
Naima pulang dengan kaki bengkak dan memerah. Jarak yang ia tempuh sepanjang lebih dari 10km membuatnya seperti itu. Ketika sampai depan pagar mansion. Penjaga pos berteriak melihatnya pulang dalam keadaan pucat.
"Non Naima!"
Naima nyaris saja pingsan, jika saja Pak Sopran tidak memberinya air minum. Pria itu menggendong Naima untuk masuk ke dalam kamar Darni.
"Nak ... Nak!" Darni menangis melihat kondisi anak asuhnya itu.
Mendengar Darni menangis di luar rumah, membuat Agung bergegas ke luar rumah. Ia melihat Naima yang digendong Sopran dengan panik.
Pria itu langsung memucat. Ia segera mengambil alih gadis tanggung itu dalam gendongannya.
"Mbok, siapkan alat kompres!" perintahnya.
Darni segera menyiapkannya. Agung membawa Naima ke kamar tamu. Pria itu tak mungkin membawa gadis itu ke kamar pembantu. Nampak, Sofia dan lainnya diam mematung. Wanita itu lepas tangan.
"Oma nggak mau tanggung jawab Ren. Ini salah kamu, Oma nggak mau disalahin!"
Rendra sangat takut jika kakeknya akan memarahinya nanti. Remaja itu menatap neneknya yang pergi begitu saja untuk menyelamatkan diri. Dua adiknya hanya melihat sang kakak yang tak berkutik di sana.
"Papa!" teriak Anna yang baru pulang dari kumpulannya.
Wanita itu belum sadar jika ia pulang sedikit terlambat dari mertuanya. Ia melihat sang suami dan langsung menghardiknya.
"Papa tau, tadi aku malu setengah mati!" teriaknya pada sang suami tak peduli keadaan sekitar.
Reinhart mengamit tangan sang adik agar tak melihat drama yang diciptakan ibunya.
"Kak, nggak mau ikut?" ajak Reinhart pada sang kakak.
Rendra memilih mengikuti adiknya. Ia juga mau melarikan diri dari kesalahan yang ia perbuat.
Anna dan Pratma saling memaki di ruang tamu. Anna marah karena malu akibat kartu kreditnya tak bisa lagi digunakan.
"Aku malu Pa ... malu!"
"Aku tak peduli. Bukankah selama ini kamu yang bayar, sekali-kali teman-temanmu itu lah!" teriak Pratma tak peduli.
"Masa seorang istri dari Pratma Lakso dibayari oleh orang lain. Apa kamu nggak merendahkan dirimu?" sindir Anna kesal.
"Eh ... permisi!"
Sopran membawa masuk seorang dokter keluarga yang dipanggil oleh Agung. Keduanya melihat pertengkaran suami istri itu. Sang dokter menyapa keduanya agar berhenti berteriak. Keduanya menoleh.
"Dokter Abdi? Ngapain di sini?" tanya Pratma tak suka.
Anna langsung berubah sikap. Abdi merupakan dokter pribadi keluarga Lakso. Pria tampan dengan senyum yang begitu khas membuat kaum hawa terpesona, begitu juga Anna.
"Saya ...."
"Dok, diminta langsung ke kamar," ujar Sopran tak mau tau.
"Mari Tuan, Nyonya!'' pamit sang dokter tampan dengan senyum menawan.
"Silahkan Dok!" sahut Anna begitu lembut dengan senyum malu-malu.
"Cis ... dasar perempuan gat-al!" hina Pratma pada istrinya.
"Aku bukan perempuan seperti itu!" sanggah Anna tak terima.
"Cis ... besok aku mau cek DNA semua putra dan putriku. Apa iya mereka adalah anakku?" ujar Pratma benar-benar keterlaluan.
Beruntung semua anak tidak ada yang mendengarnya. Anna begitu tersinggung dengan ucapan suaminya.
"Kau pikir aku perempuan apa?"
"Sudah terlihat tadi Anna!'' Pratma begitu kesal.
"Kau tersipu pada laki-laki lain di depan suamimu!"
"Aku hanya ramah!" sanggah Anna membela diri.
Pertengkaran terus berlanjut, hingga sang dokter keluar dari kamar dan pulang. Pria itu menggeleng melihat keduanya. Tak perduli, ia pergi diantar oleh Sopran.
Di kamarnya, Agung mendapat satu telepon yang begitu menakutkan dirinya.
"Ini tidak akan terjadi lagi!" ujarnya memastikan.
"Walau Naima ada di tanganmu, dan kekuasaanku belum sampai pada kotamu. Aku bisa melakukan apapun Lakso!" tekan sebuah suara di seberang telepon.
