
Di sebuah pergelaran besar. Malam bertaburan bintang, baik dari dalam negeri dan luar negeri. Banyak pengusaha berdatangan di acara besar ini.
Naima menjadi salah satu nominasi pengusaha terbaik dan bersaing dengan banyak pengusaha muda lainnya. Termasuk Reinhart dan Rendra Lakso.
Neil yang memprakarsai acara tersebut. Tentu pria itu tak perlu penghargaan di sana. Namanya sudah tercantum sebagai donatur terbesar di acara tersebut.
"Nona Naima!"
Beberapa wartawan hendak mengerubungi. Tetapi banyaknya pengawal menghalangi laju mereka.
Naima datang bersama dengan Andre. Pria itu kini akan menjadi ayah. Fidya hamil paska dua minggu bulan madu mereka.
Acara dimulai. Berbagai pertunjukan digelar. Acara anugrah insan bisnis pun dimulai.
"Selamat atas ... Nona Naima Az-zahra Hartono!" pekik pemegang amplop dan piala.
Naima maju dengan senyum cerah. Gadis itu memakai gaun indah warna hitam dengan taburan berlian Swarovski.
Riuh tepuk tangan terdengar. Banyak kolega puas dengan hasil kinerja Naima. Namanya makin melambung di dunia bisnis.
Gadis itu kembali menyabet gelar sebagai CEO termuda dan tersukses. Rendra menatap gadis yang dulu pernah ia tindas.
"Aku bangga padamu Naima," ujarnya lirih.
Pria itu cukup puas dengan hanya sebagai nominasi di acara itu. Gadis itu pun bersuara, ia mengucap terima kasih pada semua orang yang telah mengajarinya.
"Saya juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada keluarga yang telah mengurusi saya dulu. Keluarga Lakso," ujar gadis itu mengejutkan semua publik.
Kini mereka tau siapa keluarga rahasia dalam autobiografinya yang laris manis itu.
"Tanpa ujian berat keluarga itu. Mungkin aku tidak akan jadi seperti sekarang!' ujarnya melanjutkan..
Rendra menunduk dalam. Reinhart menenangkan kakaknya. Keluarga Lakso kembali jadi topik pembicaraan para media.
"Kau puas Naima?" tanya Rendra ketika mereka berjalan berselisihan.
"Puas apanya?" tanya Naima mengerutkan keningnya.
"Selama empat tahun. Aku sudah membayar lunas semuanya. Apa itu tidak cukup?" tanya pria itu lagi.
"Katanya kau telah memaafkan kami!" lanjutnya gusar.
"Apa tadi aku menjelekkan keluargamu?" tanya Naima bingung.
"Tapi bukumu menceritakan betapa kami sangat buruk padamu!" sungut Rendra kesal.
"Apa itu tidak benar?" tanya Naima dengan tatapan menantang.
"Kak ... sudah lah!" Reinhart menenangkan kakaknya..
"Kita memang salah," lanjutnya.
"Kau tidak pernah sadar. Aku telah bermurah hati selama ini Rendra!" lanjut Naima menatap mantan kakak angkatnya itu.
"Apa kau tidak pernah berpikir, kenapa kau masih bisa memenangkan beberapa proyek tanpa aku?" tanya Naima sambil menaikkan alisnya.
Rendra terdiam, pria itu sadar jika selama ia memenangkan proyek. Naima sama sekali tak ambil bagian. Gadis itu memilih proyek lain yang nilainya lebih rendah.
"Apa aku kurang baik di matamu?" tanya gadis itu gusar.
"Maaf," ujar Rendra lirih.
Andre ada di sisi nona mudanya. Pria itu hanya mendengkus kesal karena kebaikan dari Naima. Padahal ia sangat ingin menenggelamkan Lakso hingga sedalam-dalamnya.
"Lagi pula aku tidak merendahkan keluarga kalian baik di buku atau tadi di atas panggung. Aku masih punya etika untuk itu!" lanjut sang gadis begitu tegas.
Rendra menatap netra pekat Naima. Netra yang selalu membuatnya takut. Ketika pertama kali melihat gadis itu datang ke kediaman keluarganya. Rendra sudah takut dengan tatapan Naima yang begitu berani.
"Kita akhiri petikaian ini. Aku selaku dari keturunan Lakso!' ujar Reinhart membungkuk pada Naima.
