NAIMA

NAIMA
KEKASIH LAMA



Neil kembali keluar kota malam harinya. Pria itu harus menyelesaikan semua agar ia tak dibayang-bayangi para investor yang mengancam akan menarik investasi mereka.


Minggu pagi, mansion keluarga Gutama tampak seperti biasa. Tak ada kegiatan berarti kecuali para tukang kebun yang tengah membersihkan halaman seluas 700m² itu.


Deretan mobil mewah terparkir di carport. Kekayaan keluarga Gutama memang membuat banyak orang iri.


Sebuah mobil mewah berhenti di halaman mansion. Gadis cantik dengan balutan mini dress mahal turun. Sepatu Stiletto menghentak lantai marmer seharga ratusan juta.


"Selamat datang Nona Viona!" beberapa maid membungkuk hormat.


Semua tentu tau siapa Viona. Seorang gadis yang beberapa tahun lalu diperkenalkan sebagai kekasih tuan muda mereka.


'Mana majikan kalian?" tanyanya penuh keangkuhan.


"Tuan dan Nyonya besar ada di taman belakang Nona. Mari!' ajak salah satu maid.


"Tidak perlu. Biar aku sendiri!" tolak Viona tetap bergaya angkuh.


Gadis itu melangkah gemulai. Ia menuju taman belakang, tempat keluarga bercengkrama. Dulu ia sering ke sana baik dengan Neil atau sendiri.


"Mama ... Papa!" pekiknya ketika melihat sepasang suami istri yang sedang duduk.


Baik Charles dan Jeane menoleh. Keduanya terkejut dengan kedatangan Viona. Hal itu sangat tidak disukai Charles. Pria itu tak pernah suka dengan semua kekasih putranya kecuali Naima.


"Pa .. Ma ... apa kabar?" tanyanya percaya diri. "Lama tidak jumpa!"


"Untuk apa kau kesini!" sentak Charles langsung..


"Dad," tegur Jeane lembut.


"Ingat sayang! Neil sudah memiliki kekasih. Kau atur dia! Aku tak peduli!"


Charles tak menanggapi kedatangan Viona. Pria itu memang selalu begitu ketika awal jumpa. Viona menunduk takut. Jeane menghela napas panjang.


"Duduklah!" perintahnya dengan nada tegas.


Viona pun duduk. Gadis itu meruntuki diri karena terlalu berani datang ke kediaman mantan kekasihnya itu.


"Aku kesini mau minta maaf atas kejadian empat tahun lalu Ma," ujarnya lirih.


"Itu sudah lewat. Kami tak masalah sama sekali!" jawab Jeane datar.


"Makasih Ma ... aku tau Mama orang baik. Jujur Ma, dulu aku dijebak sama Aldo. Makanya aku terlihat seperti menduakan Neil. Sumpah Ma ... aku cinta mati sama Neil!"


"Viona!" tegur Jeane keras.


"Cukup!" lanjutnya memperingati.


"Kejadian itu akulah saksinya. Aku yang memergokimu berciuman dengan teman putraku. Bahkan kau mengaku jika tak mencintai Neil!" lanjutnya mulai emosi.


"Ma ...."


"Jangan panggil aku Mama. Aku bukan ibumu. Sekali lagi, aku ingatkan jangan ganggu putraku!" sergah Jeane mulai terusik dengan kedatangan mantan kekasih putranya itu.


"Aku harap kau bisa pergi dan tak kembali secara baik-baik!" lanjutnya mengusir.


Viona tak bisa berkelit. Baik ayah dan ibu dari Neil memang sangat keras. Bahkan Neil adalah pria lurus. Entah berapa kali Viona hendak menjebak Neil. Tetapi mantan kekasihnya itu berhasil mengacaukan rencananya. Neil seperti memiliki indera ketujuh.


Viona menatap bangunan mewah itu. Ia sendiri yang menghancurkan kepercayaan Neil.


"Mestinya, aku sudah jadi ratu di mansion mewah ini,' ujarnya lirih.


Gadis itu memutar otak. Jika pendekatannya gagal. Malam ia akan memaksa kedua orang tuanya.


"Perjodohan bisnis," ujarnya tersenyum penuh arti.


"Siapa yang bisa menandingi perusahaan Papaku, Hardoyo Putra!' lanjutnya penuh kemenangan.


Gadis itu pun naik mobil mewahnya. Ia menyetir sendiri. Kendaraan itu pun keluar mansion.


Sedang di hunian lain. Naima ingin pergi jalan-jalan. Ia hendak merefreshingkan dirinya.


"Kau mau kemana sayang?" tanya Denita ketika melihat dandanan cucunya.


"Mau jalan-jalan Oma!"


"Pakai mobil?" Naima menggeleng.


"Motor!" jawabnya.


