
Andre merebahkan dirinya di atas ranjang. Pria itu memejamkan mata. Ia ingin memikirkan seorang gadis yang sejak dulu mencuri hatinya.
"Eh?"
Andre membuka mata, wajah sendu dan putus asa Fidya malah melintas diingatannya. Pria itu sampai bangkit dari ranjangnya.
"Fidya?"
"Kenapa aku malah memikirkan dia?" tanyanya bergumam.
Fidya gadis yang memang cantik. Andre dapat menyimpulkan jika gadis itu sangat penyayang dan begitu penurut. Ia meyakini akan mudah mengatur Fidya nantinya.
"Apa aku bisa mencintainya?" tanyanya lagi-lagi bergumam.
Selama nyaris tiga tahun mendidik Naima. Pria itu sudah menaruh rasa pada nona mudanya ketika menggendong gadis itu ke kamar.
"Jantung ini masih berdetak lebih cepat ketika menyebut nama Naima. Tetapi, pikiranku tak lepas dari Fidya,"
Andre mengganti pakaiannya. Ia hanya mengenakan singlet dan boxer besar ketika tidur. Kulitnya putih bersih, tak ada cacat. Otot-ototnya terbentuk sempurna. Tinggi pria itu hanya 170cm dengan bobot 65kg. Sedikit kurus.
Akhirnya ia tertidur dengan kepala sakit. Pagi menjelang Andre bersiap ke perusahaan. Ia akan pergi menuju beberapa distrik produksi perusahaan. Ia menjadi vice president direktur perusahaan Hart Corp.
"Papa ... aku juga mau ikut ke distrik!"
"Untuk apa Sayang?" tanya Denita.
"Mau tau juga perkembangannya dan sana?' jawab gadis itu.
"Di sana banyak pria Nona!' sahut Andre menolak permintaan Naima.
'Papa!" rengek gadis itu.
"Nona ... saya melarang!" ujar pria itu posesif.
"Oma!' adu Naima.
"Sayang, nurut ya sama Papamu," ujar Denita tersenyum.
Wanita itu tak pernah melarang Naima memanggil Andre Papa. Ia juga membiarkan ajudan suaminya itu menganggap cucunya sebagai putrinya.
"Oma,"
"Sayang," Denita mengelus pipi cucu cantiknya itu.
Naima menurut. Gadis itu batal mengunjungi distrik. Ia memang begitu penasaran dengan daerah produksi itu.
Andre merasakan debaran di dadanya. Pria itu tak lagi mendapat debaran yang sama. Ia tersenyum tipis. Kelebatan wajah Fidya malah melintas dipikirannya.
"Papa melamunin apa?" tanya Naima tiba-tiba.
'Ah ... tidak ada Nona!" jawab Andre cepat.
"Mikirin Mama ya?" terka Naima tepat..
"Nona," Naima terkekeh.
Gadis itu senang pria kaku di depannya sudah berbeda. Naima tak sadar jika dirinyalah yang membuat Andre berubah. Dia adalah cinta pertama Andre.
Pekerjaan yang menggunung. Membuatnya sibuk. Andre sampai tak memiliki waktu untuk mengurus pernikahannya.
"Andre, kapan kau foto prewedding dengan Fidya?" tanya Danar mengingatkan pria itu.
"Apa kalian sudah mendapatkan rancangan yang kalian inginkan? Bagaimana undangannya?" tanya pria itu mencecar.
"Tuan ...."
"Aku memang sudah mengurus data-datamu. Tapi untuk pernak-pernik pernikahan. Kau harus urus sendiri!" teriak Danar mulai emosi.
"Aku beri kau cuti!" ujarnya lagi.
"Tuan,"
"Jangan membantah! Ajak calon istrimu jalan-jalan. Jangan khawatir tentang ibunya. Tuan Nugroho telah memberimu mandat penuh untuk menjaga putrinya!" tekan Danar tak mau dibantah.
Andre menghela napas panjang. Ia hanya menurut, entah kenapa kinerja jantungnya sangat cepat ketika tuan besar menyuruhnya membawa sang gadis pergi.
Pria itu menyetir mobil pribadinya. Andre memperlihatkan kekayaannya di depan calon mertua. Masha tak bisa mengelak, suaminya yang menyerahkan sang putri untuk dibawa pergi.
"Aku percayakan padamu. Bawa ia pulang dengan selamat!" tekan pria itu.
"Baik Tu ...."
"Panggil aku Ayah sekarang!" perintah Nugroho.
"Ayah!" Andre menurut.
Pria itu menggenggam tangan sang gadis yang dingin. Masha sangat kesal, ia takut Andre hanya bermain-main dengan putrinya.
"Yah!" protesnya.
"Cukup Masha!" tekan Nugroho kali ini pada istrinya.
"Aku hanya ingin melindungi putriku!" desis Masha.
