
Pagi menjelang, Naima sangat terkejut ketika ada tangan yang melingkar di pinggangnya. Ia hampir saja menendang suami dari tempat tidur jika saja tak melihat cincin kawin yang melingkar di jari manisnya.
"Astaga ... aku sudah jadi istri!" serunya dalam hati.
"Sayang ... kau sudah bangun?" sebuah suara serak terdengar.
Blush! Pipi Naima merona. Ia mengingat kejadian semalam bagaimana sebuah kejadian nyaris terjadi. Neil mendesah kecewa setelah mendapatkan sumpalan di bawah Naima.
"Sayang?"
"Maaf," cicit Naima merasa bersalah.
Neil menatap pelupuk mata istrinya yang menggenang. Ia mengecup mesra kening istrinya.
"Tidak masalah sayang," ujar pria itu mengerti.
Naima menyembunyikan wajahnya di dada sang suami. Ia begitu malu dan merasa bersalah.
"Sudah tidak apa-apa. Nanti kita lanjutkan setelah selesai," ujar pria itu lalu kembali merengkuh dalam-dalam tubuh istrinya.
"Sayang?" Neil membuyarkan lamunan Naima.
"Ah, iya ... kamu mau sarapan Mas?"
Neil menarik tubuh istrinya. Dua netra berbeda saling pandang. Tubuh Naima ada di atas tubuh suaminya. Detak jantung keduanya begitu keras terdengar.
"Kiss!" pinta pria itu memancungkan bibinya.
Naima malu, tetapi ia mengecup dengan pucuk bibirnya. Hal itu membuat Neil gemas lalu menekan tengkuk sang istri agar bisa memagut bibir manis wanita halalnya itu.
Keduanya berhenti berciuman ketika ada panggilan telepon di ponselnya Neil.
"Mama?" tanyanya.
Ia tak melepas pelukannya. Naima seperti betah di atas tubuh sang suami.
"Halo," sahut Neil mengangkat telepon dengan mengaktifkan pengeras suara..
"Kalian tidak sarapan! Ini sudah jam berapa! Jangan kau sekap istrimu!'
Sebuah teriakan seorang wanita terdengar kesal. Neil tentu tau siapa penelpon itu.
"Mama, kami pengantin baru. Tentu sedang asyik-asyiknya di kamar pengantin!" sahut Neil menggoda ibunya.
"Anak sialan. Istrimu tengah datang bulan. Jangan kau apa-apa kan dia!" teriak Jeane lagi.
Neil menatap istrinya. Naima merona. Rupanya sang istri memberitahu jika ia sendang datang bulan pada ibunya. Tetapi, Naima tidak mengatakan padanya.
"Mama tau ... kok aku?"
"Mana bisa dia memberitahumu. Kau pasti tidak akan mendengarkannya!" sahut Jeane lagi-lagi berteriak.
Sambungan telepon mati. Neil segera melepas pelukannya. Ia sangat tahu ibunya. Ia meminta sang istri segera bangun.
"Ayo kita cepat turun. Sebelum Mama mengamuk!"
Neil menggandeng istrinya. Keduanya tidak mandi dan hanya pakai baju tidur. Naima memakai lingerie.
"Mas ... aku telanjang!" pekik wanita yang jadi istri itu lalu melepaskan diri dari gandengan suaminya.
Naima berlari ke kamar lagi, Neil memilih langsung ke meja makan. Pria itu duduk, salah satu pelayan meliriknya.
"Selamat pagi Tuan, anda sarapan apa biar saya ambilkan," tawarnya lembut.
Sang maid melihat sebuah senyum indah terpatri. Netra kelembutan dipancarkan dari majikannya.
"Terima kasih, biar istriku yang melayani. Kau kembalilah ke dapur!" perintah Neil.
"Jauhkan tanganmu dari situ Maid!' sebuah suara membuat semua membungkuk hormat.
Naima turun, ia melihat suaminya hendak disentuh wanita lain. Tentu saja ia tak rela.
"No ... nona,"
"Panggil istriku Nyonya Gutama, Ris!" tekan Neil mendesis.
"Nyonya," ralat Risa lalu membungkuk. Ia mundur teratur.
"Pergi ke dapur kalian. Aku panggil setelah kami selesai!' titah Naima tegas.
Delapan maid dengan seragam hitam dan putih berjalan mundur hingga tiga langkah. Mereka semua pergi ke dapur dan menunggu hingga selesai.
"Sayang ... kau keren sekali!' puji Neil lalu menarik lengan sang istri hingga jatuh ke pangkuannya.
"Suapin," rengeknya.
Naima mengoles mentega di roti tawar lalu memberi toping meses. Neil pecinta coklat.
Naima juga makan dengan menu yang sama dengan suaminya. Tak lama Jeane datang bersama suaminya. Charles memang tak bisa apa-apa jika istrinya berkehendak.
"Pagi Ma!" sapa Naima ketika melihat mertuanya masuk.
"Pagi, Mama kira kalian masih di tempat tidur!" ujar wanita itu pasang muka cemberut.
"Ma, ayo pulang. Mereka tidak apa-apa. Lagi pula, kenapa sih Mama bersikeras datang!" sungut Charles.
"Tadi Mama pergi sendiri kenapa Daddy juga ingin ikut?" tanya Jeane meledek sang suami.
"Ya ... karena aku menjagamu!" jawab Charles seadanya.
"Heleh ... mana aku percaya!" sungut Jeane sebal.
"Bilang saja kau juga kepo kan?" lanjutnya menuduh.
"Aku tidak ...."
"Aku itu sudah hidup denganmu selama empat puluh tahun lebih loh!" sahut Jeane meledek lagi. "Jadi aku tau semua kebiasaanmu!"
Charles tak bisa mengelak. Pria itu memang penasaran dengan kehidupan baru rumah tangga putranya. Ia tak menyangka jika Naima tak keramas setelah malam pertama.
Sedang Naima dan Neil hanya jadi penonton kedua orang tuanya yang seperti Tom dan Jerry itu.
Akhirnya Charles berhasil membawa istrinya pulang. Tadi Jeane beralasan ingin makan masakan menantunya. Tetapi Charles bisa membujuk jika ia hanya ingin berdua saja dengan sang istri.
"Kau ingin makan siang apa sayang?" tanya Naima.
"Kau bisa masak?" tanya Neil menyepelekan sang istri.
Naima berdecak, gadis itu tentu bisa masak walau tak sekali profesional.
"Ya sudah! Aku masak untukku sendiri. Kau pesan saja!" sahut gadis itu merengut.
Naima bangkit dari duduk sang suami. Ia merasa harus membersihkan diri.
"Sayang!"
"Aku mau mandi!" rengek Naima. "Udah penuh nih!"
"Ayo!" keduanya naik ke atas kembali.
bersambung.
next?