NAIMA

NAIMA
JODOH MASA KECIL



Finanisha kembali mendatangi perusahaan milik Neil. Gadis itu telah merevisi proposalnya. Ia mengikuti saran dari Didi, soal menyoroti keuntungan di jangka panjangnya.


Setelah mendapat temu janji di kantor pria tampan itu. Finanisha memakai setelan terbaiknya. Gadis itu memakai busana formal dengan rok span pendek di atas dengkulnya.


Kakinya yang jenjang ia tutupi dengan stoking senada dengan kulitnya yang putih bersih. Ia sangat cantik dan begitu berkelas.


Sepatu Stiletto miliknya menghentak lantai marmer perusahaan paling terkenal di asia saat ini. Bahkan perusahaan Neil menembus pasar global.


"Bisakah aku memakai lift khusus itu?" tunjuknya pada sebuah lift.


"Maaf Nona, lift itu hanya digunakan untuk petinggi perusahaan. Tuan Gutama, Tuan Prakasa dan Tuan Suherman yang bisa mengakses benda itu!" jawab resepsionis.


"Tapi kemarin ada wanita yang bisa mengaksesnya?" sahut Finanisha yang masih memperhatikan kejadian beberapa hari lalu.


"Oh itu adalah nyonya Gutama, istri dari tuan Gutama!" jawab resepsionis lagi.


Finanisha terdiam, ia tak menyangka jika pria yang ia incar sudah memiliki seorang istri.


"Istri tuan Gutama?"


"Benar Nona, nyonya Naima Hartono adalah istri dari tuan Neil!' jawab resepsionis sabar.


Finanisha mengangguk tanda mengerti. Gadis itu masuk bersama dua ajudannya. Di dalam lift ia menyemprotkan parfum mahal channel 104.


Seketika ruangan segiempat itu wangi, padahal Finanisha hanya menyemprotkan sedikit di pergelangan lengannya.


Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai pada lantai tertinggi. Gadis itu sangat percaya diri jika dirinya ditunggu oleh Neil.


Fina mengeluarkan cermin kecil dari tas limited edition LV miliknya. Ia merapikan sedikit riapan poninya. Ia sengaja menyepol rambutnya ke atas dan membuat lehernya yang jenjang begitu seksi.


"Silahkan Nona!' resepsionis membuka pintu ruangan.


Di sana banyak kepala divisi. Gadis itu diminta duduk di deretan paling depan. Dua ajudannya memberikan lembaran proposal yang telah dikopi di atas meja para petinggi divisi.


Tak lama Dion datang bersama Didi. Fina tak melihat Neil ada di sana ia cukup tersinggung.


"Mana Tuan Gutama. Mestinya beliau hadir di sini!" protesnya gusar.


"Saya mewakili Nona. Tuan Gutama ada keperluan mendadak!' jawab Dion datar.


"Ini benar-benar tidak profesional!" tegur Fina begitu berani.


"Mestinya Tuan Gutama memilih mengesampingkan urusan apapun dibanding kerjasama ini!" lanjutnya.


Dion tentu sangat marah dengan perkataan wanita yang begitu sok penting itu. Jika bukan untuk menghargai pemilik asli perusahaan Finesher, Tuan Buditama. Mungkin Dion akan mencoret lebih awal perusahaan baru tersebut.


"Silahkan anda merinci apa kerjasama anda Nona!' perintah Dion.


"Saya tidak akan melakukan hal itu sebelum pemilik dari perusahaan ini hadir!' ujar Fina bersikeras.


Beberapa petinggi divisi tentu marah akan sikap gadis itu. Dion merasa Fina tak sadar jika perusahaannya sangat membutuhkan suntikan investor dari perusahaannya.


"Nona, jika anda tau, saya adalah Vice CEO di perusahaan ini. saham saya sebesar 30%!" tekan pria itu dingin.


Fina terdiam. Ia tak menyangka jika Dion salah satu orang terpenting di perusahaan besar ini.


"Tapi saya ingin pemilik dari perusahaan ini juga hadir!" pinta gadis itu bersikeras.


"Silahkan keluar Nona Buditama!" usir Dion mulai emosi.


"Anda tidak berhak!' sentak Fina menentang.


"Nona, silahkan keluar dan cari perusahaan lain saja. Kami juga merasa anda tidak menghargai kami di sini!" salah satu petinggi mulai ikut bersuara.


"Saya ...."


"Nona Buditama!" bentak Dion lagi.


Didi menenangkan pria itu. Jika ditelusuri, Dion lebih sadis dibanding atasan sekaligus sahabatnya Neil.