"Sampai kapan?" tanya Nugroho gusar. "Sampai kapan Ma?"
"Kita sudah tua. Lalu siapa yang melindunginya?" tanya pria itu lagi.
Masha diam. Sementara itu dua insan duduk berdampingan. Andre menyetir. Mata Fidya begitu berbinar ketika melihat gedung-gedung tinggi.
"Oh itu tukang jual gulali!" pekiknya melihat permen kapas yang dibungkus.
"Boleh aku beli itu?" pintanya lirih.
Andre membelokkan mobilnya menepi. Pria itu turun, ia membuka pintu untuk sang gadis. Rona merah menyeruak di kedua pipi Fidya hingga menambah kadar kecantikannya.
"Cantik sekali!" puji salah seorang pria.
Andre langsung menatap tajam pria yang memuji calon istrinya. Fidya memilih menuju tukan jualan permen kapas yang hanya ia lihat di layar ponselnya.
"Mau beli satu aja Bang!" ujarnya antusias.
"Iya Neng!" ujar si tukang jualan.
Andre membayarnya. Setelah membeli apa yang diinginkan Fidya mereka kembali ke mobil. Gadis itu begitu antusias memakannya hingga terbatuk.
"Pelan-pelan Nona," ujar Andre mengelus punggung Fidya.
"Minum," rengek sang gadis meminta.
Andre memberikan botol minumnya. Fidya langsung mengambil dan menenggaknya tanpa jijik.
"Itu bekasku," ujar Andre lirih.
Fidya menatap polos pria di depannya. Ia menyodorkan botol minum itu. Entah kenapa Andre malah ikut menenggaknya.
"Mas?"
Andre pipinya memerah. Pria itu merasa berciuman langsung. Mobil itu bergerak menuju sebuah bangunan besar.
"Kau punya butik favorit Nona?" Fidya menggeleng.
Andre membawa gadis itu ke tempat di mana Naima biasa membeli gaun-gaun mahalnya. Itu pun dulu ia yang membawa sang nona ke tempat itu.
"Diya mau baju pengantin yang sederhana. Nggak mau yang kembang atau banyak manik-manik Payet atau apapun itu," ujar gadis itu lirih.
"Ini mau nona?" tunjuk seorang pramuniaga pada satu gaun pengantin polos dengan lengan panjang tapi punggung terbuka.
"Punggungnya kayak sundel bolong," sahutnya lirih.
Andre dapat mendengarnya. Pria itu tersenyum lebar. Lalu ia menatap satu gaun cantik dengan paduan outher brokat yang ditaburi Swarovski.
"Aku mau ini sayang, bagaimana?" tanyanya pria itu.
Fidya tak mendengar pertanyaan dari Andre. Kata-kata sayang itu yang membuat sang gadis jika Andre tak berbicara padanya.
"Sayang?" Andre menoleh pada calon istrinya.
Fidya menoleh ke arah lain. Andre malah malu sendiri karena panggilannya.
"Mas panggil sayang ke siapa?" tanya Fidya polos.
Pramuniaga menutup mulut karena menyembunyikan tawanya. Andre menggaruk kepalanya. Ia lupa jika sang calon adalah gadis yang tak pernah bersentuhan dengan dunia luar.
"Sudah lah, apa Nona mau gaun yang kupilihkan?" tawar pria itu mengalihkan pembicaraan.
'Kau akan cantik jika mengenakan ini!' tunjuknya pada satu gaun cantik.
Fidya menurut, Andre senang karena gadis itu tak banyak menuntut. Ketika memilih sepasang cincin kawin pun Andre yang memilihkannya.
Andre mengajak sang gadis makan siang di sebuah restoran. Gadis itu begitu sempurna dengan table manner. Andre sangat menyukainya, berbeda dengan Naima yang sedikit urakan ketika sudah mendapat makanan kesukaannya.
"Apa sudah selesai?" tanya Andre mengusap bibir dengan serbet.
Fidya mengangguk, gadis itu pun melangkah. Tangannya digenggam oleh pria yang akan melepaskannya dari jerat yang mengurungnya selama ini.
"Mas ...," panggilnya ketika sudah duduk di mobil.
Andre membantunya memakaikan sabuk pengaman. Netra pria itu langsung menusuk pada manik jernih milik sang gadis.
"Aku hanya berharap padamu untuk keluar dari sangkar yang dibuat Mama. Tolong katakan, apa yang kuinginkan ini benar?" tanyanya penuh harap.
Entah keberanian dari mana, Andre mengecup kening sang gadis lama. Fidya membelalakkan matanya. Satu tetes bening jatuh dari sudut matanya.
"Percayalah ... aku akan membuat hidupmu penuh warna. Aku janji, kau bahagia!" tukas Andre berjanji.
Bersambung.
Duh ... main sosor aja ...
next?