NAIMA

NAIMA
LEBAY?



Andre mengecup kening sang gadis. Satu titk bening menentes dari sudut mata Fidya. Andre mengusap jejak basah. Pria itu meminta maaf.


“Mas ... Mas adalah orang pertama yang menyentuhku .... hiks,” gadis itu malah terisak.


“Kalau begitu kita menikah secepatnya!” ajak Andre.


“Menikah di catatan sipil dulu baru kita rayakan?” tawar Andre.


Fidya mengangguk perlahan. Andre menginjak pedal gasnya. Ia memberanikan diri meminta ayah sang gadis untuk merelakan menikah terlebih dahulu. Butuh waktu sepuluh menit. Kendaraan mewah itu akhirnya sampai di sebuah hunian mewah.


Beberapa paper bag Andre bawa dan membukakan pintu untuk Fidya. Nugroho tersenyum melihatnya. Ia cukup terkejut karena waktu yang dibutuhkan sedikit cepat.


"Kenapa sepertinya terburu-buru?" tanyanya bergumam.


"Ayah!" panggil Andre ketika masuk dalam rumah dan menemukan calon ayah mertuanya.


Wajah Fidya yang menunduk dan seperti habis menangis. Membuat kening Nugroho berkerut.


"Apa yang terjadi pada putriku?" sebuah pertanyaan tiba-tiba terlontar dari mulut Masha.


Wanita itu hendak mendekati putrinya tetapi Nugroho menahan laju sang istri.


"Yah!" protes Masha.


"Ayah, aku ingin menikahi Fidya secepatnya. Aku mau menikah secara sipil dulu baru pesta belakangan!" lanjutnya sangat berani.


"Kurang ajar ... kau pikir putriku apa!" teriak Masha.


Entah apa yang ada di kepala Andre. Pria itu tiba-tiba menarik tubuh Fidya lalu menempelkan bibirnya di atas bibir sang gadis.


Masha shock, wanita itu nyaris pingsan melihat kejadian itu. Nugroho tersenyum melihatnya. Ia melirik sebal sang istri yang terlalu drama.


"Kau ... tega sekali!" teriak Masha tak terima.


Andre tak mendengar teriakan sang calon mertua. Pria itu malah menatap lekat netra jernih sang gadis. Mengusap pipi dan kembali mengecup bibir yang tiba-tiba jadi candunya.


"Ayah?" Andre memanggil sang calon mertua tanpa melihatnya.


"Aku akan mati jika kau menolak menikahkanku sekarang dengan putrimu!" lanjutnya.


"Aku setuju!" ujar Nugroho.


"Ayah!" teriak Masha.


"Cukup! Aku ingin seminggu lagi kalian menikah!" sambung Nugroho.


Andre mengangguk setuju. Pria itu akan mencetak undangan seperlunya. Fidya berada di kamarnya. Masha benar-benar marah pada sang putri yang sepertinya membiarkan hal ini terjadi.


"Mama marah?" tanya gadis itu.


"Kau seperti gadis murahan Fidya!" sindir Masha keterlaluan.


"Ma ...."


"Aku menjagamu sedemikian rupa. Tapi kau malah membiarkan laki-laki yang belum jadi suamimu menyentuhmu!" lanjutnya menatap kecewa sang putri.


Fidya menatap dengan linangan air mata. Kata-kata keji sang ibu membuatnya terluka.


"Mas Andre telah menciumku. Maka aku hanya ingin Mas Andre menjadi suamiku!"


"Jika ya ... dia belum suamimu. Bagaimana jika dia hanya bermain-main, lalu tak jadi menikahimu karena telah merebut ciuman pertama!" sentak Masha.


"Kau tidak ada artinya sama sekali! lanjutnya masih menghina putrinya.


"Lalu apa kau dulu mempersembahkan ciuman pertamamu untukku, Masha?" sebuah suara yang penuh kemarahan di sana terdengar.


Nugroho mendekati keduanya. Masha dijauhkan dari putrinya. Menatap kecewa pada sang istri yang begitu tega menyumpahi darah dagingnya sendiri.


"Kau bahkan bukannya mendoakan kebaikan bagi putrimu. Malah kau ingin semua gagal dan membuat hati putrimu hancur?" tanya pria itu tak percaya.


"Aku ingin melindunginya. Aku tidak mau dia seperti aku yang gagal menikah setelah memberikan ciuman pertamaku!"


"Aku tak pernah menyesali itu Masha!"


"Ayah ... Mama! Cukup!" pinta Fidya sedih.


"Ma ... sekarang aku sudah dicium oleh Mas Andre ... lalu apa yang Mama ingin lakukan?" tanya Fidya sedih.


