
Di sebuah ruangan yang bisa dibilang cukup besar, Nasya duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya, seorang wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini, dan seorang Ibu yang tidak bertanggung jawab atas kehidupannya.
"Ada apa kau memanggilku kemari?" tanya Nasya to the point Karna berlama lama dengan manusia ular ini membuat atmosfer yang ada di ruangan terasa begitu panas.
"Berhenti berharap tentang Nicho, dan jangan pernah berpikir bisa mengalahkan Stevani j****g!" ucap Nyonya Orlando dengan penuh penekanan.
Yah Nasya merupakan anak dari perkawinannya Rita atau Nyonya Orlando dengan Almarhum Alvaro ayahnya.
cihhhh
Nasya hanya berdecih mendengar omong kosong ibunya
"Aku memang tidak pernah berpikir akan mengalahkan Stev, why? because bagi gue Stev gak ada apa-apanya ketimbang gue, anda mengerti Nyonya Orlando?" ucapnya dengan nada mengejek
"hahaha.... Seharusnya dari dulu aku melenyapkan mu sialan!"
"Jika kau melenyapkan ku dahulu, kau tidak bisa hidup dengan sosialita tinggi yang kau bangga banggakan!" ucap Nasya dengan nada meninggi.
"Jika tidak ada hal yang ingin kau bicarakan lagi, aku akan pergi Karna aku harus membahas kontrakku dengan pihak Agensi" ucap Nasya lalu berlalu dari sana.
Sakit? itu yang dirasakan Nasya saat ini, rasanya Nasya tidak percaya jika dia dilahirkan dari rahim seorang ibu namun berjiwa nenek lampir!. Ingin rasanya Nasya marah Karna ditakdirkan menjadi anak Rita, tapi apalah daya ia hanya makhluk biasa yang hanya bisa meminta pada sang maha kuasa.
Nasya pergi ke toilet ia mengeluarkan uneg-uneg nya dengan menangis sambil duduk di atas closet. setelah puas menangis Nasya merapihkan kembali dandanannya lalu pergi ke ruangan pribadi Ayah Alana.
tok tok tok
"Masuk!" ucap seseorang di dalam ruangan
Nasya masuk ke dalam dan langsung duduk di salah satu sofa dekat Alana.
"Abis ngapain Luh? mewek?" tanya Alana yang melihat mata sembab milik Nasya.
"Sedikit" ucap Nasya tersenyum kikuk
"Okey kita bahas kontrak kerja kita ya Sya" ucap Tuan Jackson
"Siap Om"
Lalu mereka membahas tentang kontrak mereka dengan serius, tidak sampai setengah jam mereka hanya membutuhkan sepuluh menit saja untuk membahas kontrak Karna Nasya yang tidak ribet dan kontrak yang ditawarkan ayah Alana pun bagi Nasya tidak ada permasalahan malah sama sama menguntungkan kedua belah pihak.
Setelahnya Nasya pergi ke Studio pemotretan yang ada di lantai 13 dengan di dampingi Alana yang menjadi manajer nya kali ini.
"Loh siap buat pemotretan pertama? kalo loh gak nyaman sama pose pose yang diarahin Potograper bilang aja gak usah sungkan" ucap Alana mewanti-wanti Nasya
"Tenang aja, gue harus profesional dalam bidang pekerjaan"
"Kau model baru itu bukan?" tanya sang Potograper
"Yah om"
"Silahkan ganti baju diruang sana, Alana antar modelmu ke sana"
"Baik om" ucap Alana bersemangat. "Ayo sya"
Mereka mengganti baju Nasya dan mendandani Nasya dengan senatural mungkin, bahkan mereka tidak segan untuk memuji kulit wajah Nasya yang lembut dan wajahnya yang sangat imut.
"Hanya berdandan natural saja anda sudah sangat menawan nona" puji sang perias
"Anda bisa saja" Jawab Nasya dengan wajah memerah
"Ye" ucap Semua kru di sana.
Lalu Nasya mulai berpose layaknya model yang profesional, seperti sudah terbiasa dengan kamera Nasya tidak menyusahkan sang Potograper bahkan tubuhnya saja tidak kaku saat difoto.
"Wah anda seperti model yang sudah terbiasa menggeluti dunia modelling nona" puji sang Potograper. "Apa kau kuliah modelling nona?" tanya sang Potograper penasaran
"No, aku kuliah jurusan manajemen "ucap Nasya gamblang.
