
Naima mengendarai sepeda motornya. gadis itu sedikit kesiangan. Andre tak tega membangunkan nona mudanya.
Naima memarkir kendaraannya di tempat parkir sepeda motor. Gadis itu berjalan cepat menuju ruangannya. Beberapa karyawan menyapanya.
"Pagi Boss!" Naima hanya mengangguk ramah.
Ting! Bunyi pemindai absen terdengar. Naima lega karena datang tepat waktu, gadis itu selalu menekankan diri untuk memberi contoh pada semua orang agar tidak abai dengan jam kerja.
"Pagi Kak! Kenapa tadi nggak suruh Ibu bangunin aku?" sapa sekaligus protes diajukan Naima pada Andre.
"Pagi juga Nona. Maaf, saya memang tak tega melihat Nona begitu kelelahan," jawab Andre.
"Baiklah Kak! Aku nanti berusaha untuk bangun pagi!' janji Naima.
Andre tersenyum, Naima duduk di kursi kebesarannya. Siska sangat kesal dengan atasan barunya itu. Terlebih pakaian sederhana yang dikenakan Naima.
'Kek orang miskin aja!' hinanya dalam hati.
"Apa yang kamu berikan ini Siska?!" tanya Naima.
"Ya laporan lah. Emang itu kertas gorengan!" jawab Siska ketus.
Brak! Siska terjengkit kaget. Tatapan nyalang diarahkan padanya oleh Naima.
"Kamu bosan bekerja ya?" desis gadis itu.
"Sa-saya ...," cicit Siska takut.
'Dia nggak berhak bentak gue, gue bekerja sama Pak Andre sayang!' sahutnya dalam hati memberanikan diri.
"Ya itu laporannya," lanjutnya kembali cuek.
"Kau ternyata memancing kemarahanku Siska. Baik!"
Naima mengangkat telepon khusus di atas meja kerjanya. Andre sudah keluar untuk mengecek divisi pengembangan produk.
"Pak Sardi. Beri surat pemecatan pada saudari Siska!"
"Anda tak berhak!" bentak Siska pada atasannya.
"Saya bekerja dengan Tuan Andre!" lanjutnya.
"Kau lupa Siska. Andre bekerja untuk siapa?" desis Naima menatap Siska yang memelototinya.
Sardi datang membawa surat pemecatan Siska. Gadis itu meraung hendak menyerang Naima.
"Bangsat!" makinya.
Naima dengan mudah mengelak serangan dari Siska. Tamparannya hanya mengenai angin. Sardi menyeret Siska keluar dari ruangan kerja atasannya.
Naima menghela napas panjang. Siska sengaja membuat error akunting dalam laporannya. Gadis itu ternyata hendak mengerjai Naima.
"Kau salah jika ingin menyerang ku Siska!''
Andre datang, ia langsung meminta maaf pada atasannya atas Siska yang membuat gaduh.
"Dia sebenarnya gadis yang kompeten. Terbukti sudah tiga tahun bekerja di bawah naungan saya Nona," jelas Andre tak enak hati.
"Mungkin anak itu lagi error Kak!" seloroh Naima.
Andre hanya tersenyum menanggapi selorohan Naima. Pria itu tak menyangka dibalik diamnya gadis itu Naima cukup asik jika diajak bicara, terlebih jika bekerjasama.
"Nona, bisakah mengganti pakaian yang anda kenakan?" pinta Andre sedikit memelas.
"Memang kenapa dengan bajuku?" tanya Naima polos.
"Tidak ada Nona," jawab Andre pasrah.
Pria itu membiarkan nona mudanya berpakaian senyamannya. Ia akan menuntun Naima agar berdiri sejajar dengan para pebisnis lainnya. Walau bukan pakaian yang menentukan semuanya.
'Tuan Lakso yang memiliki baju dari kelas terbaik saja mencuri,' keluhnya dalam hati.
Setelah membenahi semua kekacauan yang dibuat oleh Siska. Naima meminta Andre membuka lowongan kerja untuk sekretaris dan juga asisten pribadinya. Andre pun membungkuk hormat dan memberi tugas itu pada bagian HRD.
Sedang di rumah sakit. Pratma berganti jaga dengan ibunya. Pria itu hanya menatap datar pada sosok yang selama ini mengaturnya ini itu.
"Pa, maaf," ujarnya lirih.
"Aku tidak pernah bisa belajar apapun," lanjutnya menyesal.
"Bahkan Anna masih mau memaafkanku yang telah menyakitinya Pa," ujarnya lagi lirih. "Padahal aku telah melukainya berkali-kali."
