NAIMA

NAIMA
THE CEO 2



"Kita kalah sama anak kemarin sore?" tanya salah satu pria yang berdiri dengan sangat gusar dan menatap dua orang pria yang tadi mewakilinya.


"Bukan kalah karena itu Tuan. Kita juga kalah pasar dan budget," jawab pria yang berdiri menunduk.


"Tapi biasanya kita selalu dapat 20% nilai proyek! Kenapa sekarang hanya 7% saja? Kurang dari setengahnya!" teriak pria berusia kisaran dua puluh delapan tahun marah.


Pria tampan dengan tubuh atletis dan tinggi. Ia menggebrak meja karena kesal dengan laporan yang diberikan dari anak buahnya.


"Kami tidak tau apa-apa Tuan. Tapi, seperti Nona muda Hartono barhasil membuat kepala proyek menetapkan berkas PT Hart. Corp. sebagai pemenang tender 40%," jawab anak buah itu.


"Aku yakin dia ada main dengan kepala proyek!"


"Nyonya Pratama yang menjadi kepala proyek Tuan," jawab anak buah yang membuat pria tampan itu bungkam.


"Lagi pula memang Nona muda Hartono begitu berani dan sangat loyal dengan anggaran yang terperinci," lanjutnya.


"Diam kalian!" bentak sang boss marah.


"Keluar!" usirnya lalu melempar berkas pada anak buahnya.


"Xavier ... ada apa Nak!" seorang wanita paru baya yang sangat cantik datang dan melihat kekacauan di ruang kerja itu.


"Nyonya,"


"Pergilah kalian!" perintah wanita itu.


Dua pria membungkuk hormat dan pergi meninggalkan keduanya lalu menutup pintu rapat-rapat.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Vania lalu mendekati putranya.


"Mereka tidak becus Mama. Masa proyek ini kita hanya dapat 7% saja. Lebih kecil dibanding sebelumnya!" jawab pria tampan itu sangat kesal.


Vania membuka berkas. Wanita itu sangat tidak percaya jika ternyata perusahaan yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Bahkan mulai naik semenjak pemilik perusahaan yang kini memenangkan tender itu tidak lagi berjaya.


"Semenjak Tuan Hartono sakit. Kita selalu dapat jatah lebih besar dibanding perusahaan lain. Mama sudah melakukan hal yang benar kan?" tanya Xavier memicingkan mata.


"Apa maksudmu?"


"Ma, yang menjadi kepala proyek adalah Nyonya Pratama!" Vania terkejut mendengarnya.


"Itu tidak mungkin. Papamu memastikan jika dialah yang menjadi kepala proyek itu bukan Sandra, istri pertama Papamu!" tekan Vania yakin.


"Tapi ini tanda-tangannya Ma!"


Vania membaca lagi kontrak yang terpampang. Di sana memang bukan nama suaminya yang menjadi kepala proyek yang ditunjuk pemerintah, melainkan istri pertama sang suami.


"Ma, telepon Papa Ma. Minta dia merayu Tante Sandra agar membatalkan proyek utama pada PT Hart Corp!" ujar pria itu memaksa sang ibu.


Vania menggeleng lemah. Keberadaan dirinya juga sang putra jadi taruhan jika ia menelepon suaminya sekarang.


"Sudah lah Nak. Yang penting kita dapat proyek juga. Mama tidak mau ambil resiko!" ujar Vania yang ditanggapi dengkusan pasrah Xavier.


Sementara di tempat lain. Sandra tengah mengadakan pertemuan dengan para direktur pemegang proyek utama. Naima ada di sana. Gadis itu pun jadi sorotan semua mata memandang.


"Nona, anda baru saja berkecimpung di dunia bisnis. Bagaimana anda begitu yakin menanam modal sebesar itu pada proyek ini?" tanya salah satu kolega.


"Itu karena memang potensi di jangka yang akan datang sangat menguntungkan Tuan," jawab Naima tenang.


Sandra sangat puas dengan jawaban gadis berusia dua puluh satu tahun itu. Wanita itu akan menjodohkan Naima dengan salah satu putranya.


"Nona, selamat atas keberhasilan anda meyakinkan saya sebagai kepala proyek!" ujar wanita itu.


Naima menyambut uluran tangan Sandra. Wanita yang berkisar seusia mendiang sang ibu jika masih hidup.


"Saya masih belajar Nyonya!" ujar Naima merendah.