"Apa karena aku berciuman lalu Mama anggap aku sama dengan pelacur?" tanyanya dengan nada serat dan kecewa.


"Sudah Nak. Tidak usah dengarkan Mamamu. Dia begitu karena terlalu sayang padamu. Kau akan menikah sebentar lagi. Kau juga harus membantu Andre mempersiapkan semua. Oke!" potong Nugroho.


Fidya ditenangkan oleh sang ayah. Pria itu menarik istrinya agar menjauhi putrinya.


"Maksudmu apa mengatai putriku seperti itu?" tanyanya gusar.


"Karena itu yang aku rasakan ketika kau heran melihatku bisa membalas ciumanmu!" desis Masha.


"Aku sangat ingat, ketika malam pertama kita!" lanjutnya lalu mengusap air matanya.


"Berapa kali kau ciuman sayang ... kau sangat menggairahkan ... kau membuatku terangsang dan kata-kata yang merendahkan aku seakan-akan aku mahir membangkitkan gairahmu!"


"Masha ...."


Nugroho tersentak, ia tidak pernah bermaksud menghina istrinya. Kata-kata itu keluar begitu saja untuk menciptakan momen panas di atas ranjang.


"Aku gemetaran sepanjang malam ketika melakukannya. Aku ketakutan setengah mati karena jujur aku tidak tau apa yang mesti aku lakukan," sambung Masha dengan mata menerawang.


"Masha ...."


Wanita itu berdiri di dekat jendela besar. Nugroho merasa bersalah. Pria itu memeluk istrinya dari belakang. Kini ia tau kenapa sang istri tak suka melakukan hal intim itu ketika ia sangat menginginkannya. Nugroho membalik tubuh istrinya.


"Kau tau, jika ada pasangan modern mendengarmu. Kau dianggap lebay," kekeh pria itu.


Masha berontak, Nugroho mengeratkan pelukannya. Mencium bibir yang jarang disentuh karena ketakutan dari si empunya tubuh.


"Kau polos sekali sayang. Kata-kata vulgar itu bukan untuk merendahkanmu. Tetapi untuk menciptakan momen panas di atas ranjang," jelas Nugroho dengan napas memburu.


"Tapi kata-kata itu sangat membuatku ...."


Masha tak dapat melanjutkan ucapannya. Bibirnya dibungkam sang suami. Nugroho yang merasa bersalah karena memang memperlakukan istri yang tak seharusnya ketika di ranjang.


Sementara itu di hunian mewah Danar. Mereka semua terkejut ketika Andre mengatakan mempercepat pernikahannya.


"Memang Papa sudah apain Mama?" tanya Naima polos.


"Papa cium dia?" lanjutnya menerka.


Andre memerah mukanya. Naima menutup mulut. Sedang Danar dan Denita hanya menganga melihat sikap keduanya.


"Astaga ... kalian!" Danar geleng-geleng melihat betapa kedua orang di depannya itu begitu polos.


"Baiklah, kau harus mempersiapkan semua dua kali lebih cepat sekarang!" lanjut pria itu setuju.


"Terima kasih Tuan," ujar Andre membungkuk hormat.


Malam telah larut. Naima menatap ponselnya yang hening semenjak kejadian Neil mencium bibirnya di tangga waktu itu.


Satu chat yang dikirim Naima dua hari lalu belum terbaca. Bahkan masih cek lis satu. Gadis itu mencoba menelepon nomor yang ia simpan.


"Maaf ... nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau di luar jangkauan. Silahkan hubungi beberapa saat lagi ...."


Suara operator yang menjawab telepon gadis itu. Naima menutup panggilnya. Ia menghela napas panjang. Menyapu bibir yang pernah dikecup.


"Apa semua pria begitu?" tanyanya lirih.


"Setelah berhasil mencuri ciuman pertama lalu pergi dan menghilang?" lanjutnya dengan tatapan menerawang.


Sedang di tempat lain. Neil tengah begitu sibuk mengurusi sebuah proyek di negara lain. Pria itu baru saja menemukan kejanggalan di sana. Banyak markup yang dilakukan oleh beberapa oknum proyek.


"Penjarakan mereka semua!" teriaknya marah.


"Tuan ... maafkan kami Tuan ... kamu khilaf!" jerit beberapa oknum yang ditangkap.


Neil mendudukkan diri dengan mengurut pelipisnya. Setelah oknum-oknum dibawa oleh petugas. Masuk seorang yang cantik membawakan satu cangkir teh. Bibirnya tersenyum penuh arti.


"Tuan ... diminum teh melatinya! Agar kepala Tuan tidak stress lagi," ujarnya lalu meletakkan teh itu di atas meja kerja.


"Terima kasih Sandra," ujar pria itu.


Bersambung.


Duh ... jangan diminum Neil!


next?