NAIMA

NAIMA
RUTINITAS



Naima memasak sarapan di kitchen yatch yang mereka tumpangi. Pipinya bersemu merah karena begitu bahagia.


Wanita itu sudah merasakan bagaimana nikmat bercinta. Neil begitu lembut dan penuh kasih sayang ketika menyentuhnya. Naima merasa tersanjung akan perlakuan Neil ketika di atas ranjang.


"Selamat pagi sayang," sapa pria itu.


Neil baru saja membersihkan diri. Naima sudah melakukannya dari sebelum subuh. Sebenarnya Neil juga sudah tetapi pria itu kembali berkeringat karena tubuh istrinya sangat menggiurkan.


'Mandilah sayang," suruh Neil.


Naima mengangguk, pipinya yang kemerahan membuat Neil gemas dan menciuminya lagi.


"Sayang," rengek Naima manja.


"Mandilah sebelum aku menerkam mu lagi!' suruh pria itu lalu menepuk bokong istrinya.


Naima menurut, ia pun membersihkan tubuhnya. Selesai mengeringkan rambut menggunakan hairdryer dan berpakaian rapi. Naima ke ruang makan. Di sana Neil menambahkan masakan pasta untuk mereka berdua.


"Ayo makan sayang!' ajak Neil.


Naima duduk setelah Neil menyorongkan kursinya. Wanita itu berterima kasih. Usai makan Neil mencuci piring. Tak ada istilah gengsi. Jeane memang mengajari putranya sangat baik.


"Mestinya aku yang cuci piring sayang," ujar Naima malu.


"Tidak masalah sayang. Papa Andre juga sering melakukan hal yang sama pada Mama Fidya kan?' Naima mengangguk membenarkan.


Setelah semua beres. Neil kembali kekemudi yatch pribadinya. Menaikan jangkar, ia harus pulang. Besok pagi Naima harus bekerja jadi ia harus mengantarkan istrinya.


"Besok aku keluar kota sayang selama dua hari," ujar Neil.


"Kemana?' tanya Naima.


'Ke kota S. Ada pertemuan semua kolega bisnis dan beberapa proyek yang berjalan," jawab Neil.


'Oke," sahut Naima mengerti.


'Kemarilah sayang," pinta Neil.


Naima mendekat, Neil merengkuh pinggang istrinya. Naima memegang kemudi kapal perlahan pria itu mengarahkan tangan istrinya. Butuh satu jam untuk sampai di dermaga.


Mereka pun turun, hanya butuh berjalan kaki menuju tempat parkir di mana mobilnya berada.


Kendaraan mewah itu meninggalkan tempat yang sangat ketat dijaga.


Kendaraan itu sampai di mansion besar milik Neil. Keduanya turun sambil bergandengan. Sepasang mata menatap keduanya dengan senyum sinis terutama pada Naima.


"Ck ... darimana saja sih mereka?' tanyanya mendumal.


"Selamat datang Tuan, Nyonya!' sambut Darni membungkuk hormat bersama beberapa maid.


"Terima kasih Ibu," sahut Naima.


Wanita itu langsung memeluk Darni. Wanita itu membalas pelukan nona mudanya.


"Bu, aku bawa oleh-oleh," ujar Naima lalu memberi kalung dengan mata mutiara cantik.


Naima memakaikan di leher Darni. Pakaian kotor sudah dibawa oleh para maid. Neil membawa istri dan Darni ke atas.


Risa menatap beberapa rekannya yang mengeluarkan pakaian kotor milik majikannya.


"Ck ... ngapain aja sih mereka? Sampai sebanyak ini!' dumalnya kesal.


"Pakaianmu jauh lebih banyak dari ini Ris!' sahut salah satu rekannya meledek.


"Iya, kau suka sekali berganti pakaian padahal di sini kita semua memakai seragam!" sahut lainnya lagi.


Risa tak peduli. Gadis itu sudah berkhayal tinggi ketika mulai bekerja di mansion mewah ini. Neil yang sangat tampan tentu membuat kaum hawa tergila-gila termasuk dirinya.


"Jangan sampai kelakuanmu membuat kami semua kehilangan pekerjaan Risa!' tekan Anik emosi.


"Heh gendut!' hina Risa.


"Apa cacingan!' sentak Anik berani.


"Kupatahkan semua tulang dan kuku panjangmu. Baru kau tau rasa!' ancam Anik yang memang tubuhnya jauh lebih besar dibanding semua rekannya.


"Babu aja belagu kamu!' sindir Risa tak tau diri.


"Lah emang Lu bukan babu gitu?" ledek Anik mencibir.


"Hei ada apa ini!' sebuah suara membuat semua bubar.


