
"Max,,, atur pernikahan ku dengan Nasya sore nanti,,, panggil ustadz dan dua orang saksi yang bisa menutup mulut mereka" titah Nicho pada Maxim tanpa mengalihkan tatapannya dari berkas di hadapannya.
"Apa Nasya setuju menikah siri dengan mu?" tanya Maxim tidak terima Nicho mengambil keputusan besar tanpa persetujuan pihak lain.
"Apakah Nasya bisa menolak? bukankah dari dulu yang dia inginkan menikah denganku? aku yakin dia tak kan menolak" jawab Nicho dengan tangan terlipat di dada
"Jangan gila Nich, bahkan Nasya punya Bastian yang sudah dianggap nya saudara" ucap Maxim dengan volume suara yang sudah mulai meninggi.
"Biar aku tebak, apa kau diam diam menyukai kekasihku?" tanya Nicho yang heran saat melihat gelagat Maxim yang tidak seperti biasanya.
"Jika jawaban mu sudah benar, apa aku perlu mengklarifikasi kembali?" Maxim malah balik bertanya menghiraukan pertanyaan Nicho yang baru sadar jika Maxim menaruh hati pada Nasya.
"Bermimpilah selagi kau sanggup," ucap Nicho meremehkan Maxim. "Tanpa kau pun, aku bisa mengatur pernikahan sendiri tanpa bantuan mu,"
"Aku tidak akan membiarkanmu menikahi Nasya secara paksa sialan!!" bentak Maxim dengan nada tinggi.
"Kau terlalu emosian, ini antara aku dan Nasya tidak melibatkan siapapun,"
"Aku akan melaporkan mu pada Bastian sekarang juga sialan!!"
"Teruslah laporkan jika kau ingin Nasya mati dengan cara yang paling hina," ancam Nicho telak pada Maxim yang sedang mengotak ngatik handphonenya.
"Apa yang kau lakukan pada Nasya Bastard!" tanya Maxim sambil menarik kerah baju Nicho.
"Aku tidak melakukan apapun, aku hanya menghilangkan jejak orang lain dari tubuhnya" ucapnya sambil menghempaskan tangan Maxim, lalu memperlihatkan video Nasya yang sedang menatap dirinya di cermin.
"Kau akan menyesal telah membuatnya mengeluarkan air mata" ucap Maxim dengan jakun yang naik turun dan tangan yang terkepal.
"Apa yang harus aku sesali? justru aku menyesal Karna tidak bisa menemukan rekaman nya saat berpacu dengan si tua Bangka" ucap Nicho lalu mendudukkan bokongnya di sofa dan mengeluarkan rokok beserta pemantik nya.
"Kau tidak pantas memiliki Nasya sialan!" ucap Maxim lalu berlalu keluar untuk menetralkan emosinya yang sudah tidak bisa di bendung.
Seluruh barang barang di dalam ruangannya sudah terkapar di lantai dengan keadaan tak berwujud. Maxim membanting apapun yang ada dihadapannya untuk melampiaskan amarahnya Karna tidak bisa mencegah Nasya yang menyembunyikan kenyataan gila.
"Sya apa aku harus mengatakan yang sebenarnya?" tanya Maxim pada foto Nasya yang terpampang di wallpaper handphonenya.
*
*
*
Sore harinya Nicho benar benar pulang membawa ustadz dan nasib yang akan menikahkannya, bahkan Maxim pun ikut serta Karna permintaan Maxim yang ingin jadi saksi dalam pernikahan Nasya.
Nasya yang melihat kedatangan Maxim pun langsung tersenyum bahagia, dia pikir Maxim datang untuk menjemputnya. Tapi dia bingung mengapa Maxim datang dengan membawa orang yang berpakaian seperti ustadz.
"Max,,,," teriak Nasya di atas balkon kamar sambil melambai lambai kan tangan ke arah Maxim yang sedang berjalan menuju pintu masuk.
Maxim hanya bisa menatap sebentar lalu segera mengalihkan pandangannya dia tidak kuasa melihat keadaan Nasya saat ini bak wanita korengan. Apalagi wajah yang tadinya cantik kini tidak nampak seperti wajah sedikitpun, Karna seluruh permukaannya dipenuhi oleh kulit lecet yang mulai kering.
Nasya segera berlari kebawah menghampiri Maxim yang sudah masuk ke ruang tamu.
"Maximmmmm,,,," teriak Nasya sambil merentangkan kedua tangannya, yang di balas senyuman lebar oleh pria yang di sapanya. Belum juga sampai pada Maxim Nasya segera di tahan oleh Nicho yang entah sejak kapan sudah ada di sampingnya.
