NAIMA

NAIMA
NEW NAIMA 3



Gebrakan yang dibuat Perusahaan yang dipimpin oleh Naima sekarang membuat semua pengusaha terkejut bukan main. Pergerakan saham terus berjalan, beberapa pengusaha mengikuti alur yang diciptakan oleh sosok belia yang cantik itu.


"Nona, sore ini ada rapat para direksi masalah gebrakan yang anda mulai!" lapor Andre.


Andre Hendrawan empat puluh tahun tahun. Sosok setia yang bekerja bersama dengan Danar Hartono ketika berusia dua puluh tiga tahun. Andre yang diberi mandat penuh oleh Danar dan Denita untuk menjaga Naima selama ini.


"Baik Kak," sahut Naima.


"Siska siapkan semua berkas yang mesti dibawa oleh Nona!" perintah Andre.


"Baik Tuan," jawab Siska malas.


"Apa?" Andre sampai menatap tajam perempuan yang bekerja selama tiga tahun dengannya itu.


"Ba-baik Tuan!" jawab Siska tergagap.


Siska menyiapkan semua berkas yang diperlukan. Ia melirik pakaian yang dikenakan Naima hari ini.


Setelan formal sederhana tanpa branded. Naima benar-benar begitu sederhana.


'Cis ... aku akan mengalahkan gaya busanamu CEO kampung!' senyum sinis terukir di bibir Siska.


Naima pergi bersama Andre. Tentu Siska juga ikut bersama mereka. Mereka sampai di sebuah butik dan salon ternama.


"Siska kau duluan saja ya!"


Siska yang tadinya senang kesal bukan main. Wajahnya ditekuk sepanjang perjalanan. Supir membawanya ke tempat tinggalnya.


"Anda harus datang terlebih dahulu di tempat Nona Siska!" peringat supir.


"Jangan memerintahku!' sentak gadis itu turun dari mobil.


"Anda hanya diberi waktu dua jam untuk berdandan!" sahut supir tak peduli umpatan Siska.


Siska menghentakkan kakinya di tanah. Gadis itu bersungut-sungut ketika masuk rumahnya. Sang ibu sampai.heran melihat tingkah putrinya.


"Kamu kenapa Ka?"


"Diem Bu ... nggak usah ikut campur!' bentak gadis itu lalu membanting pintu kamarnya.


Si perempuan tua hanya mengelus dada. Ia bukan sekali dua kali menghadapi kekasaran putrinya.


Sedang di tempat lain. Rendra menatap pergerakan saham yang mulai stabil. Pemuda itu cukup salut atas gerakan yang dilakukan mantan adik angkat sekaligus calon istrinya itu.


"Kau memang pemberani Naima!" pujinya datar.


Rendra ingat ketika melihat pertama kali sosok kecil yang digandeng ayahnya malam itu. Bajunya ada bercak darah bahkan di sekitar tangan dan mukanya.


Wajah sedih dan kehilangan dipancarkan gadis kecil yang begitu berani menatap nyalang sang nenek.


"Aku ingat, kau selalu menangis di taman mengingat mendiang kedua orang tuamu," lanjutnya bermonolog.


Rendra menatap majalah bisnis. Di sana ada foto Naima dengan seluruh kesederhanaannya. Gadis yang sebenarnya sangat cantik jika dipoles. Terlebih kegeniusannya sangat menakutkan.


"Kak!"


Renita masuk membawa banyak berkas.


"Ya," sahut Rendra lalu meletakan majalah dengan terbalik agar Renita tak melihat sampul depan majalah itu.


"Kita diundang untuk menghadiri rapat para direksi mengenai pergerakan saham disaat Opa sakit," ujar Renita lalu meletakkan tumpukan berkas.


Rendra menghela napas panjang. Perusahaan milik kakeknya mulai merosot tajam. Banyak laporan yang tidak sesuai. Bahkan Rendra menemukan laporan keuangan yang minus.


"Ini bagaimana cara menyelesaikannya. Selama ini Opa dapat uang dari mana?" tanya Rendra bingung.


Tentu pemuda itu tidak tau kelicikan Agung dalam memanipulasi perusahaan. Karena Naima sudah diakui oleh Danar Hartono dan kini menjabat sebagai CEO di perusahaan baru milik pria itu. Maka saham milik Naima ditarik oleh pihak Bank dan kini dipegang penuh oleh Naima.


"Sepertinya harus begitu," sahut Rendra menutup mata.