Gadis itu menghela napas panjang. Drama keluarga Lakso memang harus sudah selesai setelah Andre mengambilnya.
"Setidaknya, kita hanya bersaing dalam bisnis yang sehat saja!' sambung Reinhart lagi.
"Baiklah. Untuk kedepannya kita hanya bertemu jika ada perkumpulan antar pebisnis!' sahut Naima tak masalah.
"Kita memang tak pernah bertemu Naima," celetuk Rendra.
Pesta penganugrahan itu pun selesai. Rendra pulang ke mansion kakeknya. Mereka kembali tinggal di hunian mewah itu.
Agung sudah sangat tua begitu juga Sofia. Keduanya tak lagi ribut, malah Agung menunjukkan cintanya pada sang istri.
"Renita sebentar lagi menikah dengan pengusaha dari Taiwan, apa semua sudah dipersiapkan?' tanya Pratma pada putranya.
"Sudah Pa, semua sudah disiapkan," jawab Rendra lelah.
"Maaf sayang. Papa tak banyak membantumu," ujar Pratma menyesal.
"Sudah Pa, sudah lewat. Kita tidak perlu membahasnya lagi oke!" ujar Rendra tak mau kembali mengenang masa buruk itu.
Renita kini berada di kamarnya. Tinggal menghitung minggu saja. Ia akan menjadi seorang istri dari seorang taipan ternama di negara tetangga. Gadis itu telah lepas dari imaginasinya tentang Naima.
"Surat undangan sudah disebar sayang?" tanyanya pada seorang pria yang ada di layar.
"Sudah sayang. Aku sudah tak sabar menjadikanmu istriku," jawab pria tampan di seberang sana dengan senyum menawan.
Sambungan telepon pun berakhir. Renita semakin cantik. Gadis itu sudah bersiap dengan acara khidmat itu.
Pagi menjelang. Naima sudah berada di mansion milik keluarga Gutama. Gadis itu akan menyambut kekasihnya dari luar negeri. Setelah kencannya waktu itu. Neil tak pernah mendatanginya lagi.
"Jam berapa Neil datang Ma?" tanya gadis itu sudah tak sabaran.
"Sabar sayang. Pesawatnya masih belum landing," jawab Jeane terkekeh.
Makanan pun akan disiapkan. Naima sudah berdebar jantungnya. Ia benar-benar merindukan kekasihnya. Andre tak ikut karena sedang menemani sang istri untuk cek up rutin.
Mobil mewah berhenti di depan teras mansion mewah itu. Naima dan kedua orang tua dari Neil juga tak sabar menunggu.
Sepasang kaki jenjang turun. Pria tampan pun keluar, matanya menatap tiga orang yang menyambutnya. Ia tersenyum lebar.
"Sayang!" pekiknya girang..
Neil langsung berlari dan memeluk sang kekasih hingga mengangkat tubuh dan berputar. Naima tentu terpekik.
"Aku merindukanmu," ujar Neil sendu.
"Aku juga," aku Naima dengan senyum merona.
Neil mencium bibir kekasihnya. Pagutan pun terjadi lalu berhenti ketika Jeane memperingati keduanya.
"Ayo masuk!" ajak wanita itu.
Neil merengkuh pinggang ramping Naima. Ia berbisik mesra.
"Kau makin mahir berciuman sayang,"
"Au!" Neil menjerit kecil akibat sang pacar mencubit pinggangnya.
"Jangan macam-macam!" gertak gadis itu galak.
"Maaf sayang," kekeh Neil.
Naima melayani Neil dengan mengambilkan teh jahe. Tentu saja, pria itu baru saja mengalami jet leg.
Naima pulang setelah Neil beristirahat. Charles meminta gadis itu menginap.
"Maaf Dad, aku tidak bisa. Harap mengerti," tolak gadis itu.
Charles mengangguk. Pria itu tentu menghormati keputusan calon menantunya itu. Walau Neil juga pasti menolak jika Naima menginap. Karena putranya itu memang pria lurus.
"Biar supir mengantarkanmu!" Naima mengangguk.
Gadis itu pun mengangguk setuju. Ia harus mempersiapkan diri untuk acara pernikahan dalam waktu dekat.
Neil telah mengatakan akan mempersuntingnya dalam waktu dekat.
Bersambung.
Ah ..
next?