NAIMA

NAIMA
THE CEO



Naima berjalan dengan begitu anggun memasuki sebuah gedung bertingkat. Di sana berjejer ribuan karyawan yang bergantung nasib di perusahaan milik sang kakek.


"Perkenalkan ini adalah CEO baru kalian. Nona Naima Hartono!" seru kepala divisi HRD.


"Selamat datang Nona!" seru semua karyawan membungkuk hormat.


Hari memang masih pagi, tapi matahari sangat terik. Banyak karyawan berpeluh karena cuaca memang sangat panas.


"Terima kasih semuanya. Saya mohon kerjasama agar perusahaan ini makin maju ke depannya!" seru Naima mengangguk kepala membalas hormat para karyawan.


"Kalian boleh kembali ke divisi pekerjaan kalian masing-masing!" perintah gadis itu.


"Terima kasih Nona!" seru semua karyawan senang bukan main.


Seluruh karyawan pun membubarkan diri, begitu juga Naima. Banyak pekerjaan menunggu. Naima bukan orang yang haus akan pujian atau arogan dan membuat semua karyawan harus berpanas-panasan.


"Nona ini adalah Dzikra dan Adinda asisten dan juga sekretaris utama anda!" ujar Andre memperkenalkan laki-laki dan perempuan yang akan menjadi bawahannya.


"Oke, kalian tau jobdesk kalian. Jadi saya tidak suka mengulang perintah!" ujar Naima begitu tegas.


"Baik Nona!" sahut sepasang manusia itu membungkuk hormat.


"Untuk kepemimpinan PT N. Graha akan langsung marger ke perusahaan yang anda pimpin Nona!" lapor Andre.


"Baik Tuan!" angguk Naima.


"Tuan?" Andre mengernyitkan keningnya.


"Ah ... Kak!" Naima tersenyum menggoda bawahan kakeknya itu.


Baik Dzikra dan Adinda melihat keakraban keduanya. Usia Naima separuh lebih muda dari Andre. Pria matang yang belum menikah akibat tugas yang dipikulnya.


"Tapi Kakak seumuran ayahku. Apa Kakak aku panggil Papa aja ya?" kerling Naima usil.


"Nona ...."


"Iya Papa saja deh!" putus Naima merasa Andre memang seperti ayahnya yang tegas dan tak bisa dibantah.


"Nona, rapat divisi akan dimulai satu jam mendatang!" ujar Adinda ketika melihat benda penunjuk waktu yang melingkar di lengan kirinya.


"Baik, siapkan semua!" angguk Naima.


Andre hanya bisa menghela napas panjang. Detak jantung pria itu sudah tak beraturan ketika malam ia menggendong nona mudanya. Andre sulit tidur karena perasaannya yang berubah terhadap gadis cantik itu.


'Dia menganggapku Papanya?' sungguh hati Andre sedih mendengar hal itu.


Tetapi, usianya memang sepantaran dengan mendiang Deon Hartono. Ayah dari Naima, gadis yang berhasil merombak hatinya.


"Nona Naima! Selamat datang!" seru para kepala divisi PT Hart. Corp.


Rapat dimulai. Beberapa rancangan yang dipaparkan oleh semua kepala divisi sebagian ditolak oleh Naima sebagian direvisi dan sebagian masih diperiksa ulang. Naima harus benar-benar jeli.


"Tuan Sardi, saya ingin laporan per triwulan pekerjaan yang anda jabarkan ini!" pinta Naima ketika mendapat satu laporan di divisi pengembangan produksi.


"Baik Nona!" seru Sardi.


"Baik, saya rasa cukup sekian. Yang ditolak, coba perbaiki lagi dan cermat lagi sasarannya. Sedang yang harus direvisi, coba perbaiki lampiran kalian!" jelas Naima lagi.


Semua membungkuk hormat. Tak ada tekanan atau marah-marah seperti bayangan mereka.


"Saya minta hari ini juga selesai!" lanjut Naima tegas.


Helaan napas besar terdengar. Naima melirik tajam semua pria di sana. Gadis itu segera membaca mana yang benar-benar bekerja dan mana yang hanya mengandalkan laporan saja tanpa terjun di dalam prosesnya.


"Nona, ada pertemuan dengan perusahaan milik Tuan Pratama di restoran x setengah jam lagi!" ujar Adinda lagi.


Naima mengangguk, sedikit menghela napas. Hari ini jadwal gadis itu padat sekali. Andre iba melihat raut lelah sang gadis.


