NAIMA

NAIMA
AKSI



Neil menggunakan kekuasaannya. Pria itu mensomasi Haryo dan memaksa pria itu meminta maaf di depan khalayak.


"Jika kau tidak melakukannya ...," Neil menghentikan ucapannya.


"Aku pastikan kau benar-benar tak bisa bernapas di dunia dan putrimu jadi yatim secepatnya!" lanjutnya mengancam.


Haryo menelan saliva kasar. Bukan hanya Neil yang memberikan ancaman. Bahkan Charles ikut memberi ultimatum pada pria itu. Danar menjaga ketat cucu perempuannya. Ia menyewa pengawal untuk melindunginya.


"Kalian siapa?" tanya Naima ketika mendapati beberapa pria dan wanita berpakaian serba hitam.


"Kami ditugaskan untuk mengawal Nyonya Gutama atas perintah Tuan Hartono!' jawab kepala pengawal.


Neil tadinya sedikit keberatan, namun ia sadar jika tak bisa penuh menjaga istrinya. Haryo termasuk pria nekat untuk melanggengkan usahanya.


Kesehatan Viona makin baik. Gadis itu bahkan diperbolehkan pulang oleh dokter dan diminta kembali untuk pemeriksaan biasa. Gips di kakinya sudah dilepas. Ia menggunakan kursi roda untuk membantunya bergerak.


"Jangan malas untuk melatih kekuatan kaki Nona. Kecuali anda ingin lumpuh seumur hidup!" ujar sang dokter memperingati.


Viona hanya mengangguk, sungguh ia ingin sekali lumpuh agar Neil nanti iba padanya. Tetapi, Haryo marah besar ketika ia mengatakan keinginannya untuk tidak melatih kakinya.


"Bagaimana jika Neil tetap tidak mau bersamamu?" tanya Haryo gusar.


"Istrinya jauh lebih sempurna sekarang. Pria mana yang mau menukar istri sempurna dengan gadis cacat?" lanjutnya berang.


Viona menangis mendengar perkataan ayahnya. Ia juga tidak mau kehilangan kebebasannya berjalan. Gadis itu tentu masih waras.


"Bagaimana jika aku pura-pura?" ujarnya seperti memberi ide.


"Kau pikir Neil bodoh dan sangat mencintaimu?" desis Haryo.


Viona terdiam, gadis itu juga tak mau bertaruh apapun akan hal yang tidak pasti hasilnya. Ia akan kehilangan semuanya.


"Jadi apa yang harus kita lakukan Dad!' pekik Viona putus asa.


Haryo diam, pria itu seperti mati langkah. Tiga pebisnis besar menekannya.


"Menjebak Neil?' Viona menggeleng.


"Neil pria lurus Dad. Dia tak pernah pergi ke klub untuk bersenang-senang," jawabnya dengan lemah.


"Aku akan coba mendatangi Naima, membujuk wanita itu. Kalau perlu aku mau jadi wanita kedua dari Neil," lanjutnya memberi ide.


Haryo tak berkata apapun. Pria itu sudah kehabisan akal. Haryo akhirnya mengangguk setuju.


"Tapi, wanita itu sangat menakutkan!" peringatnya.


"Dia juga wanita Daddy. Aku pastikan dia luluh dan mau melepaskan Neil," ujar Viona meyakinkan ayahnya.


Sementara itu, Naima sama sekali tak terpengaruh akan apa yang terjadi pada sang suami. Berita penuntutan Neil dari Viona tak diindahkan sama sekali. Wanita itu menggubris kejadian yang menurutnya tak penting.


Hal itu membuat Neil kesal. Ia mengira istrinya tak sepenuhnya mencintai dirinya.


"Sayang!' panggilnya dengan suara tegas.


"Apa sayang,' sahut Naima santai.


"Kau mencintaiku tidak sih?" tanya Neil gusar.


Pria itu duduk di sisi istrinya dan menatap netra bingung wanita itu. Naima memang heran dengan pertanyaan suaminya.


"Kok nanya kek gitu sih!" Naima kesal.


'Kau tau, jika aku sedang diincar seorang gadis!" sungut Neil sebal.


"Terus ... emang kamu mau sama perempuan itu?" tanya Naima ikutan kesal.


"Ya enggak lah!' sahut Neil juga kesal.


"Terus yang salah apa?" tanya Naima lagi.


Neil kehabisan kata-kata. Pria itu memang tak bisa memprovokasi istrinya. Naima menatap suaminya.


"Sayang dengarkan aku ...."


"Aku memberikan kepercayaan penuh padamu. Jika aku meletakkan kecemburuan, maka aku sangat cemburu dengan Kak Dion, karena ia yang paling tau dirimu dibanding aku!" sambungnya.


