NAIMA

NAIMA
NEW NAIMA 4



"Selamat malam hadirin sekalian!" seru pembawa acara.


Berbagai taburan bintang ibukota meramaikan acara gala dinner malam ini. Semua duduk di meja bundar. Rendra duduk bersama keluarganya. Hal itu membuat saham milik perusahaan Agung sedikit naik.


"Seperti yang kita ketahui jika pergerakan roda bisnis kembali kondusif akibat gebrakan yang diambil oleh pemimpin perusahaan baru dari PT N Graha!" seru pembawa acara lagi.


Lampu sorot membidik sosok yang sangat cantik. Naima duduk dengan anggun. rambut hitam tergerai, bibir merah menyala, hidung mancung dengan alis tanpa bantuan pensil alis, bahkan bulu mata juga lentik. Naima benar-benar memukau semua kalangan saat ini.


"Nona Naima Az-zahra Hartono, silahkan maju ke depan dan terangkan gebrakan anda di muka para audiens!" pinta pembawa acara.


Naima berdiri dengan begitu anggunnya. Beberapa gadis melirik sinis pada sosok yang berjalan penuh karisma, termasuk Siska dan Renita.


Renita mengepal erat tangannya, gadis itu dari dulu tak terima jika Naima lebih baik dari padanya. Ia sudah belajar sangat keras, namun nilainya hanya bisa masuk lima besar.


'Kenapa dia selalu jadi juara sih!' gerutunya dalam hati.


'Aku yakin dia pake susuk atau sejenisnya!' lanjutnya masih mendumal dalam hati.


"Selamat malam semuanya!"


Naima menyuarakan suaranya. Begitu serak dan sangat seksi, semua mata kaum Adam menatap penuh minat lada gadis yang kini menerangkan kenapa ia ambil terobosan itu.


"Jadi kami rasa, produksi harus berjalan karena perusahaan kita itu menjadi pegangan hidup orang banyak. Bukan satu orang saja!"


"Itu tidak terlalu kejam kah? Tuan Lakso terbaring lemah di rumah sakit, tapi kita malah tetap menjalankan produksi," sahut salah satu pebisnis.


"Seperti yang saya bilang tadi, apa Tuan Lakso juga bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup orang banyak yang bekerja di perusahaan kalian" tanya Naima dengan suara keras dan lantang.


"Jika dampak harus kita tanggung sendiri. Sepertinya tidak worth it sama sekali. Nggak adil bagi semua karyawan kita!" lanjutnya.


Semua bungkam, beberapa diantara mereka bahkan mengangguk setuju. Pratma tak mampu berkata apa-apa untuk membela ayahnya. Rendra juga tak bisa berkutik dengan perkataan Naima.


"Tapi setidaknya Kakek saya juga diberi penghormatan di sini!" sahut Renita tiba-tiba..


"Penghormatan yang seperti apa Nona?" tanya Naima.


"Bukankah dengan pergerakan naiknya saham merupakan penghormatan besar bagi Tuan Lakso sendiri?" lanjutnya dengan senyum miring.


"Nona Lakso, di sini saya mendapat laporan jika saham anda merosot tajam karena ada beberapa data yang tak valid, bisa kalian jelaskan kenapa itu terjadi? Bagaimana kerjasama yang selama ini terjalin? Apa bisa dilanjutkan?" cecar Naima menatap nyalang keluarga yang membuat hidupnya susah dulu.


Naima sangat ingat bagaimana Renita selalu ingin menjatuhkannya. Menuduh dan memfitnah dirinya secara keji.


Kini semua mata menatap sekeluarga itu dengan pandangan bertanya-tanya. Mereka juga sama gelisah dengan berita yang beredar.


"Sepertinya, saya akan memberikan panggung ini untuk Tuan Muda Lakso!" sahut Naima lalu turun dari mimbar.


Rendra mengepal erat. Pemuda itu belum mendapat solusi paling baik selain menjual sepedelapan aset yang kakeknya punya. Ia tak bisa menjanjikan apapun pada semua kolega jika bekerjasama dengan perusahaannya akan baik-baik saja.


"Tenang kak, ada aku di sini," ujar Reinhart lembut.


Sang adik memberi semangat pada kakaknya. Rendra mendapat dorongan penuh di sana. Satu proyek telah mereka sepakati, Reinhart akan menjadi penyokong utama.


"Baik, saya sepertinya tidak perlu memperkenalkan diri lagi ...," ujar Rendra ketika berada di mimbar.


Semua mendengar penuturan Rendra. Naima salut dengan solusi dan penawaran yang diberikan oleh mantan calon suaminya itu.


