NAIMA

NAIMA
RENCANA HARYONO



Pagi menjelang, Haryono mendatangi perusahaan milik Neil. Pria itu bersedia menunggu hingga dua jam lamanya. Neil belum datang.


"Neil!'


Pria yang empunya nama menatap sosok paru baya. Neil tak menggubris sama sekali pria yang dulu menjadi idolanya.


Haryo memang pria ambisius. Di usianya yang masih muda mampu merajai semua bisnis. Haryo mampu menguasai pasar produksi sebesar 10%. Neil yang masih muda belajar banyak. Hingga ketika Viona yang baru datang dari pendidikannya di luar negeri membuat Neil jatuh cinta.


Charles Gutama adalah rival dari Haryo. Pria itu sangat tau bagaimana liciknya Haryo menjalani bisnisnya. Charles bahkan menasehati putranya agar tidak berlaku sama. Tetapi, jiwa ambisius Neil yang ingin cepat menguasai pasar mengindahkan peringatan ayahnya.


"Neil ... seperti ini kah perlakuanmu!' sentak Haryo kesal.


"Aku adalah guru bisnismu. Kau tidak akan pernah berkembang seperti sekarang jika tanpa aku!" lanjutnya mengaku sesuatu hal.


Neil berhenti, Haryono senang. Ia yakin Neil adalah pria yang tau balas budi.


"Kau mestinya mengucap banyak terima kasih padaku Neil. Kau sama ambisiusnya denganku. Kau juga sama liciknya denganku!" hasut Haryono.


"Tuan," Dion memperingati.


Neil membalikan tubuhnya. Ia menatap pria panutannya enam tahun lalu itu. Semua berakhir bukan karena pengkhianatan Viona padanya. Tapi sebuah rencana licik Haryo yang terungkap oleh Neil dan Haryo belum mengetahuinya.


"Sebagai balas budi. Mestinya kau memintingkan keuntungan dibandingkan semuanya!" lanjut Haryo.


Neil masih diam, ia masih menunggu rencana yang dimaksud oleh Haryo. Dion menatap sahabatnya ia sangat yakin jika Neil bukan pria yang gampang dihasut.


"Kekayaanmu akan bertambah jika kita bekerjasama!' lanjut Haryo semangat.


"Apa keuntunganku!?" tanya Neil mulai tertarik.


"Neil, Haryo memiliki piutang sebesar 20% pada bank dan pembengkakan kredit sebesar 29%!" seru Dion memperingati.


"Diam kau Dion!" bentak Haryo kesal.


"Anda yang diam Tuan. Perusahaanmu akan gulung tikar dalam jangka lima bulan!" sahut Dion tak kalah tinggi suaranya.


"Tenanglah Dion ... jangan mengumbar emosimu," ujar Neil menenangkan sahabatnya.


Haryo tersenyum miring. Sebagai orang licik, tentu ia sangat paham jika Neil mampu menemukan keuntungan jika menjalin kerjasama dengannya.


"Tapi aku punya syarat!" ujar Haryo setelahnya.


"Menikahlah dengan Viona, putriku," lanjutnya tenang.


Neil dari tersenyum menjadi menyeringai. Pria itu tentu sangat tau jika hal ini akan diminta oleh Haryo.


"Tidak mau!' tolak Neil langsung.


"Nak ... aku mohon!" pinta Haryo mulai putus asa.


Neil tak menggubris pria paru baya itu. Ia memilih melanjutkan langkahnya menuju lift khusus.


"Viona mengidap Amnesia Neil. Ia hanya ingat jika kau adalah kekasihnya dan akan merencanakan pernikahan dengannya!" teriak Haryo.


"Itu urusanmu!" tekan Neil dengan kilatan mata sadis.


"Neil?!"


"Sekuriti!" teriak Dion.


Beberapa petugas berseragam datang dan langsung menyeret Haryo. Pria itu marah besar.


'Kau berurusan dengan Haryono, Neil Gutama!" teriak pria itu.


Jika Haryo melakukan itu sebelum Neil sebesar ini, mungkin Neil akan takut. Tetapi, Neil jauh lebih besar bahkan kini perusahaan sang istri mulai berada di bawahnya dan akan menggeser kekuasaannya dalam memonopoli pasar.


"Tuan, Nyonya memenangkan tender besar lagi, kali ini sebanyak 40% dan menjadi kepala proyek!' lapor Dion dengan nada bangga sekaligus takjub.


"Dia mengerikan bukan?" sahut Neil lalu menatap kaca anti peluru di depannya.


Deretan mobil ukuran kecil terlihat dari ketinggian lebih dari 10 meter. Neil benar-benar salut akan pencapaian istrinya.


