NAIMA

NAIMA
KEHANCURAN



Saskia turun dari mobil sportnya. Gadis itu memakai baju ketat warna kakhi. Ia melenggang sambil sesekali menyimak rambut dan membenahi kacamata hitamnya.


Rambutnya pirang tergerai sepunggung. Saskia masuk dengan tatapan merendahkan pada para maid yang tengah sibuk menghias ruangan.


"Sepertinya kedatanganku tepat," ujar gadis itu dalam hati.


"Nona ...."


"Tak perlu kau mengantarku. Aku tau di mana majikan kalian!" sentaknya pada salah satu maid yang hendak mendekatinya.


Gadis itu berjalan angkuh. Tangannya menenteng dua paper bag dari butik ternama.


"Tante Jeane Eliot!' sapanya dengan senyum lebar.


Wanita yang dipanggil menoleh. Sosok mata tajam menatap tak suka kedatangan gadis itu.


"Sayang," peringatnya halus.


Charles Gutama berdecak pada istrinya. Dari dulu ia tak suka dengan sosok yang datang dan sok ramah pada mereka.


"Aku tak mau dimarahi putraku. Kau hadapi sendiri!" ujarnya ketus lalu berdiri.


"Loh .. Om mau kemana?" tanya Saskia pura-pura sedih.


Charles berdecih mendengar pertanyaan gadis itu. Saskia tak berani mengusik macan tua yang memandangnya tak suka. Setelah kepergian Charles, Saskia menunduk.


"Tante ... Om masih nggak suka aku ya?" tanyanya sedih yamg dibuat-buat.


"Sudah, tidak apa-apa. Abaikan Om kamu ya," ujar Jeane lembut.


"Tante, aku bawa buah tangan. Semoga Tante suka!' ujar sang gadis langsung berubah ceria.


Jeane menerima bingkisan itu dengan setengah hati. Tetapi, ia tak pernah menolak pemberian apapun dari siapapun.


"Jangan repot-repot sayang," ujarnya tersenyum.


Keduanya duduk. Saskia begitu anggun dan seperti nyonya besar. Ia menyuruh maid memindahkan teh milik Charles yang tadi ditaruh oleh Jeane.


"Singkirkan ini!"


"Ehem!" tegur Bracelet.


Bracelet adalah kepala pelayan yang sangat dihormati oleh Charles dan Jeane. Bahkan Neil manja pada wanita asal Indonesia bagian barat itu.


"Siapa majikan di sini Sss ... maksud saya Nona Saskiani?" tanya Bracelet menyindir.


"Ah ... bukan maksudku ... Tante," rengek Saskia.


"Sudah, sudah. Berikan teh ini pada Tuanmu Brace," suruh Jeane lembut.


Terdengar dengkusan kasar keluar dari mulut wanita cantik bertubuh tambun itu. Jeane mengusap lembut tangan kepala maidnya itu.


"Tante terlalu baik pada para pembantu!" sahut Saskia sedikit mengoreksi perilaku nyonya rumah.


"Maksudmu?" tanya Jeane.


"Tidak ada Tante. Oh ya, kenapa mansion mewah ini dihias begitu indah?" ujarnya mengalihkan pembicaraan dengan bertanya.


"Oh, akan ada makan malam dengan calon kekasih kakak sepupumu, Neil," jawab Jeane dengan senyum lebar.


"Apa?" hardik Saskia lancang.


"Kia?" Jeane terkejut mendengar hardikan gadis itu.


"Tante harus menggagalkan acara ini!" perintah Saskia makin berani.


"Apa maksudmu Kia?" Jeane mulai pusing dengan kelakukan putri dari adik misan jauhnya itu.


Ibu dari Saskia adalah adik dari bibi Jeane. Saskia diasuh oleh orang tua kaya raya. Kesombongan dan keangkuhan menyertai didikan dari orang tuanya. Berbeda jauh dengan didikan Neil yang masih menghargai sesama.


"Tante kan nggak tau siapa perempuan itu. Dia pasti anak kampung yang ingin harta dari keluarga kita!' lanjutnya meracau.


"Tante, Tante sangat tau jika aku menyukai Neil sejak kecil. Tante sudah tau bebet, bibit dan bobotku. Jangan terima gadis yang tidak tau asal usulnya!" lanjutnya lagi.


"Saskia ...."


"Tante jangan jadi orang bodoh sih!" bentak Saskia yang membuat Jeane kesal.


"Tante ... jangan dibodohi dengan penampilan lugu perempuan itu. Tante tidak tau bagaimana dia bergaul. Mungkin Kak Neil adalah pria malang yang jatuh pada kepolosan palsunya!"


