
Naima menatap para maid yang baru bekerja di mansionnya. Ia akan membuat peraturan keras. Kejadian salah satu maid yang hendak menyentuh suaminya membuat ia harus berhati-hati.
"Aku tekankan pada kalian. Selesai menyajikan makanan. Kalian kembali ke dapur!"
Semua menunduk, tak ada yang berani bersuara. Risa sangat takut melihat majikan perempuannya.
"Jika kalian masih membantah dan melanggar. Aku pastikan kalian pergi dengan cepat dari tempat ini!" lanjut Naima mengancam.
"Apa kalian mengerti?" lanjutnya setengah menghardik.
"Iya Nyonya!' sahut delapan maid kompak.
"Oh ya! Akan ada Ibu Darni yang akan jadi kepala kalian. Semua harus menurut pada beliau!' sebuah titah penuh penekanan keluar dari mulut Naima.
Naima meminta Darni untuk tinggal bersamanya. Gadis yang telah jadi istri itu ingin Darni yang mengatur semua maid.
Neil tiba-tiba harus pergi ke perusahaan. Dion, sahabatnya mengatakan ada masalah yang harus diselesaikan.
"Masak untuk suamiku ah!" monolognya sambil tersenyum.
Naima mengambil celemek. Wanita yang masih perawan itu mulai mengambil beberapa bahan dalam kulkas.
"Nyonya, sebaiknya biar kami yang mengerjakannya!' ujar Risa merasa tidak enak melihat majikan berkutat di dapur.
"Tidak masalah. Aku di rumah juga masak kok!" sahut Naima.
"Nyonya ... pekerjaan di dapur itu kotor. Biar saya yang menanganinya, Nyonya bisa mengandalkan saya!" paksa Risa.
"Risa!" bentak Naima.
Risa membeku, ia lupa berhadapan dengan siapa.
"Pergi kau dari hadapanku sebelum kesabaranku habis!" desis Naima masih menahan emosi.
Salah satu rekan Risa menyeretnya. Gadis itu mundur.
"Kau cari mati Ris!" bisik rekannya memperingati.
Risa akhirnya dibawa ke area cuci. Gadis itu berdecak ketika berada di tempat itu.
"Bagianku masak memasak!"
"Tidak ada bagian di sini Risa. Kita harus bisa mengerjakannya semua. Kamu jangan pilih-pilih!' sungut salah satu rekan lainnya.
Risa cemberut, ia menatap kukunya yang baru saja di menikur. Warna-warni cantik menghias kukunya.
"Aku baru menicure," desahnya menyayangkan.
Tak ada yang menanggapi. Akhirnya Risa hanya duduk melihat beberapa rekannya yang mencuci baju.
Masakan sudah siap. Bau harum memenuhi ruangan. Naima puas dengan hasil masakannya. Rasanya semua pas.
"Baunya enak sekali Nyonya, boleh icip nggak?' salah satu maid bertubuh tambun tampak berselera dengan masakan majikannya.
"Tentu saja. Ini taruh di mangkuk simpan. Kalian boleh ambil yang di wajan ya!" ujar Naima.
"Makasih Nyonya!" seru Maid senang.
"Siapa namamu?" tanya Naima.
"Saya Anik Nyonya,"
Anik menyuapkan makanan ke mulutnya. Ia menutup mata. Rasa mentega dan bumbu yang begitu kuat. Sangat pas di lidahnya.
"Enak sekali Nyonya!" pujinya dengan wajah berseri-seri.
Naima tersenyum, ada ketulusan dalam pujian itu. Anik jujur memujinya.
"Terima kasih," sahut Naima tersenyum.
Naima memasukkan semua makanan yang ia masak dalam rantang makanan. Gadis itu membuat satu nasi liwet yang pastinya akan menggugah selera.
Naima menaiki mobil. Gadis itu tentu diberi fasilitas mewah dari semuanya. Risa menatap kendaraan roda empat itu dengan tatapan sinis.
"Laganya sudah seperti ratu saja!' dumalnya pelan.
Naima menatap gedung-gedung berjejer. Mansion suaminya memang berada di pusat kota. Ia masih cuti menikah. Neil tak melarangnya bekerja. Karena memang perempuan itu seorang CEO dan satu-satunya ahli waris Hartono.
Dua puluh menit, mobil berhenti di depan lobi gedung tinggi. Supir membukakan pintu untuknya. Naima turun dari kendaraan mewah itu.
Banyak karyawan yang belum mengetahui siapa istri dari atasan mereka. Tetapi semua tau jika Neil sang CEO sudah menikah.
