
"Hei cewek!' goda salah satu anak laki-laki yang tengah berdiri di koridor dekat kamar mandi.
Naima menoleh pada asal suara. Dua remaja tanggung tengah menghisap satu batang rokok berdua secara bergantian. Naima selalu ingat pesan dari Bu Darni jika jangan cari masalah sama orang kaya. Gadis tanggung itu pun melewati dua remaja yang berkisar satu tahun di atas usianya. Naima kini menggerai rambutnya yang panjang.
"Hei ... mau kemana. Gabung yuk!" ajak murid laki-laki itu.
Naima membaca name tag di seragam mereka. Andre dan Duta, keduanya memakai jam tangan mewah.
"Maaf Kak, aku tidak merokok," tolak Naima halus.
Darni memang mengajarinya seperti itu. Berharap jika menolak dengan halus maka orang-orang akan melepaskannya.
"Coba deh, Lu pasti suka!" ujar Duta menyorongkan batang rokok ke mulut Naima.
Naima menepis tangan Duta hingga rokok itu jatuh. Hal itu membuatnya marah.
"Lu malah buang rokok Gue!" bentaknya.
"Kan tadi saya bilang tidak merokok!" terang Naima membela diri tentunya.
"Oh mungkin dia butuh rokok yang lain Dut!" ujar Andre dengan seringai yang membuat kening Naima mengernyit.
"Ah ... Lu itu!" kekeh Duta.
Keduanya mencoba menarik Naima ke kamar mandi. Tentu saja gadis itu menolak. Bel masuk sebentar lagi berbunyi. Ia tentu mau masuk kelas.
"Masuk!" bentak Andre menarik kuat tangan Naima.
"Nggak mau!" teriak Naima menolak.
Tarik menarik terjadi. Banyak anak hendak masuk toilet mengurungkan niatnya ketika melihat hal itu.
Letak toilet murid perempuan memang berada paling belakang dan harus berbelok, jauh dari pengawasan guru. Sedang toilet anak laki-laki berada di seberang toilet anak perempuan.
"Tolong!" teriak Naima.
"Bangsat!" bentak Andre menampar keras pipi gadis itu.
Naima marah bukan main. Ia tak pernah dikasari sedemikian rupa. Satu titik bening jatuh dari sudut matanya. Ia melirik ada Rendra dan Reinhart di sana. Tampak Reinhart hendak menolong tapi, Rendra menarik tangan adiknya.
Naima sadar, jika dia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Dengan sekuat tenaga ia mengigit lengan Andre hingga remaja tanggung itu berteriak dan melepas cekalannya.
Naima yang lepas langsung berlari menuju kelasnya. Andre dan Duta tentu ketakutan setengah mati. Walau kedua orang tuanya kaya raya. Tapi, jika Naima melapor pada dewan disiplin, maka keduanya pasti akan dihukum oleh ayah mereka.
"Lo sih pake nampar segala!" ujar Duta menyalahkan Andre.
Benar saja tak lama keduanya berada di ruang BP. Naima ada di sana melaporkan dirinya hendak dilecehkan bahkan ditampar juga dipaksa merokok.
"Pak, kami janji Pak nggak bakal ngulang lagi!' Andre memohon pada guru BK.
"Iya Pak," Duta merogoh saku celananya.
Dua lembar uang ratusan ribu disodorkan di atas meja di depan guru itu. Pria itu melirik Naima.
"Ehem ... maksud kalian apa dengan ini?" tanyanya gusar.
Naima murid baru, tentu hal seperti itu belum ia ketahui, jika gadis tanggung itu tau jika dirinya bisa disogok. Maka hancurlah reputasinya.
"Naima, kamu bisa keluar. Biar Bapak selesai masalah ini. Jangan khawatir, kamu tetap dapat keadilan!' pinta Pak Guru bernama Sektiono.
Naima bukan tidak tau, ia menatap lembaran uang yang ada di meja. Gadis itu sangat yakin jika usahanya melapor adalah sia-sia.
"Pak ...."
"Naima ... ke kelas sekarang!' bentak Sekti marah.
Naima menatap nyalang, ia akan mengingat wajah guru itu. Gadis itu pun keluar kelas, pipinya yang masih terlihat cap tangan memerah.
Ketika masuk, ia berpapasan dengan Rendra yang membawa banyak buku membantu gurunya. Anak itu membuang muka ketika beradu tatap dengan Naima.
Satu titik bening kembali jatuh di sudut pipi Naima. Gadis itu sangat sadar, ia tak punya lagi ayah. Sosok laki-laki yang akan selalu melindunginya.
"Pa, Naima ditampar Pa ...," gumamnya lirih.
Naima duduk dengan pikiran kosong. Satu jam pelajaran terakhir nyaris tidak ia dengar jika saja sang guru tidak berteriak pada salah satu murid yang kedapatan tengah berchat ria dengan ponselnya.
