My Secret Bride

My Secret Bride
Bab62



Oe oe oe


Suara tangisan bayi memecah keheningan di dalam sebuah ruangan operasi, Stev menangis menahan rasa sakit di area perutnya.


"Mana putraku?" tanya Stev sesaat setelah tirai penghalang antara perut dan wajah di angkat, ia tidak melihat ada bayi di sana yang ada hanya seorang dokter dan perawat yang masih sibuk menjahit perutnya.


"Mana bayiku sialan!,awhhh" teriak Stev saat semua orang acuh padanya bahkan terkesan seolah tidak ada yang berteriak.


"Bayi Tuan Nicho sudah di bawa ke ruangan VVIP" ujar salah seorang perawat yang baru saja masuk kembali ke dalam ruangan operasi untuk membereskan alat alatnya.


"Dia juga bayiku sialan!" teriak Stev menggila dia tidak terima bayinya di sebut hanya bayi Nicho


"Sebaiknya anda diam, jika tidak jahitannya tidak akan rapi" ucap Dokter mencoba memberitahu konsekuensinya.


Stev hanya menangis dalam diam, melahirkan sendiri tanpa di dampingi suami, sebenarnya Nicho mendampinginya hanya saja Nicho diam berdiri di dekat dokter yang sedang membedah perutnya, tidak seperti suami yang lain yang menggenggam tangan istrinya dan memberikan kekuatan.


*


*


*


Cklek


"Ba-by ku?" lirih Nasya dengan suara pelannya.


"Sayang?" tanya Nicho terkejut saat melihat Nasya yang sudah membuka matanya dan menatap seorang baby yang ada di pangkuannya, tanpa menunggu lama dia buru buru memencet tombol darurat hingga beberapa dokter masuk dengan tergesa gesa ke dalam.


"Baby ku" ucap Nasya lagi pandangan nya lurus ke depan menatap bayi di gendongan Nicho.


"Bu Nasya tenang dulu," ucap salah satu dokter yang sedang memeriksa Nasya, sedangkan Nicho dia buru buru memberikan bayi-nya pada suster yang ada di sana.


"Tenang dulu sayang, kamu harus di periksa" ucap Nicho memeluk Nasya dan menghujaninya dengan ciuman di pucuk kepalanya.


"Baby-ku" Nasya terus terusan mengatakan kata Baby-ku seperti orang linglung hingga Nicho mengerutkan keningnya bingung dengan respon Nasya yang tidak seperti biasanya.


"Dok, ada apa dengan istri saya?" tanya Nicho menatap tajam dokter di hadapannya yang hanya menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku baby" ucap Nicho menitikkan air matanya, ini semua salahnya karena kelalaiannya istrinya mengalami masa yang sungguh mengerikan.


Semua orang yang ada di sana hanya menatap bingung kepada pria yang ada di hadapannya, biasanya Nicho akan mengamuk jika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan harapannya, namun yang sekarang mereka lihat, pria di hadapannya malah mengecupi istrinya dengan penuh cinta tanpa memaki mereka, entah apa yang terjadi dan entah apa yang Nicho pikirkan,


"Maaf Tuan, kami permisi, dan untuk pengobatan mental, kami akan merekomendasikan ahli terbaik di kota ini" ucap Dokter lalu berlalu dari sana.


"Baby-ku" teriak Nasya saat bayinya di bawa keluar oleh suster tadi.


"Kemarikan putraku" ucap Nicho


"Maaf Tuan, seharusnya anda tahu jika putra anda lahir prematur, meskipun terlihat sehat tapi organ vital dan yang lainnya masih dalam perkembangan" terang sang suster dengan lutut yang bergetar.


"Aku telah memeriksa semuanya, putraku baik baik saja" ucap Nicho menatap nyalang suster di hadapannya yang berani menolak titahhannya. Lalu Nicho mengambil paksa bayi kecilnya dari pangkuan sang suster.


"Baby-ku" ucap Nasya semangat dengan wajah yang berbinar.


"Iya sayang ini baby kita" jawab Nicho lembut lalu menidurkan bayinya di samping Nasya. "Dia tampan bukan?" tanya Nicho pada Nasya.


"Mengapa baby ku diam saja?" tanya Nasya dengan raut wajah sedih


"Dia hanya ingin tidur baby, lihatlah bibirnya mencari cari keberadaan susunya" ucap Nicho yang langsung membuat wajah Nasya berbinar, tanpa menunggu lama Nasya langsung membuka tiga kancing bajunya dan mengeluarkan payu*daranya, untuk menyusui putranya.


"Mengapa dia tidak mau?" tanya Nasya lagi.


Oek oek oek


Bayi menangis karena tidak mendapatkan sumber susu yang dicarinya.


"Mengapa susunya tidak keluar?" tanya Nasya lagi


"Mungkin belum berjalan normal, kita beri ini dulu saja" ucap Nicho lalu memberikan botol susu pada Nasya, tanpa ba-bi-bu Nasya langsung menyusui putranya dengan botol susu di tangannya.


Nicho miris melihat pemandangan dihadapannya, wanitanya yang dulu ceria kini bisa dibilang setengah gila, Nicho bersumpah tidak akan membiarkan orang orang yang menghancurkan istrinya hidup dengan tenang.


"Siapkan alat untuk memberi para bajingan pelajaran" ucap Nicho menelepon Maxim untuk menyiapkan alat alatnya.