"Proyek di wilayah M, bisa gagal jika kita terus begini," lanjutnya.


"Sudahlah, ayo kita bersiap. Kau berdandanlah semenarik mungkin," pinta Rendra pada adiknya.


Renita menatap kakaknya begitu juga sebaliknya.


"Maksud Kakak apa" tanyanya bingung.


"Oh ayolah. Lihat dandananmu Dek. Kau kalah dengan Tita, resepsionis kantor ini!" keluh Rendra.


"Oh ... aku kira kakak punya maksud apa," sahut Renita pelan.


Rendra memukul pelan mulutnya ketika adik bungsunya pergi.


"Memang apa di otakmu Rendra!" runtuknya pada diri sendiri.


Malam datang, sebuah gedung mewah dengan dekorasi indah nan ekslusif menjadi sorotan semua media. Banyaknya pebisnis datang ke tempat ini untuk membicarakan sebuah proyek dan juga gebrakan yang membuat semua kalangan bisnis heboh.


Para wartawan banyak membidik beberapa pengusaha ternama yang hadir di sana. Semua memakai busana terbaik mereka.


"Wah, itu bukan Tuan Firman Abadi? Taxedonya terbuat dari sutera yang dijahit tangan oleh perancangnya. Nyonya Abadi juga sangat cantik dengan gaun formal yang berbahan sama dengan suaminya!" puji salah satu design stylish.


Siska datang terlebih dahulu, gadis itu mendongakkan kepala ketika melewati red karpet. Tak ada yang memujinya, karena memang bukan dia bintang utama acara ini.


Gadis itu memakai gaun panjang warna hitam dengan belahan panjang hingga memperlihatkan kakinya yang cantik. Bahunya terbuka, riasan tebal. Siska mengenakan perhiasan imitasi yang berkilauan.


'Setan alas ... gue udah cantik gini nggak ada yang ngelirik gue!' makinya pada semua orang yang sibuk dengan urusan sendiri.


Siska terpaksa berdiri di lobi menunggu atasannya datang. Gadis itu berkali-kali mengelus kalung dengan hiasan kaca yang didesign seperti berlian cantik.


Gadis itu lupa jika ia berada di kalangan elit yang pasti tau apa yang ia kenakan itu semua palsu.


Tak lama sosok tampan dan cantik turun dari mobil mewahnya. Rendra mengenakan setelan formal dari bahan sutra. Pemuda itu sangat tampan, di sisinya Renita juga sangat cantik dengan gaun midi warna merah yang memperlihatkan tulang selangkanya yang cantik. Gadis itu merangkul lengan kakaknya dan keduanya berjalan begitu anggun.


"Astaga mereka sangat tampan dan cantik. Keturunan Lakso memang sangat berkelas, walau perusahaan mereka tidak baik-baik saja!' puji salah satu pengamat.


"Benar sekali! Jika semua mengatakan penampilan itu tidak penting sangat salah. Bagi pebisnis, penampilan harus menunjang selain otak yang encer!' sahut lainnya menanggapi.


Setelah kedatangan Rendra dan adiknya. Reinhart datang bersama ayah dan ibunya. Kedatangan mereka juga diberi apresiasi. Terlebih pada sosok Reinhart yang mulia karena merangkul ayah dan ibunya.


Lalu terakhir, Naima turun setelah Andre membuka pintu mobil. Gadis itu sangat cantik dan berkelas. Mengenakan gaun midi warna hitam, semua begitu serasi dan sangat pas di kulitnya yang putih bersih.


"Astaga, apa benar itu Nona Hartono?"


Semua mata memandang gadis itu. Andre benar-benar merubah penampilan Naima menjadi sosok yang sangat berkelas sesuai dengan otaknya yang cemerlang.


Bidikan kamera menyoroti langkah gadis itu. Senyum ramah dan tatapan jeli membuat kaum Adam terus berdecak kagum.


Siska menelan saliva kasar. Ia kalah jauh dengan penampilan atasannya. Walau tidak mengenakan perhiasan mahal. Tetapi apa yang dipakai Naima sangat berkelas dan mewah.


"Selamat datang Nona Hartono, mari masuk!' sapa seorang pengusaha sponsor utama acara besar.


Andre mengerutkan kening melihat penampilan Siska yang berlebihan.


"Mirip ondel-ondel!' sindirnya sarkas.


Bersambung.


Good Andre. Ayo tunjukkan kelas nona mudamu!


next?