"Dia adalah pewaris tunggal PT Hart Corp!" sahut Jeane yang membuat Saskia bungkam.


Siapa yang tidak mengenal Hartono. Pria yang memiliki banyak perusahaan di mana-mana. Rupanya Saskia tak membaca penuh artikel di majalah tersebut.


"Mana mungkin!'


"Namanya Naima Az-zahra Hartono!"


"Tante ...."


"Cukup Saskia. Aku baik padamu karena aku menghormati ibumu. Tetapi, jika kau ingin mempermalukan keluarga ini dengan tabiatmu. Aku tak segan mengusirmu keluar dari sini dan kau tak bisa menginjakkan kakimu lagi!" ancam Jeane tak main-main.


Saskia diam, ia sangat paham jika Jeane bersungguh-sungguh dengan ancamannya. Ia pun langsung meminta maaf.


"Maaf Tante, aku janji nggak akan berulah," ucapnya sungguh-sungguh.


Jeane menatap mata Saskia yang tak berbohong padanya. Jeane lupa siapa keponakan misan jauhnya itu.


Lampu-lampu kristal dinyalakan. Saskia benar-benar meruntuki tamu yang akan disambut dengan meriah di mansion ini. Gadis itu memiliki seratus rencana agar wanita saingannya itu lari tunggang langgang.


"Pemborosan!' protesnya menggerutu.


Charles dan Jeane sudah berdiri menyambut tamu yang dibawa putranya. Mereka memakai pakaian terbaik. Sebuah suara yang sangat dikenali Saskia masuk ruangan.


"Papi, Mami. Aku pulang!"


"Sayang!" sambut Jeane tersenyum begitu juga Charles.


Saskia ada di belakang pasangan suami istri itu. Ia menatap sosok yang berdiri di sisi Neil.


"Mi, Pi. Kenalkan ini CEO dari PT Hart Corp, Naima Az-zahra Hartono," ujar Neil memperkenalkan Naima.


Gadis itu tersenyum ramah. Ia sangat cantik dengan balutan sederhana. Lagi-lagi busananya sangat jauh berkelas dibanding apa yang dipakai oleh Charles dan Jeane.


"Cis ... bajunya kampungan sekali!'' sindir Saskia sangat pelan.


"Ah, Nona selamat datang di gubuk kami!" ujar Charles merendah.


"Jangan bercanda Tuan. Hunian anda begitu mewah," sahut Naima tersenyum mendengar perkataan Charles.


Naima mencium punggung tangan kedua orang tua Neil. Jika keduanya terharu dengan sikap Naima. Berbeda dengan Saskia. Lagi-lagi gadis itu berdecih dan meledek perlakukan gadis itu walau hanya berani dalam hati.


Kedatangan Naima ke mansion milik Gutama, menjadi sorotan semua media. Neil memang mengundang banyak wartawan untuk meliput acara ini.


Andre selalu bersama nona mudanya. Pria itu benar-benar sudah berdamai dengan semua perasaannya.


"Tuan Hendrawan!' sapa Charles pada pria paru baya yang masih tampan itu..


Charles lebih tua lima tahun dibanding Andre. Keduanya berjabat tangan. Semua kini ada di meja makan. Neil berada di sisi Naima.


"Saya yang meminta Tuan muda Gutama untuk memperkenalkan Tuan dan Nyonya," ujar Naima.


"Saya sudah yatim piatu semenjak usia delapan tahun. Jadi saya ingin sekali punya orang tua lengkap. Walau saya sekarang sudah punya Papa," ujarnya lalu tersenyum pada Andre.


Charles sudah tau jalan kisah hidup Naima. Kisahnya menjadi sebuah buku biografi yang laris manis. Walau semua nama keluarga pengasuhnya memakai nama samaran. Tetapi tulisannya sangat hidup dan membuat pembacanya larut.


Sementara di tempat lain. Renita menangis melihat portal berita yang ada di layar ponselnya. Hancur sudah semua rencananya untuk menjerat hati Neil Gutama.


"Naima!" pekiknya murka.


Sementara di mansion itu acara ramah tamah terus berlangsung. Saskia mengambil gelas wine. Naima tak menyentuh sama sekali minuman itu.


Dress broken white yang dikenakan Naima jadi sasaran Saskia. Gadis itu berjalan dan pura-pura tersandung. Cairan dalam gelas tumpah dan mengenai seseorang.


"Hei!" suara laki-laki terdengar.


"Eh?" Saskia pun bingung.


Bersambung.


Nah ... yang kena siapa tuh?


next?