NAIMA

NAIMA
BERLAGA



Kelakuan Risa makin lama makin jadi. Gadis itu sering merias diri dibanding mengerjakan tugasnya.


Bahkan perintah Darni jarang ia kerjakan. Alhasil Anik yang menjadi limpahan pekerjaan gadis itu.


"Risa sedang apa kamu!" Jian kesal dengan rekan sekerjanya itu.


"Emang kenapa?" sahut Risa tak peduli.


Risa mengoles pewarna di kukunya yang cantik. Lalu menghias buku tangannya dengan henna instan.


"Ah ... cantik banget!" pujinya tersenyum.


"Risa!" sentak Darni.


Gadis itu kaget setengah mati. Ia buru-buru berdiri. Menatap kesal perempuan paru baya.


"Apa yang kau lakukan. Kenapa dari tadi kamu tidak melakukan apapun?" tanya Darni penuh penekanan.


"Saya hanya ...."


"Cepat bantu Dian dan Leli. Ambil gorden bersama Heni!" titah Darni tegas.


Walau dengan berat hati. Risa mengerjakan tugasnya. Ia ingin sekali menyingkirkan Darni dari tempat itu.


"Satu-satunya adalah ...."


Sebuah ide brilian muncul di otak licik gadis itu. Seringai penuh rencana.


Sore menjelang. Naima pulang sendirian. Tentu saja Neil sedang keluar kota selama dua hari. Jadi Wanita itu kesepian.


"Selamat datang Nyonya!' sambut Darni membungkuk hormat diikuti oleh semua maid.


"Ibu," keluh Naima kelelahan.


"Aku mau makan di kamar ya nanti," pintanya lembut.


"Baik Nyonya!' sahut Darni lagi-lagi membungkuk.


Naima naik ke lantai dua di mana kamarnya berada. Ruangan itu selalu terkunci setelah dirapikan oleh para maid.


Risa menatap sinis majikan perempuannya. Gadis itu berkhayal jika dirinya adalah nyonya rumah itu.


"Arogan sekali menyuruh maid membawakan makanan ke kamar. Dikiranya gampang apa!" sungutnya salam hati.


"Jika aku ratu mansion ini. Tentu aku akan perlakuan semua maid manusiawi," lanjutnya masih mendumal dalam hati.


Darni sendiri yang mengantar makanan memakai troli. Sebuah lift khusus untuk naik ke lantai dua. Memang semewah itu hunian yang ditempati oleh Naima.


"Bu, biar aku yang antar," tawar Risa memasang senyum palsu.


"Tidak perlu Risa. Kau boleh beristirahat," tolak Darni tegas.


Risa manyun, ia kesal karena Darni memang sangat sulit untuk dirayu atau dibujuk apa lagi disogok.


"Sok akrab!" dumalnya pelan.


Pagi menjelang, Naima sudah siap usai subuh. Wanita itu menunggui para maid yang membersihkan kamarnya. Risa di sana, ia terus mencari kesempatan untuk melakukan sesuatu.


"Sudah rapi Nyonya!' ujar Leni memberitahu.


Kamar rapi, semua maid keluar kecuali Risa. Gadis itu belum mendapat apapun dari sana.


"Risa?" gadis itu tersentak.


"Ah ... maaf Nyonya. Saya kehilangan anting saya," ujar gadis itu pura-pura.


Memang anting Risa hanya sebelah. Matanya seperti menjelajah setiap sudut ruang.


"Ini anting pemberian almarhum ayah saya," jelas gadis itu sedikit terisak.


Risa tidak bohong soal itu. Memang anting itu adalah pemberian sang ayah sebelum pergi selama-lamanya. Tetapi, benda itu ada di kantung sang gadis.


Seluruh maid diminta Naima untuk mencarinya. Darni ada di sana ikut membantu.


"Tidak ketemu Risa," jawab Anik menyesal.


"Antingku ... ayah ... hiks ... hiks!"


Naima paling tidak bisa jika menyangkut orang tua. Ia ikutan sedih.


"Halo Papa!' ujarnya ketika sambungan telepon terhubung.


"Pa, aku sedikit siang datangnya. Tolong handle sebentar ya," pintanya dengan suara sedih.


Risa kesal karena rencananya gagal total. Berharap jika majikannya langsung berangkat dan meninggalkan mereka. Ternyata sang majikan malah ikut membantu mencari keberadaan perhiasan itu.