"Saya akan memanggil sponsor utama dari proyek ini. Reinhart, ke sini Dek!"


Reinhart maju, semua bertepuk tangan meriah. Lagi-lagi saham milik Lakso merambat naik. Rumor keluarga masih menjadi panutan pergerakan bisnis, selain pernikahan dan juga kelahiran.


"Saya Reinhart Lakso menjadi penyokong proyek yang berlangsung, jadi semua kolega tak perlu ragu untuk berinvestasi atau melakukan kerjasama dengan perusahaan kami!"


Naima mengangguk puas. Gadis itu juga tak masalah dengan proposal yang diberikan. Walau ada beberapa error, Naima dapat memakluminya.


Pertanyaan salah satu wartawan membuat semua diam. Naima, tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu.


"Kemungkinan adalah kami minta perpanjangan penangguhan utang. Jika memungkinkan penjualan sebagai invest yang tidak berkembang menjadi jaminan utang!" jawab Rendra.


"Kenapa jadi putus asa sekali!" keluh salah satu kolega.


"Menjual aset sama saja bunuh diri. Anda menjamin kerjasama tapi anda malah menjaminkan aset untuk pembayaran utang!" lanjutnya. "Bagaimana kepercayaan kami tadi?"


Rendra menutup mulutnya rapat. Utang bisnis merupakan satu poin penting berjalan sebuah perusahaan.


Semua bisa dibayar melalui pernikahan bisnis atau penggelontoran dana besar-besaran. Rendra tak memiliki keduanya.


"Bagaimana kau gadaikan perusahaan anda saja Tuan muda Lakso?"


Semua menoleh pada seorang yang mencuatkan ide. Naima di sana dengan tatapan sadis. Rendra tak pernah mendapatkan tatapan nyalang dan begitu menakutkan seperti itu.


"Maksudmu? Kau menyuruh kami berjudi?!" teriak Renita marah.


"Oh, ayolah Nona. Gambling adalah hal biasa di antara pebisnis bukan"


Semua mengangguk setuju. Jaminan perusahaan utama akan jadi taruhan besar di sana. Rendra harus bekerja sepuluh kali lipat kerasnya agar bisa mempertahankan perusahaan yang dibangun kakeknya itu.


Sementara di rumah sakit. Sofia menatap layar datar yang menampilkan acara gala dinner yang diselenggarakan di sebuah hotel internasional.


"Dia menakutkan sekali," cicitnya lirih menatap sosok yang selama empat belas tahun tinggal bersamanya.


"Kau mengambil dan merawat monster Agung!" ujarnya pelan dan menatap pada sosok yang masih terbaring lemah.


"Kenapa kau biarkan putramu menabrak orang tua yang memiliki anak semenakutan ini?" desisnya kesal.


Tiit! Tiit! Bunyi monitor mengejutkan Sofia. Ia buru-buru memencet tombol Beberapa dokter datang.


"Pasien, tidak masalah. Hanya saja jangan membuat dia tertekan," jelas dokter.


Sofia menatap Agung. Perlahan pria itu mengerjapkan matanya. Semua dokter langsung memberi penanganan.


"Tuan Agung sudah sadar. Hanya tak bisa berbicara jelas," jelas Dokter lagi.


Kini Sofia hanya berdua saja. Agung menatap sengit wanita di sisinya.


"Jangan menatapku seperti itu sayang. Kau tau, aku bisa saja mencabut salah satu alat ini ...," ujar wanita itu sangat berani.


Sofia meraba dada Agung yang terbuka. Di sana menempel alat monitor kinerja jantung. Bunyi kembali terdengar, tapi Sofia tak memencet tombol.


"Aku bisa melakukan. Tapi karena aku sangat mencintaimu ...."


Sofia memotong perkataannya. Lalu netranya menatap pria yang tak membuatnya bahagia sepanjang pernikahannya.


"Kau terlalu angkuh Agung. Bahkan kesalahan fatalmu adalah menciptakan putra seperti Pratma!"


"Kkk-ka-huu yyy-ya-ng mmmem-mbuat, dddia bbbe-begitu!" ujar Agung tergagap.


Sofia menggeleng dengan senyum lebar. Wanita itu seperti orang gila. Ia senang melihat pria yang dicintainya kini menderita tapi ia juga sedih karena Agung tak pernah merasakan cintanya.


Sementara Naima di depan semua kalangan pebisnis mendulang sukses. Beberapa kerjasama yang ia cetuskan banyak disetujui para pebisnis.


Naima pulang dengan banyak keuntungan. Gadis itu bisa tidur dengan tenang.


Bersambung.


Next?