"Cu, kamu bisa menyetir kan?"


"Malas Oma. Parkirnya mahal. Udah itu pasti macet!' jawabnya beralasan.


Denita berdecak, wanita itu menghela napas panjang. Danar hanya tersenyum melihat kelakuan cucu perempuannya itu.


Setelah berpamitan pada kakek dan neneknya. Naima juga berpamitan dengan Darni. Perempuan itu mengelus sayang kepala gadis itu.


"Iya Ibu," sahut Naima lembut.


Gadis itu menaiki motor maticnya. Ia tak jadi memberikan pada Adinda sang sekretaris karena gadis itu ternyata memiliki kendaraan lebih ekstrim yakni motor besar.


Gadis itu pergi ke sebuah swalayan besar. Ia hanya ingin berjalan-jalan saja sambil cuci mata.


Naima yang sederhana, tentu tidak dikenali orang banyak. Semua orang hanya mengetahui Naima yang berpakaian indah dan mahal.


"Wah ada baju bagus!" serunya ketika melihat salah satu busana yang dipajang..


Gadis itu pun masuk salah satu butik. Dua gadis pelayan toko tengah asik menggosip.


"Eh ... siapa tuh pegang-pegang baju?" tanya salah satu pramuniaga yang bergosip


Naima di dekati salah satu pramuniaga lain. Gadis itu disambut ramah.


"Ini ukuran berapa?" tanya Naima.


"Itu ada tiga ukuran Nona. Ada yang S, M dan Medium large," jawab sang pramuniaga ramah.


Salah satu rekan yang bergosip berdiri. Ia sangat yakin jika pengunjung yang baru datang itu mampu membeli baju yang dipajang.


"Len ... ngapain sih diladenin!" ujarnya ketus.


"Palingan dia cuma nyoba udah itu pergi, nggak jadi beli!" lanjutnya menyindir.


Naima tak menanggapi. Gadis itu mengikuti pramuniaga yang melayaninya.


"Nona, saya mau ukuran M large ya, apa ada warna lain?" tanya Naima.


"Ada warna dusty dan denim Nona," jawab pramuniaga ramah.


Naima mengepaskan hanya di dadanya. Gadis itu mengangguk. Ia pun mengambil yang warna dusty.


"Dengan debit atau kredit Nona?" tanya pramuniaga ketika menjumlahkan belanjaan.


"Debit!" jawab Naima tegas.


Beberapa pramuniaga masih mencibir Naima. Tetapi ketika struk belanja keluar dari mesin bayar. Dua pramuniaga terdiam. Naima melenggang dengan paper bag di tangannya.


"Enaknya dapat bonus!" cibir dua pramuniaga iri pada salah satu rekannya itu.


Leni hanya menggeleng. Gadis itu tak mengerti apa maksud dua temannya.


"Kan kalian yang menghina pelanggan tadi. Untung loh dia nggak ngasih kita review buruk!" ujarnya menyadarkan dua rekannya itu.


"Cis ... cari muka!" sinis salah satunya benar-benar iri.


Viona juga berada di tempat yang sama. Gadis itu memilih pergi ke kafe untuk menenangkan diri.


Naima masuk ke tempat yang sama. Viona mengernyit ketika melihat sosok dengan pakaian yang jauh dari kelasnya. Ia berdecih.


"Selamat datang Nona!" sambut manager kafe.


Naima duduk di tempat ekslusif. Hal itu membuat Viona kesal. Gadis itu mendatangi manager tempat tersebut.


"Katakan kenapa aku tidak bisa duduk di sana!" bentaknya.


"Maaf Nona. Tempat itu hanya untuk layanan exclusive!' jawab manager.


"Aku yang mestinya duduk di sana. Aku adalah pelanggan vvip di sini!" sentaknya murka.


"Berarti di sana adalah tempat yang jauh dari vvip, Nona!" balas sengit sang manager.


"Gadis kampung itu bisa masuk tempat elite?!'


"Beliau adalah owner dari kafe ini Nona!" sahut manager tentu menatap sinis pelanggannya itu.


Viona terdiam, ia tak dapat percaya jika gadis sederhana adalah pemilik kafe. Ia adalah makhluk sosialita. Ia sangat tau para pemilik usaha kecil. Rata-rata adalah anak pengusaha dan mereka sombongnya sama dengannya.


"Cih ... aku tak percaya!"


"Silahkan Nona keluar. Saya tak akan segan mereview anda sebagai pelanggan terburuk kami!" ancam manager tegas.


Viona menghentakkan kakinya. Gadis itu pun pergi dari kafe. Ia makin murung. Hendak pergi ke klub tapi hari masih terlalu pagi.


"Aarrggh!" pekiknya kesal.


Bersambung.


Uh ...


next?