Risa menjatuhkannya perlahan. Ia membiarkan salah satu rekannya yang menemukan. Setelah lima belas menit mencari. Diah mendapat anting itu.


"Syukurlah,' ujar Naima senang ketika anting itu ketemu.


Risa juga tersenyum lega. Tak ada yang memperhatikan jika dia lah yang menjatuhkan anting itu.


Naima mengunci pintu kamar. Wanita itu berjalan terburu-buru menuruni tangga.


Tak lama kendaraan yang membawa Naima pun keluar dari halaman mansion. Risa memandanginya.


Darni menatap gadis yang seperti mengawasi sesuatu. Wanita itu sangat yakin dengan penglihatannya jika Risa yang menjatuhkan antingnya.


"Aku akan lihat. Seperti apa sepak terjangmu Risa," gumam wanita itu.


Darni pergi, sedang Risa tampak mengumpat panjang pendek karena semua rencananya gagal.


"Aku tidak mungkin menuduh wanita tua itu mencuri. Sepertinya nyonya percaya sekali dengan wanita itu!"


Risa sepertinya harus menyusun rencana lain untuk menyingkirkan Darni dari mansion.


Naima menelepon jika dirinya tak pulang. Wanita itu menginap di mansion Kakek neneknya. Ia akan pulang bersama suaminya.


'Bu, apa kita masak untuk makan malam?' tanya Anik.


"Tidak Nik. Nyonya tidak pulang malam ini," jawab Darni.


"Yah ... aku nggak makan masakan nyonya dong?' keluh Anik.


"Eh ... kok malah kamu minta nyonya masakin makanan untuk kamu?!' kekeh Darni.


Anik langsung menggelendot manja pada Darni. Ia begitu antusias jika bercerita bagaimana Naima memperlihatkan keahliannya di dapur.


"Nyonya sangat cantik Bu! Apa lagi kalau keringat menetes di pelipisnya!' seru Anik antusias.


"Pantas saja Tuan muda jatuh cinta pada Nyonya. Nyonya seperti bidadari!' lanjutnya memuji.


Risa mencebik mendengar pujian Anik pada majikan perempuannya. Walau ia akui jika Naima memang sangat cantik.


Malam menjelang, Risa berjalan perlahan. Ia mengenakan gaun dan sepatu pemberian dari nyonya rumah.


Warna biru elektrik sangat kontras di kulitnya yang sawo matang. Gadis itu. berlenggak-lenggok menyisiri setiap sudut ruang.


Menarik kursi makan di mana Naima biasa duduk. Ia mengelusnya lalu menatap pada kursi di mana Neil biasa duduk.


"Hai sayang, aku merindukanmu," ujarnya lirih.


Dalam khayalan Risa, Neil tersenyum padanya. Membelai pipinya lembut. Lalu mencium bibirnya.


"Aahh!" desahnya menikmati khayalan yang makin mesum.


Risa bangkit, ia duduk di kursi di mana Neil sering duduk. Ia mengangkat kakinya dan membuka gaun. Hingga terpampanglah apa yang mestinya tak boleh dilihat.


Risa tak memakai apapun untuk menutupi area intimnya. Gadis itu senam jari di liang yang sudah basah. Gadis itu memejamkan mata menikmati apa yang ia lakukan.


"Aarrggh!" lenguhnya ketika mencapai pelepasan.


Napasnya memburu. Tubuhnya terasa lemas setelah mendapatkan apa yang ia mau. Ia tersenyum penuh kebahagiaan.


"Terima kasih Tuan," ujarnya lirih.


Gadis itu membenahi gaunnya. Ia segera membersihan segalanya dengan santai. Sekarang pukul 01.00 dini hari. Tentu saja belum ada yang bangun.


"Nanti aku kembali lagi jika memungkinkan sayang," monolognya lirih.


Risa mencium kepala kursi di mana punggung Neil suka bersandar. Ia harus segera pergi ke kamarnya jika tak ingin Darni bangun dan mendapatkannya di sana.


Sampai kamarnya, ia melepas semua kain yang menutupi tubuhnya. Melihat di cermin besar lemari miliknya.


"Tubuhku indah ... tak kalah indah dengan milik Naima ...."


"Aku pantas untukmu Tuan," lanjutnya begitu percaya diri.


Bersambung.


Risa Stress!


next?