NAIMA

NAIMA
BERTEMU VIONA



Naima menjejakkan sepatu tumit tingginya di lantai marmer. Gedung dengan tinggi sepuluh lantai milik suaminya, wanita itu menatap lurus ke ara lift khusus. Ia tak perlu lagi melapor pada resepsionis, karena semua karyawan mengenalnya.


"Selamat siang Nyonya!" sapa ramah beberapa karyawan yang bersisipan jalan dengannya.


"Siang!" balasnya tersenyum seperlunya.


Bawaannya memang sederhana, wanita itu lagi-lagi tak memakai baju dari keluaran designer ternama. Ia sudah terbiasa memakai gaun biasa dari penjahit rumahan.


Kotak segi empat itu naik ke atas, lantai paling tinggi di mana ruangan Neil berada. Lift terbuka, di sana ia melihat beberapa staf yang duduk membereskan meja. Mereka akan makan siang karena waktunya memang istirahat.


"Selamat siang Naima!' sapa Dion.


'Siang Kak!' balas Naima tersenyum.


Wanita itu dibukakan pintu, Naima mengucap terima kasih. Di sana Neil masih berkutat dengan setumpuk pekerjaan.


"Sayang," panggil Naima.


Pria itu menoleh, dari wajah yang serius menuju stress berubah tersenyum semringah ketika melihat istrinya datang.


"Sayang?!" pria itu berdiri dan langsung memeluk Naima.


"Sayang ... kangen!" rengek Neil manja.


"Aku juga, makanya aku datang," ujar wanita itu tersenyum.


'Ayo kita makan siang!' ajaknya lalu merapikan semua berkas di meja.


"Istirahat lah Kak. Tubuh kita butuh asupan energi!' perintahnya lagi.


"Terima kasih Nyonya. Kau tau, suamimu ingin membunuhku dengan semua tumpukan ini!' adu Dion.


Naima tertawa lirih mendengarnya sedang Neil hanya cemberut saja. Lalu ketiganya pun keluar ruangan. Mereka turun melalui lift khusus itu.


"Kakak belum dapat pekerja yang sesuai?' tanya Naima.


"Belum, Dek," jawab Dion sambil menghela napas panjang.


"Rata-rata tak mengandalkan otak. Tetapi, mengandalkan kemolekan tubuhnya," lanjutnya lagi miris.


Naima tersenyum simpul. Ia juga tak habis pikir dengan para perempuan sekarang. Berlaga polos dan lemah agar dilindungi boss-boss mereka. Tak peduli jika sang atasan memiliki pasangan sah. Yang terpenting mereka bisa hidup tenang selanjutnya.


"Cari latar belakang pekerja keras atau yang menjadi tulang punggung keluarga Kak," saran Naima.


"Sudah .. rata-rata mereka begitu sayang," jawab Neil kini ikutan mengeluh.


"Masa tadi ada pelamar yang pakai baju tipis dan bra dengan warna menyala!' lanjutnya mendumal. "Dia pikir mau pamer dadanya yang sebesar bola tenis?"


"Ih ... sayang!" peringat Naima kesal.


Lift terbuka, ketiganya terkejut dengan munculnya seorang gadis cantik.


"Viona?" Dion mengenal gadis itu.


"Sayang!' Viona menggubris Dion dan hendak mengambil lengan Neil.


"Singkirkan tanganmu!' tepis Naima.


"Kamu siapa?" tanya Viona.


"Aku istrinya!' jawab Naima tegas.


"Kak ...."


"Menyingkir Viona!' usir Neil datar.


"Sayang ...."


"Jangan uji kesabaranku Nona!' tekan Naima keras pada gadis cantik di depannya.


Dion menyingkirkan Viona. Ia memanggil beberapa petugas keamanan. Tiga satpam wanita menahan Viona. Gadis itu memberontak.


"Kau berurusan dengan keluarga Hardoyo, Neil Gutama!' teriak gadis itu sangat berani.


"Aku tidak takut Viona. Bahkan perusahaan ayahmu dapat aku ambil alih jika aku mau!" tekan Neil dengan seringai menyeramkan.


Viona terdiam, ia tak menyangka setelah empat tahun tak bertemu. Neil yang dulu sangat mencintainya, berubah seratus delapan puluh derajat.


"Neil ... kita pernah menjali kasih dan tidur seranjang!' ujarnya bohong.


"Cis ... menjijikan!' sindir Naima kasar.


"Kurang ajar!" sentak Viona.


"Usir dia keluar!' perintah Neil.


Neil membawa istrinya, Dion yang mengurusi Viona.


"Dion, kau tau aku bisa membayarmu dua kali lipat," tawar gadis cantik itu mencoba bernego.


"Perusahaan ayahmu sedang dalam pengawasan bank Nona!' ledek Dion.


"Nona ... semua sudah terbit di bank. Jadi semua perusahaan aku tau!" sinis Dion.