"Ah, saya suka gayamu memimpin Naima. Jika nanti ada waktu, saya ingin bicara empat mata saja denganmu," pinta Sandra lembut.


"Boleh Nyonya," jawab Naima juga lembut.


Sandra tersenyum, wanita itu sangat menyukai perilaku yang Naima unjukkan. Sandra yakin jika Naima adalah gadis baik dan pasti sangat genius.


"Tapi, Nona muda memang pantas jika dijodohkan dengan salah satu putra dari Nyonya Sandra Pratama," monolognya dalam hati.


Sampai di mansion sangat mewah, Naima disambut banyak maid berjejer rapi yang membungkuk hormat.


"Astaga ... apa ini?" gadis itu terkejut dengan sambutan itu, Naima belum terbiasa padahal ia sudah tinggal selama tiga hari di mansion mewah ini.


"Jangan berlebihan seperti ini!' pinta Naima.


"Istirahatlah kalian jika sudah larut malam. Ini sudah pukul 23.00!' lanjutnya sedih.


"Aku ingin kalian beristirahat setelah pukul sembilan. Jangan menungguku ya!" pintanya perhatian.


"Terima kasih Nona!" sahut delapan maid.


Semua membubarkan diri setelah Naima pergi ke kamarnya. Gadis itu langsung merebahkan diri di atas ranjang empuk dan langsung terlelap.


"Nona, bangun. Ini sudah pagi!" Darni membuka tirai jendela.


Naima menggeliat, walau hari masih gelap. Netra gadis itu masih memejam.


"Nak, ayo bangun!" pinta Darni lalu menarik tangan nona mudanya.


"Iya Ibu," sahut Naima menurut.


Hanya butuh dua puluh menit. Gadis itu sudah segar dan siap kembali ke kantor. Usai sarapan Naima pun pergi bersama Andre.


Nama Naima menjadi sorotan semua kalangan karena memang begitu mahir memainkan bidak catur bisnisnya. Gadis itu melompat kan perdana menterinya jauh ke depan hingga membuat lawan tak berkutik. Terlebih ada benteng dan kuda yang mengancam pergerakan lawan.


Naima menatap tajam sosok pria berperut buncit di depannya. Senjatanya hanya satu kuda putih yang itupun nyawanya sudah di ujung tanduk.


"Nona ... kau berani sekali!" pujinya lalu menumbangkan rajanya dan kalah telak.


Naima mengantongi kemenangan dengan menandatangani kontrak besar dengan nilai keuntungan yang sangat fantastis.


Sedang di tempat lain. Rendra mati-matian mempertahankan saham yang tiba-tiba anjlok akibat berita pendomplengan nama perusahaan milik kakeknya. Pemuda itu sangat tidak yakin dengan temuan yang baru saja ia dapatkan.


Rendra mendatangi Agung yang duduk sendiri di kamarnya. Sofia tak ada di sana. Wanita itu tengah asik menikmati semua yang terjadi di mansion itu.


"Opa ... bisa jelaskan apa yang terjadi?!" tanyanya dengan suara keras.


Agung memutar tuas dan kursi roda menghadap pemuda yang tampak begitu marah itu.


"Katakan jika laporan yang aku terima ini tidak benar!" teriaknya lagi.


Rendra melempar berkas di depan sang kakek. Agung gemetaran membuka berkas-berkas itu. Matanya membola, ia tak percaya jika secepat ini semuanya terbongkar. Pria itu telah menyimpannya dengan sangat rapih.


"Jangan percaya berita ini!" ujarnya mendadak panik.


"Bagaimana aku tidak percaya Opa. Keuangan kita selalu minus setelah pengakuan Naima sebagai ahli waris dari Tuan Hartono!" ujar Rendra putus asa.


"Ini tidak benar!' sanggah Agung bersikeras.


"Baik jika Opa tidak mengakuinya. Aku akan membuktikan sendirin!" ujar Rendra lalu pergi meninggalkan Agung, sang kakek.


"Rendra ... Rendra! Tunggu!" teriak Agung lalu menekan dada sebelah kiri yang tiba-tiba sakit.


Sofia datang dengan senyum datar. Wanita itu melihat betapa kesusahannya pria yang dicintainya itu.


"Mestinya kau akui saja Agung. Agar ringan dosamu?!' peringat wanita itu.


"Diam kau Sofia!" teriak Agung murka.


Bersambung.


Ih.... Agung.


next?