Risa melirik Darni. Perempuan tua yang tak bisa ia gertak sama sekali. Bahkan Neil memberi mandat semua perintah Darni adalah mutlak perintahnya.


"Kenapa kalian bergosip. Ini sudah waktunya makan siang!" lanjut wanita itu mulai naik nadanya.


Semua bergerak, Risa pun sigap. Ia ingin memasak enak siang ini agar tuannya memuji. Gadis itu sudah menanyakan pada maid rumah besar, masakan kesukaan Neil.


"Tuan ... kau pasti suka," gumamnya tersenyum.


'Sial!" umpatnya kesal sambil melirik nyonya rumah yang memasak.


Bau harum menguar. Anik sangat antusias melihat masakan majikan perempuannya. Gadis itu mengambil mangkuk dan piring pada Naima.


"Ini Nyonya," ujarnya.


"Terima kasih Anik," sahut Naima tersenyum ramah.


Masakan sudah terhidang. Bau yang enak tentu membuat semua berselera makan. Naima memisahkan makanan untuknya dan juga untuk para pekerja di rumah.


Neil turun dengan kaos rumahan. Pria itu makin tampan dengan celana kulot selututnya. Risa menatap pria itu dengan penuh pemujaan. Sayang tatapan Risa tak akan sampai karena Anik menutup pandangan gadis itu.


"Ck minggir!" sentaknya.


Semua tentu menoleh pada Risa termasuk Naima. Gadis itu mengumpat dalam hati.


"Apa yang minggir Risa?" tanya Naima dengan pandangan tajam.


"Tidak Nyonya ... hanya saja Anik menginjak kaki saya,' jawabnya mengadu yang tentu saja bohong.


'Aku tidak ...."


"Kenapa malah kalian ribut?" potong Darni cepat.


"Dan kenapa malah kalian masih di sini?" lanjutnya.


Semua tentu ingat perintah dari majikan perempuannya. Mereka harus kembali ke dapur hingga makan siang selesai.


"Ayo sini Bu," ajak Naima pada Darni ke kursi makan.


Perempuan paru baya itu duduk di sisi nona mudanya. Naima melayani sang suami makan. Darni memilih menuang nasi sendiri ke piringnya.


"Ini enak sekali sayang!" puji Neil.


"Masakanmu lebih enak sayang," sahut Naima balas memuji.


Makan siang pun selesai. Neil membawa istrinya ke peraduan mereka yang hangat.


"Kami tidak makan malam di rumah Darni. Kami akan keluar sore ini," ujar Neil sebelum naik ke lantai dua.


"Baik Tuan," sahut Darni membungkuk hormat.


Semua maid bergerak membersihkan meja. Risa tampak bersungut-sungut pelan ketika mengerjakan pekerjaannya itu.


Sore menjelang sepasang pengantin baru itu pun pergi dengan membawa beberapa paper bag. Kepergian mereka dipandangi sepasang mata sinis di lantai dua.


"Kau beruntung kali ini Nyonya ...," gumamnya bermonolog.


"Aku pastikan ... kau akan tersingkir ... semua novel menjadikan maid sebagai peran utama. Jadi aku lah yang pantas di sini!' lanjutnya begitu percaya diri.


Mobil mewah itu sampai di sebuah mansion besar milik keluarga Gutama. Naima turun bersama suaminya.


"Sore Ma, Dad!' Naima memberi salam ketika masuk mansion.


"Sore sayang!' sambut Jeane senang.


Naima menyerahkan buah tangan pada sang ibu mertua. Setelah satu minggu lebih pernikahan. Ini adalah kali pertama Naima mendatangi kediaman mertuanya.


"Jangan repot-repot sayang," ujar Jeane ketika menerima paper bag dengan nama sebuah butik ternama.


"Lihat Dad, Apa yang dibawa menantumu," ujar Jeane ketika mengeluarkan isi paper bag.


"Wah kemeja ini sudah lama aku impikan!" seru Charles senang ketika melihat pemberian menantu cantiknya.


"Thanks sayang," lanjutnya lalu memberi kecupan pada Naima.


"Anytime Dad," ujar Naima tersenyum.


Jeane juga senang dengan mini dress pemberian sang menantu.


"Jadi bagaimana?" bisik Charles pada putranya.


"Apa?" Neil malah balik bertanya.


"Ck ... kau sudah bercocok tanam?" tanya Charles lagi.


"Sejak kapan aku beralih profesi Dad?" tanya Neil bingung.


Charles berdecak, ia menatap tak percaya putranya yang tak tau maksud pertanyaannya. Neil tersenyum penuh arti.


"Enak Daddy," bisiknya terkekeh.


bersambung.


Mereka ngobrol apa? Othor masih polos nih 🤭