
Perusahaan yang dipimpin Naima semakin berkembang semenjak bekerja sama dengan perusahaan Neil. Sudah satu bulan ini pria tampan itu bolak-balik ke perusahaan yang dipimpin gadis cantik itu.
Kedekatan mereka jadi trending topik. Kecantikan Naima memang pantas bersanding dengan Neil. Andre mulai berdamai dengan perasaannya.
Sedang di tempat lain. Renita melempar majalah bisnis yang ada foto sepasang pebisnis handal di cover majalah itu.
"Sialan kau Naima!" teriaknya kesal bercampur marah.
"Renita!" bentak Rendi yang terkejut.
Pria itu sudah berusia dua puluh lima tahun satu minggu lagi. Ulang tahunnya sama dengan Naima. Tadinya sang ibu ingin merayakannya, tetapi langsung ia tolak.
"Kenapa Nak. Dengan merayakan ulang tahunmu bersamaan dengan naiknya saham perusahaan kita!" ujar Anna tadi pagi.
"Ma, aku nggak mau!" tolak pria itu tegas.
"Iya, tapi kenapa?" tanya Pratma.
Baik Sofia dan Agung tak lagi mencampuri urusan perusahaan. Agung jadi sangat penurut. Ia tak mau ditinggal satu langkah pun oleh sang istri.
"Naima pasti menggelar pestanya dan aku yakin. Pestaku kalah dengan Naima," aku Rendra lirih.
"Tapi kau harus menunjukkan jika kau berhasil Nak. Lagi pula, semuanya sudah lunas kan?" ujar Anna masih bersikeras.
"Ma ... aku tau apa yang aku lakukan oke!" sahut Rendra bersikeras menolak pesta.
Anna hendak menyahuti. Tetapi, Pratma langsung mencegah istrinya. Pria itu tak mau keluarga kembali ribut hanya gara-gara pesta ulang tahun.
"Tapi Pa!"
"Sudah, biarkan saja ya. Kita hargai keputusan Rendra," ujar Pratma sangat bijak.
"Renita kau kenapa?" tanya Rendra gusar.
"Itu ... kenapa sih dia selalu merebut apapun yang aku mau!" tunjuknya pada majalah.
Rendra mengerutkan keningnya. Di sana foto Naima dan Neil Gutama yang saling bertatapan dengan senyum indah. Wajah keduanya tersipu malu.
"Maksudmu?" tanya Rendra bingung.
"Naima selalu merebut apa yang aku sukai Kak!" bentak Renita marah.
"Kapan kau menyukai Tuan Gutama?" tanya Rendra. "Aku tidak tau?"
"Ah ... Kakak!" bentak Renita mulai menangis.
Rendra menghela napas panjang. Adiknya itu memang keras kepala. Dulu soal nilai Renita juga yang menuduh Naima mencontek dan bermain dengan kepala sekolah. Rendra ingat bagaimana nenek dan ibunya menekan Naima agar tidak menonjolkan kepintarannya. Walau demikian, Renita tak pernah tembus rangking lima besar. Berbeda dengan Naima yang selalu urutan nomor satu.
"Kak ... ayo kita buat pesta besar kak. Aku ingin semua tau jika perusahaan kita sudah berjaya!" rengek gadis itu lalu menggoyangkan lengan sang kakak.
"Dek ...."
"Kak ... ayolah. Jadikan aku peran utama di pesta Kakak. Undang Tuan Gutama sebagai sosok panutan Kakak di dunia bisnis!" paksa gadis itu.
"Kakak tidak yakin Tuan Gutama mau hadir Dek. Selama dua tahun ini. Beliau dekat dengan Naima," ujar Rendra lembut.
"Itu karena Naima merayunya Kak. Aku yakin!" teriak Renita menuduh.
"Renita!"
"Kakak aku yakin! Naima pasti menyodorkan tubuh jeleknya agar dinikmati!' lanjut Renita makin berani.
"Aku akan menyadarkan Tuan Gutama jika aku wanita yang paling pantas dengannya Kak!" teriak Renita mulai frustrasi.
"Cukup Renita!" bentak Rendra mulai tak tahan emosi.
Gadis itu terjengkit kaget. Rendra menatapnya marah, ia pun tertunduk takut. Baru kali ini Renita melihat kemarahan Rendra.
"Sudah cukup khayalanmu itu!" tekan pria itu.
"Aku tidak berkhayal Kak!" teriak Renita.
"Cukup Renita, cukup!" bentak Rendra makin tinggi suaranya.
Asep yang hendak masuk berhenti di depan pintu ruangan. Pria itu urung masuk. Reinhart datang membawa makanan. Pria itu hendak makan siang bersama saudaranya.