Stev yang baru datang langsung disuguhi pemandangan yang membuatnya muak, dia sebal melihat semua orang memuji Nasya.
"Terimakasih atas kerja samanya" ucap sang Potograper pada Nasya dan seluruh kru disana
"Sama sama tuan"
"Wah,, kau akan menjadi mesin duitku sya" ucap Alana bangga Karna sang model sangat baik dalam pekerjaannya.
"Aku pikir mereka tidak bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang jelek" ucap Stevani sambil mendekap kedua tangannya. "Apa kau menggoda tuan Jackson hingga bisa masuk kemari?" tanya Stevani dengan tatapan mengejek.
"Tutup Mulutmu j****g!" bentak Alana kesal ketika nama sang ayah dibawa bawa.
"Sudahlah lah lan, gak usah diladenin" ucap Nasya lalu menyeret Alana yang sudah terbakar amarah keluar.
Stev yang diabaikan pun merasa darahnya semakin mendidih, terkadang jika kita sedang marah marah maunya diladenin padahal gak ada ujungnya. Mungkin itulah yang dirasakan Stev saat ini, bahkan dia menunda pemotretan nya hanya Karna suasana hatinya yang tidak baik baik saja.
Stev pulang ke rumah dengan membawa seribu emosi di ubun-ubun nya, dia bahkan membanting tas nya saking emosinya pada Nasya.
"Bibi!" teriak Stev memanggil pelayanannya. "Ambilkan aku minum" titahnya saat salah seorang pelayan menghampirinya.
"Mengapa air biasa? ambilkan aku air dingin!" bentak Stev ketika sang pelayan tidak mengambilkan air yang diinginkannya padahal jelas jelas Stev tidak bicara apa air yang diinginkannya. "Mengapa raut wajahmu seperti itu hah? apa kau akan bilang jika aku tidak mengatakan jenis airnya? harusnya kau peka sendiri! aku capek beri aku air dingin cepat!" Stev kembali membentak dengan suara tinggi dan arogannya.
"Berhenti membentak pelayan di sini, jika menurutmu mereka selalu salah, ambillah sendiri apa kau tak punya kaki?" tanya Nicho yang baru saja datang dari kantor
Stev yang melihat Nicho datang dengan pakaian yang sedikit acak acakan dan rambut yang berantakan namun tidak mengurangi ketampanannya, merasa amarahnya menghilang hanya dengan menatap Nicho saja, namun amarahnya malah berubah menjadi nafsunya yang bergairah.
"Mengapa kau tidak libur honey?" tanya Stev sambil berjalan menghampiri Nicho.
"Banyak berkas yang butuh tanda tanganku langsung" ucap Nicho tanpa menatap Stev yang seolah-oleh menatapnya penuh nafsu. " Bukankah kau sedang ada pemotretan?" tanya Nicho bingung Karna wanita yang menyandang status sebagai istrinya kini ada di rumah.
"Di cancel dulu" ucap Stevani yang kini tangannya sudah lancang mengusap dada Nicho yang terbuka Karna dua kancing atasnya sengaja dibuka.
"Aku harus mandi" ucap Nicho mencoba melepaskan tangan Stev dari dadanya.
"Ayolah Nich, kita belum melakukannya sama sekali apa kau tak ingin mencicipi ku?" tanya Stev sambil terus terusan menggoda Nicho, bahkan ucapannya saja mengandung arti Stev selalu di jamah oleh lelaki manapun.
"Aku lelah sayang" ucap Nicho sambil mengecup dahi Stev singkat. "Aku mandi dulu"
Stev yang dipanggil sayang oleh Nicho pun merasa sedang terbang ke awan awan, apalagi jika diperlakukan seperti Nasya entah Stev masih bisa bernafas ataupun tidak.
"What? sayang?" ucapnya bangga pada dirinya sendiri. " Sudah kukatakan, kau pasti takluk padaku Nicho, tak kan kubiarkan j****g itu merasa bahagia" lanjutnya dengan tersenyum smirk.
Nicho hanya tersenyum mengejek melihat Stev yang sudah kepedean, jika saja ini bukan demi Nasya, Nicho tidak akan pernah menikahi wanita manapun selain Nasya Moon. Bisa saja Nicho melawan sang ayah, namun Nicho tau kekasihnya menginginkan sesuatu miliknya kembali pada tangannya.
Percayalah sesuatu yang manis harus melewati jalan yang pahit dahulu.
"Bersabarlah baby" ucap Nicho sambil berendam di dalam bathtub