NAIMA

NAIMA
THE GREAT WEDDING DAY



Hari yang ditunggu tiba. Pernikahan besar antara dua pengusaha ternama pun digelar. Setelah berita pernikahan Renita dengan seorang pengusaha dari Taiwan yang juga sangat fantastis.


Kini pernikahan antara keturunan pengusaha ternama nomor satu di daerah J menikah dengan keturunan pengusaha nomor satu seluruh daerah.


Sebuah gedung yang digadang-gadang jadi tempat perhelatan ditutup rapat dan sangat sulit untuk mengakses informasi dari sana.


Selama dua bulan para awak media mencari info. Tapi, semuanya tidak mendapat berita yang konkrit. Neil benar-benar membayar mahal agar pernikahannya berlangsung khidmat.


"Gila, pernikahannya anak presiden aja nggak sesulit ini kita dapat informasinya. Ini sepertinya Tuan Gutama benar-benar tidak mau berbagi kebahagiaan pada kita!" berang salah satu awak media kesal.


Berbagai berita miring menyudutkan Neil. Lalu tuduhan keji pun ditunjukkan pada Naima.


"Oh, berita pernikahan Neil jadi bulan-bulanan media!"


Viona menatap layar ponselnya. Gadis itu lalu membuat akun palsu. Ia pun memberi komentar miring pada Naima.


"Pasti dihasut sama pengantin perempuan. Neil orangnya nggak sombong kek gini. Dia selalu open dengan para awak media!"


Komentar gadis itu tentu jadi perhatian kemudiaan viral. Lalu sosok Naima ditelusuri. Dari kedua orang tuanya lalu perkara mendiang dari Dion Hartono yang dicoret dari ahli waris.


"Pengantin perempuan nggak pantas!" cuit salah satu netiz.


"Naima anak hasil di luar nikah!' tuduh salah satunya lagi.


Lalu cuitan-cuitan kejam dituju pada Naima. Danar berang bukan main. Pria itu melaporkan semua akun yang menyerang cucu perempuannya. Ia pun melampirkan bukti konkrit jika Naima lahir dari setelah pernikahan yang sah.


"Ibunya membuat ayah dia dicoret dari ahli waris. Gue yakin Naima akan menjauhkan Neil dari keluarga!" sebuah tuduhan kembali terlontar dari akun fake.


Naima tak pernah menggubris semua tudingan itu. Ia hanya fokus pada pekerjaan yang belum selesai.


"Cu, sudah lah. Jangan kau kerja lagi. Nggak akan selesai!' larang Danar.


"Kau harus banyak istirahat. Pernikahanmu ini akan menguras banyak tenaga sayang!' lanjut pria itu.


Danar mengambil semua berkas. Ia meminta Andre melanjutkan pekerjaan Naima. Pria itu bukan tidak melarang.


"Tapi Mama juga butuh perhatian Opa," seru Naima.


"Adikmu akan keluar empat bulan lagi sayang!' sahut Danar yang membuat Naima cemberut.


"Nona, sudahlah. Biar saya yang kerjakan!' ujar Andre lalu membereskan semua hal.


"Adinda dan Dzikra juga bekerja dengan baik. Kamu saja yang sepertinya terlalu bernapsu," ledek pria itu.


"Papa," rengek Naima.


Fidya pun datang. Perutnya sudah membuncit sempurna. Naima langsung mengadu, tentu saja kali ini wanita itu membela suaminya.


"Ih ... biasanya Mama bela aku!" rengek Naima.


"Sayang," kekeh Fidya lalu memberi ciuman sayang pada putri dari atasan suaminya itu.


Mereka makan siang bersama. Masakan Fidya juga sangat disukai oleh Danar dan Denita.


Neil juga sudah mengambil cuti. Pria itu berolahraga untuk memperkuat staminanya.


"Ah ... lama sekali sih tanggal itu!" serunya kesal.


"Apaan sih?" sungut Dion yang berkutat dengan tab nya.


"Makanya punya pacar bro!" sungut Neil keki.


"Yey ... gimana gue dapat pacar. Nih kerjaan lu nggak ada abisnya!' sahut Dion mulai protes.


"Oh ... jadi Lu nggak niat bantu Gue nih?" sahut Neil bertanya.


"Bukan itu ...."


"Ya udah, Lu boleh kok cuti. Biar gue selesain sendiri!" Neil hendak bangun dari alat gymnya.