"Pak?" tanyanya pada Asep yang berdiri dengan posisi menguping.
"Maaf!" ujarnya membungkuk hormat.
Reinhart membuka pintu. Di sana ia melihat sang kakak marah besar pada adik bungsu mereka.
"Kak, Dek?"
"Kakak ...."
Renita berlari dan memeluk Reinhart. Dari dulu selalu begitu. Renita akan selalu mendatangi kakak keduanya meminta perlindungan jika Rendra marah.
"Ada apa ini?" tanyanya gusar.
"Dia mulai berhalusinasi lagi Rei," jawab Rendra kesal bukan main.
"Aku nggak halu!" bantah Renita kesal. "Ini kenyataan!"
"Apa ini ... jelasin bisa?" pinta Reinhart mulai kesal.
"Tuh, adik kita mulai berkhayal jika Naima menggoda Tuan Gutama agar bisa berdekatan!" jawab Rendra kesal.
Pria itu duduk di kursi kebesaran dengan gusar. Ia memijit kepalanya yang mendadak pusing.
"Itu benar Kak. Aku yakin jika Naima menyodorkan tubuhnya!" seru Renita bersikukuh.
"Kau memiliki bukti Dek?" tanya Reinhart yang membuat Renita terdiam.
"Aku akan membuktikannya. Makanya, buat pesta besar-besaran Kak. Aku yakin jika kita undang Tuan Gutama sebagai role model kita. Beliau pasti mau. Pria-pria seperti Tuan Neil itu haus sanjungan!" ujar gadis itu memberikan ulasannya.
"Dek, kita baru saja naik dalam perbisnisan. Jika kita membuat pesta besar malah akan membuat kita jadi terpuruk lagi," jelas Reinhart.
"Aduh Kak. Ini sudah berganti jaman. Orang-orang akan makin yakin dengan perusahaan kita jika membuat pesta ulang tahun kakak. Mereka meyakini jika keuangan perusahaan ini sangat baik dan pasti mendongkrak nilai saham!" sahut Renita yang diangguki Reinhart.
"Di pesta itu aku akan menyadarkan Tuan Gutama jika Naima bukan wanita baik-baik!" lanjutnya begitu yakin.
Reinhart menggeleng, berita Naima yang bersih dari gosip. Bahkan kedekatan Neil hanya ketika ada penandatanganan perjanjian bisnis atau sejenisnya. Tidak ada berita tentang hubungan kedekatan spesial sama sekali.
"Kau salah Dek. Mereka berdua tidak sedang berhubungan asmara. Kau bisa dituntut oleh Tuan Gutama sendiri jika kau memaksakan kehendakmu!"
"Kakak nggak sayang aku!" teriak Renita masih keras kepala.
"Dek!" peringat Reinhart.
"Aku itu selalu benar Kak. Aku bisa membuktikan pada kalian jika Naima memang seberengsek itu!" lanjutnya berapi-api.
"Dia itu wanita murahan. Dari SMP, dia menggoda kepala sekolah agar bisa terus rangking satu ... dia ...."
Plak! Satu tamparan keras diberikan Reinhart pada adiknya. Kepala Renita sampai menoleh kesamping. Ia memegang pipinya yang terasa perih.
"Cukup Renita! Cukup tuduhan tak mendasarmu itu!" bentak Reinhart yang tak habis pikir dengan otak adiknya.
"Kak ... kau menamparku?" tanya gadis itu lirih.
"Reinhart! Jangan keterlaluan begitu!" bentak Rendra tak terima.
"Sudah cukup Kak. Kita terlalu memanjakan anak ini!" sentak Reinhart tegas.
"Kau lupa akibat perbuatanmu? Mama dan Nenek sampai hampir dipenjara karena mencemarkan nama baik?" desis pria itu sampai mendengkus kesal.
Renita diam. Gadis itu tentu ingat apa yang terjadi belasan tahun lalu itu. Beruntung saat itu kakeknya menekan pihak yayasan untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum dan berdamai saja.
"Jika kau ngotot dan semua apa yang kau tuduhkan itu tidak terbukti. Kita bukan lagi tidak punya apa-apa!" ujar Reinhart lagi. "Tapi kita langsung berada di dalam tanah dalam keadaan hidup-hidup!"
Renita menangis. Rendra berdiri dan menenangkan adiknya itu. Sementara di tempat lain. Sosok gadis dengan pakaian ketat membakar majalah bisnis yang sama seperti dipegang Renita.
"Naima ... nama kampung!" ujarnya sambil menyeringai sinis.
"Akan kubuat perhitungan denganmu gadis kampung!"
Bersambung.
Hadeuh ... siapa lagi itu?
next?