NAIMA

NAIMA
SEBUAH KISAH



"Proposal?" Naima mengerutkan keningnya.


"Benar, saya membawa proposal kerjasama," jawab Haryo menelan saliva kasar.


"Sejak kapan proposal diberikan tanpa meeting external?" tanya Naima.


Binder warna biru terjulur. Naima menatapnya malas. Ia paling tidak suka ada yang main potong seperti ini.


"Anda pasti menyukainya Non ...."


"Nyonya Gutama Tuan Haryo!" peringat Andre tegas.


Dzikra dan Adinda ada di sana. Keduanya menatap Haryo dengan seksama.


"Aku menolak proposal kerjasama secara pribadi Tuan Haryo!' tolak Naima tegas.


"Oh ayolah ... jangan terlalu jujur jadi pebisnis. Kau akan cepat tenggelam karena rival mu pasti banyak jika kau terlalu lurus Nyonya," bujuk Haryo.


"Tapi aku tetap tak suka Tuan!" tolak Naima.


"Lebih baik dibenci dari pada jadi seorang licik sepertimu!" tolak Naima.


"Bahkan tanpa idemu itu. Perusahaanku sudah maju!" lanjutnya membanggakan diri.


Kepercayaan diri Naima membuat Haryo mati kutu. Pria itu pergi tanpa hasil. Naima benar-benar membunuh karakternya sebagai pebisnis paling disegani.


"Danar Hartono tidak sehebat anak ini!' dumalnya kesal.


"Kenapa dia malah sangat menakutkan?!" lanjutnya penasaran.


Haryo pun pergi menuju rumah sakit. Ia tidak tau harus berkata apa pada putrinya.


Sedang di sebuah ruangan vvip rumah sakit. Viona membuka mata. Dalam ingatan gadis itu Neil tengah menantinya dengan pandangan penuh cinta.


"Neil? Sayang?" panggilnya lirih.


"Anda sudah bangun Nona?' sapa seorang perawat.


Perawat itu memeriksa keadaan Viona. Tak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Ia menulis laporannya.


"Mana ayahku?" tanya gadis itu.


"Beliau pergi Nona," jawab perawat.


"Mari!" lanjutnya pamit.


Setelah perawat itu pergi. Viona menggerakkan tubuh. Ia merasa kesakitan. Ada beberapa tulang yang retak bahkan tulang rusuknya patah hingga ia tak dapat bergerak bebas.


"Sakit sekali!" rengeknya frustrasi.


"Neil ... aku sakit sayang ... apa kau tidak merasakan jika aku tengah kesakitan?" tanyanya lirih.


Air matanya mengalir, ia memejamkan matanya. Tiba-tiba sebuah kilasan memori datang.


"Aldo!' pria itu menoleh dengan senyum indah.


Viona mengenal Aldo sebagai teman dari kekasihnya. Aldo juga anak seorang pengusaha, tetapi hidupnya selalu foya-foya dan tak peduli dengan perusahaan.


Aldo penganut kebebasan, pria itu mampu menjerat Viona. Gadis itu jatuh dalam pelukan Aldo dan mengkhianati kekasih hati.


"Kenapa kau mencintai Neil sayang?" tanya Aldo.


"Sebenarnya, aku nggak cinta. Dia kaku, bahkan ciuman saja nggak berani bermain lidah," jawab Viona mengeluh.


"Apa seperti itu?" Viona mengangguk.


"Andai dia bukan anak pengusaha kaya. Pasti aku tinggal dia dari kemarin!" ujar Viona.


Aldo mencium bibir Viona rakus. Tangannya menjalar meremas dada sang gadis yang memang menatangnya berbuat lebih. Hingga ....


"Jadi ini kelakuanmu di belakang putraku, Viona, Aldo?"


Dua insan itu terkejut. Jeane memergoki keduanya yang sedang bercumbu mesra. Tentu saja hal itu membuat Jeane marah besar.


"Padahal aku selalu membelamu jika suamiku meremehkan dirimu!' ucap wanita itu kecewa.


"Itu tidak benar!' sanggah Viona ketika Neil mengungkap perselingkuhannya.


"Apa kau pikir ibuku berbohong!" teriak Neil marah besar.


Neil melempar foto-foto mesum Viona. Bahkan rekaman perkataannya jika tak mencintai Neil.


"Apa ibuku yang mengedit semua ini?" desis pria itu lagi.


"Pergi jauh Viona. Aku tak mau berhubungan denganmu lagi!" usir Neil.


"Sayang ... kau sudah bangun?" Viona menoleh.


Gadis itu mengingat semuanya. Tapi demi sebuah misi, ia memilih jika dirinya masih kehilangan ingatan.


"Mana Neil Daddy?"


"Maaf Nak," ujar Haryo menyesal.


"Daddy ... hiks!' Viona menggeleng.


"Neil ... aku harus bertemu Neil!' teriak gadis itu histeris.


Haryo memencet bel. Beberapa dokter datang bersama perawat. Viona kembali disuntik obat penenang.


"Kenapa putri saya Dok?" tanya Haryo begitu khawatir.


"Sepertinya pasien sadar akan sebuah peristiwa dan ia tak menerimanya," jawab dokter menyimpulkan.


"Maksud Dokter?" Haryo tidak mengerti.


"Kami masih mendalami lagi Tuan. Jadi, kami akan melakukan rangkai test apa benar dugaan kami!' jelas dokter spesialis tersebut.


Haryo menangis melihat keadaan putrinya. Ia benar-benar menyesal tak bisa melakukan apapun.


"Nak ...cepat sembuh Nak. Hanya kau yang bisa mendapatkan Neil lagi," ujarnya lirih.


"Daddy butuh bantuanmu agar kita bisa menikmati kekayaan ini," lanjutnya lirih.


Sore menjelang, Naima dijemput oleh suaminya. Andre sudah pulang semenjak sore. Fidya harus dilarikan ke rumah sakit akibat pecah ketuban. Sepertinya jabang bayi mau melihat dunia lebih cepat sebelum waktunya.


"Mama mau melahirkan. Kita ke rumah Opa dan Oma ya!' pinta Naima.


'Baik sayang," ujar Neil menurut.


Kendaraan itu melaju ke kediaman Hartono. Sampai sana, ia disambut banyak pelayan dan juga Denita.


"Sayang,"


"Oma ... sudah ada kabar belum?" tanya Naima dengan cemas.


"Masih belum sayang, Papamu belum beri kabar apapun,' jawab Denita ikut cemas.


"Ck ... ini sudah jam berapa!" protes Naima kesal.


Mereka pun beranjak ke kamar. Setelah berganti pakaian, mereka turun lagi ke ruang keluarga. Semua menunggu kabar kelahiran bayi lucu.


Danar berjalan mondar-mandir, Neil menenangkan pria tua itu. Hingga sebuah dering ponsel Denita membuat semua terkejut.


"Ha-halo!' seru Denita menjawab sambungan telepon.


"Fidya sudah melahirkan Nyonya!' pekik Andre dari seberang telepon.


"Laki-laki!"


"Alhamdulillah!' seru semua lega.


"Akhirnya aku jadi kakak!' pekik Naima senang.


Bersambung.


Selamat Andre Fidya. Welcome baby boy!


next?