'Dion, buat perusahaan mertuaku dalam pengendalian kita!" titahnya kemudian.


"Baik Tuan!" sahut Dion membungkuk hormat.


"Kau memang berjaya sayang. Tapi aku tak mau terlalu tinggi terbang," ujarnya sedikit egois.


"Maaf jika aku harus memotong sedikit sayapmu agar kau tak menguasai angkasa!' lanjutnya bermonolog.


"Tetaplah jadi merpati sayang. Maka biarkan aku yang menjadi elang!'


Sementara di mobil mewah milik Haryono. Pria itu tengah mencari tahu siapa istri dari mantan kekasih putrinya itu.


'Naima Az-zahra Hartono?" matanya seperti keluar dari sarangnya.


Naima dijuluki sebagai cheetah atau singa betina dalam dunia bisnis. Sepak terjang perempuan itu benar-benar menggoncang dunia bisnis.


"Dia mampu membuat pengusaha sekelas Lakso bergelut lutut karena kalah proyek?" gumamnya bergidik ngeri.


"Apa ini? Master Aikido dan Wushu?" lanjutnya terus membaca artikel tentang Naima.


Haryo menelan saliva kasar. Nilai akademik Naima sangat mencengangkan. Walau kini wanita itu kembali menempuh program pasca sarjananya.


"Apa ada otak segenius ini? Dia masih muda sekali, bahkan lebih muda dibanding Viona!" lanjutnya masih terkagum-kagum dengan sosok Naima.


Haryo membandingkan putrinya dengan istri dari Neil. Sangat terlihat ketimpangannya. Dari segi manapun Naima sangat jauh kualitasnya dibanding Viona, putrinya.


"Astaga kenapa aku jadi malu sendiri!' serunya mulai insecure.


"Tidak ... dia pasti punya hati dan merelakan suaminya pada putriku!" monolognya begitu percaya diri.


Pria itu menekan gasnya menuju perusahaan yang letaknya berbeda kota. Butuh setengah jam perjalanan ditempuh untuk sampai di gedung bertingkat nan megah itu.


Haryo makin ciut untuk memasukkan kendaraannya di tempat itu. Padahal mobilnya adalah sedan mewah keluaran terbaru. Harganya mencapai dua miliar.


Dengan menebalkan tekad, ia akan membawa proposal palsu pada sosok yang baru ia tahu.


"Sepertinya, ia mudah dibohongi!' ujarnya dengan nada bergetar.


Haryo melangkah dengan lutut bergetar. Ia begitu gugup, melihat lantai marmer mengkilat.


"Harganya pasti sudah miliaran!" decaknya kagum dalam hati.


Ia terus berjalan menuju resepsionis. Ia ingin menjalin janji dan menawarkan proposal palsu itu.


"Silahkan tunggu Tuan," pinta resepsionis cantik menunjuk sofa tunggu.


Haryo duduk dengan tenang. Setengah mati ia menetralkan jantungnya yang berdegup kencang. Nyalinya yang sempat berkobar tiba-tiba meredup. Ia ingin lari dari tempat yang membuatnya sesak napas itu.


"Tuan, mari. Nyonya memintamu untuk menemuinya," ajak resepsionis.


Langkah Haryo makin gemetaran. Makin tinggi lift yang sengaja didesign bisa melihat luar. Haryo makin kesulitan menelan saliva.


'Mari Tuan!" ajak resepsionis.


Kaki Haryo makin gemetaran, ia benar-benar nyaris jatuh jika saja tak berpegangan pada map yang ia bawa.


'Silahlan masuk!' sebuah suara lembut yang membuat jantung Haryo makin melonjak gila.


Pria itu masuk, ruangan kerja yang begitu nyaman dan sangat mewah. Bahkan ruangan Neil kalah mewah dengan ruangan yang ia datangi kini.


"Nyonya, ini Tuan Haryono, beliau yang mengajukan proposal!' ujar resepsionis.


"Terima kasih Sella, kamu boleh kembali!" ujar Naima tegas.


"Selamat siang Tuan Haryo. Saya Naima, silahkan duduk!"


Andre menatap datar pria yang sepertinya mati kutu itu. Haryo seperti kaku, ia tak bisa berpikir jernih. Tatapan Naima yang tajam mampu menghapus seribu rencananya.


"Tuan?"


"Ah ini proposal kerjasama yang saya usung Nyonya ...."


"Gutama! Saya adalah Naima Az-zahra Hartono Gutama!" tekan Naima menyebut namanya.


Bersambung.


Pipis di celana deh si Haryo.


Next?