
"Apa?!" seru beberapa kolega termasuk Andre.
Tentu saja Naima juga tak menyangka jika dirinya akan diperkenalkan sebagai calon istri dari Rendra itu.
"Kenapa harus dia? Memang siapa Naima?" tanya ayah dari Gladys gusar.
"Aku sudah mengadopsinya di usia delapan tahun," ujar Agung. "Dan memang untuk dijadikan istri dari Rendra, cucuku!"
"Tapi kenapa harus gadis itu!" teriak Sandi tak terima.
"Ini hakku Tuan Sandi Santoso!" tekan Agung marah.
"Apa alasannya? Bukankah selama ini anda mengusung pernikahan bisnis?" tanya Andre menahan geram.
Agung hendak membuka mulut. Pria itu tentu tak akan mengatakan hal yang sesungguhnya.
"Karena aku iba padanya. Naima seorang yatim piatu akibat kesalahan putraku," jawabnya yang pasti bohong.
"Tidak masuk akal!" teriak Sandi tak percaya.
"Naima tak memiliki keuntungan bisnis sama sekali!" sengitnya lagi.
Semua mengangguk setuju. Seorang Agung tentu menginginkan keuntungan berganda dengan menikah sesama pebisnis. Naima bukan siapa-siapa, para pebisnis mulai curiga. Andre tersenyum sinis. Agung tampak bingung, ia masih diam bergeming di atas mimbar.
"Saya menolak pertunangan ini!" sahut Naima tiba-tiba.
"Harusnya begitu. Kau itu pelakor!" teriak Gladys tiba-tiba.
"Mana pantas kau menjadi seorang istri dari Lakso!" lanjutnya begitu angkuh.
"Pelakor?" bisik-bisik para pebisnis.
"Iya, dia waktu SMP satu sekolah dengan saya. Perempuan itu berani satu mobil dengan kepala sekolah! Aku yakin dia memiliki affair!" lanjutnya berapi-api.
"Dia selalu juara satu di kelas bahkan sekolah. Bagiamana mungkin ada anak yang begitu pandai jika tidak ada main dengan orang paling berpengaruh di sekolah?"
Semua mengangguk membenarkan. Andre begitu geram. Pria itu juga sudah mendapatkan bukti untuk membersihkan nama nona mudanya.
"Apa iya kau mau menikahkan cucumu dengan perempuan yang seperti itu Tuan Lakso?!' sindir Sandi.
"Itu hanya salah paham saja. Naima tidak pernah berselingkuh!' ujar Agung.
'Tidak mungkin!" seru Gladys sangat emosi.
"Siapapun Naima, aku menerimanya!' sahut Agung.
"Apa yang membuat anda bersikeras menjodohkan dengan cucumu Tuan Lakso?" tanya Andre dengan senyum sinis.
"Sudah kukatakan, karena Naima anak yang baik dan cantik. Saya merasa bersalah dengan kematian kedua orang tuanya," jawab Agung bersikukuh.
"Aku juga menolak perjodohan ini!" seru Rendra.
"Cu!"
"Opa ... cukup!" Rendra menutup matanya.
"Aku rela kehilangan semua asal tidak menikah dengan pilihanmu!" lanjutnya lalu turun dari panggung.
Naima ikut turun. Agung sendirian. Reinhart tersenyum lalu menyambut kakaknya.
"Ayo Kak. Opa tidak akan menyinggungmu jika bersamaku," ajaknya.
Rendra menyambut tangan Reinhart. Keduanya pun pergi diiringi tepuk tangan beberapa kolega. Agung malu bukan main.
Pembawa acara sedikit gugup. Asep menggiring tuan besarnya dari mimbar.
"Baiklah, kami akan melanjutkan acara yakni. Pengenalan pemimpin dari PT. N. Graha!"
Andre maju, pria itu menatap Naima yang tampak sedih di sana. Rendra sudah pergi bersama adiknya. Gladys mendekati Naima.
"Ah ... dia ditinggal!" ledek gadis itu.
"Uh ... kasihan! Dasar pelakor!" hina satu gadis lainnya.
"Saya akan memutar satu bukti jika Nona Naima bukan pelakor!" suara keras Andre di depan mik membuat semua menoleh.
Agung duduk dengan mata menerawang. Pria itu tak percaya semua rencananya hancur dalam sekejap saja.
Sebuah slide di layar menampilkan beberapa adegan. Kepala sekolah yang selalu membawa Naima dari pinggir jalan karena ditinggal oleh Rendra.
"Kepala sekolah merasa bertanggung jawab atas keselamatan salah satu murid berprestasi dan kalian menyalahkan murid?" Andre berdesis.