"Lo jangan kek cewe lagi pms deh!' sentak Dion mulai emosi.


"Ya udah, nih Gue kasih kerjaan Lo!' Dion benar-benar marah.


Neil yang berniat hanya menggoda mulai panik ketika melihat temannya itu meletakkan semua berkas dan tab nya.


"Bro ... bro!" Neil menahan laju Dion.


"Maaf!" lanjutnya menyesal.


Dion menatap tajam sahabatnya. Melihat betapa menyesalnya Neil akan sikapnya keterlaluan membuat ia luluh juga. Dion memang satu-satunya sahabat yang mengerti keadaan Neil.


"Awas Lo kek gini lagi. Gue tinggalin Lo!" ancamnya.


"Iya ... iya, Gue minta maaf ya!" ujar Neil menyesal.


Dion mengangguk. Ia kembali pada berkas yang sepertinya malah bertambah itu.


"Aarrggh!" pekiknya kesal yang membuat Neil terkejut bukan main.


"Jangan buat gue kaget dong!" dumalnya kesal.


"Maaf!' sahut Dion malas.


Waktu pernikahan tinggal dua belas jam lagi. Hari mulai larut. Naima nyaris tak dapat tidur jika saja ia tak ingat jika esok hari adalah hari pentingnya.


Neil menatap ayah ibunya. Charles dan Jeane mengusap pipi putranya. Keduanya bersyukur anak mereka berada di garis lurus. Walau Neil pecinta berat novel romansa. Pria itu hanya berani mengkhayal adegan di dalam mimpinya saja. Bahkan pria itu bisa menerka semua jebakan para wanita pengejar harta. Seperti yang dilakukan Saskia setahun lalu.


Viona juga pernah menjebaknya. Tapi, Neil selalu bisa lolos, karena ia bisa menerkanya. Neil tak pernah mau diajak ke klub malam, minum-minuman beralkohol. Semua pengusaha muda yang ingin melakukan kerjasama ia selalu memintanya datang ke perusahaan atau ke restoran miliknya.


"Tidur lah Nak!' perintah Jeane pada putranya.


"Makasih Mom," ujar Neil lalu mengecup pipi kedua orang tuanya.


Pagi buta, semua sibuk. Pernikahan tinggal hitungan jam. Naima sudah diminta mandi pukul empat pagi. Gadis itu akan didandani oleh perias MUA ternama ibukota.


Naima sudah sangat cantik dengan balutan gaun putih sederhana berbahan sutra terbaik dan dilapisi brokat yang dihias dengan beberapa payet dan taburan mutiara juga berlian Swarovski.


"Kita gelung sedikit saja rambutnya agar bervolume," ujar perias ketika menaikan rambut hitam milik Naima.


"Anda wangi sekali Nona!' puji perias itu.


"Makasih," sahut Naima tentu tersipu.


Kini gadis itu telah siap. Pukul 09.00 waktu setempat. Ia telah berada di sebuah gedung yang telah dihias cantik. Sebuah ruangan dengan dekorasi indah. Beberapa tamu penting sudah hadir. Neil meminta Dion, sang sahabat jadi saksinya.


Pria itu menjabat tangan wali Naima yakni sang kakek, Danar Hartono.


"Saya terima nikah dan kawinnya Naima Az-zahra binti Diondra Putra Hartono dengan mas kawin seperangkat sholat dan emas murni seberat lima ratus enam puluh gram dibayar tunai!'


"Bagaimana para saksi, sah?"


"Sah!" teriak Dion dan Andre.


Penghulu memberikan doa terbaik. Semua mengucap syukur. Naima pun datang diapit oleh Darni dan Denita. Gadis itu sangat cantik. Pantulan cahaya membuat semua silau untuk memandangi sosok yang kini mencium punggung tangan pria yang telah sah jadi suaminya. Neil mengecup mesra kening istrinya.


Setelah menandatangani buku nikah dan menyematkan cincin kawin. Keduanya memamerkan untuk diabadikan. Semua awak media yang ada diluar memang diberi ruang khusus untuk meliput.


Kini kedua mempelai bersanding begitu serasi di pelaminan setelah acara sungkem yang menguras air mata.


"Aku mencintaimu," bisik Neil.


"Aku juga mencintaimu!" bisik Naima bersemu.


bersambung.


Happy wedding day Naima dan Neil.


Next?