
Pagi menjelang. Perusahaan milik Agung kini di demo banyak karyawannya. Mereka ketakutan jika perusahaan itu tidak mampu membayar upah mereka. Reinhart menjamin pada semua karyawan jika perusahaan tidak akan mengabaikan kewajibannya.
“Saya yang menjadi penjamin perusahaan, untuk membayar gaji kalian!”
“Tapi mohon maaf, kami juga akan mengurangi seperempat pegawai karena memang keadaan finansial keuangan perusahaan!” lanjutnya yang membuat semua pendemo terdiam.
“Tuh kan ... coba kita diam aja ...!” keluh salah satu pegawai.
“Ya, kan saya hanya mengingatkan saja. Berita perusahaan pailit membuat takut semua karyawan jika nggak digaji!” kilah salah satu pendemo.
“Dek, jangan berkorban lagi,” pinta Rendra lirih.
“Hanya untuk karyawan kak,” ujar Reinhart menenangkan sang kakak.
Rendra memeluk adiknya. Ia sangat bersyukur sang adik lepas dari didikan kakeknya. Renita mendekati keduanya, ia juga sedih karena perusahaan ternyata mendapat audit di level 2. perusahaan harus mengembalikan semua uang yang dicuri.
“Kita harus mengembalikan semua uang yang diambil Kakek pada Naima ...,” ujar Rendra lirih.
“Naima yang selalu kupersulit dulu, Naima yang aku benci padahal dia tidak salah apapun ....’
“Cukup Kak!” potong Renita kesal.
“Aku masih membencinya!” lanjutnya lirih.
“Kenapa?” tanya Reinhart.
“Karena nilainya jauh di atas kamu?” lanjutnya lalu menggeleng.
Renita memang tidak menyukai Naima. Gadis yang selalu di atas nilainya. Bahkan sangat populer di sekolah karena kecantikannya.
"Mestinya dia membenci kita dalam-dalam, Papa menewaskan kedua orang tuanya. Kakek mencuri hartanya ... dan kita menindasnya habis-habisan dulu!"
Renita terisak, gadis itu tak bisa bicara apapun. Rendra membawa dua adiknya ke ruang kerjanya. Di sana Asep berdiri, pria itu masih setia bersama perusahaan yang menghidupinya selama ini.
"Pak Asep, kau boleh mengundurkan diri dan mencari pekerjaan di tempat lain," ujar Rendra lirih.
"Dari semua kekayaan yang dihitung. Kita hanya bisa menyelamatkan seperempat perusahaan. Nilainya hanya satu triliun rupiah saja," tunduk Rendra lagi.
"Saya tetap di sini Tuan," ujar Asep.
"Tapi gaji Bapak tidak sesuai dengan pekerjaan Bapak!' ujar Rendra.
"Tidak apa-apa, saya malas jika harus beradaptasi di tempat lain!" sahut Asep tegas.
Rendra memeluk pria itu. Ia sangat yakin jika sang kakek adalah orang baik. Makanya masih banyak orang-orang setia seperti Asep dan para pekerja yang ada di mansion sang kakek.
Pukul menunjukkan 11.45. Banyak wartawan hadir di sana mengabadikan penyerahan aset pada Naima. Nama besar Agung memang masih jadi panutan banyak orang. Terbukti, beberapa kolega masih setia dan menginginkan perusahaan itu tetap berdiri.
Naima datang dengan balutan formal yang berkelas. Tatapannya lurus dan datar ke depan, sedang di sisinya ada sosok pria yang sudah banyak jadi sorotan dalam perbisnisan.
Rendra menatap Naima yang tak berekspresi sama sekali. Sedari kecil, Naima tidak pernah tersenyum pada keluarga itu kecuali pada Darni.
Kini keduanya saling perang dingin dalam tatapan. Naima hanya sinis menatap pria yang dulu selalu membuatnya menderita. Rendra tak mau mengalah, hingga seorang notaris memutus pandangan mereka berdua.
"Aku tidak tau kau sombong sekali Naima!" ketus Rendra sinis.
"Aku malah kaget, kau masih punya muka setelah ketahuan kakekmu mencuri!" sahut Naima lebih pedas.
"Mana Tuan Lakso? Kakek dan Ayahmu?" tanya Naima. "Apa bersembunyi di balik selimut?"
Sindiran Naima membuat Renita berang. Gadis itu hendak mendamprat habis-habisan Naima.