"Selamat pagi menjelang siang. Saya Naima Gutama, istri dari Neil Gutama.
Seorang resepsionis tengah menebalkan gincu di bibirnya. Pakaian Naima yang sederhana membuat ia tersedak.
"Astaga ... ada lagi wanita gembel mengaku-ngaku istri bossku," hinanya sambil memutar mata malas.
Naima sangat tidak suka dengan perkataan dari wanita itu.
Gadis bergincu tebal itu terdiam ditatap sedemikian rupa. Ia gemetaran, aura intimidasi keluar dari sosok cantik di depannya.
Naima memang hanya mengenakan kaos biasa. Ia hanya mandi setelah masak tadi dan memakai baju rumahan. Kaos oblong dan celana jeans belel. Sangat jauh dari kesan istri CEO.
Naima mengambil ponsel mahalnya. Ia menelepon sang suami.
"Sayang, ada yang menahanku di resepsionis!" ujarnya ketika panggilan telepon tersambung.
Hanya lima menit. Neil muncul dengan wajah gusar. Resepsionis yang merasa jika ada yang membelanya makin menjadi.
"Pergi lah. Sebelum atasanku mengusirmu!" usirnya.
"Siapa berani mengusir istriku!' bentak Neil murka.
Resepsionis berdiri kaku. Neil berdiri di sisi Naima.
"Dion!"
"Oke!' sahut Dion langsung.
"Nona Debbie. Silahkan tinggalkan tempat. Kau kami pecat!"
Neil membawa istrinya ke ruangan. Sedangkan resepsionis hanya menangis dalam penyesalan.
"Sayang, kau bawa apa? kenapa harum sekali?" tanya Neil pemasaran.
"Makan siangmu sayang," jawab Naima mesra.
"Makasih sayang," Neil mengecup pipi sang istri.
Dion datang dan melaporkan jika resepsionis sudah dipecat.
"Ayo makan Kak Dion," ajak Naima.
"Kenapa kau malah mengajak pria lain untuk menyicipi makananmu?" tanya Neil cemburu.
"Sayang ... ini banyak," ujar Naima merajuk.
"Kau tidak akan bisa menghabisinya," lanjutnya.
"Tapi ...."
"Sayang, Kak Dion kan sahabatmu. Kau pasti mengenal dia sangat baik dari pada aku," ujar Naima lagi.
Neil berdecak, memang ia tak perlu secemburu itu pada sahabatnya. Akhirnya Dion ikut makan siang.
"Anda membuatku berhemat Nyonya," kekeh Dion senang.
"Kutagih kau akhir bulan nanti Dion!" sambar Neil sinis.
"Sayang," kekeh Naima lirih.
Dion tak peduli, ia membuka lebar mulutnya. Makanan istri dari sahabatnya itu memang enak.
Makanan selesai, Naima pamit pulang. Neil sangat keberatan.
"Sayang, aku bosan jika melihatmu sibuk. Kau pasti juga tidak akan bisa memperhatikanku," ujar wanita itu.
Sebuah ciuman pendek terjadi. Naima pun pergi dari ruang kerja istrinya. Ia akan dikenalkan pada semua karyawan lusa. Semua menunduk hormat ketika bersisipan jalan dengannya.
"Rumput liar itu harus dicabut segera. Aku tak mau ia berbunga. Karena pasti akan menarik kumbang lain datang!' gumamnya ketika melirik beberapa gadis cantik di sana.
Setelah menjadi istri dari Neil Gutama. Naima jadi seorang yang pencemburu. Gadis yang telah menikah itu terkejut sendiri ketika menyadarinya.
"Eh ... kok aku gini banget?"
Ia pun akhirnya menggeleng pelan. Ia harus lebih elegan, lalu menatap pakaian yang ia kenakan.
"Sepertinya, orang-orang akan lebih menghormati apa yang dipakai ketimbang prestasi," gumamnya.
Mobil mewah berhenti. Petugas keamanan kantor membuka pintu untuk wanita itu.
"Terima kasih," ujarnya ketika sudah masuk.
"Sama-sama Nyonya!" pintu ditutup.
Tak lama kendaraan mewah itu pun bergerak meninggalkan gedung mewah. Dua puluh tiga menit ia pun sampai mansion.
Naima turun menenteng rantang kosong dan pastinya kotor. Ia meletakan begitu saja di atas meja makan. Lalu ia pergi ke atas kamarnya. Risa yang melihat mencibir perbuatan nyonya rumah.
"Cis ... bisanya ngotorin doang!" protesnya mendumal.
Bersambung.
Eh ... spasa Lo?
next?