"Papa ... maafkan aku Pa!"
Anna dan Sofia datang. Keduanya terkejut melihat Pratama menangis di sisi ranjang.
"Nak ... jangan begini," pinta Sofia sedih.
"Ma, kenapa kau malah membuatku terlalu manja padamu Ma. Aku tak bisa belajar apapun!" tegur Pratma menyadari kesalahan ibunya.
"Aku seorang ibu Pratma!' tekan Sofia.
"Mas, Mama sudah berbuat benar. Hanya saja Mas yang tak mau belajar dari kesalahan. Mas berkali-kali berbuat hal sama karena yakin Mama selalu membela Mas!" ketus Anna membela mertuanya.
Pratma diam, perkataan istrinya benar. Ia yang tak mau berubah, karena ia berpikiran seperti apa yang dikatakan istrinya.
"Sudah ... jangan ribut. Ayah kalian sedang tidak baik-baik saja. Kita harus biarkan Papa kalian istirahat," ujar Sofia menengahi.
Pratama diam, kini mereka makan dengan tenang. Lalu Anna mengajak suaminya pulang. Sofia mendekati ranjang suaminya.
"Bagaimana sayang? Kehancuran keturunanmu?" Agung membuka matanya.
''I-ittu j-juga pputramu!" sahut Agung terbata-bata.
Sofia mengangguk setuju. Tapi ia puas, hanya saja Reinhart mulai memperbaiki keadaan.
"Bersyukur Reinhart memiliki kepintaran di atas rata-rata," ujarnya lagi.
Agung mengepal erat. Sofia memang suka menyiksa suaminya itu. Katakan dia gila, tetapi ia jadi memiliki kepuasan tersendiri.
"Apa jadinya jika Rendra tau kau mencuri dari perusahaan Naima ya?" bisik wanita itu.
"Sofia ...."
"Tenang sayang ... aku masih ingin melihat kehancuranmu sehancur-hancurnya," lanjutnya masih berbisik.
"Sofia ... kknapa kkkau mmelllakukkannya?" tanya Agung terbata.
"Karena aku membencimu Agung," aku Sofia jujur walau hanya dalam hati.
Sofia tersenyum, lalu mengecup kening pria yang sempat beberapa tahun membuatnya melayang. Tetapi, ternyata itu hanya akal-akalan Agung untuk memuluskan semua usahanya.
Sofia membiarkan kinerja jantung Agung yang bermasalah. Wanita itu tak berniat memanggil dokter. Walau akhirnya ia tak tega.
"Tuan jangan dibuat terlalu banyak berpikir Nyonya," peringat dokter.
"Baik Dok, terima kasih," ujar Sofia.
Kini ruang inap itu kembali sunyi. Sofia menatap Agung dengan pandangan berkaca-kaca. Wanita itu mencintai sekaligus membenci Agung hingga ke tulang sumsumnya.
"Aku memang membencimu. Tapi aku tak bisa hidup tanpamu," ujarnya sangat lirih.
Naima berada di sebuah butik ternama. Andre lagi-lagi membawa gadis itu. Naima tak bisa melawan kehendak suruhan dari kakek dan neneknya itu.
"Nona, maaf. Saya ingin membuat naik kelas anda. Memang penampilan bukan nomor satu. Tapi dari penampilan kita bisa meyakinkan orang lain untuk bekerjasama dengan kita!" terang Andre.
"Nanti minggu kita pulang. Siapkan diri Nona untuk bertemu dengan Tuan besar Hartono dan juga Nyonya Denita Az-zahra Lukito!" lanjutnya begitu tegas.
Naima mengangguk. Ia meremas kedua jemarinya. Gadis itu gugup sekali, ia menerka-nerka apa yang akan ia lakukan pada dua manusia yang masih memiliki hubungan darah dengannya itu.
"Apa Nona tidak membeli pakaian dalam juga?" tanya Andre ketika sampai di satu outlet pakaian khusu bagian dalam wanita. Pria itu sedikit merona, Naima meledek Andre dengan menertawainya.
"Kenapa dengan wajahmu Kak?"
"Ck ... cepat lah Nona!" sahut Andre gusar.
Naima malah tertawa tapi langkahnya masuk ke dalam juga untuk membelinya.
"Kak, ini bagus nggak?" tanya Naima lalu memamerkan satu set penutup dada dan daerah segitiga wanita.
Andre yang terkecoh menoleh namun langsung membuang muka. Naima tertawa melihat wajah pria tampan itu yang memerah seperti kepiting rebus.
Bersambung.
Et dah Naima ... usil juga ternyata.
Next?