"Kau ...."
"Diamlah!' bisik Reinhart menahan adiknya.
Sementara di rumah sakit. Sofia memasang Volume besar pada layar datar yang ditontonnya. Agung masih belum sadarkan diri. Tapi Sofia sangat yakin jika Agung bisa mendengar apa yang terjadi.
Hampir semua mata memandang layar yang ada di tempat mereka. Semua orang yang dulu pernah menghina Naima malu luar biasa bahkan ada juga yang takut.
"Nona Naima atas nama dari Tuan Lakso, saya Asep Sunandar meminta maaf yang sebesar-besarnya atas apa yang dilakukan oleh atasan saya selama ini!" ujar Asep menundukkan kepala sebagai permintaan maaf.
"Kenapa harus diwakilkan?" sindir Naima tampak tidak menyukai kelakuan dari tiga orang yang berdiri dengan kepala tegak itu.
Renita sangat kesal dengan keangkuhan Naima. Gadis itu berdecih tak suka.
"Pak Asep adalah keluarga kami! Jadi apa bedanya!' sahutnya ketus.
Naima tertawa mendengar perkataan Renita. Naima memberi kode pada Andre. Satu berkas ada di tangan Naima. Gadis itu memberikan pada Asep.
"Apa anda tau ini Tuan?" tanyanya dengan seringai sinis.
"Kebaikanmu diperalat. Bahkan ada tanda tangan palsumu di sana. Kau masih membela keluarga tak tau malu itu?" tanya Naima.
Asep terdiam, di surat itu namanya terselip sebagai saksi. Padahal pria itu tidak pernah tau menahu apa yang dilakukan tuan besarnya. Agung.
"Berikan pada tiga anak Tuanmu yang sombong itu Tuan. Aku ingin lihat, bagaimana mereka menyikapi itu?" sindir Naima.
Asep menghela napas panjang. Pria itu sudah memutuskan mengabdi pada perusahaan yang telah menghidupinya selama ini.
"Itu jadi urusan saya yang anda tidak berhak mengaturnya Nona!" ujarnya begitu tegas.
Naima salut dengan loyalitas dan kesetiaan pria di depannya itu. Asep adalah sosok langka dalam dunia bisnis.
"Bagaimana jika aku tidak menerima maaf darimu Tuan Asep. Aku ingin keturunan Lakso sendiri yang meminta maaf di sini!" tekan gadis itu.
"Nona ...."
"Tuan, sudah cukup pembelaanmu. Sudah saatnya mereka membersihkan sendiri kencingnya!" tekan Naima sarkas.
Asep tidak bisa berbuat banyak. Memang bukan ranahnya untuk meminta maaf secara langsung. Mestinya Pratma atau Agung sendiri yang meminta maaf pada Naima.
Reinhart akhirnya maju ke hadapan Naima. Pemuda itu membungkuk 90° pada Naima sebagai permohonan maaf.
"Adikmu jauh lebih gentle dibanding kau ... Kak Rendra!" sahut Naima tersenyum sinis.
Naima pun pergi dari sana. Notaris memberikan satu berkas jika gadis itu memberi waktu untuk mengembalikan aset yang dicuri.
"Berkat kebaikan Nona Naima Hartono. Tuan Rendra tetap menjadi CEO PT Lakso Grup!" ujar notaris.
Rendra mengepal kuat lengannya. Ia benar-benar dibuat malu oleh Naima. Pemuda itu tak bisa menolak apa yang terjadi, karena memang dia masih butuh perusahaan ini.
Sementara di rumah sakit, Sofia berdecak kecewa pada keputusan Naima. Ia sangat kesal.
"Mestinya kau sita semua perusahaan itu!" teriaknya.
'Kenapa kau maafkan pencuri!" lanjutnya.
Agung sedikit membuka matanya. Ia menatap sang istri yang sangat marah di sana. Sofia benar-benar menghancurkannya.
"Maafkan aku Sofia ... bisakah kau maafkan aku," pintanya lirih.
Sayang, perkataan Agung hanya ada dalam hati. Kini sosok cantik itu duduk dengan wajah kesal. Ia menggerutu panjang pendek.
"Dia sangat cantik. Kenapa aku melukainya sangat dalam padahal dia begitu mencintaiku?" tanya Agung dalam hati.
Bersambung.
Itu karena kamu nggak pernah bersyukur Gung!
Ah ... othor belum puas nyiksa pencuri ini.
Next?