Semua diam, Gladys menunduk karena kini semua mata memandangi dirinya.
"Naima sudah berprestasi semenjak sekolah dasar. Bahkan ketika masuk SMP banyak sekolah menginginkan Nona Naima sebagai murid mereka!" jelas Andre lagi.
Banyak mata mulai memandang Naima. Beberapa pebisnis mulai membicarakan gadis itu.
"Tuan Andre Hendrawan, untuk apa anda repot-repot membersihkan nama anak ini. Toh, dia bukan siapa-siapamu!" kekeh Sandi hambar.
"Justru itu. Saya perlu membersihkan Nona Naima," ujar Andre lagi.
"Nona, maukah anda naik ke atas mimbar lagi!' pintanya.
Naima sedikit bingung. Tetapi gadis itu naik juga ke atas mimbar. Andre menarik lengannya lembut dan merangkul pundaknya.
"Saya perkenalkan pemilik dari PT N. Graha sebenarnya!" ujar pria itu.
Kehebohan terjadi, semua saling bisik. Agung membola, ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Tuan Hendrawan ... jangan bercanda!" teriak salah satu kolega.
"Tidak, ini benar. Pemilik dari PT N. Graha adalah milik dari Nona Naima Az-zahra Hartono!"
"Apa! Itu tidak mungkin!" teriak beberapa kolega.
Sandi menelan saliva kasar. Ia menatap nyalang pada putrinya. Baru saja ia menggali kuburannya sendiri.
"Tuan?" Naima setengah tak percaya.
"Nona, maafkan kami. Anda adalah pewaris tunggal yang selama ini hilang. Kau adalah keturunan satu-satunya milik Tuan Danar Hartono," jawab Andre dengan mata berkaca-kaca.
Semua kalangan pebisnis mulai ribut. Mereka memberondong pertanyaan pada Agung. Asep meminta beberapa pengawal untuk mengungsikan tuannya. Mereka pergi dari tempat itu dengan pengawalan ketat.
Naima kini berada di sebuah mobil mewah. Gadis itu masih tak percaya jika kendaraan ini adalah miliknya.
"Nona, sebelum anda memulai semuanya. Apa yang ingin anda lakukan?" tanya Andre memegang kemudi.
"Aku ingin membawa Mbok Darni pergi dari rumah itu!' jawab Naima pasti.
Andre mengangguk, ia tersenyum puas mendengar perkataan dari nona mudanya. Pria itu melajukan mobilnya, ia yakin jika Agung belum sampai mansionnya.
Darni terkejut ketika Naima menjemputnya. Wanita itu dibawa begitu saja tanpa membawa satu baju pun. Gadis itu melirik paviliun di mana semua perabotan orang tuanya di tempatkan.
"Aku akan ambil sesuatu dulu!"
Naima berlari ke kamarnya yang kecil. Gadis itu mengambil satu pigura di mana ia bersama kedua orang tuanya tertawa bahagia.
Setelah yakin dengan apa yang ia ambil. Naima pun kembali ke mobil. Andre menjalankan kendaraan itu.
Mansion Agung benar-benar sepi. Rupanya, Reinhart benar-benar menepati janjinya mengambil sang nenek untuk tinggal bersamanya.
Malam telah larut. Agung sampai rumah dalam keadaan lunglai. Pria itu mendapat hunian itu sepi.
"Sofia!" teriaknya memanggil.
Tak ada sahutan. Benar-benar sepi seperti kuburan. Agung menaiki tangga. Kamarnya pun kosong, ia bergegas ke lemari pakaian.
"Aarrggh!" teriaknya.
Sopran mendengar teriakan tuan besarnya. Pria itu berlari mendatangi asal suara.
"Tuan!" serunya ketika melihat Agung terkapar di lantai.
"Tuan ... Tuan,"
Sopran membantu Agung menuju tempat tidur. Pria itu membantu membuka jas dan kancing serta ikatan gesper.
"Sofia ...."
"Tuan ... Nyonya tadi pergi dijemput oleh Tuan muda Reinhart," jawab Sopran sedih.
Sementara di hunian lain. Sofia menatap jendela, wanita itu begitu gelisah. Berkali-kali menghapus air matanya.
"Oma," panggilan lembut Reinhart.
Wanita itu menoleh, sang pemuda mendekati. Sofia memeluk cucu yang juga tak pernah ia anggap.
"Oma tidak bisa meninggalkan Opa, sayang ... tidak bisa," geleng wanita itu.
"Oma ...."
"Katakanlah Oma bodoh. Tapi, memang Oma sangat mencintai Opa sayang," aku wanita itu tergugu.
Bersambung.
Nah ... bersiap dengan kehancuran Agung Lakso.
Next?