"Masuklah Baby,, " ucap Nicho dengan tersenyum lebar sambil membelai pipi yang jauh dari kata mulus.
"Apa yang kau lakukan sialan? jangan pernah sentuh aku Bastard!!!!" teriak Nasya pada Nicho.
"Jangan terus berteriak, sebentar lagi kita akan menikah Baby" jelasnya lagi.
"Masuk!!" titah Nicho dingin
"Maaf Tuan apakah Nona ini calon mempelai wanitanya?" tanya seseorang yang berpakaian seperti ustadz.
"Ya" jawab Nicho singkat dengan gaya arogannya.
"Maaf sebelumnya tuan, tidak baik jika menikah secara paksa" tuturnya hati hati.
"Kau siapa berani menasehati ku? aku hanya menyuruhmu menikah kan ku bukan mengkritik niatku" ucap nya dengan aura membunuh yang mampu membuat semua orang diam tertunduk.
"Aku tidak akan menikah dengan mu sialan!" teriak Nasya menggila lalu melempar seluruh hiasan yang ada di sana.
"Kau pemaksa!! aku tidak ingin menikah denganmu, aku hanya akan menikahi Maxim bukan iblis sepertimu"
Grep
Nicho sesegera mungkin mendekap erat tubuh Nasya agar mengehentikan aksi gilanya, ia tidak suka Nasya terluka jika bukan ulahnya.
"Apa kau tidak lihat orang orang yang ada di belakang Maxim?" tanya Nicho pada Nasya.
"Aku tidak peduli siapa mereka! yang jelas aku tidak akan menikah denganmu bajingan" teriaknya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir derasnya.
"Kau yakin tidak peduli?" tanya Nicho lagi.
"Bahkan sedikitpun aku tidak peduli!"
"Aku akan membunuh Maxim jika kau tak ingin menikah dengan ku" ancam Nicho dengan nafas beratnya.
"Aku tidak percaya jika kau berani membunuh sahabatmu sendiri!" ucap Nasya meronta di dalam dekapan Nicho.
"Aku tidak berbohong biar aku tunjukkan" ucapnya lalu menahan wajah Nasya agar melihat ke arah Maxim. Lalu Nicho memberi aba-aba pada bawahannya agar menembak Maxim.
Para bawahan segera menahan tangan Maxim ke belakang dan mendudukkannya di bawah.
"Lihatlah aku tak berbohong bukan?" tanyanya tepat di samping telinga Nasya.
"Aku tak, pwwwercaya swwwwwedikit pun swwwwialan!" ucapnya dengan pipi yang ditahan oleh Nicho.
"Tembak dia!" titah Nicho pada ajudannya, sedang kan Maxim ia hanya bisa meronta Karna mulutnya sudah ditutupi oleh lakban.
Dorrr
"Ahhhhhhhhhhh!!!!!!!!!" teriak Nasya saat terdengar suara tembakan bahkan dia sampai memejamkan matanya tidak ingin melihat Maxim. Tapi saat membuka mata ia masih bersyukur Maxim tidak mati hanya lengannya saja yang di tembak oleh anak buah Nicho.
"Jika kau masih tidak ingin menikah dengan ku, aku akan membunuhnya tepat di hadapanmu Botchh" ucapnya. Maxim hanya bisa menahan sesak di dadanya saat Nasya mengangguk kan kepalanya pertanda setuju.
Nasya terpaksa mengangguk setuju dengan berlinang air mata, ia tidak ingin jika pria yang sudah dianggap nya kakak mati Karna nya.
"Kau lihat Max? sudah ku katakan bukan? dia pasti setuju menikah denganku," bangganya pada Maxim. "Lepaskan dia, mari kita mulai acaranya"
Sungguh bukan pernikahan yang seperti ini yang Nasya inginkan, dia memang selalu bermimpi dinikahi oleh Nicho. Tapi dengan cinta bukan dengan paksaan, baginya ini adalah mimpi terburuknya menikah dengan pria yang masih hinggap di hatinya, namun bukan Karna si pria mencintainya melainkan Karna kebenciannya.
Bohong jika Nasya sudah melupakan Nicho, pada dasarnya Cinta mengalahkan kebenciannya. Terkadang kita memang bodoh tetap mencintai monster yang selalu menatapnya nyalang di setiap saat.
Nasya duduk hanya memakai piyama sutra tanpa mengganti pakaiannya, ia tidak berniat mengganti bajunya dengan yang mewah Karna baginya ini bukan momen terbaiknya.
Jika biasanya ratu akan berdandan mewah di hari pernikahannya, namun berbeda dengan Nasya yang acak acakan bahkan air matanya saja tidak berhenti mengalir di pelupuk matanya