Viona berdecak, ia menghentak kakinya kesal. Dion pergi meninggalkan Viona yang menjerit histeris.


"Aarrggh!'


Viona menatap seorang karyawan yang hendak pergi ke kantin. Ia pun memanggilnya.


"Ada apa Nona?"


"Siapa istri atasanmu?" tanya gadis itu dengan angkuh.


"Oh, Nyonya Naima Az-zahra Hartono," jawab karyawan itu lalu pergi meninggalkan Viona.


Gadis itu tersenyum remeh, ia merasa geli dengan nama yang dipakai wanita sebagai istri Neil.


"Nama kampungan begitu?" cibirnya.


"Aku harus menyingkirkan dia!" tekadnya dengan seringai licik.


"Aku yakin Naima adalah seorang gadis miskin yang beruntung mendapat pangeran kaya raya. Aku harus mengatakan pada Mama Jeane agar Neil menceraikan perempuan kampung itu!" lanjutnya bermonolog.


Gadis itu melangkah elegan di mana mobilnya terparkir. Ia sedikit kesal karena harus berjalan dan membuatnya tersengat matahari cukup lama.


Mobil BMW seri terbaru meluncur. Viona mengendarainya dengan kecepatan tinggi.


Sampai gerbang mansion Gutama. Ia tak bisa masuk. Itu semua atas perintah dari Charles. Gadis itu lupa jika ayah dari pria idamannya itu sama sekali tak menyukainya.


"Aku mau masuk!' teriak Viona marah.


'Maaf Nona! Silahkan pergi!' usir penjaga gerbang. "Kami memang diperintahkan untuk tidak menerima anda lagi ke mansion tuan kami!"


Viona kesal bukan main. Ia harus membujuk ayahnya untuk melakukan perjodohan bisnis. Ia sangat yakin jika perusahaan sang ayah masih bersangkutan dengan perusahaan dari Gutama.


"Aku pastikan mengusirmu keluar Naima!" teriak gadis itu sambil menekan pedal dalam-dalam.


Di sebuah tikungan tajam. Viona tak dapat mengendalikan laju kendaraannya. Hingga ....


Ciiiitttt! Brak! Mobil mewah itu bergulingan di aspal tiga kali. Kendaraan berasap. Viona tergeletak dengan kepala bersimbah darah.


"Eh ... ada kecelakaan!' seru beberapa pengendara yang lewat.


Tak lama kendaraan dan orang di dalam dievakuasi. Viona dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan.


"Sayang, aku pergi dulu ya," pamit Naima setelah makan siang.


"Iya sayang, hati-hati. Aku nanti menjemputmu!" ujar Neil.


Keduanya berciuman, Naima harus menghentikan ciuman suaminya. Jika tidak akan panjang ceritanya.


"Aku harus pergi sayang," ujar Naima meminta pengertian.


"Baiklah," sahut Neil dengan napas memburu.


Naima pun pergi ke perusahaan di mana ia pimpin. Sepuluh menit kepergian sang istri. Neil mendapat panggilan telepon yang ia sangat hapal.


"Tuan Haryono? Untuk apa dia meneleponku?" ia bertanya lirih pada diri sendiri.


Merasa tidak ada jalinan kerjasama dan hal yang menyangkut perusahaan. Neil mengabaikan panggilan itu.


"Kita telah berakhir setelah putrimu mengkhianati aku Tuan!" ujarnya lalu memblokir nomor yang terus-menerus meneleponnya.


Sedang di tempat lain, Haryono tampak menatap putus asa pada layar ponselnya. Nomor yang ia hubungi tak aktif lagi.


"Nak, apa cintamu benar-benar berakhir?" tanyanya lirih.


"Papa ... mana Neil?" tanya Viona yang terbaring dengan kepala diperban.


Dokter mengatakan jika Viona mengidap Amnesia anterograde.


"Amnesia anterograde terjadi saat penderita tidak dapat mengingat informasi yang baru saja diterimanya. Pada kondisi ini, informasi baru yang harusnya disimpan ke memori jangka pendek menghilang," jelas dokter pada pria paruh baya di depannya.


"Dengan kata lain, Pasien hanya mengingat sebagian masalalunya dan tidak ingat kejadian masa yang baru saja terjadi,' lanjutnya.


"Pa, Neil akan melamar aku kan?" tanya Viona dengan suara serak.


Sebagian wajah gadis itu luka parah akibat pecahan kaca mobil. Bahkan separuh rambutnya harus digunduli karena mengeluarkan darah yang menggumpal di otak.


"Neil akan tetap memcintaiku kan?" tanya Viona sendu.


Perawat menyuntikan obat penenang ke tubuh Viona agar tidak terlalu banyak bergerak.


"Aku akan mendatangi Charles sayang. Aku pastikan kau akan menikah dengan Neil!" janji pria itu.


Bersambung.


Silahkan saja Tuan.


Next?