"Ibu kurangi nilai kamu!" sembur wanita itu langsung.
"Ck ... kurangin aja. Besok paling kamu dipindah sekolah di hutan belantara," sahut murid itu begitu berani.
"Ingat ya Bu ... Papih aku itu anggota dewan! Anggota Dewan, kamu bisa dikucilkan seumur hidup!" lanjutnya mengancam.
"Kamu pikir ibu takut?" sahut wanita itu lalu meletakkan buku di mejanya.
Murid perempuan itu tak menyangka jika sang guru malah tidak takut ancamannya. Ibunya mengajari sang anak untuk membawa nama besar ayahnya jika ada yang mengancam dirinya.
"Ayo ... telepon Papi kamu!" suruh Bu guru dengan tenang.
"Ibu akan memberi laporan pada atasan Papi kamu langsung biar dipecat!" lanjutnya mengancam.
Gadis tanggung itu diam. Ia duduk dengan wajah ditekuk. Melihat tantangannya tidak ditanggapi. Bu guru melanjutkan mengajarnya hingga waktu selesai.
Brak! Murid yang tadi berseteru langsung keluar kelas dengan menggeser keras kursinya. Ia tidak mengikuti berdoa dan memberi salam pada guru.
"Kenapa kamu keluar lebih dulu?" tegur kepala sekolah.
Gadis bernama Anmira itu malah menangis tersedu. Ia berlari menuju gerbang dan langsung naik mobilnya. Pak kepala sekolah masuk kelas bertanya.
"Kenapa dengan Ananda Anmira Bu?"
"Dia marah karena saya menegur dia main ponsel ketika belajar mengajar, Pak!' jawab Bu guru tegas.
Kepala sekolah mengangguk tanda mengerti. Semua anak akhirnya pulang. Naima duduk di depan. Mereka pergi dalam keadaan diam.
Sampai mansion besar itu. Pipi Naima yang merah dan sedikit bengkak jadi perhatian Mbok Darni.
"Sini Ibu kompres Nak," ujarnya prihatin.
Naima menitikkan air matanya ketika Darni mengusap pipinya yang halus dengan mata berkaca-kaca.
"Nduk ... kamu diapain lagi toh?" tanyanya sedih.
Naima menceritakan kejadiannya. Mbok Darni langsung memeluk Naima erat.
"Jika saja Mbok kaya, Nduk. Mbok ambil kamu sebagai anak Mbok," ujar wanita itu lirih.
Naima menangis, pelukan Darni memang tidak sehangat pelukan sang ibu yang telah berpulang terlebih dahulu.
Naima mengusap photo yang menampilkan tiga orang di sana. Fotonya bersama kedua orang tuanya. Foto terakhir yang diambil satu minggu sebelum kecelakaan terjadi.
Tampak senyum merekah terulas di ketiga wajah yang berbahagia. Naima mengecup foto itu berkali-kali.
"Pa ... Ma ... Naima mau belajar bela diri ya. Naima tidak ada lagi yang melindungi," ujarnya lirih.
"Ijin ya Ma ... jujur Naima harus kuat, di sini tidak ada yang membela maupun menolong Naima ... hiks!"
Dulu sang ayah mengajarinya diam-diam bela diri. Tetapi, sang ibu malah melarangnya bahkan memarahi sang ayah.
"Jangan terlalu keras Pa. Dia masih terlalu kecil!'
"Naima bisa kok Ma ... percaya deh!" ujar sang ayah.
"Naima ... Nduk!" panggilan Darni membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ya Bu!" Naima segera menghapus air matanya cepat.
Pipinya sudah tidak memerah lagi bahkan sudah kempes. Agung, memeriksa keadaan gadis itu.
"Kau baik-baik saja kan?" Naima mengangguk.
Perhatian basa-basi, Sonya dan Anna hanya menatap sinis anak perempuan yang menurut mereka biang masalah.
"Aku yakin, dia menggoda dua anak laki-laki itu!" tuduh Sofia tanpa bukti.
Naima hendak menyahuti, Darni menahan laju gadis itu.
'Bawa dia Mbok!" titah Agung tak mau ada drama di depan matanya.
Naima dibawa pergi, Agung menatap istrinya.
"Apa?" ketus wanita itu begitu angkuh.
"Aku benar kan?" lanjutnya sangat percaya diri.
"Suatu saat, mulutmu itu akan disumpal orang dengan sampah Sofia!" ujar Agung mendoakan hal buruk pada istrinya.
"Jika itu terjadi padaku. Maka berarti kau tak punya pamor lagi Agung Lakso!" tekan Sofia begitu berani.
Wanita itu mengamit menantunya. Agung mengepal tangan kuat mendengar perkataan istrinya itu.
"Bangsat kau Sofia!" makinya pelan.
Bersambung.
Next?