Sambungan terputus, Sofia tengah memberikan treatment pada wajahnya dengan skincare mahal. Agung mendengkus kesal.
"Apa yang kau lakukan pada Naima, Sofia?" tanya pria itu gusar.
"Aku tak melakukan apa-apa,'" jawab wanita itu merasa tak bersalah.
"Kau buat Naima jalan kaki begitu jauh? Itu bukan salahmu begitu?" desis Agung.
"Rendra yang membuat Naima jalan kaki. Bukan aku!" bantah Sofia langsung mengatakan siapa yang membuat Naima begitu.
"Kau menyalahkan cucumu? Lalu kenapa kau malah naik mobil dan melarang Pak Supri menjemput Naima?"
"Papa ... aku juga marah ... Tadi aku ke salon dan kartu kreditku di blokir ... maksudnya apa?!" teriak Sofia mengalihkan pembicaraan.
Agung benar-benar pusing dengan tingkah istrinya. Pria itu menggeleng lemah. Menikahi Sofia adalah kesalahan terbesar keluarganya.
Seraut wajah teduh nan cantik melintas dipikiran Agung. Seorang gadis sederhana yang menatapnya dengan pandangan kecewa ketika hubungan diputus begitu saja. Agung menghela napas panjang.
Pria itu memilih pergi dan tidak tidur seranjang dengan sang istri. Sofia memang sangat cantik dan berkelas. Seorang putri pengusaha ternama. Ayah dan ibu dari Agung menjodohkan keduanya untuk keuntungan bisnis.
Pria itu duduk di balkon, mengenang kembali cinta pertamanya pada seorang gadis sederhana yang begitu cantik dan lembut.
"Denita ...."
Sedang di sebuah ruangan tampak seorang pria paru baya meletakkan ponselnya di nakas. Ia menarik tuas yang ada di tangannya. Kursi roda bergerak, matanya basah, akibat keegoisannya kini keturunannya sedang tidak baik-baik saja.
"Kakek yakin kamu bisa Naima ... kakek yakin!" ujarnya sambil menahan isak.
"Deon ... maafin Papa sayang. Papa egois ... papa salah ... hiks ... hiks!"
Denita masuk dan langsung berlari ke arah suaminya. Ia sedih mendengar penyesalan sang suami.
"Papa lupa, aku dari kalangan mana," ujar wanita itu lirih.
"Maaf sayang ... maaf," ujar pria itu.
Denita memeluk suaminya. Perjalanan cinta mereka juga tidak mulus. Wanita itu ingat sekali, setelah putus dengan kekasih kayanya. Ia memilih untuk tidak berhubungan dengan pria kaya.
Damar datang menyamar sebagai pria sederhana. Keduanya jatuh cinta, Damar berhasil meyakinkan Keluarganya ketika memperjuangkan sang kekasih saat itu.
"Mestinya aku mendengarkanmu sayang ... maafkan aku," ujar pria itu tergugu.
"Sudahlah, nasi sudah jadi bubur. Sekarang bagaimana kita mengambil Naima dari tangan orang jahat itu," pinta Denita sedih.
"Sayang ... maaf ... maaf. Lagi-lagi aku berbuat begini untuk mengukuhkan perusahaanku. Maaf," ujarnya lagi.
Bahu Denita turun, wanita itu tak tau apa-apa masalah bisnis dan bagaimana berputarnya. Ia pernah membaca jika seorang ahli waris yang dicoret tidak akan bisa dipercaya oleh kaum usahawan lainnya sampai ahli waris tersebut dinyatakan layak untuk mendapat kepemimpinan.
"Mas ...," desah Denita begitu kecewa.
"Maaf ... huuuuu ... maaf," Damar memeluk istrinya.
Denita tak bisa melakukan apapun kecuali hanya menenangkan sang suami. Pria itu jadi pion semua kekuasaan bisnis yang digeluti, kesakitannya berdampak dengan kelangsungan perusahaan.
"Sembuh lah Mas. Ini demi cucu kita ... aku mohon," pinta Denita lagi.
"Iya sayang, aku pasti sembuh. Aku pasti sembuh dan mengukuhkan Naima sebagai pewaris utama perusahaanku!" ujar Danar meyakinkan sang istri.
Sementara itu, Agung menatap cucunya Rendra yang telah tertidur. Pria itu mengecup pelipis sang cucu setelah sekian lama.
"Aku harap setelah ini kau menuruti kakek! Kakek bergantung padamu Cu, sungguh kakek begitu bergantung padamu," ujarnya berbisik.
Bersambung.
Oh ...?
next?