"Sebelum saya black list anda!" ancam pria itu lagi.


"Nona ... keluarlah sebelum perusahaan anda ditutup oleh pihak asosiasi!' pinta salah satu kepala divisi lagi.


Dua ajudan Fina mengajak atasannya. Dua gadis itu ketakutan karena suasana ruangan itu mendadak mencekam.


Fina keluar dengan kepala tertunduk. Proposalnya ditolak mentah-mentah oleh Vice CEO perusahaan besar itu.


"Nona, selanjutnya bagaimana?' tanya sang asisten.


"Kita ke mansion Tuan Gutama!' ajaknya.


"Aku akan meneleponnya secara pribadi!' ujar Fina.


Gadis itu mengambil benda pipih yang lain. Nomor Neil ada di list nomor satu dengan emoticon hati di sana.


"Kau harus mengingat jodoh masa kecilmu ... Tuan Gutama!" monolognya.


Sementara di tempat lain. Neil sengaja cuti untuk menemani istrinya cek up bulanan. Ia akan pergi ke dokter kandungan sore nanti. Kini ia berada di mansion pribadinya.


"Sayang, apa yang telah kau siapkan? Kita perlu USG?" tanya pria itu.


"Tidak ada, kecuali ...."


Naima menghentikan perkataannya. Mukanya memerah karena malu luar biasa.


"Hei ... ada apa dengan wajahmu?" tanya pria itu curiga.


"Tidak ada!' jawab Naima tegas.


"Jangan bohong sayang ... ayo bilang!" paksa Neil.


Pria itu mulai menggelitik istrinya. Naima memang tak tahan geli. Wanita itu memekik perlahan dan tertawa.


"Mas ... perutku kram!" keluhnya kemudian.


"Ah ... maaf sayang!'


Neil menghentikan aksinya. Ia mengelus perut sang istri dengan penuh kasih sayang. Terkadang ia mengecupnya.


"Sayang," panggilnya.


"Hmmm?!' sahut Naima.


'Boleh kan aku ingin anak banyak?" pinta pria itu.


Belum Naima menjawab, deringan nada ponsel yang berbeda terdengar. Naima mengerutkan keningnya.


"Apa itu?"


Neil yang lupa juga bingung. Ia merasa tak pernah menggunakan nada itu sebagai bunyi dering ponselnya.


Neil tambah mengerutkan kening dengan nama di layar. Naima begitu penasaran, ia coba mengintip. Sungguh wanita itu tak pernah memeriksa ponsel sang suami.


"Siapa?"


"Entah?!' jawab Neil memilih menolak panggilan dan langsung memblokirnya.


"Kok nggak dijawab, siapa tau itu penting! Nadanya spesial gitu!' sahut Naima cemburu.


Neil tersenyum, ia mencium pucuk hidung istrinya. Pria itu benar-benar lupa sosok Finanisha, gadis kecil yang dijodohkan padanya.


Sedang di tempat lain. Fina sangat marah luar biasa. Ia sangat yakin jika Neil tak melupakannya. Terbukti nomornya masih bisa dihubungi walau telah sebelas tahun berlalu. Ibu dari pria itu yang memberikan nomor Neil.


"Sialan kau Neil!" umpatnya kesal.


"Kita jadi ke hunian Tuan Gutama Nona?'


"Tentu saja. Aku akan menuntut Nyonya Jeane Gutama untuk meneruskan perjodohan!" ujarnya kesal.


Mobil mewah itu bergerak. Butuh waktu setengah jam untuk sampai mansion besar nan mewah itu. Dulu, dia sering main bersama Neil ketika kecil hingga remaja.


Neil suka menggendongnya dan memperlakukannya dengan manis. Para orang tua setuju dengan kedekatan keduanya. Bahkan Charles yang lebih dulu melontarkan perjodohan itu.


"Dengan siapa?" tanya penjaga hunian besar itu.


"Katakan Nona Buditama datang berkunjung!" jawab asisten lalu menyerahkan id cardnya.


Tak lama, gerbang terbuka. Mobil itu bergerak perlahan. Di dalam mansion sepasang suami istri baru teringat sebuah kejadian yang sudah lama sekali.


"Bagaimana?" tanya wanita itu gusar.


"Putra kita sudah menikah. Salah sendiri, mereka tak ada kabar selama sebelas tahun. Jadi aku mengira jika perjodohan itu sudah tidak ada lagi," jawab Charles gusar.


bersambung.


eh ... gimana nih?


next?