kau tentu tau apa yang harus kau lakukan!" ujar Sandra.
"Baik Nyonya!" pria itu membungkuk hormat dan pergi dari ruang itu.
Sandra berdiri lalu ia membuka pintu penghubung. Di sana tampak seorang pria membersihkan lusinan pasang sepatu.
"Sayang ...."
"Hentikan panggilan menjijikan itu Rudi!" sentak Sandra datar.
"....."
"Aku kecewa padamu. Selama ini percaya pada cintamu. Tapi ternyata kau memiliki putra yang sudah dewasa bahkan memiliki perusahaan!" serunya menahan tangis.
Rudi terdiam, Vania adalah kekasih gelapnya sebelum ia menikah dengan Sandra. Memiliki hubungan puluhan tahun dan memberikan kemewahan pada wanita dan juga putranya itu.
"Sandra ... maaf," ujarnya lirih.
"Laki-laki tak tau diri!" sentak Sandra lalu keluar sambil membanting pintu.
Rudi sampai terjengkit karena kaget. Ia benar-benar menyesali sekarang. Masih beruntung Sandra tidak mengganggu Vania dan putranya.
"Kau memang perempuan baik sayang. Hanya aku memang pria kurang ajar yang tak tau balas budi," keluhnya mentertawai kebodohannya sendiri.
Sementara itu, Rendra berada di rumah sakit. Kondisi kakeknya membuat ia urung mengorek keterangan dari pria itu.
"Oma ... apa yang harus aku lakukan?" tanyanya putus asa.
Sofia hanya diam. Ia juga menyesal telah banyak mengabaikan semua cucunya hanya untuk balas dendam pada sosok yang berbaring lemah di brangkar rumah sakit.
"Minta maaf dan bayar semuanya," jawabnya lirih sambil meneteskan air mata.
Bersambung.
Uh ... othor puas banget pas buat ini!
Next?