"Ih ... emang aku cowok apaan!' kilah Neil ala-ala banci.


Naima kesal mendengar hal itu. Ia sampai menggigit bahu suaminya.


"Sayang!' peringat Neil jadi beda pikirannya.


"Gemes ih!" sungut Naima.


Hari berganti, Naima bekerja seperti biasa. Andre pergi keluar kota untuk beberapa proyek yang telah berjalan. Putranya makin lama makin menggemaskan. Bayi itu berhasil mencuri perhatian publik.


"Nyonya, ada seorang wanita ingin bertemu dengan anda!" ujar Adinda memberitahu.


"Siapa?" tanya Naima.


"Namanya Nona Viona Haryono," jawab Adinda.


Naima menghela napas panjang. Sepertinya, perkataan suaminya benar. Gadis mantan kekasih dari sang suami itu benar-benar menginginkan Neil menjadi miliknya.


"Bawa dia ke ruang tamu!" perintah Naima.


Wanita itu memutuskan untuk menyelesaikan semuanya agar tak ada ganjalan di kemudian hari.


Setelah menandatangani beberapa berkas. Naima beranjak, waktu makan siang tinggal sepuluh menit lagi.


"Nyonya, tamunya!' peringat Dzikra ketika Naima hendak pergi ke kantin.


"Astaga ... aku lupa!' Naima menepuk dahinya.


Sedang di ruangan lain. Viona mengumpat. Ia disuruh menunggu selama nyaris dua jam lamanya. Gadis itu berjalan mondar-mandir. Sesekali ia membuka pintu dan mengintip apa Naima akan menemuinya.


"Sialan! Kurang ajar!" umpatnya mendumal.


Terdengar bunyi handel pintu bergerak. Viona panik, ia berdiri cukup jauh dari kursi rodanya, ia sedikit berlari. Lalu ....


Brug! Viona terjatuh berikut kursi rodanya bersamaan pintu ruangan terbuka. Adinda dan Dzikra yang mengikuti atasannya langsung menghampiri tubuh Viona yang terjatuh.


"Nona! Anda tidak apa-apa?!" tanya Adinda khawatir.


"Tidak ... aku tidak apa-apa," jawab Viona lirih.


Tergurat wajah penuh kesedihan di sana. Viona berakting sedemikian rupa agar hati Naima tersentuh akan penderitaannya.


Setelah didudukkan di kursi roda. Adinda dan Dzikra berdiri di sisi atasan mereka.


"Ada perlu apa Nona?" tanya Naima datar.


"Naima ...."


"Panggil aku Nyonya Gutama, Nona Haryono!" tekan Naima tegas.


Wanita itu mengabaikan sekali kesakitan Viona. Padahal baik Adinda dan Dzikra sudah merasa iba pada gadis kaya itu.


"Kalian pergilah. Biar kuurus dia!' perintah Naima pada dua anak buahnya itu.


"Baik Nyonya!" sahut keduanya menurut.


Viona memaki dan memuji secara bersamaan kepandaian Naima dalam hati. Padahal dengan keberadaan dua orang yang telah dipengaruhinya mampu mengubah penilaian Naima nanti.


"Aku sangat mencintai Neil, Nyonya ... tolong. Kembalikan dia padaku,' pinta Viona lirih.


"Aku sangat mencintainya ... aku ingat terakhir kali sebelum ini, dia berjanji padaku untuk melangsungkan pernikahan kami!" ujarnya setengah terisak.


Gadis itu benar-benar memerankan gadis teraniaya untuk menyentuh keibaan Naima.


"Kau merebutnya dariku!' pekik gadis itu.


Naima tertawa mendengar perkataan Viona. Gadis itu sangat terkejut, ia tak menyangka jika Naima malah tertawa mendengar ucapannya.


"Viona ...Viona!' geleng Naima tersenyum miring.


"Kau pikir dramamu itu berhasil mempengaruhiku?" desis wanita itu.


Seluruh bulu di tubuh Viona meremang. Aura membunuh terpancar di wajah Naima.


"Apa perlu kuperlihatkan sesuatu Nona ... Haryono?" tekannya di kalimat terakhir.


"A-apa ma-maksudnya?" tanya Viona gugup.


Naima memutar kursi roda Viona menghadap satu layar putih. Sebuah video memutar ketika dirinya sedang berjalan di ruangan itu.


"Kau ingin mengelabui siapa ... Viona?" bisik Naima begitu menyeramkan terdengar di telinga Viona.


Bersambung.


Memang kau cari perkara Viona!


Next?