Ada empat pertemuan di empat tempat yang berbeda dan harus didatangi oleh Naima. Gadis itu sepertinya akan membuat aturan tegas jika ingin melakukan pertemuan di satu tempat yang sama.


"Adinda, ubah semua jam dan tempat di satu titik untuk semua pertemuan ke depannya!" perintah gadis itu tegas.


"Maaf Nona. Jika kita lakukan itu, maka proyek susah untuk dilobi!" terang Adinda.


"Bukankah mereka yang butuh kita?" tanya Naima datar.


"Besok ubah semuanya!" perintah Naima tegas.


"Jika ingin kerjasama dengan perusahaan kita. Maka mereka harus tunduk dengan aturan kita!" sambung gadis itu tak mau kompromi.


"Baik Nona!" sahut Adinda.


"Dari semua restoran yang kita kunjungi tadi. Mana yang jadi rekomendasi untuk pertemuan selanjutnya Nona?" tanya Dzikra.


"Jujur, keempatnya tidak ada yang enak makanannya. Bahkan porsinya sangat sedikit," keluh Naima.


Semua mengangguk setuju. Tetapi empat tempat itu sangat terkenal dan mewah. Orang datang ke sana hanya untuk gengsi.


"Pelayanannya pun hanya basa-basi," keluh Naima lagi.


Lagi-lagi, semua mengangguk setuju. Naima masih diam untuk berpikir. Ia belum bisa memutuskan.


"Begini saja. Kita ambil restoran yang diinginkan oleh kolega pertama. Jadi jika ada yang ingin melakukan kerjasama. Maka tarik semua di tempat yang sama jadi kita menghemat waktu dan budget!" ujar Naima.


"Lakukan kerjasama pada pihak restoran yang akan dijadikan tempat pertemuan satu hari sebelumnya!' sebuah ide terlintas di otak Naima.


"Ide yang bagus Nona!" puji Andre.


"Atau kita ciptakan kantin perusahaan sebagai pusat pertemuan?" celetuk Dzikra.


"Kantin tidak menjual menu internasional Dzik!" sahut Adinda malas.


"Kita bisa buat itu," sahut Naima tercerahkan.


"Kita bisa memanjakan lidah karyawan dengan hidangan enak ala restoran bintang lima dengan harga terjangkau," lanjutnya antusias.


"Tolong kau katakan pada bagian divisi logistik karyawan. Tambah menu baru ala internasional di kantin, Dzikra!" perintah Naima senang.


"Baik Nona!" sahut pemuda itu tersenyum bahagia.


Dzikra menyetir dan Andre duduk di sisinya. Naima duduk bersama Adinda.


Malam telah larut. tujuh orang turun dari mobil yang berbeda. Pratma membantu ayahnya turun dan duduk di kursi roda.


Pria itu dinyatakan sehat. Kesehatan pria itu tak berimbas apapun. Biasanya, keadaan orang yang memiliki pengaruh pada dunia bisnis akan mempengaruhi naik turunnya saham. Tetapi semenjak gebrakan yang Naima buat. Hal itu tidak lagi terjadi.


"Istirahat lah Pa," ujar Pratma.


Pria itu sudah berada di kamarnya. Agung mengangguk dan mengucap terima kasih. Semua memilih menginap di mansion itu.


Agung menunggu istrinya, tetapi Sofia tak kunjung masuk ke kamar. Pria itu gelisah. Pikiran buruk melintas, Sofia akan meninggalkannya sendirian setelah semua terbongkar nantinya.


"Sofia!" panggilnya dengan suara sedikit keras.


Agung menekan bel interkom di atas nakas. Tak lama Pratma kembali masuk dengan wajah mengantuk.


"Mana ibumu?" tanya Agung gusar.


"Mama?" Pratma mengernyitkan keningnya.


Pria itu juga tak mendapat ibunya berada di sisi sang ayah.


"Coba aku cari di kamar lain ya Pa," ujarnya lalu pergi dari kamar.


Tak lama Sofia masuk dengan jubah tidur. Bibirnya memberengut kesal.


"Apa Mas?" tanyanya sebal.


"Kau tidur di mana? Selama ini kau tidak pernah meninggalkan kamar ini?" tanya Agung..


"Aku hanya membiasakan diri ...," jawaban Sofia yang tenang membuat Agung terdiam.


Deg! Sakit dan nyeri. Itu yang Agung rasakan saat ini.


Bersambung.


Udah ... Gung ... terima aja, kamu emang nggak pantas untuk dicintai.


Next!